Freeport dan Papua

Spread the love

Judul                 : Freeport (Fakta-Fakta Yang Disembunyikan)

Penulis             : Paharizal dan Ismantoro Dwi Yuwono

Penerbit           : Narasi

Pengulas          : Rengganis Rilisia Dirgantari

Buku ini merupakan buku yang lebih dalam membahas tentang awal mula, perkembangan, dan masuknya Freeport Sulphur Company (atau lebih dikenal dengan PT. Freeport Indonesia Delaware Incorporated), sebuah perusahaan pertambangan mineral asal Amerika Serikat yang kini beroperasi mengeruk kekayaan alam tanah Papua. Buku yang terdiri dari enam bab ini akan menyajikan banyak fakta-fakta mencengangkan yang belum pernah kita ketahui tentang perusahaan pertambangan dan mineral raksasa Amerika Serikat ini.

Pada bab pertama penulis mendeskripsikan dengan sangat rinci aka nasal-usul nama Ertsberg, Grasberg, dan dokumen Dozy. Sebelum masuk lebih dalam, Ertsberg dan Grasberg adalah dua gunung yang saat ini menjadi tempat Freeport melakukan eksploitasi kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Dimulai dengan seorang pelaut Belanda bernama Jan Carstensz yang berlayar ke laut Arafura, yang tidak sengaja melihat puncak-puncak pegunungan yang atapnya diselimuti salju dan terletak di tengah-tengah pulau Papua. Misi Carstenz saat itu ialah mencari budak-budak di pulau-pulau yang dai anggap belum terjamah oleh orang Eropa untuk diperjual belikan. Kelak barisan pegunungan nan indah ini dinamakan dengan pegunungan Carstensz oleh orang Eropa untuk mengenang Jan Carstensz, namun oleh penduduk setempat diberi nama Ngga Pulu.

Masih pada bab pertama, setelah pulau Papua dapat dikuasai Belanda, ketika itulah pemerintah kolonial bersama Amerika mendirikan perusahaan minyak pertama di tanah Papua, Nederlandsche Nieuw-Guinea Petroleum Maatschappij (NNGPM), dengan proporsi saham 60% untuk Amerika dan 40% untuk Belanda. NNGPM yang berdiri pada tahun 1935 berpusat di Babo di teluk Maccluer, yang menandainya dimulai pelacakan terhdap kandungan kekayaan alam di pulau Papua yang dilakukan orang-orang Eropa, terutama Belanda.

Tim ekspedisi yang dilengkapi dengan helikopter ini dipimpin oleh H. Colijn dan seorang geologiawan Belanda, bernama Jean Jaques Dozy yang akan menulis dokumen keramat bagi masuknya Freeport ke Papua yakni dokumen Dozy. Mereka berhasil mencapai puncak pegunungan Carstensz, sang geologiawan Dozy secara tidak sengaja menemukan bijih dimana-mana pada permukaan salah satu gunung yang kemudian diberinama gunung Ertsberg (dari bahasa Belanda) yang artinya gunung bijih atau gunung tembaga. Kandungan bijih juga ditemukan di gunung lain yang berada di sisi Ertsberg yang diberinama Grasberg, yang artinya gunung rumput. Penemuan-penemuan luar biasa ini dicatat Dozy dalam dokumennya yang tersimpan di perpustakaan Belanda selama 23 tahun, hingga ditemukan Jan Van Gruisen,yang bekerja di Oost-Borneo Maatschappij.

Pada bab selajutnya, NNGPM yang secara intensif mengeruk sumber minyak mulai mengalami penurunan, pada tahun 1955 dikarenakan sumur minyak di Papua mulai mengering. Jan Van Gruisen yang berhasil menemukan dokumen Dozy yang menggambarkan bahwa dua gunung di pegunungan Ngga Pulu (Carstensz) mengandung mineral, berupa tembaga, nikel, dan emas tentu menjadi angina segar bagi banyak perusahaan pertambangan dan mineral Eropa. 1959, Gruisen mulai mencari partner untuk mencari sumber mineral baru.

Setelah menjalin hubungan dengan banyak perusahaan pertambangan mulai dari Kanada INCO, perusahaan pertambangan Jepang, Sumitomo dan lain sebagainya yang kesemuanya merasa pesimis dengan dokumen Dozy. Adalah Freeport Sulphur Company-lah yang paling berminat dan tahun 1961 diwakili oleh Forbes K. Wilson menandatangani kontrak dengan Oost-Borneo Maatschappij. Yang kemudian mendirikan Zuid Pacifik Koper Maatschappij (ZPKM). Pada bab ini pula, penulis membahas akan kesulitan-kesulitan yang ditemui perusahaan ZPKM karena kebijakan anti-liberalisme Soekarno dan juga ketidakberpihakan John. F. Kennedy yang akhirnya membuat mereka disingkirkan.

Tahun 1962 adalah tahun yang sulit bagi Freeport. Di satu pihak, perusahaan pertambangan yang terancam merugi karena terjadinya revolusi sosial Kuba. Di pihak lain, saat Freeport mulai mendapat harapannya kembali untuk melakukan akumulasi kapital melalui bisnis pertambangan di Papua Barat, ketika itu Freeport kembali dikecewakan oleh fenomena politik yang tengah terjadi di Indonesia (baca: Soekarno). Untuk mencapai tujuannya, Freeport mulai melancarkan kamuflase untuk menyingkirkan segala halangan. Di mulai dengan terbunuhnya Kennedy pada tanggal 19 November 1963. Hingga kolaborasi petinggi Freeport-CIA-Militer Indonesia yang berhasil “dibeli” oleh Amerika Serikat dalam pelengseran Presiden Soekarno. Pasca 1965, Freeport dan Amerika Serikat mendapat angina segar untuk mulai menjarah kekayaan alam di Indonesia. Tokoh sentral dalam membawa masuknya Freeport ke bumi Indonesia ialah Julius Tahija-Ibnu Sutowo-Soeharto.

Julius Tahija orang yang memperkenalkan petinggi-petinggi Freeport ke Ibnu Sutowo, selaku menteri Pertambangan dan Perminyakan, yang kemudian berhasil meyakinkan para investor dan pengusaha Eropa untuk mulai berbisnis di Indonesia, terutama dalam hal ini ialah kebebasan masuknya Freeport ke Indonesia. Dan Soeharto yang kemudian menjadi Presiden menggantikan Soekarno yang langsung menjadi “anak emas” Amerika Serikat. Langkah pertama yang dilakukan oleh rezim Soeharto atas desakan para kapitalis Freeport ialah memastikan tanah Papua (Irian Barat) masuk sebagai wilayah Indonesia, maka dirancang dan dilaksanakanlah manipulasi PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat ) pada tahun 1969. Melalui 1024 wakil Papua yang sengaja dipilih oleh pemerintah itulah, dengan propaganda yang intensif akhirnya Papua “bergabung” dengan NKRI. Dua tahun sebelumnya, tahun 1967 kolaborasi Soeharto-Ibnu Sutowo membawa perusahaan-perusahaan migas asing berbondong-bondong masuk ke Indonesia.

Melalui buku ini juga Paharizal dan Ismantoro, dengan cermat mendeskripsikan perubahan nama Freeport Sulphur Company yang pada 1972 melakukan penggalian mineral pertamanya di tanah Papua berganti nama menjadi Freeport Minerals Company. Sedangkan untuk perusahaannya yang tengah beroperasi di Papua diberi nama PT. Freeport Indonesia Delaware Incorporated (Inc).

Pada bab tiga, mulai memasuki masalah yang cukup krusial, dengan judul Fakta Freeport Di Tanah Papua. Baik Paharizal maupun Ismantoro berusaha menyajikan berbagai fakta yang sebenarnya telah diketahui namun di simpan agar tak mencuat ke permukaan. Dimulai dengan pembayaran royalti yang wajib di bayar Freeport pada pemerintah Indonesia ialah 35,5% – 41,75%. Namun faktanya, sejak kontrak Karya pertama hingga perpanjangannya selesai tahun 2041, Freeport hanya diwajibkan membayar royalti 1,5-3,5%, sementara royalti untuk emas hanya 1% dan itu pun sering menunggak. Saat ini royalti yang dibayarkan oleh PT. Freeport kepada Papua (penduduk setempat) hanya 1%. Selain itu, Freeport juga dibebaskan dari kewajiban untuk menunjang pembangunan daerah atau provinsi, dan diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Freeport juga mendiskriminasikan upah dan lapisan-lapisan pekerjanya, contohnya sekarang Freeport mempekerjakan sedikit buruh-buruh ahli dari luar negeri yang berjumlah sekitar 850 orang, dan 1.200 buruh dari Indonesia. Untuk lebih menekan ongkos produksi, Freeport juga mempekerjakan buruh-buruh sub-kontrak.

Kesenjangan upah sangat terlihat di sini, jika upah buruh ahli Amerika Serikat sekitar 1.500 dollar AS perbulan, sedangkan upah buruh ahli dari Filipina, Korea Selatan, Australia dan Jepang berkisar 300 dollar AS perbulan, maka upah untuk buruh Indonesia hanya 100 dollar AS perbulan, yang jauh lebih miris lagi ialah upah bagi para buruh kasar dari Papua yakni Rp. 40 perhari. Sungguh menyayat hati!!! Freeport juga dengan terang-terangan melakukan pengekangan dan kekerasan pada buruh dan masyarakat adat di Papua, bahkan Freeport demi mempertahankan bisnisnya sekaligus memperluas jangkauan pertambangan tak segan untuk mengusir bangsa Melanesia dari tanahnya sendiri. Melalui UU Nomor 11 tahun 1967, tentang pertambangan umum terdapat ketentuan yang mewajibkan penduduk local menyerahkan tanahnya jika ada pertambangan masuk. Melalui UU ini, Freeport memindahkan paksa suku Amungme dan memaksa mereka untuk tinggal di tanah yang dikuasai suku Kamoro. Yang mengakibatkan perang antar suku. Demi kepentingan pertambangan Freeport tidak ragu untuk menciptakan konflik dan perpecahan di tanah Papua.

Rakyat ibarat ayam mati di lumbung padi. Pepatah ini sangat tepat untuk masyarakat Papua sejak Freeport memulai penggalian di Papua hingga kini, berkat kandungan mineral yang melimpah ruah di Papua perusahaan pertambangan yang hampir bangkrut kini menjadi perusahaan petambangan terkaya di dunia. Kekayaan Papua bukan untuk Papua, melainkan untuk kaum-kaum kapitalis yang bertopeng Freeport. Selama hampir 50 tahun beroperasi, Freeport telah meniggalkan luka yang dalam pada peduduk maupun alam Papua, yang mudah dilihat banyak anak-anak Papua yang yang menderita kurang gizi, cacat bahkan meniggal. Konflik-konflik rawan terjadi, rusaknya tanah surga akibat limbah pertambangan yang tidak dikelola dengan semestinya.

Mungkin masih banyak poin-poin dalam buku ini yang belum tertuang dalam ulasan ini, namun ulasan hanyalah pemahaman akan buku yang telah dibaca kemudian ditulis kembali dalam bahasa sang pengulas. Namun, semoga tidak gagal paham akan ulasan buku ini. Pada intinya buku ini sangat baik untuk rekomendasi pembaca, karena di setiap bab kita akan diajak berpikir dan berimajinasi dengan bahasa yang sederhana namun mengandung makna yang dalam. Melalui enam bab yang disajikan dalam buku ini, ada beberapa pertanyaan yang timbul dari benak pengulas. Bahwa Indonesia begitu luar biasa dengan kekayaan alamnya yang menggoda bangsa-bangsa lain di dunia untuk menjamahnya. Dengan berbagai nama, berbagai cara, dan berbagai upaya, yang semuanya itu demi satu kata KEUNTUNGAN semata. Semoga buku ini dapat membuka mata kita, bahwa penjajahan akan selau ada namun dengan nama dan cara yang berbeda-beda. Apa yang terjadi pada Papua bukankah itu bentuk kolonialisme terkini?

Mari berfikir kritis…

“Selain pemikiran kita sendiri, tidak ada hal apapun yang benar-benar di dalam genggaman kita”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.