Aksi Lawan Korupsi Tanpa Batas

Spread the love

Detektif Marco Ruffo dalam film The Mechanism mengatakan, korupsi seperti penyakit kanker yang sulit diobati, dan barang siapa mencoba mengobatinya pasti terluka. Mau coba mengobati korupsi? Silakan, pasti sakit. Setidaknya, meriang atau adem panas. Tapi itu tantangan. Bukankah hidup butuh tantangan? Tantangan identik dengan orang-orang yang mau berpikir. Berhasil menghadapi tantangan, artinya kita akan naik tingkat. Semakin tinggi tingkatan yang kita lewati, akan tambah banyak pula keistimewaan yang kita dapat. It’s so simple

Konsep berpikir tentang antikorupsi memang sederhana. Ada korupsi, kita lawan. Meski harus terluka. Namun, kita perlu tahu lebih banyak apa itu korupsi dan bagaimana cara melawannya. Definisi korupsi bisa kita dapatkan dengan banyak membaca buku. Saya rekomendasikan untuk membaca karya B. Herry Priyono, ‘Korupsi : Melacak Arti, Menyimak Implikasi’. Atau bagi penggemar film, sekali-sekali nonton The Mechanism, garapan Jose Padilha dan Elena Soarez. 

Sementara untuk melawan korupsi itu sendiri harus punya strategi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berkali-kali menyampaikan tiga elemen dalam pemberantasan korupsi. Yaitu penindakan, pencegahan dan pendidikan. Penindakan korupsi melekat pada aparat penegak hukum. Ada KPK, kepolisian, dan kejaksaan. Kita sebagai masyarakat sipil mengambil peran untuk mengawasi mereka. Dan tentunya melaporkan, jika kita mengetahui ada dugaan tindak pidana korupsi. Elemen pencegahan korupsi sendiri lebih mengarah pada perbaikan sistem agar orang-orang tidak bisa korupsi. Sedangkan pendidikan bertujuan membuat orang tidak mau korupsi.

Sampai sini sudah jelas, bahwa masyarakat punya peran dalam pemberantasan korupsi. Yang perlu dicatat, aksi lawan korupsi tidak mengenal batasan wilayah. Kita yang tinggal di daerah tak perlu minder dengan pegiat-pegiat antikorupsi di Jakarta. Toh, tujuannya sama, membumihanguskan korupsi. Pada akhirnya nanti, baik yang tinggal di kota maupun di daerah akan bertemu di jalan yang sama ; jalan pemberantasan korupsi. Biasanya, jalan itu memang sunyi. Jarang dilewati orang. Tapi mengasyikan. 

Sekarang saatnya kita yang cinta dengan negeri ini untuk berkontribusi dalam pemberantasan korupsi. Dimulai dari berpikir sederhana ; ada korupsi ya dilawan. Sudah bukan eranya lagi kita permisif dengan perilaku-perilaku korup. Sejarah negeri ini sudah terlalu banyak mencatat tentang itu. Budaya permisif harus kita ubah dengan sikap kritis. Jangan biarkan pikiran pasrah atas perbuatan-perbuatan jahat menguasai otak kita. 

Sudah cukup menunggu badai pasti berlalu. Saatnya kita menari di tengah badai seperti kata Vivian Greene ; Life isn’t about waiting for the storm to end, it’s about learning do dance in the rain. Terus bergerak, terus antikorupsi. Selamat merayakan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia). 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.