Alternative: “Musik Punk” Tidak Melulu Musisi Punk

Spread the love

Oleh Dana Asajiwanda

Seperti yang sudah saya utarakan pada blog ini sebelumnya, musik punk cenderung identik dengan efek distorsi, ritme cepat, dan lirik yang frontal. Ternyata, jika ditinjau dari kebebasan bermusiknya tidak semua seperti itu. Memang, kecenderungan itu ada di beberapa sub-aliran punk, antara lain punk rock, skate punk, hardcore punk, dan sedikit pada pop punk. Lalu terlintas di benak saya, apakah musik yang mengandung makna dan unsur punk haruslah identik dengan identitas demikian?

Saat merenung, terlintas juga di pikiran saya bahwa kecenderungan bukan berarti bersifat mutlak. Punk merupakan suatu bentuk kebebasan dalam bentuk apapun, termasuk ekspresi bermusik. Pada beberapa kasus, banyak dari musisi punk itu sendiri, yang pada momen tertentu “meninggalkan” kecenderungan distorsi dan ritme cepat, walaupun tetap mempertahankan lirik frontalnya dengan balutan musik yang lebih soft. Bahkan, contoh ekstrimnya bisa saja musisi aliran di luar punk menyisipkan makna dan unsur punk di dalam karya mereka.

Maksud makna dan unsur tersebut adalah kebebasan musisi menyuarakan keresahan hati, atau pun bentuk kritik perlawanan dalam bentuk karya musik tanpa mengindahkan suatu aliran, kuantitas, dan labeling yang diarahkan kepadanya. Pada intinya, pesan dari representasi punk dapat tersampaikan ke telinga pendengar. Tentu saja, pembaca pernah mendengar musik dengan sisipan unsur “gairah” punk, walaupun bukan dari musisi yang melabeli dirinya dengan sebutan punk.

Menurut saya, musisi seperti Jason Ranti, Iksan Skuter, dan (beberapa musisi yang ada dipikiran pembaca) adalah contoh dari sebagian kecil. Dari segi penampilan pun, sejauh ini mereka tidak mencerminkan identitas punk seperti tato sekujur tubuh, tindik, dan rambut mohawk ala punk ortodoks. Walaupun, mereka ada kesan yang merepresentasikan punk dengan cara berpenampilan sedikit lusuh dan apa adanya.

Ditinjau dari karya berupa lagu, banyak sekali aliran lain di luar aliran punk yang menyampaikan pesan kritikan, setidaknya, hampir sama maksudnya dengan lagu dari musisi punk. Lagu itu cuma dikemas dalam porsi dan alunan musik yang berbeda. Tetapi, tidak mengurangi esensi yang disampaikan pada lagu tersebut.

Bagi saya pribadi, bagian terpenting dari musik punk adalah buah pemikiran kritis dan bebas dari tekanan yang dituangkan dalam suatu karya. Efek distorsi, ritme cepat, dan identitas penampilan di dalam atau luar panggung hanyalah sebagai “pemanis” yang tidak bersifat mutlak. Mungkin pendapat saya melalui tulisan singkat ini sedikit nyeleneh dan menyimpang dari aliran punk ortodoks, bahkan neo-punk sekalipun. Setidaknya sampai di sini, tulisan ini sedikit memberi gambaran bahwa “musik punk” tidak melulu hasil karya dari musisi punk. Semoga materi seperti ini menarik minat pembaca untuk menuliskan opininya agar kancah musik khususnya punk lebih variatif dari berbagai sudut pandang.

Stay safe, healthy, and rock ‘n roll.

 

Dana Asajiwanda, Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Negeri Semarang 2018

 

-Ilustrasi: www.provoke-online.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.