Anak Itu Ingin Menulis Cerita

Spread the love

Oleh Gunawan Budi Susanto

Janua membacakan kisah yang dia tulis. Kisah pendek tentang kado Natal untuk Papua. Dia membaca pelan-pelan, seolah-olah khawatir salah mengeja. Atau, barangkali, dia khawatir saya salah memahami dan mengartikan ceritanya. Ketika dia menatap saya sekilas, saya memberikan isyarat dengan mengangguk: agar dia terus saja membaca, tanpa kekhawatiran apa pun.

***

Di seluruh dunia, orang-orang ramai merayakan Natal. Di seluruh dunia, banyak anak kecil bergembira, mengharap hadiah dari Sinterklas. Di negeri-negeri Eropa, saat perayaan Natal diselimuti hujan es begitu memukau. Namun tidak di tanahku, yang diselimuti tangisan dan darah.

Tentu sangat gembira dan bahagia bisa berkumpul dengan keluarga dan sanak-sodara untuk merayakan Natal. Namun tidak di tanahku. Hatiku diselimuti dendam, amarah, benci karena keluargaku jatuh bersimbah darah di bawah moncong senjata.

Ya, perayaan Natal sangatlah berbeda di tanahku. Sangat sulit. Perayaan Natal di tanahku penuh tangisan. Mayat berserakan, berjatuhan.

Kami merayakan Natal di hutan-hutan, di tenda-tenda pengungsian. Bagaimana mungkin bisa merayakan Natal dengan kebahagiaan, sementara Sinterklas berpakaian loreng mengokang senjata? Alih-alih merayakan Natal bukan dengan bunyi petasan, yang terjadi adalah bunyi tembakan senapan. Dan, mereka menembak seperti sedang berburu binatang saja.

Ya, itulah kado Natal di Tanah Papua. Kado berbalut luka, air mata, dan kebencian.

***

“Apa yang kaulakukan begitu Janua usai membaca tulisannya?” tanya Kluprut.

“Saat itu aku bilang, ‘Janua, kisahmu elok. Namun itu belum lagi jadi cerita, belum lagi jadi cerpen. Itu baru fragmen. Kisah itu bisa kaukembangkan menjadi cerita yang utuh. Pakailah bahasa yang membuatmu nyaman bercerita. Jangan memaksa diri menggunakan bahasa Indonesia baku, bahasa yang disebut baik dan benar.’ Begitu,” sahut saya.

“Ah, kau selalu cenderung memengaruhi bahkan acap kali memaksa orang lain agar berpikir dan bersikap sama seperti kau berpikir dan bersikap. Padahal, siapa bisa menjamin pikiran dan sikapmu pasti benar, pasti tepat?” sergah Kluprut.

“Begitukah?”

“Ya!”

Saya terdiam. Namun sejenak kemudian saya berucap, “Oh, Kluprut, terima kasih. Ya, ya, aku salah telah mengintroduksikan atau malah mengintervensi bagaimana Janua mesti berkisah. Kenapa aku tidak bertanya dulu apa yang dia lihat, dia dengar, dia rasakan, dia pikirkan, lalu dia harapkan dengan menulis kisah pendek itu? Kenapa aku tak mau mendengar dulu dia bercerita justru ketika kami berhadap-hadapan, duduk sama rendah berdiri sama tinggi? Sialan!”

“Mestinya kau bilang, ‘Maafkan saya, Janua, maafkan atas omongan saya. Silakan bercerita dulu bagaimana kisah tentang kado itu muncul dalam benakmu dan kemudian kautulis.’ Taklukkan egomu. Jangan semua dan setiap orang kauharuskan berpikir dan bersikap seperti kamu,” ucap Kluprut.

Saya kembali terdiam. Malu. Ya, kenapa saya tidak meminta Janua bercerita saja sebagaimana Kluprut bilang?

Jujur, saat itu, di benak saya berkelebatan citraan visual: seorang bocah hidup di tenda pengungsian. Dan, menjelang Natal, si bocah berharap Sinterklas datang: menghadiahkan buku dan alat tulis agar dia bisa menulis kisah tentang Tanah Papua yang elok. Tanah Papua tanpa penghancuran alam. Tanah Papua tanpa penindasan, tanpa pengisapan, tanpa pemerkosaan, tanpa penculikan dan pembunuhan.

Saat itu, dalam citraan visual, saya melihat bocah lelaki berusia sembilan tahun itu tersaruk-saruk masuk-keluar hutan bersama sang ibu, beberapa hari setelah sang bapak ditangkap. Mereka pergi meninggalkan rumah di kampung, menuju tenda pengungsian – yang kata orang, berpuluh-puluh kerabat dari berbagai kawasan tinggal di sana, sejenak setelah demonstrasi besar berakhir dengan penangkapan dan penembakan.

Dia berkenalan dengan beberapa bocah sebaya. Namun dia nyaris tak pernah bermain bersama mereka. Dia lebih kerap memilih menyendiri, duduk bersandar di batang pohon, rada jauh dari tenda pengungsian. Dia tenggelam dalam dunianya: membayang-bayangkan apa yang telah, sedang, dan bakal terjadi pada sang bapak. Sebagai anak tunggal, cuma Ibu dan Bapak yang dia punya. Tak ada lagi Kakek, tak ada lagi Nenek. Tak ada Om dan Tante, tak ada sepupu.

Kini, bahkan, di tengah berpuluh-puluh pengungsi, hidup dalam tenda butut bersama sang ibu, dia merasa sendiri. Sendiri dan kesepian. Berbulan-bulan sudah mereka tinggal di pengungsian. Tak ada kabar soal Bapak. Tak ada kepastian kapan bisa kembali ke rumah, kembali ke kampung. Tak ada kepastian apa pun.

Sekarang, menjelang Natal, menjelang tahun baru. Dulu, biasanya bersama sang ibu dan bapak, setelah beribadat di gereja, dia merayakan Natal dan menyambut tahun baru bersama teman-teman sebaya di seputaran rumah mereka. Bermain petasan. Kini, memang, dia acap mendengar bunyi ledakan dari kejauhan. Namun ledakan itu bukan bunyi petasan. Itulah dulu yang pernah dia dengar dan lihat. Ya, beberapa tahun lalu, juga beberapa bulan sebelum sang bapak ditangkap, dia acap mendengar letusan. Semula dia mengira itu bunyi petasan. Dia pun segera berlari, mencari sumber suara. Namun, astaga, dia melihat dari kejauhan: senapan menyalak dan orang-orang terjelepak.

Dia yakin, sekarang pun yang acap dia dengar di kejauhan sana bukanlah suara petasan. Itu suara tembakan.

Dia takut. Dia meringkuk, menggelung tubuh, gemetaran. Dia ingin kembali ke rumah. Dia ingin bisa kembali ke gereja, bersama Ibu, bersama Bapak. Dia tak ingin mendengar lagi suara tembakan. Dia tak ingin lagi melihat orang menembak. Tak ingin lagi melihat orang ditembak. Dia ingin melihat semua baik-baik saja.

Dia masih duduk bersandar sebatang pohon. Merunduk, menekur.

Dia ingat dulu menjelang Natal: dia ingin Sinterklas datang. Karena itulah, malam-malam dia acap tak tidur: menunggu Sinterklas. Dia ingin meminta hadiah: Sinterklas menghentikan tembakan. Dia ingin hadiah: tak ada lagi tembakan, tak ada lagi orang ditembak. Dia ingin hadiah: kampungnya aman dan dia nyaman bermain-main bersama kawan-kawan, tanpa ketakutan.

Namun dia tak pernah berkesempatan bertemu atau menjumpai Sinterklas. Padahal, Bapa Pastor bercerita: Sinterklas, lelaki berjanggut panjang, berbaju merah-putih, mengendarai kereta yang ditarik rusa, terbang berkeliling dunia, membagikan hadiah kepada seluruh anak-anak. Semua dan setiap anak memperoleh hadiah sesuai dengan keinginan masing-masing.

Namun kenapa dia tak pernah memperoleh hadiah? Apakah Sinterklas tak pernah datang di Papua dan karena itu suara tembakan tak pernah terhentikan? Apakah Sinterklas tak bisa mencegah atau melarang orang-orang menembak?

Bocah itu makin merunduk. Kelu.

Kini, keinginan dia berubah. Dia ingin membaca cerita tentang sebuah kampung yang aman dan nyaman. Di kampung yang tak pernah terdengar suara tembakan. Di kampung yang tak pernah terdengar para bapak ditangkap.

Namun buku macam itu pun tak pernah dia peroleh, tak pernah dapatkan. Sinterklas tidak datang dan membagikan hadiah pada dia. Lalu, entah dari mana muncul keinginan: menulis cerita. Ya, dia ingin menulis cerita tentang kampung yang tak pernah ada suara tembakan. Kampung yang para bapaknya tak pernah ditangkap. Kampung yang aman dan nyaman. Entah di mana, entah kapan.

Dia pun mereka-reka macam apa kampung itu. Ya, kini, di tenda pengungsian, di tengah kelebatan hutan, dia membayang-bayangkan ada sebuah kampung yang nyaman dan menyenangkan. Dia tenggelam dalam lamunan, tenggelam dalam impian. Entah sampai kapan.

“Apakah dalam kisahmu itu, keinginan sang anak terwujud?” tanya Kluprut.

“Entahlah,” sahut saya.

“Kenapa entah? Bukankah kau yang mengarang kisah itu? Bukankah kau bisa saja menampilkan akhiran kisah yang menyenangkan, yang membahagiakan?”

“Bisa.”

“Kenapa tidak kau lakukan?”

“Aku tak yakin akhiran macam itu bisa terjadi dalam kenyataan.”

“Kisahmu itu nyata atau rekaan.”

“Entahlah. Kadang aku ragu: sebab yang nyata dan yang maya acap tertukar.”

“Sialan!”

 

Patemon, 1 Januari 2020: 19.49

 

Ilustrasi dari adira.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.