Analisis Teori FIRO: Hubungan Empat Pemimpin Muda pada Masa “Kebangkitan” PKI

Spread the love

Oleh Ardhiatama Purnama Aji

 

Sehimpun Kata perihal Kondisi Era Kini

Pada era kini, pemuda—atau secara spesifik mahasiswa—yang diharapkan sebagai agen perubahan, kerap kali dibuat jadi sengkarut dengan membuncahnya berbagai persoalan. Alih-alih memantik perubahan menuju Indonesia yang lebih baik, mereka (pemuda) justru merupakan sasaran empuk dari budaya konsumerisme, yang disinyalir, bertebaran karena adanya globalisasi. Seperti yang disampaikan dua Comaroff (dalam Naafs dan White, 2012: 99), globalisasi memiliki tendensi memperpanjang masa muda, jumlah pemuda yang tumbuh dalam suatu sistem referensi lifestyle dan budaya pemuda berdasar sebagai konsumen makin meningkat. Secara ironis, globalisasi menarik mereka ke dalam kultur dan konsumerisme kawula muda, namun secara bersamaan mengesampingkan mereka karena kedudukan ekonomi mereka yang dianggap marjinal.

Narasi Comaroff di atas menunjukkan bagaimana budaya dan gaya dapat menggiring pemuda menuju suatu ranah tertentu, tak terkecuali ranah politik.  Dalam ranah politik, kawula muda “diarahkan” untuk mengonsumsi citra dan tanda yang diedarkan oleh media, lalu karenanya mereka juga menumbalkan substansi, isi, dan makna (Aji, 2019). Pada April 2019, saya pun menuangkan kegelisahan dalam bentuk tulisan berjudul “Pemilu sebagai Budaya Populer Posmodern”. Dalam tulisan tersebut, saya mengisahkan pengalaman “kebanjiran” wacana mengenai Pemilu (Pemilihan Umum) di beranda akun Facebook, yang didominasi oleh status “teman-teman” saya terkait keberpihakan, simbol, serta tanda yang erat dengan Pemilu 2019. Maka dari itu, pengetahuan politik amat diperlukan. Menurut Danang Puji Atmojo—Mahasiswa Ilmu Politik UNNES 2018—dalam esai bertajuk “Melek Politik di Tahun Politik” (Atmojo, 2019: 8),

Politik tidak hanya tentang ikut berpartisipasi memberikan suara pada pemilihan umum tetapi juga untuk mentransformasikan apa yang sudah konstitusi mandatkan untuk mewujudkan cita-cita negara. Oleh karena itu politik harus diartikulasikan dan dijalankan pada tataran semua segmen dengan mendorong untuk berpartisipasi dan terlibat dalam segala bentuk pembangunan dan menjadikan insan politik yang konstruktif.

Pengetahuan politik pada era kini tidak hanya soal Pemilu—acap pula disebut “pesta demokrasi”, tapi semestinya mendorong pemuda berpartisipasi dalam berbagai wujud pembangunan dan menjelma insan politik yang konstruktif. Demikianlah alasan tulisan ini membahas hal yang inheren dengan pengetahuan politik. Secara spesifik, saya menyoroti bagaimana Njoto, Aidit, Sudisman, dan Lukman menggawangi Partai Komunis Indonesia (PKI), sehingga perkembangan partai politik itu sangatlah pesat pada 1948 hingga 1960-an. Guna memperoleh penjelasan yang rinci dan bisa dikontekstualisasikan pada era kini, esai ini ditulis melalui eksplorasi interdisipliner antara sejarah dan psikologi sosial.

Jembatan Menuju Eksplorasi Interdisipliner: Analisis Teori FIRO

Tentunya, pemilihan sejarah politik sebagai tema  besar esai ini bukanlah tanpa alasan. Perkembangan signifikan yang ditunjukkan PKI pasca-peristiwa Madiun 1948, merupakan faktor terkuat topik ini dipilih. Esai ini akan menjelaskan bagaimana hubungan para pentolan PKI—Njoto, Lukman, Sudisman, dan Aidit—terbangun secara psikologis sosial, dan sebisa mungkin tidak akan menyinggung sisi ideologis mereka, yang mana hal itu dapat membuat saya “akrab dengan sepatu pedeha”.

 Mengapa menggunakan pendekatan psikologi sosial? Sejarawan Perancis, Jean Chesneaux (dalam Tileaga dan Byford et al., 2014: 1) mengemukakan bahwa secara substansial, psikologi sosial memperluas sisi intelektual sejarawan dan memungkinkannya mengatasi perihal kesadaran kolektif dengan lebih efektif. Jika menengok latar persoalan berupa masalah pemuda dan pengetahuan politik warganet yang memprihatinkan seperti di atas, psikologi sosial diharapkan membantu memperjelas aspek yang dapat dijadikan referensi untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Dalam upaya menuliskan sejarah politik seperti esai yang saya tulis ini, menurut Kuntowijoyo, diperlukan delapan pendekatan dan sejumlah ilmu bantu (Kuntowijoyo, 2003: 176-184). Dari sejumlah pendekatan dan ilmu bantu yang disebutkan Kuntowijoyo, terdapat pendekatan behavioral dan psikologi. Pendekatan behavioral ini (yang lumrah termasuk studi sejarah perilaku) berfokus pada perilaku (behavior) negara dan partai politik dalam sosialisasi ide, kaderisasi anggota/pimpinan, serta pelaksanaan tindakan politik.

Berangkat dari kebutuhan akan pengetahuan psikologi dalam penulisan ini, saya—dengan ketetapan hati—memilih melakukan eksplorasi interdisipliner antara sejarah dan psikologi sosial. Menurut psikolog Inggris, Ivana Markova dalam tulisannya berjudul “Questioning Interdisciplinary: History, Social Psychology and the Teory of Social Representations”, terdapat dua sebab menggabungkan sejarah dan psikologi sosial merupakan eksplorasi interdisipliner, yakni:

First, social psychology and history could be interdisciplinary in the sense that they might combine knowledge from both disciplines about a spesific subject matter … Second, social psychology and history can be understood as interdisciplinary … in the sense that they underlain by a common epistemology to the extent that social psychological knowledge is historical and historical knowledge is social psychological. (dalam Tileaga dan Byford et al., 2014: 109-110)

Dengan alasan-alasan di atas, salah satu teori psikologi sosial, Fundamental Interpersonal Relations Orientation (FIRO) menjadi teori yang diaplikasikan dalam penulisan esai ini. Teori yang ditemukan oleh William C. Schutz pada 1950-an ini menjelaskan tentang relasi kelompok berdasarkan perilaku antarpribadi. Secara general, teori FIRO berisi tiga kebutuhan interpersonal (antarpribadi): inklusi (keikutsertaan), kontrol, dan afeksi (kasih). Di dalamnya, teori ini membahas sejumlah postulat dan teorema terkait identifikasi, integrasi, perkembangan serta kompatibilitas kebutuhan antarpribadi pada suatu kelompok (Sarwono, 1984: 159-172).

Aplikasi teori FIRO dalam penulisan sejarah ini bisa dikatakan sebagai interdisipliner seperti yang disampaikan Ivana Markova sebelumnya. Pertama, karena pengetahuan psikologi sosial dan sejarah bisa dikombinasikan dalam suatu subjek tertentu, misalnya di penulisan sejarah politik dengan pendekatan behavioral. Kedua, karena pengetahuan sejarah bersifat psikologis sosial dan pengetahuan psikologi sosial bersifat historis. Sebagai contoh, salah satu postulat teori FIRO menyatakan bahwa perilaku yang dilakukan pada masa dewasa merupakan kelanjutan relasi orang tua-anak pada masa kecil. Postulat tersebut mengafirmasi satu hal, bahwa keterangan terkait hubungan interpersonal pada masa lampau diperlukan dalam penerapan teori FIRO. Dari sini, dapat dikonklusikan bahwa analisis teori FIRO adalah suatu interdisipliner yang sangat mungkin dilakukan dalam penulisan sejarah politik.

Teori FIRO: Teori Tiga Dimensi tentang Tingkah Laku Antarpribadi

Dalam postulat pertama, Schutz menyatakan terdapat tiga kebutuhan antarpribadi, yakni inklusi, kontrol, dan afeksi (Sarwono, 1984: 163-168). Berikut penjelasannya:

  1. Inklusi (keikutsertaan), merupakan perasaan ikut saling memiliki dalam sebuah situasi kelompok dan didasari oleh kebutuhan akan hubungan memuaskan dengan orang lain. Kebutuhan interpersonal inklusi terdiri atas tiga tipe: undersocial behavior (perilaku kurang sosial), social behavior (perilaku sosial), dan oversocial behavior (perilaku terlalu sosial.
  2. Kontrol, ialah mengenai aspek pengambilan keputusan dalam hubungan interpersonal dan didasari oleh keinginan mempertahankan suatu hubungan dengan orang lain terkait kuasa dan wewenang. Kebutuhan interpersonal kontrol mempunyai empat tipe: abdicrat behavior (perilaku abdikrat), democrat behavior (perilaku demokrat), autocrat behavior (perilaku otokrat), serta perilaku patologis seperti ketaatan obsesif dan psikopat.
  3. Afeksi, yaitu perihal mengembangkan ikatan emosional terhadap orang lain dan didasari oleh hasrat untuk disukai dan dicintai. Kebutuhan antarpribadi ini memuat empat tipe, yakni underpersonal behavior (perilaku kurang pribadi), personal behavior (perilaku pribadi), overpersonal behavior (perilaku terlalu pribadi), serta perilaku patologis berupa psikoneurosis.

Di samping itu, teori ini perlu menunjukkan derajat suatu hubungan antara dua orang atau lebih berdasarkan tiga kebutuhan interpersonal di atas. Schutz menamakan hal itu sebagai kompatibilitas, yang kemudian ia bagi menjadi tiga jenis (Sarwono, 1984: 169-170), yakni:

  1. Interchange compatibility (kompatibilitas saling terkait), bisa dikatakan maksimum apabila derajat yang ditunjukkan maupun yang diharapkan oleh satu pihak persis sama dengan pihak lain. Perilaku dan harapan itu dapat menyangkut kebutuhan inklusi, kontrol, atau pula afeksi.
  2. Originator compatibility (kompatibilitas asal-usul)
  • Kebutuhan inklusi: kompatibilitas maksimum tercapai jika pihak yang hendak melakukan kegiatan yang membutuhkan pengikut bertemu dengan pihak yang hendak ikut dalam kegiatan tersebut
  • Kebutuhan kontrol: kompatibilitas maksimum tercapai ketika pihak yang hendak mendominasi bertemu dengan orang yang hendak didominasi.
  • Kebutuhan afeksi: kompatibilitas maksimum tercapai saat pihak yang hendak mengekspresikan afeksi berjumpa dengan pihak yang hendak memperoleh afeksi.
  1. Reciprocal compatibility (kompatibilitas timbal-balik), diukur melalui derajat ekspresi yang hendak ditunjukkan oleh salah satu pihak dalam salah satu dari tiga kebutuhan interpersonal sebelumnya, dengan kadar harapan pihak lain. Misalnya, relasi dua pihak disebut kompatibel, apabila kadar afeksi yang diekspresikan satu pihak sama dengan yang diharapkan pihak lain.

Kemudian, Schutz mengemukakan bahwa kompatibilitas dari relasi dua orang dapat diukur dengan mengakumulasi kadar tiga jenis kompatibilitas di atas.

Nukilan Kisah tentang Aidit, Njoto, Sudisman, dan Lukman

Pada Januari 1951, suatu kelompok baru yang beranggotakan empat pemuda: D. N. Aidit, M. H. Lukman, Njoto, dan Sudisman berada di tampuk tertinggi PKI. Keempat dari mereka memicu perubahan besar. Mereka memicu, mengarahkan, hingga mengubah PKI dari yang lemah, terpecah, dan putus asa menjadi organisasi yang bertumbuh dan memiliki gerakan kuat (Mortimer, 2006: 29). Dalam struktur organisasi PKI, Aidit bertindak sebagai ketua, Lukman diplot sebagai Front Persatuan, Njoto berperan memimpin urusan agitasi dan propaganda (Zulkifli dan Hidayat, 2010b). Merujuk kepada Mortimer (2006: 29), Sudisman menjadi sekretaris jenderal PKI.

Alkisah, Aidit adalah seorang beretnis Melayu yang mulai tertarik pada gerakan kiri ketika berada bergabung dalam Gerakan Rakjat Indonesia (Gerindo) saat Perang Asia Timur Raya terjadi. Di sana, ia dipengaruhi oleh Muhammad Jusuf, seorang Marxis dengan kecondongan mistis yang akan menjadi pemimpin PKI seusai perang. Kepada Jusuflah, Aidit meminjam salinan buku Das Kapital versi bahasa Belanda karya Karl Marx. Kemudian, pada 1943, Aidit ambil bagian di bawah naungan PKI. Pada waktu—kurang lebih—bersamaan, Aidit bertemu dengan Lukman lalu menjalin pertemanan yang erat, di sana, mereka melakukan aktivitas yang setara, dan boleh jadi dikatakan sama (Mortimer, 2006: 35).

H. Lukman, yang berteman dengan Aidit sejak 1943 tersebut, berusia tiga tahun lebih tua. Lukman, yang merupakan putra seorang kyai di Jawa Tengah, sudah lebih dulu aktif di dalam Sarekat Rakjat, sebuah asosiasi komunis yang terpecah dari Sarekat Islam. Ia pernah dijerumuskan ke penjara oleh Belanda setelah Pemberontakan Antikolonial 1926, lalu pada 1929, ia diasingkan ke kamp tahanan politik Boven Digul, Papua Barat. Pada 1938, ia kembali ke tanah kelahirannya, Tegal dan bekerja sebagai kondektur bus hingga kedatangan Jepang. Ia bergabung ke dalam PKI di Jakarta diduga pada saat yang bersamaan dengan Aidit (Mortimer, 2006: 38-39)

Njoto merupakan seorang putra dari salah satu pegawai PKI di Surakarta. Ia ikut berpartisipasi sebagai kader PKI ketika berumur 14 tahun pada 1939. Selama penjajahan Jepang, ia aktif dalam kegiatan bawah tanah di Jawa Timur. Pada 1945 akhir, ia bertempur dalam Pertempuran Surabaya melawan Pasukan Inggris. Bulan November 1945, dia menjabat sebagai seorang komite seksi PKI di Besuki dan berikutnya makin dikenal di kalangan lokal (Mortimer, 2006: 39). Pun pada tahun yang sama, ketika Njoto berperan sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), ia bertemu Lukman dan Aidit di Yogyakarta (Zulkifli dan Hidayat, 2010b: 13).

Sedang Sudisman merupakan anggota tertua kelompok ini—pada 1951—yang menjadi anggota PKI sejak 1948. Dari keempat sebelumnya, Sudismanlah yang mengenyam pendidikan paling tinggi. Ia sempat ambil bagian dalam gerakan anti-Jepang lalu ditangkap pada September 1942. Ketika dibebaskan tiga tahun berikutnya, ia kembali bertarung dalam Pertempuran Surabaya dan bergabung dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) Jawa Timur. Pada November 1945, ia menjabat sebagai sekretaris jenderal Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) dan merupakan pemimpin partai-partai sayap kiri pada 1946-1947. Tahun 1948, ia menjadi anggota Politbiro PKI. Setelah Madiun Affair, ia membantu dalam membangkitkan kembali PKI serta bergerilya melawan Belanda hingga ditangkap pada Juni 1949. Ia dibebaskan sesudah Konferensi Meja Bundar disepakati, kemudian menjadi kepala sekretariat PKI di Yogyakarta (Mortimer, 2006: 40).

Kemunculan mereka sebagai pimpinan PKI membawa dampak yang cukup besar. Hal itu tampak pada peningkatan jumlah keanggotaan PKI. Pada 1952, PKI  beranggotakan kurang dari 7.000 orang selanjutnya meningkat menjadi lebih dari 150.000 orang pada 1954 (Mortimer, 2006: 42). Signifikan bukan?

Analisis Teori FIRO pada Hubungan Aidit, Njoto, Lukman, dan Sudisman

Peningkatan yang signifikan pada jumlah keanggotaan PKI di atas, tentunya memiliki banyak faktor. Salah satunya, hubungan interpersonal pimpinan PKI yang akan saya kulik lebih dalam. Hubungan interpersonal mereka itu, menurut teori FIRO, utamanya didasari oleh tiga kebutuhan antarpribadi: inklusi, kontrol, dan afeksi. Berikut adalah analisis saya terhadap kebutuhan antarpribadi mereka (Aidit, Sudisman, Njoto, dan Lukman).

Kebutuhan inklusi (keikutsertaan) Aidit bisa saya sebut sebagai social behavior (perilaku sosial). Hal itu terlihat pada sifat partisipatif Aidit yang tidak ikut-ikutan. Aidit telah ikut serta dalam organsisasi dan dengan dasar pengetahuan yang ia dapat dari buku seperti Das Kapital. Tak hanya itu, ia juga kerap diberi arahan oleh Muhammad Jusuf pun Musso (Zulkifli dan Hidayat, 2010a: 40) dan Alimin (Zulkifli dan Hidayat, 2010b: 14).

Kebutuhan inklusi Njoto kurang lebih sama dengan Aidit, ia berperilaku sosial (social behavior). Sejak usia belia, ia gemar membaca mengenai buku ideologi nan berat berbahasa asing hingga ia mengenal Karl Marx, Stalin, dan Lenin. Budaya membaca tersebut ditanamkan di dalam keluarga oleh ayah Njoto, Raden Sosro Hartono. Kemungkinan besar, Njoto terpengaruh pula oleh orang yang kerap bertamu di rumahnya, yakni aktivis gerakan politik yang pernah dibuang ke Boven Digul (Zulkifli dan Hidayat, 2010b: 11-12). Dengan faktor-faktor tersebut, akan menjadi hal yang lumrah apabila Njoto mulai aktif bergerak dan mengaplikasikan pengetahuan yang ia punya. Disadari atau tidak, ia akan menganggap dirinya berharga dan orang lain pun tahu, walaupun Njoto tak menonjol-nonjolkannya.

Lukman maupun Sudisman, saya pikir, memiliki perilaku sosial yang serupa. Mengingat riwayat yang mereka telah torehkan dalam perjuangan di bidang politik.  Kesamaan perilaku sosial dalam kebutuhan antarpribadi inklusi dari keempatnya merupakan sebentuk reciprocal compatibility (kompatibilitas timbal balik).

Kebutuhan antarpribadi kontrol masing-masing dari mereka akan tampak pada keputusan yang diambil. Terkait pengambilan keputusan, PKI terlihat acap mengadakan pertemuan-pertemuan, seperti Konferensi Nasional 1952, Pleno Central Comite 1953, dan Kongres Nasional Ke-5 PKI 2954 (Aidit, 1955: 41-43). Hal itu menunjukkan (kemungkinan besar) empat dari mereka berperilaku demokrat (democrat behavior). Orang-orang yang berperilaku demokrat akan dapat memecahkan berbagai masalah dalam hubungan interpersonal. Meskipun Aidit tampak lebih dominan, ketiga yang lain tidak akan mempersoalkan, tergantung situasi dan kondisinya (Sarwono, 1984: 167).

Perihal kebutuhan antarpribadi afeksi, jenis perilaku interpersonal Njoto, Aidit, Lukman, dan Sudisman akan tampak pada ikatan emosional di antara masing-masing mereka. Ketika Njoto bertempat tinggal di Jalan Malang, Menteng, Jakarta, mereka (kecuali Sudisman) kerap bertemu di sana. Menurut Windarti (dalam Zulkifli dan Hidayat, 2010b: 17-18), mereka mengobrol di ruang tamu lalu ke kamar kerja sambil melihat koleksi buku. Mereka juga selalu pergi bersama-sama jika ada pameran lukisan. Atas dasar perhatian-perhatian yang masing-masing berikan, dapa dikatakan bahwa mereka (kecuali Sudisman) berperilaku pribadi (personal behavior). Sedang Sudisman (dalam Mortimer, 2006: 13) menunjukkan perilaku terlalu pribadi (overpersonal behavior). Sudisman berkata:

“Why would I choose the path of the courts when my beloved comrades, my colleagues in the party leadershipThe four of them are I, and I am the four of them. Communist Solidarity demanda that I unite my stance with theirs and I have been five (ditambah Sakirman) in one … For this solidarity one must be ready to make sacrifices, since without this readiness to make sacrifices, and to subordinate personal interest of the interest of all, solidarity cannot be achieved.”

Sudisman tampak kagum dan merasakan betapa kuat solidaritas di antara mereka. Meskipun ia—disinyalir—berperilaku overpersonal, ucapannya tersebut memperlihatkan pula kompatibilitas yang terbentuk dalam kelompok ini. Hubungan interpersonal keempatnya saya konklusikan telah mencapai derajat maksimum sehingga disebut originator compatibility dan reciprocal compatibility pada tiap kebutuhan antarpribadi.

Alasan mengapa perkembangan PKI sangat masif dan signifikan, setidaknya, dapat kita ketahui salah satu alasannya dari sudut pandang psikologi sosial, khususnya teori FIRO. Hubungan interpersonal kompatibel yang mereka miliki itu adalah suatu “tanda bahaya” bagi lawan-lawan politik PKI. Oleh karena itu, menjadi hal yang lumrah apabila pembantaian PKI pada 1965-an adalah jalan paling efektif dalam menumpas partai komunis tersebut.

Memetik Pelajaran dari Hubungan Aidit, Lukman, Njoto, dan Sudisman

Bila kita menengok kembali alasan saya memilih topik ini, hubungan Aidit, Lukman, Njoto, dan Sudisman dapat mengajarkan bagaimana membentuk kompatibilitas suatu kelompok (politik). Kompatibilitas tersebut, salah satunya, berasal dari basis pengetahuan yang membentuk jenis perilaku kebutuhan antarpribadi. Pengetahuan politik yang kita perlukan pada era kini, tentunya bisa diperoleh melalui membaca dan berdiskusi seperti yang dilakukan oleh Aidit dan Njoto.

Pengetahuan politik yang diperoleh, bukan semata-mata untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan, melainkan untuk mewujudkan cita-cita negara serta menjadi alam sagir politik yang konstruktif. Sebagaimana yang kita tahu sebelumnya, berbagai persoalan kekinian yang dihadapi pemuda telah membuncah, terutama soal budaya dan efek-efek globalisasi. Dengan basis pengetahuan politik berupa informasi dari beraneka sumber dan beraneka pula proses mendapatkannya, pemuda akan memperkuat posisinya (baik dengan argumentasi maupun pengayaan perspektif) dalam konteks masalah kekinian tersebut.

Basis pengetahuan yang kita dapat melalui membaca pun tidak serta-merta berguna, apabila tidak kita praktikkan. Pergerakan Njoto, Aidit, Lukman, dan Sudisman di atas pun bisa diaplikasikan pada zaman sekarang, melalui komunikasi dan pertemuan dengan banyak orang, merasakan hidup dari berbagai sudut pandang. Apabila makin banyak pemuda yang semacam ini, lalu berkumpul dalam wadah yang sama, kompatibilitas yang akan terbentuk kurang lebih sama dengan relasi pimpinan PKI di atas. Berangkat dari kelompok yang relasinya kompatibel itu, pemuda akan lebih mudah pula merumuskan rencana, strategi, tindakan konkret, serta evaluasi dalam serangkaian ikhtiar menghadapi persoalan jaman now.

Barangkali, analisis saya yang serba kurang ini belum “pas” sebagai salah satu esai sejarah. Namun, dengan eksplorasi interdisipliner, psikologi sosial mempunyai peran yang baik dalam upaya mengulik guna praktis dari sejarah. Saya harap, esai ini adalah salah satu produk eksplorasi interdisipliner yang dapat membantu pemuda mengatasi persoalan kekinian. Sekian dan terima kasih.

 

 

Sumber-Sumber:

Aidit, D., 1955. Lahirnja PKI Dan Perkembangannja (1920-1955), Djakarta: Jajasan Pembaruan.

Aji, A., 2019. Pemilu sebagai Budaya Populer Posmodern. [Daring] (14 April 2019) Tersedia di: https://kalamkopi.wordpress.com/2019/04/14/pemilu-sebagai-budaya-populer-posmodern/ (diakses pada 16 September 2019).

Atmojo, D., 2019. “Melek Politik di Tahun Politik”, Transformer Edisi VI.

Kuntowijoyo, 2003. Metodologi Sejarah, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Mortimer, R., 2006. Indonesian Communism under Sukarno: Ideology and Politics, 1959-1965, Singapore: Equinox Publishing.

Naafs, S. dan White, B., 2012. “Generasi Antara: Refleksi tentang Studi Pemuda Indonesia”, Jurnal Studi Pemuda, Vol. 1 No. 2.

Sarwono, S., 1984. Teori-Teori Psikologi Sosial, Jakarta: Rajawali.

Tileaga, C. dan Byford, B. et al, 2014. Psychology and History: Interdisciplinary Explorations, Cambridge: Cambridge University Press.

Zulkifli, A. dan Hidayat, B., 2010. Aidit: Dua Wajah Dipa Nusantara Aidit, Jakarta: KPG.

Zulkifli, A. dan Hidayat, B., 2010. Njoto: Peniup Saksofon di Tengah Prahara, Jakarta: KPG.

Catatan: Tulisan ini sebelumnya diikutsertakan pada Lomba Esai Mahasiswa Sejarah Nasional 2019 dengan judul “Analisis Teori FIRO: Mengontekstualisasikan Hubungan Interpersonal Aidit, Njoto, Sudisman, dan Lukman pada Era Kini”.

Ardhiatama Purnama Aji, Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Negeri Semarang 2018

-Ilustrasi: sejarahsosial.org

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.