Bagaimana Chicken Nugget Bisa menjadi Simbol Masa Kini (Bagian 1)

Spread the love

Catatan Penerjemah: Penerjemah masih sangat amatir dan ugal-ugalan. Karena itu, inisiatif menerjemah tulisan merupakan bagian dari proses belajar. Dimuat di Kalamkopi.id agar mendapat koreksi. 

Inilah yang terjadi saat Anda mengubah dunia alami menjadi mesin pencipta keuntungan.

Simbol paling tepat pada era modern ini bukan mobil atau ponsel pintar. Namun chicken nugget. Ayam telah menjadi daging paling populer di Amerika Serikat. Dan pada 2020, diproyeksikan akan menjadi daging terfavorit di seluruh planet. Karena itu, peradaban masa depan akan diketahui dari jejak manusia dalam catatan fosil habitat 50 miliar unggas per tahun. Hal inilah yang menandai apa yang saat ini disebut dengan era Antroposen. Namun, pertanggungjawaban atas perubahan dramatis ini terletak bukan pada aktivitas manusia secara umum. Tapi pada kapitalisme. Kita diajarkan pemahaman bahwa ini adalah sistem ekonomi. Padahal kapitalisme tidak hanya mengatur hierarki pekerjaan manusia. Kapitalisme adalah apa yang terjadi hari ini. Terutama saat kekuasaan dan uang berkombinasi untuk mengubah dunia alami menjadi sebatas mesin peraup keuntungan. Dan sebenarnya, cara kita memahami alam pun sangat berutang pada cara kapitalisme.

Setiap peradaban memiliki beberapa perbedaan dalam menerjemahkan “kita dan “mereka”. Akan tetapi, hanya di bawah kapitalisme terdapat batas antara “masyarakat” dengan “alam”—sebuah pembatasan ketat dan keras yang sangat berakar sejak era kolonialisme.

Bentuk pertamanya bermula pada era Christopher Colombus. Saat itu kapitalisme membuat sebuah pembagian khusus. Dalam pikiran para filsuf, “Alam” menjadi lawan dari “Masyarakat”. Hal ini kemudian menjadi dasar kebijakan imperium-imperium di Eropa, dan menjadi perhitungan pusat-pusat finansial dunia. Alhasil “Alam” pun menjadi tempat meraup keuntungan. Sebuah “tempat asing (di luar sirkuit kapital)” yang luas dan menunggu dijamah para penjajah dan kapitalis. 

Dengan alasan apapun, cara pandang seperti itu jelas berbahaya. Setidaknya karena telah menghancurkan kehidupan manusia dan binatang secara serempak. Karena itu, apa yang kita sebut dengan “alam yang gratis” tidak hanya mencakup hutan, ladang, dan aliran sungai. Namun juga termasuk mayoritas umat manusia itu sendiri. Misalnya pada era antara Columbus dan Revolusi Industri. Saat itu budak dan buruh kontrak dari Afrika, Asia, penduduk setempat (adat), dan terutama para perempuan, telah menjadi bagian dari “Alam”. Hasilnya, mereka pun diperlakukan sebagai sesuatu yang sangat murah (bahkan gratis). Jika manusia saja diperlakukan seperti itu, maka di bawah kapitalisme, tidak mengherankan jika binatang lainnya diperlakukan lebih buruk. Terutama binatang yang pada akhirnya kita bayar untuk menjadi makanan.

Binatang telah menjadi pusat transformasi makanan selama lima abad terakhir. Hal itu makin dipercepat setelah terjadinya Perang Dunia ke-2. Dan pada akhirnya, penciptaan dunia modern pun sangat bergantung pada keberadaan ternak sapi, domba, kuda, babi, dan ayam. Hal ini makin memperkuat keberadaan mikroba pembunuh, tentara, dan bankir. “Jejak ekologis” kapitalisme, sebuah frase yang diperkenalkan pembelajar makanan seperti Tony Weis, sejak itu telah mengglobal secara radikal. Pada 1961, Weis memberitahu kita bahwa konsumsi per kapita untuk telur dan daging telah dua kali lipat. Dan angka binatang-binatang yang dijagal naik delapan kali lipat, dari 8 miliar menjadi 64 miliar.

Bagi mereka yang berpandangan romantik tentang dari mana makanan mereka berasal, daging mentah dianggap sebagai bahan baku mentah yang belum mengalami proses (apapun). Padahal sebaliknya. Makanan dan biji minyak merupakan bagian dari apa yang dalam bahasa Weis disebut dengan “the industrial grain-oilseed-livestock complex”. Pasar biji-bijian memungkinkan daging mentah tidak lagi hanya menjadi makanan murah. Namun juga menjadi instrumen finansial. Misalnya, jika instrumen finansial di masa depan berada di perut babi, maka ia membutuhkan penyeragaman, homogenisasi, dan industrialisasi dari tanaman-tanaman yang mereka ubah. Dengan kata lain, kapitalisme telah memasak dengan canggih dan intensif daging mentah yang beredar di supermarket.

Di mana ada keuntungan, di situ selalu ada insentif yang direalisasikan secara efisien. Sistem produksi daging modern, bisa mengubah telur dan 4kg kantong pakan menjadi 2kg ayam dalam waktu 5 minggu. Waktu produksi kalkun juga berkurang hampir setengahnya dibanding antara tahun 1970 dan 2000. Saat itu, dari telur hingga menjadi 16kg burung masih membutuhkan waktu 20 minggu. Beberapa binatang lain juga memiliki model pembiakan yang serupa; terkonsentrasi untuk menjadi makanan dan menjadi rantai pasok global. Konsekuensinya, konsumsi daging skala planet pun terus mengalami peningkatan: 14% dari keseluruhan emisi karbondioksida berasal dari sistem produksi peternakan.

Tentu saja, konsekuensi lingkungan dari produksi daging berada di luar ongkos produksi industri peternakan. Alam hanya menjadi tempat dari mana binatang kemudian diambil dan menjadi hewan ternak pabrik. Setelah itu, alam pun menjadi tempat pembuangan sampah hewan, dan pembuangan limbah kita (manusia). Karena itu, berbahaya jika percaya bahwa terdapat pemisahan antara alam dan masyarakat. Terutama saat melihat “peternakan pabrik” sebatas soal lingkungan dan melihat “produksi pabrik” sebatas soal sosial. Perkara sosial adalah juga perkara lingkungan dan begitu pula sebaliknya.

Ayam tidak dengan sendirinya berubah menjadi nuggets. Kapitalis tetap membutuhkan pekerja murah. Saat orang-orang Eropa berinvasi ke dunia baru pada 1942, buruh-buruh itu muncul dengan sendirinya di tubuh para penduduk setempat. Sejak akhir abad ke 16, ketika orang-orang Spanyol sedang berusaha keras menjalankan lagi produksi perak di pegunungan perak Potosi, yang kini menjadi Negara Bolivia, mereka pun mulai menggunkan kata naturales untuk menyebut para penduduk setempat. Dengan doa dan kerja keras, para penduduk setempat, dan budak-budak dari Afrika itu, mungkin menemukan bentuk penebusan ilahi-nya dengan bekerja dan mungkin juga, suatu saat nanti di masa depan, masuk menjadi bagian dari masyarakat yang setara.

Pekerjaan tidak pernah dimaksudkan untuk kebahagiaan. Menilik etimologinya dari Bahasa Prancis, travail, dan dalam Bahasa Spanyol, Trabajo, yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris (sebagai kata benda) “work”: etimologi tersebut berakar pada Bahasa Latin, trepaliare, yang berarti, “untuk penyiksaan, untuk membebani atau menyengsarakan.” Tapi cara kerja tersebut telah berubah.

Selama ribuan tahun, kebanyakan manusia bertahan melalui hubungan intimnya dengan tanah atau laut. Mereka tidak terikat dengan tugas dan obyek pekerjaan. Kelangsungan hidup manusia bergantung pada pengetahuan yang menyeluruh, tidak terpisah-pisah: nelayan, pengembara, petani, tabib, koki, dan banyak pengalaman dan praktik lainnya yang mereka kerjakan, terhubung dalam satu jejaring kehidupan.

Sebagai contoh adalah petani. Dia mengerti tanah, pola cuaca, aneka biji—singkatnya, semua bahan dari tanam sampai panen. Namun itu tidak berarti bahwa pekerjaan itu menyenangkan—para budak tetap saja kerap diperlakukan secara brutal. Tidak juga berarti bahwa hubungan kerjanya adil: ketua serikat mengeksploitasi pekerja harian, raja mengeksploitasi budak, laki-laki mengeksploitasi perempuan, orang tua mengeksploitasi anak muda. Akan tetapi, pekerjaan itu didasarkan pada arti produksi yang menyeluruh dan terhubung pula dengan komunitas dan dunia kehidupan yang lebih luas.

Pada abad ke-16, hal itu mulai bergeser. Para petani Belanda atau Inggris—termasuk Portugis, kemudian orang-orang Brazil, pengusaha perkebunan tebu—makin terhubung dalam proses pengembangan pasar Internasional untuk makanan olahan. Bersamaan dengan itu, makin merekatkan hubungan antara waktu kerja dengan waktu panen. Pasar Internasional telah mendorong transformasi di tingkat lokal. Tanah di Inggris telah terkonsolidasi melalui jalan perampasan, yang berlangsung bersamaan dengan “penghancuran” kehidupan bersama sebagian besar masyarakat perdesaan. Hal ini membuat petani terusir dan membebaskannya untuk memilih pekerjaan lain. Dan jika mereka gagal, mereka pun bebas untuk memilih kelaparan atau menghadapi hukuman.

Sejarah semacam ini hidup dan berlangsung pada era chicken nugget modern. Para pekerja peternakan ayam dibayar sangat murah: di Amerika Serikat, hanya dua sen dari setiap dolar yang dikeluarkan untuk membayar para pekerja peternakan. Sangat sulit untuk mencari pekerja ketika, mengikuti sebuah studi di Alabama, 86% pekerja yang kerap memotong sayap ayam sering sakit karena melakukan kerja yang berulang-ulang. Akhirnya, beberapa operator peternakan ayam mensiasatinya dengan menggunakan buruh penjara yang dibayar 25 sen per jam. Di Oklahoma, manajemen perusahaan peternakan ayam kembali meleburkan kerja dan iman seperti pada era kolonial. Misalnya, pada 2007 mereka menyiapkan pula sebuah pusat perawatan bagi orang-orang yang kecanduan, Christian Alciholics & Addicts in Recovery. Alih-alih memenjarakannya, orang-orang yang kecanduan itu justru menjadi tenaga kerja dengan dalih program pemulihan. Di CAAIR, dengan alasan terapi pemulihan, para pendoa itu menjadi pekerja-tak-dibayar dalam proses produksi ayam. Jika Anda bekerja dan berdoa dengan rajin selama proses pemulihan, maka Anda baru diperbolehkan kembali ke tengah masyarakat.

Perekrutan pekerja CAAIR’s yang utama adalah anak muda dan orang berkulit putih. Tapi mayoritas pekerja peternak ayamnya, tetap dari orang-orang berkulit berwarna. Para imigran dari Amerika Latin merupakan pekerja utama di Amerika Serikat. Status mereka sebagai pekerja murah dimungkinkan karena proses restrukturisaasi kelas dalam dua babak berikut ini. Pertama, di Amerika Serikat, pada 1980an telah terjadi gerakan kuat dari perusahaan-perusahaan pengepakan daging untuk menghancurkan kekuatan serikat buruh dan menggantikan pekerja-pekerja yang berserikat dengan buruh imigran berupah murah. Kedua, saat North American Free Trade Agreement (Nafta) melakukan destabilisasi tatanan agraria Meksiko sejak 1994. Kebijakan itu menghasilkan arus buruh migran murah—serombongan pengangguran yang telah dihancurkan ekologi kapitalisme dari satu perbatasan Amerika Serikat ke perbatasan lainnya.

Peta garis batas antar kedua negara pun mengindikasikan abstraksi yang sangat kuat. Pertama, saat ini digunakan oleh kelompok kanan untuk merekrut dan menyebarkan ketakutan. Dan kedua, sangat digunakan betul oleh kapitalis untuk mencari pekerja-pekerja yang lebih murah dan lebih menguntungkan. Karena itu, di bawah kapitalisme, teritori negara, tanah ulayat, dan pekerja migran memang diproduksi secara terus-menerus.

Para pekerja imigran datang dengan rasa takut menjadi gelandangan. Inggirs pada abad ke-17 dan 18 pernah membuat peraturan tegas untuk menentang para gelandangan, dan membangun sebuah badan amal untuk memperbaiki dampak buruk kemelaratan. Dengan ancaman penjara, akhirnya para gelandangan bisa diarahkan menjadi pekerja upahan, sebuah aktivitas yang membutuhkan manusia-manusia yang cerdas, kuat, dan terampil. Ini adalah sebuah intervensi modern untuk mendisiplinkan mereka agar dapat menjadi buruh-buruh yang produktif: sebuah cara baru mengukur waktu.

Jika praktik perburuhan membentuk ekologi kapitalisme, maka mesin utamanya adalah jam mekanis. Jam—bukan uang—muncul sebagai alat utama mengukur nilai kerja. Perbedaan ini krusial karena menjadi sangat mudah untuk berpikir bahwa kerja upahan merupakan ciri dari kapitalisme. Padahal tidak: pada abad ke-13 di Inggris, hanya sepertiga dari jumlah populasi yang kelangsungan ekonominya bergantung pada upah. Dan upah tersebut telah menjadi cara yang menentukan dalam mengatur kehidupan, ruang, dan alam pada suatu lingkup waktu yang baru.

Bersambung

Sumber: http://bit.ly/JasonMoore1


One thought on “Bagaimana Chicken Nugget Bisa menjadi Simbol Masa Kini (Bagian 1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.