Bancakan dan Komunikasi Masyarakat Desa

Spread the love

Oleh Danang Puji Atmojo

Kala itu, pasca petang terlihat pemandangan para pria sedang berjalan berderet untuk menghadiri acara bancakan. Maksud dan tujuan mereka sama: segera sampai pada satu titik, di rumah sohibul hajat (tuan rumah acara).

Mereka berdatangan berkat secarik undangan yang sudah diberikan oleh perantara. Ia diberi mandat oleh sang sohibul hajat agar lembaran undangan segera tersampaikan kepada orang-orang yang dituju.

Kalau beruntung, bisa langsung bertemu dengan mereka yang dituju. Kalau sedang tidak beruntung, undangan terpaksa diletakkan terselip di sela pintu. Atau bisa saja ditaruh di lantai persis depan pintu—lengkap dengan tindihan batu, biar tidak kabur terbawa angin.

Suasana perjalanan menuju tempat tujuan pun terlihat menarik. Ada yang sambil berbenah sarung, ada yang sambil bercakap santai meniti jalan sambil menikmati rokoknya,  ada pula yang sedikit terburu-buru lari serampangan khawatir tak lekas sampai tujuan.

Untuk model yang terakhir, biasanya alasannya telat, maka dari itu mereka lari setengah bingung. Konsekuensinya, seringkali akan mendapat tempat di luar, entah itu teras atau tikar yang disediakan sang sohibul hajat.

Kalau apes, bisa-bisa mereka duduk beralaskan sandal masing-masing. Bagaimana lagi, mereka sudah tidak kebagian tempat duduk.

Hal itu bisa terjadi kalau jumlah tamu undangan sudah melebihi kapasitas. Kalau untuk bancakan skala besar bisa mencapai ratusan, sedangkan untuk skala kecil bisa mencapai puluhan.

Terlepas dari itu, bancakan memang menjadi hal yang biasa dilakukan di tempat kami. Lumrahnya dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atau selamatan. Bisa juga sebagai bentuk panjatan doa untuk orang yang sudah meninggal (tahlilan).

Di sisi lain, sebenarnya bancakan juga mempunyai maksud dan tujuan yang tak kalah penting, yakni sebuah proseskomunikasi yang mempertemukan beragam profesi.

Adalah mereka, para pekerja yang memiliki kesibukan masing-masing. Ketika mereka berangkat ke acara bancakan, secara tidak langsung difasilitasi sebuah ruang sosial untuk berinteraksi satu sama lain.

Setelah menempuh perjalanan, mereka akan bersalaman dan disambut hangat oleh shohibul hajat. Lalu sesegera mungkinmencari tempat nyaman untuk menempatkan diri.

Masing-masing dari mereka akan memilih tempat sesuai dengan pengklasifikasian yang berdasar pada rentang usia.

Antara yang tua dan yang muda akan membentuk koloni masing-masing. Serta merdeka menentukan topik obrolan yang dirasa pas untuk masing-masing, sambil menunggu sang kiai datang untuk memimpin doa.

Di dalam koloni itu, mereka benar-benar melebur menjadi satu, saling tukar informasi dan gagasan. Walaupun didominasi oleh topik pekerjaan, mereka juga sesekali membahas isu aktual yang hangat, biasanya yang tayang di televisi atau media informasi lainnya.

Maka dari itu, bancakan bisa didaku sebagai medium alternatif yang sangat membantu pola komunikasi di desa.Ruang komunikasi di desa saat pagi hari memang terbatas.

Bagaimana tidak, warga desa didominasi oleh para petani. Sejak pagi buta mereka harus sesegera mungkin menenteng pacul berangkat ke sawah.

Pola komunikasi antar petani bisa dibangun bilamana mereka kebetulan tengah melakukan kerja kolektif.

Misalnya saat panen, dan tandur. Belasan orang akan mengerjakannya secara bersama-sama. Tak jarang mereka tentu mengisi aktivitas itu dengan mengobrol.

Namun, lain halnya untuk urusan ringan, biasanya akan diatasi sendiri. Misalnya jika sekadar untuk memupuk padi, cukup dilakukan seorang diri.

Alhasil mereka bisa seharian di sawah tanpa seorang teman. Padahal sepulang dari sawah, seringkali para petani memilih beristirahat daripada ngopi di warung.

Bahkan selepas Isyak seringkali suasana desa sudah sepi, tanpa ada orang yang Njagong (berbincang,Red). Hal itupulalah yang kemudian membuat terjadinya keterbatasan komunikasi di desa.

Belum lagi bagi para pekerja kantoran atau perusahaan. Ruang mereka untuk berkomunikasi dengan para tetangga yang berprofesi sebagai petani jauh lebih sempit. Saat pagi hari, para tetangga tentu sudah berangkat ke sawah. Sementara saat malam atau sepulangnya dari kantor, tetangganya yang petani itu telah beristirahat.

Nur Syahid, salah seorang petani mengatakan bahwa bancakan bisa menjadi wadah untuk mempertemukan masyarakat desa. Ditambah juga bisa menjadi wadah untuk tukar pengalamandari masyarakat desa beragam profesi.

“Yang petani bisa tahu obrolan pekerjaan lain, Mas. Mereka yang berprofesi non-petani juga bisa mengerti tentang perkembangan pertanian kita, Mas.” Tambahnya.

Alasan ini juga dibenarkan oleh salah seorang guru, Vinta Ashari. Ia menuturkan bahwa memang banyak pelajaran dalam tiap obrolan bancakan.

Mulanya ia baru saja pindah ke tempat tinggal baru. Tentu ia perlu beradaptasi dan berkenalan dengan para tetangga barunya.

Beruntung, karena adanya bancakan ia merasa tertolong. Komunikasi jadi lebih enak, karena bisa saling kenal dengan para tetangga barunya.Tidak perlu berkenalan kesana kemari.

“Owalah, ternyata itu Pak Guru yang baru pindahan ya.” Ucapnya menirukan respons warga yang menyambut hangat saat berada pada acara bancakan.

Di samping itu, ia juga sangat senang ketika mendengar obrolan-obrolan di luar keseharian profesinya. “Intinya, menambah wawasan dan mempererat silaturahmilah.”

Karena ia juga butuh obrolan yang tidak menjenuhkan setelah seharian mendidik anak didiknya, bergelut dengan materi ajar di sekolah. Belum lagi bagi profesi yang mengharuskan iaseharian mutlak di tempat kerjanya.

Selang berapa lama, sang kiaipun datang, acara segera dimulaidan dipimpin langsung olehnya. Obrolan ditunda hingga serangkaian acara dandoa selesai. Setelah doa selesai, berkat atau makanan yang jadi ciri khas bancakan dibagikan kepada tamu undangan.

Menunggu bancakan selesai dibagikan, obrolan mulai terbangundengan sendirinya.Mereka memulainya sambil menikmati hisapan rokok yang dibagikan mengitari mereka—tak lupa, budaya saling pinjam korek juga menjadi ciri khas yang tak bisa ditinggalkan.

Sang utusan tadi sudah pasti bakal sibuk mendata, meneliti, dan menitipkan berkat untuk mereka yang tidak berangkat kepada tetangga terdekatnya.

“Shollu ala nabi Muhammad…” Sang Kiai memberikan pertanda penutup sekaligus penegas bahwa acaranya telah usai. Namun bagi siapa pun yang tetap inginmelanjutkan obrolanakan dipersilakan. Biasanya akan berlangsung hingga sangat larut malam.

Soal kebersamaan dan solidaritas, seharusnya kita perlu banyak belajar dari masyarakat desa. Mereka punya cara tersendiri untuk merawat kepercayaan dan semangat-semangat itu.

Selain bisa mempertemukan beragam orang, secara tidak langsung bentuk komunikasi di desa seperti ini bisa menjadi penjembatan identitas bersama mereka, para penduduk desa.

Rasa kebersamaan seperti itu yang nantinya akan menjadi landasan mereka untuk mempererat semangat-semangat gotong-royong, sehingga timbul keyakinan bahwa hidup itu tidak individual, karena hidup itu bergantung pada orang lain.

Danang Puji Atmojo, Mahasiswa Ilmu Politik UNNES 2018

-Ilustrasi: https://cdn-asset.jawapos.com/wp-content/uploads/2017/07/nasi-bancakan-yang-kian-ngehit-dekat-di-hati-dekat-di-lidah_m_144890.jpeg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.