Banjir Semarang: Tepatkah Menyalahkan Hujan?

Spread the love

Beberapa media menyebut “Semarang dikepung banjir” untuk menggambarkan kondisi ibu kota Provinsi Jawa Tengah itu pada Sabtu (6/2) lalu. Banyak wilayah di kota Lumpia itu tergenang air. Bahkan sejak sehari sebelumnya. Dari Semarang Barat, Timur, sampai Utara. Mulai dari perumahan, stasiun, bandara, terminal, hingga jalan raya. Semua terendam.

Tinggi genangan bervariasi. Di Perumahan Tanah Mas, genangan mencapai pinggang orang dewasa. Sementara di beberapa titik lain mencapai satu meter. Ratusan warga harus diungsikan, dievakuasi dengan perahu karet.

Kondisi Stasiun Tawang juga parah. Genangan di lobi penumpang mencapai 70 sentimeter. Beberapa rute kereta api terpaksa batal. Tak hanya itu, Bandara Ahmad Yani juga kebanjiran. Jadwal penerbangan hari itu (Sabtu, 6 Februari 2021) dibatalkan. Di Terminal Terboyo, tempat turun-naik penumpang tak bisa beroperasi.

Sejumlah ruas jalan utama juga tergenang, seperti jalan Gajah Mada, MT Haryono, Imam Bonjol, Agus Salim, dan sejumlah ruas jalan di Mangkang, Ngaliyan, sampai Terboyo. Kemacetan terjadi di sana-sini. Sekitar Simpang Lima dan Kota Lama juga ikut tergenang. 

Banjir tidak selesai dalam sehari. Minggu (7/2), banjir nyatanya tak kunjung surut. Berbagai media masih terus mengabarkan. Seorang dosen salah satu kampus swasta di daerah Terboyo menyebarkan foto di WhatsApp Group (WAG). Foto tersebut memperlihatkan salah satu titik di kampus itu bak kolam.

Dalam lima tahun terakhir, banjir di Semarang kali ini terbilang paling parah. Hal itu diungkapkan Dhani Ismail, warga Pengapon, Kelurahan Kemijen, Kecamatan Semarang Timur.

Banjir di tempat tinggalnya sulit surut. Tidak seperti banjir pada tahun-tahun sebelumnya. “Setidaknya butuh dua hari lebih. Terhitung sejak Sabtu itu” ujar Dhani kepada Kalamkopi.id.

Hingga Minggu (7/2) kemarin, air masih menggenangi rumah Dhani. Walaupun sudah tidak setinggi hari sebelumnya.  “Padahal tahun-tahun sebelumnya, biasanya dalam sehari air sudah benar-benar surut,” tambahnya.

Cerita Ade lebih detail. Warga Genuk ini mengungkapkan, air sudah mulai menggenangi teras rumah sejak Jumat (5/2) malam. “Memang tidak dalam. Tapi menggenangi,” ungkapnya.

Ia mengakui kampungnya memang sudah biasa tergenang air. Baik karena hujan maupun rob. Namun sejak lahir tinggal di sana, baru kali ini air sampai masuk ke rumah. Tinggi genangan hampir selutut orang dewasa.

“Air mulai masuk rumah pada Sabtu (6/2) sekitar pukul 05.00. Tak hanya rumah kami, banyak rumah yang juga kemasukkan air,” kata Ade. 

Padahal, lanjut Ade, tiap lima tahun sekali rata-rata warga meninggikan permukaan lantai rumah. Ada yang bertahap, ada pula yang sekali langsung tinggi. “Tapi ternyata tetap saja air masih masuk ke rumah,” ujarnya.

Minggu (7/2) banjir di kampungnya mulai surut. Tetapi tidak terlalu signifikan. “Memang biasa lama surutnya,” kata dia. 

Ade mengeluhkan sulitnya beraktivitas saat banjir kemarin. Semua serba sulit. Pergi ke mana pun tak mungkin ia tempuh dengan sepeda motor. Banjir di kampungnya cukup dalam. Beruntung, Sabtu itu keluarganya masih memiliki stok makanan. “Syukur kami masih bisa bertahan di rumah. Tidak mengungsi. Kami bikin tenda darurat di dag atap rumah,” ucap Ade. 

Cerita Dhani dan Ade itu dapat menjadi gambaran empiris betapa air ternyata dapat merepotkan manusia. Tetapi tidak selayaknya, dalam kasus banjir, manusia terus-menerus mengambinghitamkan air. Sebab air memiliki sifat-sifat yang tidak bisa dibantah.

Dalam konteks banjir, mestinya manusia ingat bahwa air memiliki sifat mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Air selalu menekan ke segala arah. Air meresap melalui celah-celah kecil. Keniscayaan itu yang mestinya manusia ingat dan resapi. 

Namun seperti biasa, penyebab banjir lagi-lagi disederhanakan menjadi sebatas faktor alam dan teknis. Tercermin melalui, misalnya, pendapat Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG); pendapat Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono; dan pendapat Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. 

Menurut BMKG, penyebab banjir karena faktor curah hujan. Dalam konteks banjir yang melanda Kota Semarang beberapa hari lalu, daerah dengan curah hujan tertinggi ada di Pos Hujan Beringin Kecamatan Ngaliyan (183 mm).

Menurut Basuki Hadimuljono banjir terjadi akibat siklus hujan lebat 50 tahunan. Siklus tersebut membuat Kali Beringin Mangkang dan Kali Plumbon Kaligawe meluap. 

Sementara menurut Ganjar Pranowo, penyebab banjir Semarang adalah karena problem administrasi. Dia menemukan pompa air di Rumah Pompa Mberok tidak berfungsi optimal, karena pekerjaannya belum diserahkan. Sehingga hanya satu dari tiga pompa yang bisa beroperasi.

Ketiga pendapat penyebab banjir di atas tidak sepenuhnya keliru, tapi memang banyak salahnya. Terutama karena makin mereproduksi percakapan penyebab banjir yang itu-itu saja. Karena itu, mari sedikit menukik. 

Satu tahun lalu, Koalisi Pesisir Semarang-Demak menerbitkan buku bertajuk Maleh dadi Segoro: Krisis Sosial-Ekologis Kawasan Pesisir Semarang-Demak (selanjutnya disingkat MDS). Buku tersebut meletakkan perkara banjir sebagai satu kesatuan persoalan krisis sosial-ekologis di pesisir Semarang dan Demak. Karena itu, persoalan banjir tidak dapat diisolasi dari persoalan lain seperti ekstraksi air tanah, amblesan, abrasi, perubahan iklim, corak pembangunan kota, penggundulan hutan, dan lain sebagainya. Semua hal tersebut saling bertaut dan saling memengaruhi.

Dalam salah satu bagiannya, MDS membeberkan bahwa terdapat tiga jenis banjir di Semarang. Pertama, banjir akibat kiriman air dari daerah hulu dan mengalir hingga Semarang bagian bawah. Kedua, banjir akibat hujan lokal yang tidak tertampung permukaan kota dan tidak terwadahi saluran drainase. Ketiga, banjir akibat pasang air laut atau yang lazim disebut banjir rob. Ketiga jenis banjir tersebut dapat terjadi bersamaan. 

Peta sebaran lokasi banjir di Semarang Februari 2021. Sumber: Data olahan dari Kompas.com dan Google My Maps.

Menilik sebaran titik lokasi kelurahan yang dilanda banjir, sebagian besar terletak di wilayah yang akrab disebut “Semarang Bawah” dan/atau “Semarang Utara”. Nampaknya, ketiga jenis banjir terjadi bersamaan di wilayah ini. Misalnya, seperti yang disampaikan Menteri PUPR, pada kasus meluapnya Kali Beringin Mangkang.

Kali tersebut merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Beringin. Pada bagian hulu DAS telah banyak terjadi kerusakan akibat perubahan tata guna lahan. Salah satunya disebabkan oleh pengembangan bisnis properti Bukit Semarang Baru (BSB). Alhasil saat intensitas hujan meninggi, Kali Beringin Mangkang meluap dan banjir kiriman (jenis pertama) pun terjadi. Terutama di daerah “Semarang Bawah” sebelah Barat (4 titik kiri-atas pada peta).

Kondisi “Semarang Bawah” bagian Tengah sampai ke Timur lebih pelik lagi. Laju penurunan tanah (amblesan) cukup cepat. Namun, seperti yang dijelaskan dalam MDS, penyebabnya tidak sama di semua tempat. Semakin ke arah pantai, penyebab utama amblesan ialah pembebanan dari material urugan dan bangunan. Makin menjauh dari pantai, penyebab dominan amblesan adalah ekstraksi air tanah.

Wujud pembebanan di sepanjang pantai Semarang nyaris selalu berupa pembangunan kawasan komersial seperti perumahan dan industri. Tidak percaya? Silakan berkendara menyusuri Jalan Yos Sudarso dan/atau Jalan Pantai Utara (Pantura). Sekalian amati pula apakah banyak bangunan di sana yang ambles. 

Dalam analisis MDS, proses ekstraksi air tanah sebagai penyebab amblesan dilakukan oleh banyak pihak. Meski dengan skala berbeda. Ada yang dalam skala rumah tangga dan ada yang  dalam skala industri. Selain itu, pihak lain yang turut mengekstrak air dari bawah tanah Semarang ialah Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Tirta Moedal. 

Amblesan tanah makin membuat Semarang rentan terhadap banjir. Terutama di daerah pesisir yang juga mengenal banjir rob (jenis ketiga, datang dari laut). Makin rentan, ketika dibarengi dengan ketidakmampuan permukaan kota menerima debit air hujan dalam jumlah besar (jenis kedua). Ketidakmampuan tersebut berkait dengan makin banyaknya lahan terbangun di Kota Semarang (2020 sudah mencapai 66%) dan tidak optimalnya daya tampung drainase di kota.

Kondisi-kondisi itulah yang membuat “Semarang dikepung banjir”. Dan itu penyebabnya sangat kompleks. Ada faktor penggundulan hutan dan amblesan tanah juga. Karena itu, perkara banjir bukan semata soal siklus/curah hujan. Apalagi sekadar bentuk cobaan dari Tuhan. Banjir sangat berkait dengan perilaku segelintir manusia. Dan segelintir manusia itu pun punya nama.

Misalnya, pada kasus makin melonjaknya lahan terbangun di Kota Semarang. Perkara ini seharusnya diatur, ditata, dan diantisipasi oleh entitas bernama negara. Sementara pada kasus makin merosotnya resapan air di hulu DAS Beringin, di sana ada nama Ronald Korompis dan Ciputra. Hasil berkongsinya perusahaan milik Ronald dan Ciputra ialah ketidakmampuan Kali Beringin Mangkang menampung aliran limpasan air dari daerah hulu. 

Begitu pula untuk kasus pembebanan di pesisir Semarang. Pabrik atau pengembang perumahan jelas punya nama, termasuk nama pemiliknya. Hal itu yang semestinya mencuat ke permukaan. Bukan justru semata-mata menyalahkan hujan. Pasalnya, dengan intensitas hujan kecil sekalipun, wilayah Semarang tetap langganan banjir jika pola pembangunan yang terus memproduksi dan mereproduksi krisis sosial-ekologis tetap dipelihara. 

Lalu apa hasilnya?

Pertama, pemerintah dapat memelihara peluang pengadaan solusi teknis seperti pengadaan pompa. Kedua, makin terpelihara pula keuntungan yang didapat segelintir manusia seperti Ciputra. Dan Ketiga, kerugian yang dirasakan kebanyakan manusia seperti Dhani dan Ade juga makin terus terpelihara.  (editorial)

One thought on “Banjir Semarang: Tepatkah Menyalahkan Hujan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.