Begitukah Cara Mencintai?

Spread the love

Oleh Fahmi Abdillah

(Hasil Pembacaan atas novel Yang Fana Adalah Waktu karya Sapardi Djoko Damono)

Begitukah cara mencintai? Pertanyaan itu selalu terlontar saat membaca tiap bagian novel ketiga dari “trilogi hujan bulan Juni” ini. Sapardi benar-benar meniadakan kisah cinta lain dalam otak. Dia seperti berkata pada pembaca, beginilah seharusnya manusia berkisah dalam membagi kasih, beginilah dan begitulah. Jelas terasa bagaimana maksud itu tersirat dalam tiap kalimat yang tersurat dari halaman pertama sampai halaman ke 144.

Kisah dalam novel ini tetap mengaitkan beberapa adegan dalam novel sebelumnya, seperti menjelaskan tentang keadaan Sarwono dalam proses penyembuhan yang menjadi inti permasalahan novel Pingkan Melipat Jarak, atau tentang keberadaan Pingkan di Jepang untuk melanjutkan studi yang menjadi dasar cerita novel Hujan Bulan Juni. Jadi meskipun pembaca mungkin tidak membaca bagian pertama, dan, atau bagian kedua dari trilogi ini, tenang, anda belum pasti akan merasakan kehilangan, namun pasti akan merasakan penasaran atas bagian trilogi sebelumnya.

Saya urung meresume cerita untuk membagi kenikmatan novel terbitan PT Gramedia Pustaka Utama ini. Karena bila itu saya lakukan, yang akan saya tulis seperti ini; “Yang Fana adalah Waktu bercerita tentang Sarwono dan Pingkan yang saling berbalas email, atau media komunikasi berbasis internet lain, sebelum Sarwono menemui Pingkan di Jepang selain untuk kepentingan akademik, sebelum Sarwono mendapat undangan untuk melanjutkan studi dan mengajar di Kyoto, sebelum Sarwono berangkat ke Jepang setelah Pingkan sampai ke Solo untuk mengantar Noriko selain untuk membawanya ke Jepang. Berakhirnya kisah Sarwono dan Pingkan ditandai oleh harapan atau usaha Pingkan untuk meyakini bahwa kisahnya telah selesai. Tapi seperti apa pikir Pingkan, “Siapa pula yang bisa menjamin bahwa ada yang pasti bahwa ada yang selesai bahwa ada yang tuntas dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki?”” Begitu tidak mengasyikkan bila itu yang saya tulis dan bagikan pada anda.

Bisa saya tegaskan bahwa menikmati kisah ini jangan dari alur. Tapi rasakanlah betapa Sarwono dan Pingkan sengaja memamerkan hubungan cinta mereka lewat percakapan-percakapan yang tak logis. Entah saat membicarakan sepasang merpati, tentang peta dan kota tujuan, tentang perjalanan udara, tentang awan, tentang banyak hal. Tak bisa saya ingat semua yang mereka perbincangkan, tapi kesan indah yang tertera dalam hati tak akan bisa saya lupakan. Akan saya coba bagi pada anda kesan apa yang saya terima dari kisah mereka berdua.

 

Saling

Saling. Kata itu terngiang dalam benak saat membaca bagaimana hubungan Sarwono dan Pingkan. Begitulah harusnya cinta, atau hubungan antara laki-laki dan perempuan dewasa. Saling bertanya, saling menjawab, saling cerita, saling dengar, saling curiga, pun pula saling meyakini.

 

Imbang

Imbang dalam kisah Pingkan dan Sarwono bisa saya artikan sejajar bisa saya artikan adil, dan bisa saya artikan selaras. Hubungan mereka terbangun dengan pas. Tidak megah, sederhana saja menurut saya, tapi mewah. Pingkan dan Sarwono merupakan komposisi yang pas dari produk tertua dunia ini yaitu cinta. Rasa cinta mereka sejajar, berada pada tingkat yang sama. Adil, tidak berat sebelah, juga selaras, Pingkan menggenapi Sarwono, Sarwono menggenapi Pingkan. Perbandingan rasa mereka mungkin tidak selalu 50:50, namun bila salah satu mengalami pengurangan atau pertambahan, salah satu lain melakukan hal sebaliknya agar total perbandingan rasa mereka tetap pada 100.

Bila kisah cinta mereka ibarat makanan, maka saya meyakini makanan ini akan berterima di lidah semua orang. Mungkin bukan menjadi makanan favorit, namun tetap akan habis termakan sampai suapan terakhir.

 

Gambar: previews.123rf.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.