Belajar Memanusiakan lewat Film Jojo Rabbit (2019)

Spread the love

Jojo Rabbit berlatar di sebuah kota kecil di Jerman. Film yang menceritakan akhir perang dunia kedua itu kira-kira mengambil latar waktu sekitar tahun 1945. Pada masa itu, Partai Nazi yang dipimpin Adolf Hitler tengah berkuasa sejak tahun 1933. Hitler saat itu sangat dipatroni oleh beraneka lapisan sosial. Bahkan, sampai lapisan paling dasar. Tidak sedikit anak-anak hingga remaja terbuai oleh kharisma Adolf Hitler beserta hingar-bingar ke-Nazi-annya.

Seorang bocah berusia 10 tahun bernama Johannes “Jojo” Betzler yang diperankan oleh Roman Griffin Davis, menjadi lakon utama dalam film. Bisa ditebak, Jojo merupakan salah seorang bocah yang turut terkesima dengan sosok Hitler. Tak pelak, ia menjadikan Hitler yang saat itu diperankan oleh Taika Waititi itu sebagai kawan imajinernya. Seperti anak-anak Jerman pada era itu, Jojo sangat bergairah untuk mengikuti organisasi underbow Partai Nazi, Deutsche Jungvolk (DJ).

Serangkaian aktivitas DJ, Jojo diajarkan ihwal-ihwal mendasar sebagai “Nazi junior”. Misalnya seperti melempar granat, mendengarkan stigma tentang orang Yahudi, menempelkan poster propaganda dan membunuh kelinci. Saat kegiatan membunuh kelinci itu pula, Jojo memperoleh julukan “Rabbit” akibat perasaannya yang tidak tega dan sekaligus takut membunuh kelinci. 

Dalih utama yang diajarkan untuk membenci orang Yahudi tidak lain yakni bahwa orang Jerman merupakan bangsa Arya. Memiliki derajat yang lebih tinggi dan lebih superior dari bangsa lainnya. Tak hanya itu, orang Yahudi disebut mempunyai tanduk di kepalanya. Tak ayal, bocah-bocah yang mengikuti DJ akan memandang Yahudi lebih inferior dan peyoratif.

Hal itu sangat dimengerti, sebab, orang Yahudi dijadikan musuh bersama sejak Nazi menguasai Jerman. Selama  satu dasawarsa pemerintahan Hitler, bangsa Yahudi diburu untuk dimusnahkan. Pemusnahan tersebut dikenal dengan “Solusi Akhir”. Cara pemusnahan orang Yahudi itu pun dengan berbagai cara mulai dari penyiksaan, tembak langsung, dimasukkan dalam kamar gas, dan hal-hal mengerikan lainnya. 

Meskipun melindungi Yahudi dilarang berat, penyembunyian/penyelamatan warga Yahudi dilakukan oleh sejumlah pihak atas nama agama, kemanusiaan, dan moral. Di Polandia misalnya, sebuah keluarga menyembunyikan anak perempuan Yahudi di lahan pertanian.

Di Kota Le Chambon-sur-Lignon Perancis, sekitar 5.000 Yahudi ditampung dan dilindungi oleh gereja Katolik serta Protestan. Film besutan Quentin Tarantino, Inglorious Basterds (2009), mengisahkan sedikit cerita tentang keluarga Yahudi bermarga Dreyfus yang tengah disembunyikan oleh petani cum peternak Prancis, Perrier LaPadite.

Sayangnya, di awal film tersebut, keluarga Dreyfus dibunuh oleh pasukan khusus Nazi. Shosanna, seorang gadis yang berhasil melarikan diri satu-satunya keluarga Dreyfus yang selamat. Tak disangka, ibu Jojo, Rosie Betzler yang diperankan oleh Scarlett Johansson dilukiskan sebagai orang yang memberi perlindungan pada kaum Yahudi. Rosie menyembunyikan seorang gadis bernama Elsa Korr yang diperagakan Thomasin McKenzie di loteng rumahnya.

Suatu ketika, Jojo menemukan Elsa di lantai dua. Mulanya, Jojo mengira Elsa adalah hantu, ia pun lari terbirit-birit. Ketika berlari menuju pintu keluar rumah, Elsa menarik baju Jojo dengan cepat.

“Apakah kamu hantu?” tanya Jojo. “Bukan. Kamu tahu siapa aku. Sebut! Sebut aku! Aku Yahudi. Aku ditampung ibumu. Jika kamu melapor, kita semua mati dihukum!” kira-kira begitulah jawaban Elsa secara tegas.

Sontak, peristiwa itu membuat Jojo terkejut bukan kepalang. Bayangkan, seorang Nazi junior baru saja bertemu seorang Yahudi! Lantas, Jojo pun berbincang dengan kawan imajinernya, Hitler. Hasil perbincangan tersebut adalah Jojo harus berunding dengan Elsa.

Awalnya, baik Jojo maupun Elsa saling menaruh kebencian, musabab nya, ucapan mereka berdua saling menyinggung dan sarat prasangka buruk. Namun, perlahan-lahan kebencian tersebut memudar. Elsa mulai berkenan membicarakan ihwal sentimental seperti sosok kekasihnya, Nathan beserta penyair idolanya, Rainer Maria Rilke.

Jojo yang tengah dirundung rasa penasaran  terhadap Yahudi, mencari tahu tentang Rilke lewat buku-buku di perpustakaan. Tujuannya hanya satu, mengerjai sekaligus mematahkan hati Elsa. Jojo bahkan mau bersusah-payah membuat surat bohongan yang seolah dikirim oleh Nathan. Tak luput, ia juga menyitir sajak Rilke, “Kita perlu jatuh cinta hanya untuk berlatih merelakan pergi satu sama lain,”

Surat tersebut membuat Elsa berkaca-kaca, menahan tetes air dari bola matanya. Lagi-lagi, Jojo tidak tega melihat Elsa bergulat nestapa. Dia membikinkan surat palsu kembali agar suasana hati Elsa membaik. Setelah itu, mereka berdua menjadi lebih akrab. Bahkan, Jojo berpikir, sekalipun Yahudi, Elsa bukanlah orang jahat seperti yang dibayangkan sebelumnya.

Jojo juga merasakan ada hal lain yang menggerayangi pikirannya. Yakni perasaan cinta yang ia anggap laiknya hal bodoh. Sang ibu—yang saya identifikasi cenderung berpaham humanisme universal—membantu Jojo memahami ihwal cinta.

“Selalu ada waktu untuk percintaan. Kelak, kamu akan menemukan seseorang yang istimewa,” tutur Rosie, ibu Jojo. “Jojo, kamu akan tahu: apa itu cinta ketika waktunya tiba. Rasanya sakit. Satu sisi, banyak kupu-kupu yang akan mengerubungi perutmu,” tambahnya.

Beberapa adegan kemudian, Jojo kembali menemui Elsa. Di situ, Elsa mencibir wajah Jojo yang masih terluka akibat ledakan granat saat berlatih dalam DJ. “Aku menerima kenyataan sebagai laki-laki yang tak akan pernah dicium perempuan,” balas Jojo. Elsa kemudian menawarkan diri untuk mencium Jojo, namun Jojo menolak. Sisi lain, Elsa merasa kotor karena sudah lama tidak mandi.

Nah, Jojo lantas mengantarkan Elsa membersihkan diri di kamar mandi milik ibunya. Saat menjaga pintu kamar mandi, Jojo merasakan hal aneh. Ia membayangkan kupu-kupu menggerayangi perutnya, Jojo jatuh cinta kepada Elsa. Sekalipun, umur Elsa tujuh tahun lebih tua dari Jojo.

Tak lama, rumah Jojo digeledah Gestapo, polisi rahasia Nazi Jerman. Pada waktu yang bersamaan, pemimpin kelompok DJ Jojo, Kapten Klenzendorf yang diperankan Sam Rockwell mampir sekaligus menemani para Gestapo tersebut menggeledah. Kapten Klenzendorf rupanya berbaik hati menyelamatkan Elsa. Surat identitas palsu yang Elsa tunjukkan divalidasi oleh Kapten Klenzendorf.

Sesudah lolos dari penggeledahan, Jojo harus dihadapkan kenyataan menyedihkan: ibunya tewas karena membelot. Ibu Jojo, Rosie kedapatan menyebarkan selebaran yang berisi perlawanan terhadap Nazi, semacam seruan untuk membebaskan Jerman dari cengkeraman Partai Nazi.

Bocah 10 tahun tersebut sontak mengalami sengkarut dalam dirinya. Jojo sangat sedih, marah, takut, dan bingung secara bersamaan. Tak kuasa menahan amarah, Jojo menghampiri Elsa. Bukan untuk mencurahkan isi hati, melainkan ia ingin menikam dada Elsa dengan sebilah pisau. Elsa kaget, dadanya sedikit tergores pisau Jojo. Dan Jojo kembali mengurungkan niatnya, lalu menangis sesenggukan.

Singkat cerita, pasukan sekutu, Rusia dan Amerika Serikat berhasil menaklukan kota Jojo. Jojo yang masih berseragam DJ ditangkap pasukan Rusia bersama tentara Jerman lain yang sudah menyerah. Di sebuah petak tanah tempat tawanan perang dikumpulkan, Jojo bertemu dengan Kapten Klenzendorf lagi. Kapten Klenzendorf mengucapkan belasungkawa atas kematian Rosie.

Kapten Klenzendorf kemudian berdiri, melepaskan seragam Jojo, dan mendorong Jojo keluar dari sepetah tanah tersebut. Ternyata, tawanan perang yang ditangkap pasukan Rusia akan dieksekusi. Begitulah, Kapten Klenzendorf menyelamatkan nasib Jojo kembali.

Jojo pun pulang. Ia menyatakan perasaan cintanya kepada Elsa, sekalipun sebagai seorang adik yang usianya lebih muda. Elsa juga merasakan hal yang serupa. Mereka berdua pun keluar rumah dan menari bersama, merayakan kekalahan Nazi.

***

Dari film ini, kita dapat mengambil banyak nilai. Barangkali, kita mirip dengan Jojo. Kita digerayangi oleh berbagai konstruksi tentang sekelompok orang, dengan stigma dan stereotip negatif. Namun sejatinya, itu konstruksi yang memang dipaksakan. Sehingga kita tidak benar-benar mampu memahami mereka selayaknya manusia.

Perbedaan ras yang dikonstruksi oleh Nazi, antara bangsa Arya dan Yahudi menjadi pembatas yang kelewat tebal. Memisahkan manusia satu dengan yang lain atas nama kepentingan politis. Dengan begitu, anggapan kita terhadap seorang Nazi dan Yahudi pun boleh dibilang harus dievaluasi.

Bangsa Yahudi yang kita anggap sebagai penjahat bagi bangsa Palestina, tidaklah semua jahat. Gadis Yahudi seperti Elsa cukuplah normal. Ia hanyalah manusia, yang bisa menyebar dan menerima kasih sayang. Begitu pula, seorang tentara Nazi. Seorang tentara Nazi seperti Kapten Klenzendorf, bahkan dua kali menyelamatkan nyawa manusia. Tindakannya telah mendobrak anggapan serampangan yang menjejali alam pikiran kita terhadap Nazi, yang selalu digambarkan kejam.

Untuk menandaskan review film ini, izinkan saya mengutip salah satu peribahasa: “tak kenal, maka tak sayang,” Begitulah adanya, Tuhan menciptakan manusia dengan segala perbedaan bukan untuk saling berperang, melainkan saling mengenal dan memahami satu sama lain. (sae)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.