Benarkah Dunia Baik-Baik Saja?

Spread the love

Oleh Fahmi Abdillah

 

[Hasil pembacaan atas novel The Ministry Of Utmost Happiness karya Arundhati Roy]

FUCK, DAMN, SHIT.

Kata itu sering muncul saat saya membaca buku bertebal 13,5cm x 20cm ini. Emosi saya begitu sering jungkir balik. Saya sengaja tidak mengumpat dalam bahasa Indonesia karena buku ini menarik jiwa nasionalis dari raga saya. Buku ini mengajak saya menyelam dalam konflik berkepanjangan yang ada dalam novel 540 halaman ini.

Saya bergidik, merinding, sampai menggigil, Arundhati Roy menjamu saya dengan cerita yang menakjubkan. Menyajikan tangis dengan tawa, duka dengan canda, nestapa dengan bahagia. Saya percaya bahwa masing-masing tokoh dalam buku terjemahan Arif Bagus Prasetyo ini mampu menertawakan takdir.

Semula saya kira novel berisi 13 bab ini hanya akan bercerita tentang kehidupan transgender. Karena memang awal cerita ini dibuka dengan kisah aneh seorang wanita bernama Anjum yang tinggal di kuburan. Bab selanjutnya bercerita tentang kelahirannya, masa kecil, hingga ia mulai menyadari bahwa ia berada dalam tumbuh kembang yang salah. Anjum menganggap semua hal dalam dirinya adalah kekeliruan, suara yang menebal, bulu dan jakun yang salah tumbuh, cara berpakaian dan berperilaku yang selalu ia pertanyakan, hingga akhirnya kepergiannya dari rumah dan menjadi penghuni Khwabgah.

Yakinlah bahwa saya tak bisa benar-benar menjelaskan apa yang saya baca pada buku ini. Namun yang dapat saya rasakan adalah kekalutan, kekacauan, kekejaman, ketidakadilan yang para penghuni Khwabgah alami. Gambaran ini  membuat saya percaya benar bahwa Hijra adalah bagian dari dunia lain yang sengaja diciptakan Tuhan untuk menegaskan keberadaannya pada umat manusia. Atau bila meminjam pemahaman ustadz Kulsom Bi, pemimpin dari para Hijra di Khwabgah yang menjelaskan pada Anjum bahwa Hijra adalah tubuh yang ditempati oleh roh-roh suci.

Cerita berlanjut dengan cara yang menakjubkan, walaupun tak bisa saya bayangkan sebagai ledakan-ledakan besar, namun lebih semacam letusan buih yang ada dalam deburan ombak. Kecil tapi sangat banyak. Cerita ini dibangun dengan dinamika-dinamika kecil yang menyatu menjadi sebuah hal yang sangat besar. Dengan memunculkan tokoh-tokoh yang secara alami berada di sekitar Anjum, sebelum atau sesudah Anjum membangun Wisma Tamu Jannat. Ustad Hameed, Saddam Hussain, Nimmo Gorakhpuri, yang masing-masing dari mereka membawa dan mengantongi masa lalu yang kelam.

Dengan kehadiran tokoh, konflik dalam cerita ini berkembang. Dari dalam diri mereka muncul peristiwa-peristiwa berskala nasional. Semula saya berfikir cerita ini hanya tentang bagaimana para Hijra hidup dan menghidupi. Tapi lebih dari itu, lebih dan lebih, cerita ini memunculkan konflik antar suku, antar agama, pemberontakan, bahkan pembantaian yang mengesankan mustahil cerita ini bisa berakhir dengan baik-baik saja.

Namun novel terbitan KPG ini secara ajaib berakhir dengan Happy Ending. Masing-masing penghuni Wisma Tamu Jannat mampu mengakhiri cerita ini dengan bahagia. Percintaan tiga atau empat orang yang berpusat pada Wilotama, mengantarkan saya untuk melek kahanan, di luar sana, pemberontakan itu nyata, konflik itu nyata, kehidupan bernegara yang penuh kekejaman itu nyata. Konflik Kashmir dan India dan jutaan nyawa yang hilang dalam kata perjuangan dan pemberontakan. Kematian-kematian yang akhirnya bisa dirayakan oleh penghuni Wisma Tamu Jannat dengan canda, tawa, dan gurauan. Seakan mereka sedang bertanya, apakah dunia sedang tidak baik-baik saja?

Sayangnya, saya merasa bahagia itu adalah apa yang menjadi pilihan terakhir bagi mereka. Menertawakan perpisahan, merayakan kematian. Hanya itu yang bisa Anjum, dan para penghuni Wisma Tamu Jannat miliki. Setelah getir dan sakit yang bertubi, mereka tak punya pilihan lain selain bahagia. Toh takdir masih baik hati dengan ajaib mempertemukan dan menyatukan mereka di kuburan. Takdir masih baik dengan memberi mereka harapan dengan kemunculan orang-orang baru yang melanjutkan kisah mereka.

Apa yang bisa saya bagi pada anda atas pembacaan saya kali ini mungkin terkesan berputar-putar tidak jelas. Jujur bahwa itu yang saya rasakan. Sungguh saya ingin membagi lebih banyak hal, lebih banyak peristiwa atau informasi. Namun sungguh bila lebih banyak lagi saya bercerita tentang buku ini, maka yang akan saya ucapkan sebagai berikut.

FUCK, DAMN, SHIT.

 

Gambar: www.patheos.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.