Berani Tidak Populer

Spread the love

Oleh Achiar M Permana

Hujan deras mengguyur sejak siang. Nggrejih. Pohon sawo di samping gazebo, markas komunitas cangkrukan kami, menggigil. Di kejauhan, Gunung Ungaran yang biasanya tampak cantik kebiruan, sama sekali tidak terlihat. Tertutup entah kabut atau mungkin juga hujan deras.

Mas Naya, si bungsu di Beroek Tjangkroek, sebutan komunitas kami, sejak tadi duduk sendirian di pojokan gazebo. Sesekali asap tebal mengepul dari mulut dan hidungnya. Sedemikian tebal, sehingga kadang-kadang menutupi mukanya. Saat asap itu mengepul, muka “mahasiswa abadi” di kampusnya itu terlihat seperti jin yang baru keluar dari lampu Aladin.

Ngrokok apa ta, Mas, kok bisa tebal begitu?” tanya saya dari teras, yang berjarak lima meteran dari gazebo.

“Ini, Mas, njajal vape. Kebetulan dapat pinjaman dari teman kampus. Mas Tegik mau nyoba?” jawab Mas Naya, setengah berteriak, sembari menawari saya mencicip rokok elektrik.

Sudah lama sebenarnya saya mendengar tentang vape. Rokok elektrik yang kini menjadi tren, terutama di kalangan anak muda. Namun, sampai hari ini, saya belum tergoda mencoba. Barangkali saya termasuk perokok konservatif. Ha-ha-ha.

Di tengah hujan, Mas Draman datang ke cangkrukan. Dia anggota cangkrukan yang sehari-hari bekerja serabutan, apa wae dicandhak. “Sing penting halal, Kang,” begitu kata Mas Draman kepada saya.

Sesampai di gazebo, Mas Draman membuka jas hujan kelelawar yang membalut tubuhnya, mengibas-kibaskan sebentar, kemudian menyampirkan ke sandaran gazebo. “Hujan kok gak bar-bar ya, Mas. Piye ya nasib warga Demak yang kebanjiran,” kata Mas Draman, yang lahir di Sayung, Demak.

Mas Draman telah pindah tinggal ke kampung kami, pertengahan 1990-an, jauh sebelum kampung halamannya di Sayung hilang ditelan laut. Dia lebih dulu menjadi pribumi, di kampung kami sekarang, ketimbang warga lain di cangkrukan, yang sebagian besar pendatang pada waktu belakangan.

“Namanya saja Januari, Mas, hujan sehari-hari,” sahut Mas Naya, merujuk othak-athik gathuk yang amat populer.

***

“Mas, kalau sampean punya kuasa untuk menentukan, atau setidaknya mengusulkan, pilih mana pemimpin yang berani atau manutan?” tanya Mas Draman tiba-tiba.

Tumben Mas Draman menyodorkan pertanyaan “kelas berat” macam begini. Biasanya dia lebih banyak bertanya perihal “berita apa yang besok saya muat di koran” atau “harus ketemu siapa, kalau hendak titip agar jalan gula-kacang di kampung kami segera diaspal atau dibeton”.

Sik ta, Mas, pertanyaan itu soal pemimpin atau anak buah? Pilih anak buah yang berani atau manutan? Ya, jelas pilih yang berani ta, Mas!” sahut saya.

“Bukan anak buah, Mas, pemimpin. Ada kawan SMA saya, sekarang bos di sebuah perusahaan yang sedang berkembang — halah kaya lowongan iklan kecik wae — yang hendak memilih manajer atau semacam itulah. Nah, dia tahu saya kenal dekat dengan sampean, katanya, “Tulung, takonke Mas Tegik….’ Begitu,” katanya.

Oalah, jebul pertanyaan titipan. “Mbok sampean minta teman itu datang ke sini. Sekalian bawa gula-kopi,” seloroh saya.

Halah, sampean ki lo,” sahut Mas Draman, sembari mencomot pisang rebus, yang disuguhkan istri saya.

“Begini, Mas….”

Baru saja saya mengucapkan kalimat itu, Mas Draman langsung mengubah sikap duduk. Dia memasang body language – halah — takzim. Seperti santri yang tengah menunggu dhawuh Pak Yai di majelis taklim.

“Saya bukan orang yang ahli dalam soal itu. Gak uplong aku. Katanya, ‘Apabila satu perkara diserahkan kepada bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya’,” kata saya.

“Teman saya itu cuma minta pertimbangan. Saya yakin, sampean lebih ngerti daripada saya yang gak tau mbrakoti bangku sekolahan,” sahut Mas Draman.

“Begini, kata teman saya yang ahli dalam soal kepemimpinan…. Sekali lagi, kata teman saya lo, kepemimpinan selalu memerlukan keberanian dalam menghadapi dan mengambil risiko pada tingkat tertentu. Risiko ini penting untuk membuat perubahan. Dalam membuat perubahan, kata teman saya itu, akan selalu ada risiko yang dapat berimbas, baik kepada si pemimpin yang memulai atau memimpin perubahan, maupun terhadap para pengikutnya. Bisa juga risiko itu merembet terhadap kelompok dan organisasi yang dilibatkan,” kata saya, sembari menarik napas.

Mas Draman, juga Mas Naya, saya lihat juga menarik napas. Barangkali, kata-kata saya tadi terlalu berbobot berat.

“Dalam kepemimpinan, dikenal istilah risk leadership. Kemampuan seorang pemimpin mengidentifikasi potensi risiko, keberanian mengemukakan potensi risiko, dan persistensi atau kegigihan seorang pemimpin menindaklanjuti potensi risiko itu dalam proses risk management,” kata saya lagi.

“Jadi, menurut sampean, pemimpin yang berani lebih penting ketimbang yang manutan?” kata Mas Draman meminta penegasan.

“Bukan kata saya, Mas, itu kata teman saya yang sehari-hari ngurusi soal SDM dan tetek-bengeknya. Kalau saya, ngertine cuma piye gawe kopi pait ning enak. Mangga lo, seruput kopinya, mumpung masih kemebul,” sahut saya.

Ya wis, bagaimana menurut teman sampean itu?” tanya dia lagi.

“Dalam konteks ini, kita memerlukan pemimpin yang berani. Dia harus berani menghadapi siapa pun, demi kebaikan banyak orang yang dipimpin. Kalau pemimpin perusahaan, bagaimana dia berani mengambil keputusan, sekalipun berisiko, agar perusahaan bisa profit, yang pada gilirannya berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan karyawan. Bukankah ada ungkapan high risk equal to high gain, atau sebaliknya no risk no gain?”

Walah, sampean basane dhuwur-dhuwur. Isa pecas ndhahku,” kata Mas Draman, lalu mencomot pisang rebus untuk kali kedua.

“Saya cuma mengutip kata teman. Sebelum sampean, ndhah saya sudah pecas dulu. Ha-ha-ha,” kata saya, sembari tertawa.

“Nah, kalau pemimpin kota atau daerah, dia harus berani menghadapi preman pasar atau juga preman berdasi, bukan malah berkongkalikong dengan mereka. Begitu juga pemimpin negara, ya harus berani menghadapi para cukong, bukan malah glenikan dengan mereka,” kata saya lagi.

“Selain itu, seorang pemimpin harus tegas. Apa tegas itu? Tegas itu teguh memegang prinsip. Menyatakan yang benar sebagai benar. Kalau manut dhawuh Pak Kiai, pemimpin yang bisa mewujudkan qulil haqqa walau kana murran, katakan kebenaran sekalipun pahit.

“Soal tegas atau tidak, sama sekali tidak berhubungan dengan latar belakang militer atau tidak. Margaret Thatcher, perempuan pertama yang menjadi perdana menteri Inggris, dikenal sangat tegas. Bahkan dia dijuluki The Iron Lady alias Wanita Besi. Padahal, dia bukan militer. Bung Karno juga dikenal tegas. Dia juga bukan tentara,” kata saya lagi.

***

“Kalau Pak Jokowi, Mas, bagaimana menurut sampean? Bukankah dia kendel juga. Pas kemarin ada kapal nelayan yang dikawal coast guard China mencuri ikan di Natuna, Pak Jokowi datang ke sana. Eh, Cinone dha balik plencing,” kata Mas Draman.

Saya terdiam. Tidak segera menjawab pertanyaan Mas Darman, yang setahu saya Jokower pencinta Jokowi kelas berat. Dalam dua kali pemilihan presiden (pilpres), katanya, dia selalu mencoblos Jokowi. “Kalau punya hak pilih di pilgub DKI, dulu saya pasti pilih Jokowi juga, Mas,” kata Mas Draman suatu ketika. Salah memilih kata, bisa-bisa dia mutung dan tidak mau datang lagi ke cangkrukan.

“Berani itu ya tidak cuma soal datang ke Natuna, Mas. Toh, kata Pak Jokowi, tidak ada kapal nelayan China yang merangsek ke laut teritorial kita. Tidak ada yang mengganggu kedaulatan kita,” justru Mas Naya yang menyahut.

“Menurut saya, kalau memang Pak Jokowi berani, berani tidak dia membatalkan izin lingkungan pabrik semen di Rembang, yang nyata-nyata melanggar keputusan peninjauan kembali Mahkamah Agung yang sudah membatalkan Izin lingkungan pembangunan pabrik semen sebelumnya,” kata Mas Naya, yang mendadak keluar jiwa aktivisnya, panjang-lebar.

“Berani tidak, Pak Jokowi menemui petani Urutsewu, yang teraniaya ketika berjuang mempertahankan tanah milik mereka. Pemimpin yang berani, mestinya juga berani tidak populer, demi kebaikan rakyat. Nggih ta, Mas Tegik?” kata Mas Naya lagi, sembari menoleh pada saya.

Saya masih blangkemen. Belum menemukan kata-kata yang pas untuk menjawab pertanyaan Mas Draman, juga tanggapan Mas Naya. Di luar gazebo, hujan masih mengguyur, sekalipun tidak selebat sebelumnya.

Saat itulah terjadi peristiwa serupa save by the bell. Dari dalam rumah terdengar teriakan istri saya, yang serta-merta membuat saya mengangkat pantat. “Yah, tulung pasangke gas….”

 

Semarang, 12 Januari 2020

Achiar M Permana, jurnalis, penulis buku Dusta Yudistira: Awas Hoax Bertakhta di Media Kita! (2019)

 

  • Ilustrasi: foto dari Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.