Berat-Ringan

Spread the love

Tulisan berat dan tulisan ringan. Pada (21/9) kemarin, seorang kawan menginisiasi sebuah pertemuan virtual. Ada beberapa kawan yang ikut. Salah satu substansi pertemuan tersebut adalah ajakan untuk kembali rutin menulis. Alasannya beragam. Saya pun menyetujui karena dua hal. Pertama, inisiatif semacam ini penting sebagai ajang mendisiplinkan diri sendiri dan kelompok. Kedua, sudah beberapa bulan ini saya tidak memasukkan daftar menulis (di luar tulisan yang berkaitan dengan pekerjaan) ke dalam target to-do-list harian.

Belakangan ini saya memang rajin setor daftar target harian di sebuah grup WhatsApp. Grup tersebut hanya berisi Saya dan Andini. Fungsinya agar kami sama-sama mengetahui target harian apa yang sedang dikejar. Sialnya nyaris tidak ada soal menulis. Alhasil produksi tulisan tahun ini pun seret. Singkatnya tidak produktif! Karena itu, tawaran soal menulis ini menarik. Minimal untuk merecoki target rutinan. 

Sebagai tindak lanjut, kawan-kawan yang bersepakat dalam program itu langsung membuat jadwal. Atau, dalam bahasa para jurnalis, listing rencana calon tulisan. Skemanya,  masing-masing orang harus menyetor 4 buah rencana judul tulisan. Sebisa mungkin semua tulisan terikat oleh satu hal atau tema tertentu. Dan dalam putaran pertama ini, saya menyetor 4 tulisan: “Berat-Ringan”, “Panjang-Pendek”, “Dulu-Kini”, dan “Padat-Lapang”. Semua adalah komentar dan refleksi saya terhadap beberapa hal. 

Tulisan ringan. Inilah salah satu poin yang saya tangkap dari kawan yang menginisiasi program ini. Dia tentu punya alasan kenapa tulisan ringan. Dan mengapa pula bukan tulisan berat. Akan tetapi, karena sodoran kawan itulah yang kemudian membuat saya berpikir: apa pula itu tulisan ringan? Dan apa itu tulisan berat? Meski begitu, saya memahami maksud tulisan ringan yang kawan saya maksud. Sebuah tulisan yang memiliki setidaknya dua karakter utama. Pertama, tidak membicarakan hal yang terlampau serius. Kedua, tidak dikemas secara kaku layaknya tugas kuliah. Seperti, misalnya, tidak mencantumkan sumber secara rigid dalam bentuk catatan kaki atau catatan tubuh; tidak mendiskusikan teori tertentu; dan berpijak pada fenomena atau pengalaman sehari-hari. Kurang lebih begitu. Tapi, lagi-lagi, apa pula perbedaan riil antara tulisan berat dan tulisan ringan?

**

Twitter. Barangkali, platform media sosial inilah yang paling sering menjadi tempat perhelatan debat. Spektrum para jagoan debat di Twitter pun beragam. Ada akademisi, akun anonim, buzzer pemerintah, artis-ganteng-cantik-ga-bisa-salah, dan para aktivis yang kerap dilabeli sebagai SJW. Alias, Social Justice Warrior—sebuah istilah yang sialnya, lebih berkonotasi buruk timbang arti aslinya. Perdebatan seru di Twitter mencuat kembali tidak lama setelah film Tilik (2020) trending di jagad dunia maya. Film itu mendapat apresiasi dari banyak kalangan. Termasuk dari para akademisi yang dengan tergesa-gesa, dikelompokkan oleh banyak orang sebagai SJW. Spesifiknya, SJW isu perempuan. Sebab substansi kritik yang disodorkan akademisi tersebut memang berkait dengan perkara relasi kuasa.

Naas. Kritik yang disodorkan seorang akademisi itu justru menimbulkan perdebatan lain. Salah satunya berkait dengan cara ia menyampaikan argumentasinya. Bahasa si akademisi dinilai banyak orang terlalu ndakik-ndakik, sulit dipahami. Alias “berat”. Hal itu mengingatkan saya pada seorang intelektual ‘Barat’ era 1960-an yakni Richard Feynman. Ia pernah menelurkan satu ucapan popular:

“Jika belum mampu menjelaskan sesuatu dengan istilah sederhana, maka kamu belum sepenuhnya memahami”.

Dalam konteks tahun 1960-an, barangkali Feynman benar. Jika kita masih berbelit dan rumit saat menjelaskan sesuatu, maka sebenarnya kita belum benar-benar paham konsep tersebut. Namun apa itu relevan dengan konteks tahun 2020, ketika nyaris separuh penduduk bumi telah memiliki ponsel pintar?

Bercermin pada perdebatan di twitter tadi, setidaknya mengajarkan satu hal: Sebenarnya tidak sedikit orang-orang yang nyinyir tentang penjelasan yang (dianggap) berat adalah orang-orang yang mampu. Dalam arti, orang-orang yang memiliki privilege untuk mengakses banyak hal di internet.

Sementara orang-orang yang tidak dibekali privilege, tidak jarang, justru lebih mau untuk bertanya ketika tidak mengerti. Bahkan lebih senang mendapat penjelasan dengan bahasa yang lebih jelas. Seperti dalam konteks degradasi lingkungan. Bisa jadi mereka lebih tertarik dengan penjelasan bahwa degradasi lingkungan disebabkan oleh kapitalisme. Dan bukan dengan penjelasan yang sedikit memutar. Karena dengan langsung disodorkan satu kata kunci utama, maka ia bisa belajar tentang itu.  Namun, lagi-lagi, mana yang berat dan mana pula yang ringan? 

***

Persepsi. Nampaknya, berat dan ringannya sebuah tulisan atau penjelasan itu memiliki segmennya sendiri. Dari sisi pembaca misalnya, beberapa orang lebih nyaman dan ringan membaca novel atau cerpen. Beberapa orang lainnya lebih senang membaca esai. Bahkan ada juga yang lebih giat membaca artikel di jurnal dibanding di koran. Hal ini baru dari satu medium yakni penulisan. Belum lagi jika mempertimbangkan medium lain seperti visual grafis. Tentu saja ada banyak orang yang lebih senang mendapat informasi via video. Dan sama sekali tidak menyukai tulisan.  

Sementara dari sisi penulis, beberapa menganggap menulis cerita lebih mudah dibanding artikel. Begitu pula sebaliknya. Itu baru dari segi bentuk tulisan. Belum dari sisi muatannya. Menulis artikel untuk jurnal bisa lebih ringan dibanding menulis, misalnya, obituari. Apalagi jika itu untuk keluarga atau kolega terdekat. Saya punya pengalaman soal ini. 

Satu kali saya mendapat kabar bahwa adik nenek saya–Nin Idah–meninggal dunia. Benar bahwa, seperti lirik Ucok feat. Doyz, “Tak semua kepergian harus diiringi tangisan”. Karena itu, barangkali, kepergian hanya perlu diiringi dengan tulisan. Tapi tidak semudah itu Ferguso. Menulis obituari ternyata sangat menguras pikiran. Seabrek cerita dari masa lalu seolah dipaksa hadir. Kenangan manis dan pahit berjejalan, meminta untuk dimasukkan ke dalam tulisan. Pada akhirnya tulisan itu gagal. Saya tidak cukup lihai menjahit itu. Dan tidak cukup tegar juga untuk memeras ingatan. 

Nasib serupa terjadi saat menulis cerpen. Saya punya satu cerpen yang tidak pernah rampung. Umur pengerjaannya mungkin sudah lima tahun. Faktor utamanya adalah rasa malas. Kemalasan itu salah satu pendorongnya tidak lain adalah persepsi dalam diri saya sendiri. Tentang berat-ringan. Saya menganggap menulis cerpen itu berat. Dan lebih nyaman menulis notulensi atau artikel. Persis di situ saya terjebak pembedaan yang sebenarnya tidak perlu, tidak substansial, dan sangat relatif: tulisan berat dan tulisan ringan. Tidak ada yang betul-betul tulisan berat. Dan tidak ada juga tulisan ringan. Barangkali, yang ada–seperti pada kasus Twitter–hanya rasa malas itu sendiri. Saya pemalas huehuehuehue . (asep)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.