Bertahan Dalam Tangkapan

Spread the love

MATA Winarsih terus menatap gerbang Kantor Polisi Resor Kota Besar (Polrestabes) Semarang, yang tertutup rapat. Hari sudah malam, Winarsih berharap sosok anaknya, Andi, muncul dari gerbang itu.  Seseorang mendekat, lalu mengenalkan diri sebagai guru di sekolah Andi. Kepada Winarsih, ia bertanya soal keadaan anak yang ditunggu-tunggu.

 “Tidak boleh masuk,” keluh Winarsih kepada sang guru. Polisi tidak mengizinkan dia masuk untuk melihat kondisi Andi.  Dia pasrah.

Setelah gagal masuk ke kantor polisi, Winarsih duduk di trotoar di seberang jalan Kantor Polrestabes Semarang bersama puluhan orang yang juga menunggu anak-anak  mereka. Kecemasan Winarsih timbul sejak sore tatkala mendengar kabar  bahwa aksi unjuk rasa di depan gedung DPRD Jawa Tengah berakhir ricuh. 

Sementara dirinya, hingga magrib menjelang, tidak mendapati Andi di rumah dan belum menerima kabarnya. Setelah merampungkan kelas virtual bersama guru dan teman sekelasnya di rumah masing-masing, Andi, anak ketiga Winarsih itu pergi tanpa pamit.      

Upaya Winarsih mencari keberadaan Andi melalui pihak sekolah tak membuahkan hasil.  Titik terang mulai tampak saat salah satu teman Andi memberi kabar lewat telefon, bahwa Andi turut dalam aksi demonstrasi bersamanya.  Winarsih tak mengira anaknya sampai ikut demontrasi. Winarsih hampir pingsan saat tahu anaknya yang duduk di kelas dua SMK itu jadi salah satu dari ratusan peserta aksi yang ditangkap polisi. 

Mendengar kabar tersebut, bergegaslah  Winarsih bersama suami mendatangi Polrestabes Semarang. Sampai di sana, Winarsih  menangis dan menjeritkan nama anaknya. Ia tak kuat menahan cemas. Ia khawatir akan nasib anaknya.

Beberapa polisi tetap mengadang di depan gerbang. Sebagian berseragam, lainnya tidak. “Tidak ada yang boleh masuk!” suara seorang polisi meninggi.

Pada saat orang-orang lain memilih tetap bertahan di depan gerbang, Winarsih merangsek menerobos gerbang dan masuk hingga ke pos penjagaan. Ia terus  menangis. Sang suami sesekali menahannya, namun sepertinya ia juga ingin memastikan kondisi anaknya. Ia  berjalan mengikuti Winarsih. Jeritan Winarsih tampaknya membuat polisi  melunak.  

Di pos penjagaan, polisi menanyai dan meminta identitas Winarsih. “Tenang saja, anak ibu tidak apa-apa. Kami hanya memberi pengarahan dan melakukan pendataan,” ungkap polisi tanpa seragam sambil melakukan pencatatan.

Selesai urusan catat mencatat itu Winarsih tetap dilarang masuk lebih dalam. Ia diminta  kembali menunggu di luar gerbang.  Winarsih kesal dan mengeluarkan makian-makian, namun apa daya, ia hanya bisa menuruti kata-kata polisi; keluar gerbang dan menunggu bersama puluhan orang tua lain.  

Kecemasan di wajah Winarsih  tak bisa disembunyikan. “Piye kondisimu, Le (Bagaimana keadaanmu, Nak)”? gumamnya berkali-kali. Terlebih, Winarsih melihat video dan foto yang banyak berkeliaran di sosial media, yang menunjukan keberingasan polisi saat menangkapi  peserta aksi. 

“Aku ra terima yen anakku tatu. Wong dekne ora mungkin salah (Saya tidak terima jika anak saya terluka. Dia tidak mungkin bersalah)!” Winarsih khawatir anaknya dilukai polisi. Menurutnya tidak ada alasan  bagi polisi untuk menangkap anaknya. 

Tim Advokasi Pembela Kebebasan Berpendapat Jawa Tengah yang terdiri dari PBHI Jawa Tengah, LRC-KJHAM, dan YLBHI-LBH Semarang selaku kuasa hukum  para massa aksi yang ditangkap, juga  dilarang masuk ke Kantor Polrestabes. Seorang diantaranya menjelaskan bahwa mereka bermaksud memberikan pendampingan hukum, hal yang merupakan hak dari orang yang sudah ditangkap polisi sebagai penegak hukum.

Polisi yang berjaga tak bergeming. Sampai salah seorang kuasa hukum itu menunjukkan pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) tentang hak pendampingan hukum bagi seorang yang ditangkap, polisi tetap melarang mereka masuk. Sempat terjadi adu mulut, namun hasilnya tetap saja polisi tak membuka gerbang bagi para pengacara untuk memberi pendampingan hukum.  

Polisi malah meminta para orang tua para demonstran yang ditangkap untuk pulang.  “Perlu waktu 1×24 untuk pendataan dan pemeriksaan,” kata seorang polisi.  

Tapi mereka tetap bertahan di luar gerbang. Selain para orang tua, dan tim kuasa hukum, juga ada beberapa mahasiswa. Raut wajah-wajah mereka tampak lelah, tidak ada senyum, pasti saja semua khawatir dan ingin tahu keadaan anak, saudara dan rekan mereka.  

Tak lama berselang, langit malam itu mendung. Hujan turun membersamai  air mata Winarsih dan beberapa ibu-ibu yang menunggu anaknya. Mereka berlari-lari kecil mencari tempat berteduh. Beberapa orang menuju halte-halte bus, yang tidak tertampung di halte tinggal berteduh di bawah pohon. 

Beberapa orang memanfaatkan situasi itu untuk bisa menerobos gerbang Kantor Polrestabes. Tak satu pun dari mereka yang memilih pulang. Saat hujan mulai reda, mereka yang datang semakin bertambah. 

Pukul 10 malam, polisi masih  tak memberikan kejelasan apapun. Termasuk keterangan siapa-siapa saja yang telah mereka tangkap dan bagaimana kondisinya. Tak ada yang tahu apakah mereka yang ditangkap telah mendapatkan makanan ataupun minuman. 

Beberapa mahasiswa berinisiatif menghimpun dana. Memakai kardus bertuliskan “donasi untuk makan”, mereka berkeliling menemui siapa saja yang ada di sekitar Polrestabes. Penggalangan juga melibatkan mereka yang tidak ada di lokasi, lewat media sosial. 

Hasilnya dibelikan makanan dan minuman yang kemudian dititipkan kepada polisi yang berjaga untuk diserahkan kepada mereka, para demonstran yang ditahan di dalam kantor polisi.

***

Rabu, 7 Oktober 2020, ribuan massa aksi di Jawa Tengah yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat menggeruduk Kantor DPRD Jawa Tengah. Mulai dari kelompok buruh, mahasiswa, hingga pelajar.

Sama halnya dengan rentetan aksi demonstrasi di berbagai wilayah, mereka merespon  pengesahan Undang-Undang (UU) Cipta Lapangan Kerja, Omnibus Law. UU yang dinilai peserta aksi, tidak berpihak pada rakyat melainkan hanya kepada investor belaka.  

Membawa mosi tidak percaya, massa aksi yang semula melakukan long march dari beberapa titik, berkumpul di DPRD Jawa Tengah sekitar pukul 12.15 WIB. Mereka membentangkan berbagai poster dan spanduk yang bertuliskan nada kritik seperti, “Demokrasi dikebiri, Hak Rakyat Diamputasi”, “UU Cilaka”, hingga “DPR tak punya nurani”.

Perwakilan buruh dan mahasiswa bergantian menyampaikan orasi, pesannya: undang-undang tersebut disusun secara tidak transparan; terburu-buru; tidak kredibel; dan tidak layak; tak berpihak terhadap rakyat kecil; dan hanya menguntungkan pengusaha.

Baris depan kelompok massa ini didominasi para pelajar. Sebuah pemandangan yang baru muncul tahun lalu.  Mereka membawa kesegaran tersendiri dalam suasana demonstrasi yang kebanyakan tegang. Sesekali mereka melontarkan candaan kepada polisi.”Digaji berapa, Pak?”, “Jangan lupa tugas polisi, Pak!”, “Belikan es teh dong, Pak!”

Sementara orasi terus berlanjut. Dari pengeras suara di mobil komando terdengar perwakilan demonstran menyampaikan tuntutan untuk membatalkan pengesahan UU Omnibus Law. Mereka juga menyuarakan beberapa hal lain yang menjadi tuntutan massa aksi. Mulai dari tuntutan untuk mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual hingga RUU Pekerja Rumah Tangga.

Gelombang pemecatan selama pandemi Covid-19 dan kriminalisasi yang kerap mendera aktivis, juga cara pemerintah menangani wabah Corona menjadi kecaman para demonstran.  ”Bukan malah mengurusi undang-undang yang mencederai hak dan nurani rakyat!” demikian tegas Arif Afruloh, Koordinator Aksi Gerakan Rakyat Melawan (GERAM).

Matahari mulai condong ke barat, jam menunjukkan pukul 15.30 WIB, saat mobil komando disertai kelompok buruh dan mahasiswa berputar meninggalkan pusat unjuk rasa di depan Kantor DPRD Jawa Tengah, Jalan Pahlawan Semarang. Saat itulah justru massa pelajar yang semula berada di pinggir barisan merapat ke pusat unjuk rasa.  

Polisi berupaya membubarkan demonstran. Awalnya dengan imbauan, tapi massa tetap bertahan. Respon polisi selanjutnya adalah menyiapkan  mobil watercanon, anjing pemburu, serta mendatangkan personel tambahan.

Keadaan di lokasi menegang, tensi meningkat, beberapa batu dan botol beterbangan dari arah kelompok demonstran yang tersisa. Sekitar pukul 4 sore polisi menyemprotkan air bertekanan tinggi dari mobil watercanon untuk membubarkan massa aksi. Tetapi mereka bertahan, malah semakin  sering melempar batu.

Saat polisi akhirnya menembakkan gas air mata, para demonstran bertebaran. Mereka berlarian menuju ke gang-gang, hingga gedung. Ada pula yang bergegas memacu motor dan pergi. Penjual es teh, es dawet, siomay, dan air mineral, tak masuk pertimbangan polisi saat melakukan penembakan gas air mata. Tak pelak mereka kena semprot gas air mata pula. Berhamburan jugalah mereka.

Beberapa demosntran membantu mendorong gerobak para penjaja. Para penjaja juga membantu para demonstran, memberikan air untuk membasuh muka yang terkena gas air mata.     

Dalam keadaan massa sudah tercerai berai itu, polisi memburu satu per satu di antara mereka.  Mahasiswa yang melakukan orasi di mobil komando, mereka yang berada di baris depan dan mereka yang dianggap terlibat demonstrasi, menjadi incaran penangkapan.

Tidak ada tolerasnsi bagi  massa pelajar yang tidak bisa menunjukan identitasnya. Dalih apapun, tak diterima, mereka tetap ditangkap.  

 Di beberapa titik penangkapan, polisi  melakukan pengepungan sembari melontarkan makian kasar.  Mereka bergiliran menendang dengan sepatu lars dan memukul dengan pentungan, demonstran yang ditangkap.  Mereka yang sudah babak belur itu diangkut paksa ke kantor polisi.

Ada sekitar 269 demonstran yang ditangkap. Mayoritas adalah pelajar SMP, SMA dan SMK. Lainnya adalah mahasiswa. 

***

Heni sama halnya dengan Winarsih yang mencemaskan kondisi Rendi, anaknya yang ditahan polisi. Bedanya, Heni sedari awal tahu jika Rendi turut berdemonstrasi. Dia sendiri yang mengizinkan si anak yang masih pelajar tersebut ikut terlibat aksi unjuk rasa bersama mahasiswa dan buruh. Izin diberikan karena Heni menilai tindakan Rendi adalah untuk kepentingan rakyat banyak.

“Tujuan mulia harus saya dukung,” Heni menegaskan tindakannya tak salah. Menurutnya, demonstrasi adalah tindakan yang sah-sah saja di negara demokrasi. 

Kata Heni, sebuah undang-undang seharusnya dibuat untuk kepentingan rakyat banyak, bukan untuk kepentingan orang-orang kaya saja. “Kasihan kalau jadi pegawai kontrak seumur hidup,” tukas Heni.

Akan tetapi Heni merasa heran mengapa anaknya ditangkap. “Anak saya pendiam, tak mungkin dia melakukan kekerasan,” ungkap Heni. Ia datang belakangan menyusul Winarsih. Heni mengetahui kabar penangkapan Rendi dari teman yang anaknya juga terlibat demonstrasi.

Malam makin larut hingga hari berganti. Baik Winarsih maupun Heni makin cemas tatkala belum juga mendapati kabar anak-anak mereka. Gerbang Polrestabes masih tertutup bagi keduanya. Beberapa orang memakai alas seadanya untuk merebahkan berbaring. Heni mengatakan akan terus menunggu dan hanya akan pulang sesudah mendapati anaknya. Dua perwakilan tim kuasa hukum  akhirnya diizinkan masuk. 

Kamis, 8 Oktober 2020, pukul 01:45 gerbang Kantor Polrestabes dibuka. Beberapa orang keluar  melewati gerbang itu. Demonstran yang ditangkap akhirnya dibebaskan. 

Ada yang berjalan secara tertatih, hingga harus dibantu rekannya. Perban menempel dan sebagian tampak jelas melingkar di kepala-kepala mereka. Memar dan luka dengan jelas ada di muka hingga lengan para demonstran itu.  

Tangis Winarsih kembali pecah tatkala menjumpai anaknya yang ternyata luka. Tangan Andi memar, mukanya lebam. Sambil mengelus-elus kepala Andi, Winarsih menuntun langkah anaknya itu menuju sepeda motor yang diparkir di badan jalan sisi kanan depan Kantor Polrestabes. Mereka bergegas pulang.

Heni pun serupa, air matanya menetes, ia  tak banyak bicara. Heni segera menghampiri anaknya lantas mengajaknya pergi. Penantian Heni, Winarsih dan lainnya tidak bisa dibilang pendek, tapi tidak sia-sia.

Sejurus kemudian, pemandangan jadi sedikit beda. Seorang perempuan menangis histeris menghampiri seorang muda yang keluar dari pintu gerbang  dengan kepala berbalut perban. Perempuan itu lalu memaki-maki polisi. Seorang muda itu adalah anaknya. Si ibu tak terima mendapati kepala anaknya  terluka

“Kamu diapakan sama polisi? Ngomong, Le (bicara nak)!” kata perempuan itu  berulang kali diantara tangis dan langkah kakinya

“Wis, Bu. Rapopo, ayo mulih (Sudah, Bu. Tidak mengapa, ayo pulang)!,” ungkap si anak,  sambil merangkul ibunya.“Wis meneng, Bu. Aja nangis. Isin diingeti wong akih  (Sudah diam, Bu. Jangan menangis. Malu dilihat orang banyak),”  si anak terus menenangkan ibunya.   

Ada pula yang mengagetkan. Wajah seorang anak yang sudah luka, sekeluarnya dari pintu gerbang kantor polisi justru diimbuhi tamparan tangan orang dewasa yang menjemputnya. ”Mau jadi preman?!” sergah si penjemput. Si anak diam, hanya berjalan mengikuti penjemputnya menuju mobil berpelat merah.   

***

Di sudut lain,  Dwi,  pelajar salah satu STM (SMK) di Grobogan  tidak bisa langsung pulang. Ia sudah berada di luar pintu gerbang, tapi tidak ada yang menjemputnya. 

Dibanding Andi, Rendi dan demonstran lain yang ditangkap polisi, keadaan Dwi lebih mending. Ia pun kena pukul pentungan polisi saat ditangkap dan didata. Tapi Dwi memiliki tubuh yang terlatih merasakan pukulan. Ia adalah murid sebuah perguruan pencak silat. 

Di luar gerbang, Dwi menanti Erika, kawannya yang masih berada di dalam kantor polisi. Erika merupakan kawan satu sekolah Dwi ketika mereka masih SMP. Mereka berpisah setelah lulus SMP. Erika harus bekerja  kasar di Semarang karena bapaknya sudah tua dan ia harus menanggung hidup dua adiknya.    

Dwi dan Erika bersepakat mengikuti aksi unjuk rasa di depan gedung DPRD Jawa Tengah di Semarang. Mereka terpisah saat menghindari kejaran polisi.  

Setelah penyemprotan gas air mata, Dwi yang panik lantas lari menuju ke arah belakang barisan, menjauhi jalan protokol yang menjadi pusat aksi dan bersembunyi di sekitar gedung Bank Indonesia yang berada di sekitar 300 meter di sebelah timur gedung DPRD. Dwi tidak sendiri, beberapa massa aksi lari bersamanya. Di titik persembunyian, mereka diberi air minum oleh warga.  

Setelah Dwi merasa kondisi aman, ia menghubungi Erika dan mendapati kawannya itu sedang bersembunyi di gedung Dinas Sosial, sekitar 100 meter arah timur laut dari gedung DPRD. Selang beberapa waktu saat polisi tak lagi tampak berkeliaran, keduanya memutuskan untuk bertemu di  minimarket di Jalan Erlangga, tak jauh dari gedung Bank Indonesia. Rencananya, mereka akan pulang bersama. 

Naas, di tengah jalannya rencana itu mobil tahanan milik polisi melintas melakukan penyisiran.  Dwi dan Erika yang tidak membawa serta kartu identitas menjadi sasaran tangkap.   

Keduanya ditangkap  dalam kondisi terpisah. “Ada enam polisi yang mengerumuni saya,” ungkap Dwi. Para polisi menuduh Dwi telah berbuat anarkis. Dwi dipukuli secara bergantian tanpa diberi kesempatan untuk memberi penjelasan. 

Erika yang mencoba memberi penjelasan dan menolak ditangkap pun dibalas dengan dua pentungan di punggungnya. Ia disuruh merunduk lalu ditendangi.

Dwi dan Erika kemudian dimasukkan ke dalam mobil tahanan. Ada seorang lagi yang ditangkap dan ada di mobil itu. “Kalau tidak salah dia mahasiswa,” kata Dwi.

Di dalam mobil itulah Dwi merasakan tekanan kuat dari polisi. “Anjing, bajingan, kontol, semua keluar,” kata Dwi.  Mereka bertiga diminta membuka baju hingga telanjang setengah badan. Dwi bilang, sembari mengumpat, para polisi itu  memukul dan menendangnya

Salah satu bagian tubuh yang menjadi sasaran pukul adalah wajah. Upaya menutup wajah untuk menghindari pukulan adalah sia-sia. Demikian pula dengan upaya meminta ampun.  

Mobil tahanan polisi membawa Dwi, Erika dan seorang lagi, menuju kompleks kantor Gubernuran dan DPRD Jawa Tengah. Belasan polisi berbaris dua lapis. Setiap demonstran yang ditangkap polisi, termasuk Dwi dan Erika, disuruh merangkak melewati dua lapis barisan. Barisan itu bukan barisan diam. Tendangan dan pukulan kepada yang merangkak keluar dari barisan itu.  

Selesai melewati barisan dua lapis itu, dicatatlah data para demonstran yang ditangkap itu. Usai pendataan, Dwi dan ratusan  lainnya diminta berjalan jongkok menuju mobil polisi untuk diangkut ke Kantor Polrestabes Semarang. Dan lagi, mereka ditendangi dari belakang. 

Sebelum tiba Kantor Polrestabes Semarang, mereka disuruh kembali memakai baju. Di kantor polisi, pencatatan data kembali dilakukan. Mereka yang ditangkap diinterogasi. Dwi kembali melihat pukulan dan tendangan. Dwi juga mendengar jeritan kesakitan. Sementara dirinya memilih diam, meski sakit juga.

Akhirnya Erika keluar juga dari pintu gerbang kantor polisi itu menyusul Dwi. Setelah bertemu di luar gerbang, mereka pergi dari meninggalkan tempat itu. (eka)

  • Nama dan alamat diatas bukan nama dan alamat sebenarnya. Identitas sengaja disamarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.