BUKU PANDUAN MEMAHAMI WANITA

Spread the love

(Hasil pembacaan atas buku “Siluet” karya Astuty Natalia A.T.)

Oleh Fahmi Abdillah

Hanya wanita yang bisa tuntas memperbincangkan wanita. Ya, buku kumpulan 12 cerpen ini berbicara tentang wanita, bagaimana cara mereka berpikir, merasa, mempertimbangkan, dan membuat keputusan. Saya pikir buku ini berhasil menyajikan semua itu dengan komposisi yang lengkap, maka saya memilih memberi judul tulisan ini dengan kalimat di atas.

Buku besutan penulis kelahiran Makassar ini memiliki bahasa yang lugas, tak berpanjang-panjang, tak berbelit-belit, dan gampang dicerna. Cerita-cerita dalam “Siluet” terasa sederhana, tak terjebak dalam peragaan dan eksplorasi kata yang akrobatik. Tentu akan sangat memudahkan pembaca untuk menemukan pembelajaran dari cerita-cerita tersebut.

Kedua belas cerita dalam buku terbitan PT Elex Media Komputindo ini diceritakan dengan sudut pandang wanita. Namun sungguh tak saya temukan kata bosan saat membaca buku tersebut. Buku ini menawarkan banyak tema, seperti kasih sayang, jarak dan kerinduan, pernikahan, dunia malam, pun tak luput membahas perjuangan hidup.

Selain perihal sudut pandang penceritaan, kekuatan dari masing-masing cerita yang kali pertama diterbitkan tahun 2010 ini adalah ketelitian dalam deskripsi, baik itu tentang tokoh dan setting. Saya benar-benar diajak untuk melihat keindahan teratai, mendengar keramaian kota, serta menikmati kemolekan tubuh perempuan saat membaca buku bertebal 144 halaman ini.

Seperti tergambar oleh penuturan Rani, Anya, Lily saat saya membaca cerita mereka tentang pernikahan, bagaimana ketiga wanita muda itu melawan jarak, dan waktu yang menggoyahkan pernikahan mereka. Sekali lagi dengan bahasa dan cerita yang lugas, “Barangkali memang ini cara terbaik untuk menceritakan perjuangan,” pikir saya. Kita tahu bahwa menikah adalah sebuah proses tentang membangun kebahagiaan bersama. Atau bila saya sandingkan masalah ketiga tokoh tersebut dengan cerita Asri yang selalu bermasalah dengan mertua, sungguh memuat nilai dan pelajaran yang cukup apik untuk saya dan anda bawa pulang. Terlepas anda adalah seseorang yang sudah berpasangan atau belum.

Cerita-cerita berbahan dasar keseharian seorang istri, mahasiswi, karyawati, pekerja seks, sangat realis disajikan dalam buku ini. Entah apakah karena hanya cerita pendek berjudul Siluet yang sedikit menyentuh area surealis maka cerita tersebut dipilih sebagai judul dari buku ini. Memang ada kesan berbeda bila anda membandingkan secara keseluruhan cerpen Siluet dengan  sebelas cerita yang Astuty kumpulkan. Dari semua cerpen dalam buku ini, Siluet terkesan paling cantik. Karena selain sentuhan surealis pada akhir cerita, cara Ferina mencintai David pun tergambar paling dalam. Sepertinya memang pengarang kelahiran 1979 ini mencurahkan perhatian lebih untuk menuntaskan hasrat dalam Siluet.

Namun apa yang menjadi pertimbangan dalam kelahiran dalam buku-buku ini biarlah tetap menjadi milik Astuty Natalia, saya hanya menyayangkan satu hal, cerita-cerita Astuty saya pikir terlalu berhati-hati. Saya kira karena sedang membahas kaumnya, Astuty dengan sangat santun menggambarkan pola pikir para tokoh. Saya harap saya bertemu dengan karya-karya lain Astuty yang lebih nakal, berani, dan vulgar. Bila memang tidak ada, saya akan tetap menyukai tulisannya sebagai bahan untuk belajar hidup dengan pola pikir santun, ramah, dan tanpa keculasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.