CAPING GUNUNG #2

Spread the love

: LAGU DARI MASA KE MASA

Apa pula yang dipelajari para siswa dan mahasiswa? Bukankah mereka diajari untuk memisahkan segala ilmu, pengetahuan, dan teknologi di dunia pendidikan formal dari kejujuran, yang seharusnya merupakan variabel determinan dalam kehidupan? Atau, semestinya kejujuran menjadi basis kesadaran dalam kehidupan bersama bukan? Keadaan bahkan nyaris tak berubah dari 36 tahun lampau, sebagaimana dilukiskan W.S. Rendra dalam sebuah sajak.

Sajak Sebatang Lisong

Menghisap sebatang lisong,

melihat Indonesia Raya,

mendengar 130 juta rakyat,

dan di langit

dua tiga cukong mengangkang,

berak di atas kepala mereka.

Matahari terbit.

Fajar tiba.

Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak

tanpa pendidikan.

Aku bertanya,

tetapi pertanyaan-pertanyaanku

membentur meja kekuasaan yang macet,

dan papan tulis-papan tulis para pendidik

yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak

menghadapi satu jalan panjang,

tanpa pilihan,

tanpa pohonan,

tanpa dangau persinggahan,

tanpa ada bayangan ujungnya.

……………………………..

Menghisap udara

yang disemprot deodorant,

aku melihat sarjana-sarjana menganggur

berpeluh di jalan raya:

aku melihat wanita bunting

antri uang pensiun

Dan di langit:

para teknokrat berkata:

bahwa bangsa kita adalah malas,

bahwa bangsa mesti dibangun,

mesti di-up-grade,

disesuaikan dengan teknologi yang diimport.

Gunung-gunung menjulang.

Langit pesta warna di dalam senjakala.

Dan aku melihat

protes-protes yang terpendam,

terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,

tetapi pertanyaanku

membentur jidat penyair-penyair salon,

yang bersajak tentang anggur dan rembulan,

sementara ketidak-adilan terjadi di sampingnya,

dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan

termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan

berkunang-kunang pandang matanya,

di bawah iklan berlampu neon.

Berjuta-juta harapan ibu dan bapa

menjadi gebalau suara yang kacau,

menjadi karang di bawah samodra.

…………………………………………….

Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing.

Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,

tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan,

Kita mesti keluar ke jalan raya,

keluar ke desa-desa,

mencatat sendiri semua gejala,

dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku.

Pamplet masa darurat.

Apakah artinya kesenian,

bila terpisah dari derita lingkungan.

Apakah artinya berpikir,

Bila terpisah dari masalah kehidupan.

19 Agustus 1977

Menyerikan bukan? Apalagi negeri ini pun seperti dililit spiral kekerasan. Bukankah Anda tahu belaka betapa setiap pergantian kekuasaan di negeri kita nyaris selalu berlangsung secara berdarah-darah? Tahun 1998 saja, berapa korban berjatuhan? Dan, berapa kaum perempuan saudara kita dari etnis Tionghoa diperkosa, yang sampai hari ini pun tak pernah pemerintah menjelaskan perkara itu: siapa salah, siapa dihukum. Kita sudah amat berpengalaman mengganti penguasa yang bebal hati dan pikiran dengan cara seperti itu, tetapi hasilnya: di tengah jalan selalu ditebas oleh para pencoleng kekuasaan.

Kini, apakah justru bukan saatnya bagi kita mencari dan menerapkan cara yang soft, cara yang lembut, cara yang elegan — yang tidak berdarah-darah? Apakah para cerdik cendekia tak bisa menulis, tak bisa bersekutu, berserikat, lalu misalnya mengajukan resolusi? Apakah mahasiswa tak bisa menyuarakan pendapat, tanpa harus menjadikan demonstrasi sebagai satu-satunya pilihan, jika memang takut menghadapi pentungan?

Apakah kekerasan menjadi satu-satunya pilihan, sehingga ada kawan menyarankan kemungkinan penggunaan senapan? Tak bisa dan tak maukah kita, sebagai bangsa, belajar mengelola kehidupan bersama ini secara elegan, tanpa saling mematikan hak hidup sesama?

Sementara itu, sekelompok orang yang tergabung dalam sebuah forum penyelamat umat – katanya – terkekeh seraya menyatakan, enak benar hidup di negeri ini. Ya, enak benar hidup di negeri ini. Betapa tidak! Siapa pun bisa membunuh, tanpa dihukum. Siapa pun bisa menyerbu dan menghancurkan rumah dan tempat ibadah, tanpa pengadilan: siapa salah, siapa korban yang mesti dipulihkan hak dan martabatnya. Siapa pun boleh memainkan peran berdasar pilihan: siksa, basmi, dan pukul tanpa tersentuh hukum. Siapa pun boleh korupsi, tanpa kehilangan harga diri dan kehormatan. Siapa pun boleh meruntuhkan gunung, membabat hutan, membelah sungai, menguruk lautan, berdalih kemakmuran bersama, sembari mematikan hak hidup saudara sebangsa. Siapa pun boleh menjiplak, tanpa perasaan bersalah. Siapa pun boleh berdusta, seraya tetap merasa telah berlaku jujur. Siapa pun boleh dan bisa….

Ketika kekerasan menjadi cara, menjadi modus tunggal penaklukan melalui aparatus kekerasan – atau pinjam tangan milisi, yang dibina dan dibiayai — sesungguhnya pemerintah telah mengkhianati rakyat. Menjadi makin jelas: keabsahan atau lebih tepat kelestarian kekuasaan pun bertumpu pada teror, pada horor, yang menemu wujud yang kasatmata.

Tak ada kata lain, kebusukan dan dusta mesti dibongkar. Ya, “Bongkar” Iwan Fals patut terus dinyanyikan bukan?

Kalau cinta sudah dibuang

Jangan harap keadilan akan datang

Kesedihan hanya tontonan

Bagi mereka yang diperkuda jabatan

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Sabar sabar sabar dan tunggu

Itu jawaban yang kami terima

Ternyata kita harus ke jalan

Robohkan setan yang berdiri mengangkang

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Penindasan serta kesewenang-wenangan

Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan

Hoi hentikan hentikan jangan diteruskan

Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan

Di jalanan kami sandarkan cita-cita

Sebab di rumah tak ada lagi yang bisa dipercaya

Orang tua pandanglah kami sebagai manusia

Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta

Oh oh

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Kok bisa?

Bisa kok!

Kini, apalagi yang tersisa: dalam benak, dalam hati, dalam nurani kita? Apakah kita bakal manda diam saja, tak tergerak untuk terlibat dalam perubahan ke arah kehidupan bersama yang lebih menyamankan bagi semua? Tak merasa tersindir juga oleh mendiang Mbah Surip lewat lagu “Bangun Tidur”? Simaklah.

Hey bangun kerja

Ha ha ha ha ha

Ha ha ha ha ha

Ok I love you full

Bangun tidur tidur lagi

Bangun lagi tidur lagi

Bangun… tidur lagi

Ha ha ha ha

Bangun tidur tidur lagi

Bangun lagi tidur lagi

Bangun… tidur lagi

Ha ha ha ha

Habis bangun terus mandi

Jangan lupa senam pagi

Kalau lupa… tidur lagi

Ha ha ha ha

Barang siapa yang ingin hidup

Awet muda, bahagia di dunia ini

Kurangi tidur banyakin ngopi

Ha ha ha ha

I love you full

Bangun tidur tidur lagi

Bangun lagi tidur lagi

Bangun… tidur lagi

Ha ha ha ha

Bangun tidur tidur lagi

Bangun lagi tidur lagi

Bangun… tidur lagi

Ha ha ha ha

Habis bangun terus mandi

Jangan lupa senam pagi

Kalau lupa… tidur lagi

Ha ha ha ha

Habis bangun terus mandi

Jangan lupa senam pagi

Kalau lupa… tidur lagi

Ha ha ha ha

Kalau lupa… tidur lagi

Ha ha ha ha

Kalau lupa… tidur lagi

Ha ha ha ha

Kalau lupa… tidur lagi

Ha ha ha ha

Kalau lupa… tidur lagi

Ha ha ha ha

Edan.

Ya, apakah kita sudah sedemikian edan, sudah sedemikian gila, sehingga hanya tidur dan tidur lagi? Atau, kalaupun bangun cuma ngopi dan ngopi lagi, untuk kembali tidur kembali?

Langkah sederhana bisa kita mulai, semampu kita, sebisa kita. Begitulah tekad Kiai Budi. Dan, saya mengamini. “Menanam, mari kita menanam!” ujar dia dengan wajah berbinar, dengan senyum tipis mengembang. Serentak saya pun teringat lagu “Menanam Jagung” karya Ibu Sud, yang acap saya nyanyikan ketika bocah.

Ayo kawan kita bersama

menanam jagung di kebun kita

ambil cangkulmu, ambil pangkurmu

kita bekerja tak jemu-jemu

cangkul, cangkul, cangkul yang dalam

tanah yang longgar jagung kutanam

beri pupuk supaya subur

tanamkan benih dengan teratur

jagungnya besar lebat buahnya

tentu berguna bagi semua

cangkul, cangkul, aku gembira

menanam jagung di kebun kita.

Menjadi petani, menjadi pekebun, menjadi penanam adalah juga menjadi manusia mandiri bukan? Bukankah itu yang sudah diperlihatkan dan dibuktikan Gunretno, kawan kita eksponen Sedulur Sikep Sukolilo, Pati? Itu pula jalan sunyi yang ditempuh Munasikin, pemuda Limbangan, Kendal, bukan?

Jalan Sunyi Petani Gaul

SIMON. Begitulah nama lelaki berperawakan kecil, berambut panjang terkuncir ekor kuda, yang berkesan pendiam itu. Namun begitu berbicara tentang tanaman, Munasikin – itulah ternyata nama asli pemberian orang tuanya, pasangan almarhum Abdurrohman dan Maryam – seperti tak pernah kehabisan energi. Ya, kecintaan lajang kelahiran Kendal, 17 Februari 1976, itu pada tanaman dan tentu saja tanah tempat tumbuh tanaman sebegitu besar. Meski, menurut pengakuan anak kedua dari tujuh bersaudara itu, kecintaan tersebut bermula dari keterpaksaan.

Lulus SMA, dia melanjutkan pendidikan ke sebuah sekolah tinggi ekonomi di Kota Semarang. Namun belum genap satu semester, dia merasa bosan. “Ya, saya bosan. Mungkin karena bawaan saya ingin selalu bergerak, ingin berbuat sesuatu secara nyata,” ujar si Mun.

Ah ya, di kampungnya, Gempol, Desa Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, sapaan dia memang si Mun atau Mas Mun. Dari sapaan si Mun itulah, kemudian, kawan-kawan aktivis lingkungan dalam lingkar pergaulannya menyapa dia: Simon. Dan, seperti kebetulan sekeluar dari bangku kuliah, si Mun, remaja dari kampung di ketinggian Lereng Medini itu, berkenalan dengan seseorang dan diajak merawat anggrek.

Jatuh Cinta

Bermula dari coba-coba, lalu jatuh cinta. Simon pun merawat anggrek kepunyaan orang lain sepenuh cinta. Karena, dia memperoleh kesadaran bahwa kecintaan pada anggrek, dan kemudian kecintaan pada segala rupa tanaman, adalah upaya memuliakan sang Pencipta Kehidupan.

Kecintaan itu pula yang mendorong dia mengikuti berbagai pelatihan segala rupa tentang pertanian antara lain di Bandung, Bogor, Malang, Yogyakarta, Magelang, dan Temanggung. Hingga, suatu saat, dia pun memutuskan sepenuh seluruh hidup dari tanaman: menjadi petani.

Namun dia tak ingin menjadi petani “biasa-biasa” saja, yang acap digambarkan sebagai sosok ndesit. Gambaran umum: bercelana kolor lusuh, berkaus seadanya, dengan pengetahuan bercocok tanam (mungkin saja luar biasa piawai, tetapi toh berkesan tak terdidik yang) diperoleh secara turun-temurun, tani utun. Dia ingin menjadi petani gaul. Itulah petani yang memiliki bekal pengetahuan, pemahaman, dan wawasan tentang dunia pertanian di tengah pergerakan perekonomian. Karena itu petani tidak seharusnya selalu jadi objek, yang terus-menerus hidup secara subsisten. Petani mesti mampu keluar dari jerat lingkaran setan yang memuncak pada: produsen padi yang membeli beras lebih mahal dari gabah yang mereka jual.

Selain itu, kata dia, petani juga mesti paham betapa tanahlah sebenarnya yang jadi fokus garapan. Tanaman yang subur tak selalu identik tumbuh di atas tanah subur – karena digelontor dengan berbagai obat, pupuk, pestisida, insektisida kimiawi. Namun tanah yang subur, tutur dia, pasti menghasilkan tanaman yang subur. Maka memurnikan tanah, mengembalikan tingkat kesuburan tanah menjadi komitmen dia. Visi yang seiring sejalan dengan konservasi alam itulah yang memantapkan tekad dia menjadi petani tanaman organik.

Memurnikan Tanah

Dia menuturkan, petani penggarap atau buruh tani tak seharusnya terus-menerus mengeluh tak punya tanah, tanpa langkah nyata. Untuk mengatasi keterbatasan kepemilikan lahan, salah satu pilihan adalah menyewa lahan. “Jika tak mampu sendirian, bentuk kongsi. Bersama beberapa kawan, menyewa sepetak lahan, lalu garap dan kelola sepenuh hati,” ucap dia.

Di kampungnya, dia menggarap lahan bengkok salah seorang adiknya yang jadi perangkat desa. Di lahan 8.000 m2 itu, dia menanam padi organik. Banyak kawan petani menyindir-nyindir dia. “Semprot terus! Semprot terus! Apa gak kesel (tak capek)?” begitulah ucap mereka melihat dia setiap 10 hari menyemprotkan antihama dan antigulma pada tanaman padi.

“Antihama pada padi organik saya buat sepenuhnya dari bahan alami. Memang tak langsung membunuh hama. Pestisida alami tak bekerja secara instan. Jadi perlu penyemprotan secara ajek dan periodik. Tak seperti obat-obatan kimiawi, sekali semprot selama masa tanam,” kata Simon.

Pola tanam pun berbeda. Tidak padi, padi, padi. Namun dia memilih padi, lombok, jagung, padi. Begitu seterusnya. “Intinya menggarap tanah dulu, mengembalikan tingkat keasaman (pH) tanah, memperkuat unsur hara. Sebab, setelah pemakaian serbakimia, tanah menjadi kurus; kedalaman sekilan lebih saja tanah sudah sangat keras,” tutur dia.

Bagaimana hasilnya? “Hasil produksi dari satuan lahan yang sama relatif sama. Cuma, bedanya, saya bisa menjual beras organik dua kali lipat lebih mahal, setidak-tidaknya Rp 12.000/kg.”

Jadi, lanjut dia, penghasilan yang diperoleh dari penanaman padi organik lebih besar. Pasar pun terbuka karena kini muncul kecenderungan di kalangan tertentu untuk mengonsumsi segala yang alami – sebagai bagian dari kesadaran ideologis: kembali ke alam.

Kesungguhan berbekal kecintaan membuat dia tangguh. Meski ibarat melangkah di jalan sunyi – lantaran tak ada kawan petani sekampung yang mengikuti jejaknya menanam padi organis – dia terus berjalan. “Kini lahan garapan di kampung saya tanami lombok. Padi dan jagung sudah sepenuhnya organik, tetapi lombok secara proporsi baru 70-an persen organik. Obat antihama, yang saya kembangkan lewat pembiakan mikroorganisme, belum sepenuhnya alami. Namun saya proyeksikan, sedikit demi sedikit menjadi sepenuhnya organis,” katanya.

Dari mana sumber belajar sang petani autodidak itu? “Membaca, bertanya pada siapa pun, dan browsing di internet,” sahut dia seraya tersenyum.

Kesungguhan dia bekerja pun berbuah. Beberapa kawan mengajak dia bekerja sama, mengelola kebun di berbagai tempat. Kini, dia menjadi “koordinator kebun” di lahan sewaan di Ngesrepbalong yang ditanami sengon dan lombok serta di kawasan Gunungpati (Kota Semarang) dan Ungaran (Kabupaten Semarang) yang ditanami jagung manis berganti-ganti dengan lombok.

“Lahan di Ngesrepbalong itu semula ditanami tebu. Tanah menjadi kurus, kehilangan unsur hara. Saya harus menormalkan dulu pH tanah agar kembali gembur, kembali subur,” ucap dia.

Kini, dia bersyukur beberapa petani di kampungnya bersedia membuat pupuk dan pestisida alami. Dia yakin, suatu saat, mereka bakal melihat bukti bahwa pertanian organik adalah keniscayaan, suatu pilihan cerdas, jika petani ingin sejahtera. Menjadi petani yang tidak selalu jadi objek penderita dalam tata niaga pertanian yang terkontrol pemilik modal besar.

Jalan yang dia tempuh memang sunyi. Sesunyi suasana alam di lahan-lahan yang dia garap. Karena itulah dia sesungguhnya enggan dipublikasikan. “Saya tak mau dianggap mencari popularitas,” katanya.

Namun bukankah kisah anak-anak muda yang berani menempuh jalan berbeda, jalan yang lebih memuliakan kehidupan, patut dikedepankan? Siapa tahu bisa jadi pemantik minat sesama untuk, misalnya, menjadi petani seperti Anda?

Simon cuma terdiam, lalu kembali mengucap lirih, ”Saya malu karena belum sepenuhnya berbuat bagi banyak orang. Masih bergulat, menekuni pekerjaan sebagai petani ini, sebagai peneguh bahwa saya bisa hidup tanpa harus bergantung pada kekuatan lain, kecuali pada rida Allah.”

Ah, indah, sesungguh benar indah bila banyak dan makin banyak anak muda bersikap seperti dia. Tak takut menyusuri jalan sunyi sebagai petani, di luar hiruk-pikuk dan gemebyar kehidupan kota. (Bersambung) N

Gunawan Budi Susanto, pengelola Kedai Kopi Kang Putu, menginisiasi dan mengampu kelas menulis dan kelas membaca. Bukunya yang telah terbit Kesaksian Kluprut (1996), Edan-edanan pada Zaman Edan (2008), Nyanyian Penggali Kubur (2011, 2016), Penjagal Itu Telah Mati (2015), Cik Hwa (2018), Dendam (2019). Buku yang bakal terbit Kisah Pemakan Anjing (kumpulan cerpen) dan Jual Saja Negeri Ini (kumpulan puisi).

Tulisan ini merupakan gabungan dari berbagai tulisan saya, yang sebelumnya dimuat di berbagai media, yang saya dedikasikan untuk sahabat saya, Kiai Budi Harjono.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.