CAPING GUNUNG #3

Spread the love

: LAGU DARI MASA KE MASA

Tentu menanam tak harus dipahami secara harfiah sebagai semata-mata bertani bukan? Lihatlah, Soesilo Toer. Lelaki gaek, doktor lulusan Institut Plekhanov Rusia – yang menyorongkan “jalan ketiga” dalam disertasinya, jauh sebelum Anthony Giddens menuliskan The Third Way: The Renew-al of Social Democracy (1998) – itu pun bertanam: di kota kecil di tepian hutan jati, Blora. Ya, selain sesungguh benar menanam seribuan pohon jati di kebun, dia mendirikan dan mengelola Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (Pataba). Dari perpustakaan yang menempati bangunan eks dapur di rumah warisan sang bapak, Mastoer, adik keenam Pramoedya Ananta Toer itu terus membenih dan menyemaikan bibit kepenulisan pada siapa saja, terutama di kalangan pelajar, di kalangan kaum muda. Dia bertanam kepenulisan! Dia bergerak di ladang literasi, bercangkul pena, berpupuk buku dan buku dan buku.

***

Soesilo Toer Ingin Jadi Pemulung Profesional

DIA terhitung pendek, tak lebih dari 160 sentimeter, dengan wajah bercambang keputihan. Dan, dia tak lagi muda. Kini, dia berusia 76 tahun. Namun jangan menyangka dia lemah. Macam keladi, tua-tua makin menjadi. Berkali ulang dia, misalnya, bersepeda motor berboncengan dengan sang istri, pergi-pulang dari Blora ke rumah mertua di Yogyakarta. Juga saat menjadi narasumber di Semarang, Kudus, atau Surabaya, dia pun berboncengan sepeda motor. Lagi-lagi dengan sang istri.

Fisik oke. Psikis? Diehard, keras kepala! Dia pun keras kemauan, keras bersikap, menghadapi tantangan kehidupan. Pada usia, yang kebanyakan orang lebih memilih duduk manis menikmati masa senja dalam kehidupan, dia justru tak henti-henti bekerja: mencangkul, memulung, menulis, dan memotivasi siapa pun untuk menulis dan terus menulis. Dan, itu dia lakukan di sebuah rumah tua di pojok kota, di Jalan Sumbawa, Jetis, 40 Blora.

Di pekarangan rumah itulah, di lahan seluas lebih dari 3.000 m2, dia menanam ratusan pohon jati. Dia juga menanam berbagai pohon buah dan tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai sayur dan obat-obatan. Di rumah itulah dia membangun perpustakaan. Dan, di perpustakaan itulah dia menerima dan menjamu para tamu, tua dan muda, dari berbagai pelosok kota, dari berbagai negara. Dari empat benua sudah, para tamu berdatangan. Tinggal dari Benua Afrika yang belum.

Para tamu itu datang untuk membaca, belajar menulis, meneliti, atau berkonsultasi tentang naskah mereka. Semua dia terima dengan lapang hati, lapang dada.

“Siapa pun yang datang ke perpustakaan ini bisa meminjam buku. Gratis. Jika haus, saya suguhi minuman. Saat kami makan, mereka pun saya ajak makan. Jika ingin menginap, ada kamar tersedia bagi mereka. Itulah kamar kakak tertua saya tidur tahun-tahun belakangan sebelum dia meninggal dunia. Mana ada perpustakaan lain semacam itu?” ujar dia seraya tersenyum, tanpa bermaksud jemawa.

Perpustakaan Liar

Upaya sepele, sederhana? Boleh jadi. Namun, jika Anda tahu, itu bukan pencapaian sederhana. Sejak mula dia membangun perpustakaan itu sampai kini, masih ada saja pejabat pemerintahan di kabupaten penghasil kayu jati terbaik di dunia itu yang menyebut perpustakaan yang dia kelola sebagai, “Perpustakaan liar!” Karena pandangan sang pejabat itulah, perpustakaan yang dia kelola gagal memperoleh block grant Rp 200 juta dari Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010. “Saat itu saya butuh rekomendasi dari Dinas Pendidikan sebagai salah satu syarat untuk menerima bantuan. Namun rekomendasi tak pernah keluar karena, ya itu tadi, perpustakaan ini dikategorikan perpustakaan liar!” katanya.

Liar karena apa? Tak berizin? Kepada siapa kita mesti meminta izin mendirikan perpustakaan – bagian dari upaya mencerdaskan bangsa? Bukankah perpustakaan, dan kemudian penerbitan nonkomersial, yang dia bangun bersemboyan: masyarakat Indonesia membangun adalah masyarakat Indonesia membaca menuju masyarakat Indonesia menulis. Jadi, maaf, terlibat upaya pencerdasan masyarakat lewat pendirian perpustakaan merupakan tindakan ilegal? Masya Allah!

Namun itulah cap buruk (stigma) yang distempelkan kepada dia. Stigma “sepele” memang, tetapi itu mempertebal stigma sebelumnya: eks tahanan politik (tapol) 1965. Stigma itu terus melekat sampai kini. Meski sudah kenyang menerima perlakuan tak adil yang berdasar prasangka stigmatik itu, tampaknya sepanjang hayat pula dia mesti terus melawan siapa pun yang memperlakukannya berdasar prasangka bahwa karena pernah ditahan setelah pertikaian politik 1965, dia pasti bersalah. Dan orang bersalah tak berhak berbuat apa pun, meski mungkin perbuatan itu berguna bagi orang lain.

“Dulu, di Bekasi, sebelum pulang ke Blora, saya diarak dan disoraki, ‘PKI! PKI!’. Ya, seperti di sinetron-sinetron itu. Saat itu ada yang mengatakan, ‘Kamu PKI!” Saya bilang, saya tidak PKI. Tak percaya? Lalu saya lepas celana panjang saya untuk menunjukkan pada mereka. ‘Lihat, lihat! Saya tidak pake kolor item!’ Bukankah mereka punya pengertian PKI itu pake kolor item. Saat itu kolor saya merah,” katanya sambil tertawa masam.

Itu terjadi gara-gara dia tak bisa menerima begitu saja warung kelontongnya digusur. Penggusuran terjadi berkali ulang. Mula-mula warungnya, kemudian rumah tempat tinggalnya. Dia memang kalah, tetapi tak pernah menyerah.

Tahun 2004, dia memboyong anak dan istrinya, Benee Santoso (kini 22 tahun dan telah bekerja di Jakarta) dan Suratiyem (46), pulang ke Blora dan menempati rumah keluarga besar, warisan dari sang bapak, Mastoer. Di kota kelahirannya tak berarti dia terbebas dari perlakuan diskriminatif dan penilaian miring. Namun dia tak peduli. Dia bertekad menjadikan rumah warisan keluarga itu menjadi ruang publik bagi pengembangan seni, budaya, dan intelektualitas. Dan, itu seperti peran rumah itu dulu, tahun 1930-1950, ketika menjadi titik simpul pergerakan melawan pemerintahan kolonial Belanda dan Jepang.

Menulis dan Terus Menulis

Kini, di dan dari rumah di pojokan kota itulah dia – dibantu banyak eksponen muda – melancarkan gerakan: mencerdaskan masyarakat lewat membaca dan menulis. Ya, di rumah itulah dia acap menyelenggarakan aca-ra diskusi dan bedah buku. Dia menggelar pula, antara lain, Festival Kali Lusi (2008), Seribu Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa (2009), Panggil Aku Kartini Saja (peringatan empat tahun meninggalnya Pramoedya Ananta Toer, 2010). Berbagai acara itu melibatkan banyak komunitas seni dari ber-bagai kota. Acara Seribu Wajah Pram, misalnya, didukung oleh 53 komunitas dari berbagai penjuru negeri dan melibatkan banyak seniman, antara lain mendiang dalang Tristuti Rachmadi, Djoko Pekik, dan Romo Sindhunata.

Setahun lalu, dia menyelenggarakan lomba menulis bagi pelajar setingkat SMP dan SMA se-Kabupaten Blora. Peserta membeludak. Bukan cuma dari kota kecil itu. Tak sedikit pula pelajar dari Kendal, Jember, Denpasar – untuk menyebut beberapa kota – mengikuti lomba. Lalu dia, bersama Hermawan Widodo, menyunting naskah para peserta dan menerbitkannya menjadi buku. Buku pertama dari rencana tujuh buku dia beri judul Kumpulan Tulisan Terpilih Karya Anak Semua Bangsa (Pataba Press, Blora: 2011), berisi puisi dan cerpen hasil pilihan lomba menulis tahun 2011.

“Untuk menjadi bangsa yang maju, kita harus membangun kebiasaan membaca dan menulis. Dan, perpustakaan ini dengan segala kegiatan pendukungnya menjadi salah komponen pencerdasan bangsa itu,” tutur dia.

Apakah gerakan itu bakal tergusur pula? Tergusur oleh kepongahan kekuasaan? Sebagaimana dia sendiri terus-menerus tergusur dalam laku hidup semenjak muda?

Dia tak peduli. Sampai hari ini, dia tetap melangkah tanpa henti: untuk mengajak kaum muda gemar membaca dan menulis. Karena itulah, untuk memperingati hari kematian sang kakak sulung, Pramoedya Ananta Toer, bulan April lalu, dia melalui Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (Pataba) menyelenggarakan lagi lomba tingkat nasional menulis prosa dan puisi bagi pelajar SMP dan SMA serta yang sederajat. Dia menyediakan hadiah jutaan rupiah bagi para pemenang serta bakal membukukan naskah para pemenang.

Pram dari Dalam

Selain itu, dia juga menulis buku Pram dari Dalam, yang diterbitkan Gigih Pustaka Mandiri (2013). Buku yang dia dedikasikan untuk sang kakak itu berisi tentang banyak kisah kenangan yang mengunjukkan betapa Pramoedya – yang tujuh kali berturut-turut dicalonkan menerima Hadiah Nobel bidang kesusastraan – adalah manusia biasa. Ya, manusia yang memiliki berbagai kelemahan di balik kelebihan yang begitu menggetarkan bukan hanya novelis, melainkan juga sebagai pejuang keadilan dan kebebasan berekspresi. Kesaksian dari sang adik tersayang itu bisa memberikan latar belakang lebih komplet dan mendalam untuk menikmati karya-karya sastra Pramoedya, termasuk tetralogi Pula Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca.

“Saya merasa berkejaran dengan waktu. Kini saya sudah 76 tahun. Mungkin tak banyak lagi waktu bagi saya. Namun saya tak akan berhenti menulis. Masih akan ada buku yang saya tulis, termasuk lanjut Pram dari Dalam,” ujar Soesilo Toer.

Ya, itulah nama lelaki tua yang masih pengkuh itu. Soesilo, kelahiran Blora tahun 1937, adalah lulusan Universitas Patric Lumumba (S-2) dan Institut Plekhanov (S-3) – keduanya di Uni Soviet (sekarang Rusia). Menjadi penulis, dosen, bahkan rektor pernah dia alami. Kini dia, yang juga pernah berjualan apa saja, terlebih setelah keluar dari tahanan Orde Baru – tanpa pembuktian kesalahan, berkait dengan peristiwa politik 1965, bangga menyebut diri berprofesi sebagai pemulung. Mungkin dialah satu-satunya orang bergelar doktor yang menjadi pemulung.

“Saya memulung apa saja. Saya memulung kata-kata menjadi tulisan. Saya memulung mur, baut, gunting, pisau, palu, arit, atau apa saja yang saya temukan di jalan. Saya ingin, nanti, para peringatan tujuh tahun meninggalnya Pram, memamerkan semua hasil perburuan saya,” ujar dia, tanpa bermaksud bercanda.

“Namun saya belum menjadi pemulung profesional. Kalau Anda ingin membantu saya menjadi pemulung profesional, buanglah kalung atau cincin emas Anda dan biarlah saya menemukannya. Menemukan emas sebagai hasil memulung, itulah pertanda sebagai pemulung profesional. Pemulung adalah manusia yang mampu menciptakan nilai tambah absolut dari ketiadaan modal sama sekali,” kata dia, saat syukuran peringatan hari lahir Pramoedya (6 Februari 1924) di Blora, Minggu, 10 Februari lalu.

Peringatan hari lahir Pram sekaligus syukuran penerbitan buku Pram dari Dalam itu dihelat di rumah tua warisan Mastoer, sang bapak. Acara bertajuk “Mengenang Pram dari Dalam” itu dihadiri para pembaca dan penggemar karya Pram dari berbagai kota. Ya, berdatangan dari Cepu, Randublatung, Kradenan, Ngawen – semua kota-kota kecamatan di Kabupaten Blora, serta dari Rembang, Pati, Kudus, Semarang, Yogya, dan lain-lain. Di antara kebanyakan kaum muda itu terselip pula beberapa lelaki dan perempuan sepuh. Mereka adalah eks tahanan di Pulau Buru, yang dekat dengan Pramoedya saat berada di pulau pengasingan tersebut.

Pada malam itu, mengemuka kesaksian mereka mengenai perjumpaan dengan Pram atau dengan karya sang novelis. Bambang Soekotjo dari Pati, misalnya, menceritakan kedekatan yang terjalin dengan Pram sewaktu di Pulau Buru. Budi Maryono, penulis cum penerbit, berkisah tentang perjumpaan sembunyi-sembunyi dengan karya-karya Pram pada masa Orde Baru berjaya serta perjumpaan dengan Pram secara fisik yang amat membekas dalam kenangan.

Berkisah pula Muhamad Burhanudin, dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes), yang datang bersepeda motor sendirian menembus hujan lebat dari Yogyakarta ke Blora semata-mata untuk menghadiri perhelatan sederhana itu. Ada pula suami-istri muda, yang sedang merintis sebuah perpustakaan publik di Semarang, Afida Mashitoh dan Asep Mufti. Mereka menyatakan amat terinspirasi oleh karya-karya Pram. Dan, lewat pembacaan atas karya-karya Pram pula mereka bisa memahami sejarah bangsa ini secara utuh. Sejarah yang hadir tidak secara sepotong-potong, sejarah yang hadir dengan “tulang dan daging dan darah”.

Malam makin larut. Dan ketika acara ditutup, rumah tua itu tak segera tutup pintu pula. Belasan anak muda dari berbagai kota masih mengobrol dengan tuan rumah, Soesilo Toer. Sebagian menggeletakkan tubuh di atas tikar di ruang tengah, tempat semula mereka berdiskusi: tertidur, kelelahan.

Rumah yang selama bertahun-tahun dianggap angker, malam itu riuh oleh percakapan: tentang dunia tulis-menulis, tentang perlawanan terhadap ketidakadilan, tentang harapan hari esok lebih baik di negeri ini. Dan, Soesilo Toer menjadi bagian tak terpisahkan dari geriap anak muda untuk terus menjalani hidup sebagaimana semestinya manusia: tidak memakan sesama.

***

DAN, soal kearifan tentang tanaman, izinkan saya perkenalkan Mbah Lastipah, tetangga saya, lewat kisah tentang sepenggal hari dalam kehidupannya.

Daun Waru Mbah Lastipah

QIRAAH dari masjid memecah kesunyian. Mbah Lastipah bangkit dari dipan, mendekati meja, mengangkat kendi, dan minum seteguk-dua.

Lalu, perlahan-lahan mengambil peralatan mandi dari pojok rumah gedeknya, membuka pintu, keluar ke pekarangan. Perempuan tua itu melangkah terbungkuk-bungkuk, tanpa kasut menapaki jalanan kampung. Dia menembus kabut dini hari, menuju sendang di tepian kali.

Jarak dua ratus meter dari rumah ke sendang terasa jauh bagi perempuan delapan puluhan tahun itu. Sebentar dia berhenti, menggerendeng entah apa, lalu kembali melangkah. Pelan, pelan seperti siput.

Di sendang, dia mencopot pakaian dan mandi seraya berdiri. Kaku persendian membuat dia tak bisa jongkok lagi. Usai bebersih diri, dia menapaki jalanan licin, kembali ke rumah. Ketika azan masih menggema, dia duduk berselonjor kaki di dipan: salat subuh.

Usai berdoa tanpa suara, dia melipat mukena. Tanpa gegas dia keluar, mengambil sapu lidi dari samping rumah. Beberapa langkah dia berhenti, menepuk-nepuk sebatang pohon waru di pekarangan rumah. Di sebelah kakinya bertumpuk daun waru kering setinggi pinggang.

Dia meniti wot di atas selokan. Di jalan, seraya menyalangkan mata dia menyapu perlahan-lahan. Dalam kesamaran pagi buta, tubuh renta itu seperti timbul-tenggelam. Dia suntuk dalam pekerjaan, menyapu jalanan.

Dia punguti daun-daun waru dari pekarangan rumah tetangga, dari jalanan, dan dia tumpuk di bawah pohon. Dari hari ke hari gundukan daun makin tinggi. Dia tak pernah membakar dedaunan itu. Dia biarkan dedaunan itu jadi rabuk, jadi pupuk.

Mbah Lastipah menunaikan pekerjaan itu tanpa bayaran. Setiap pagi, setiap hari, bertahun-tahun. Entah sejak kapan.

Malam-malam, ketika kantuk menyerang, acap dia menangis sendirian. Dia sesali tubuh renta yang tak kuat lagi bekerja seharian, sehingga selalu ada daun waru tersisa, terserak di jalanan, di pekarangan rumah tetangga.

***

“Siapa Mbah Lastipah?” tanya saya, seusai mendengar kisah dari Pak Pi, karib saya di kampung.

“Dia tinggal di seberang jalan dari rumah saya,” jawab Pak Pi dengan wajah keheranan.

“Oh, dia….?” Ya, ya, saya kenal sosok perempuan tua itu. Namun, tak pernah tahu namanya. “Hampir tiga tahun kau tinggal di kampung ini. Dan tak mengenal tetangga yang berumah sepelemparan batu dari rumahmu?” sergah Kluprut, jauh di relung hati. “Tak bermalu!”

Saya tercenung.

Ya, kecuali pendengaran yang melemah dan tubuh yang merenta, Mbah Lastipah sepenuhnya sehat. Nalar, rasa, dan karsa perempuan sebatang kara itu hidup sesungguh benar hidup. Dan, terus menguarkan kearifan.

Kearifan yang bertolak belakang dengan, misalnya, akrobat para kader berbagai partai politik yang melakukan vandalisme kontrakehidupan berskala masif: memaku pohon untuk memajang segala poster dan spanduk. Dan, hopla, ruang publik pun disesaki sampah visual!

Daun-daun waru yang ditumpuk di bawah pohon oleh Mbah Lastipah adalah sampah organik. Proses alami mengubah sampah itu jadi humus, penyubur tanah.

Sampah visual yang ditebar para calon anggota parlemen adalah sampah anorganik; nyaris kalis dari proses penguraian di tanah. Kelak, usai “pesta demokrasi”, sampah itu berubah menjadi racun dan mengurangi tingkat kesuburan tanah.

Laku Mbah Lastipah, setiap hari, bertahun-tahun, memang cuma memberikan kontribusi kecil bagi kelestarian lingkungan. Tidak sebesar, misalnya, kontribusi Sariban, yang setiap hari, bertahun-tahun, secara sukarela mencabuti paku dari batang pepohonan di Kota Bandung. Juga tak sedahsyat tekad dan tindakan Badri, yang setiap hari, bertahun-tahun, menanam pohon di mana pun, di sebuah kawasan di Jawa Barat. Namun, sekecil apa pun tindakan Mbah Lastipah, bukankah itulah laku prokehidupan?

Sebaliknya, lihatlah ulah para calon anggota parlemen yang terhormat menjelang pemilihan umum ini. Memang tak sampai berbilang tahun, namun sungguh tindakan mereka telah memberikan kontribusi lebih besar bagi perusakan alam, perusakan lingkungan. Vandalisme kontrakehidupan!

Mbah Lastipah berbuat tanpa mengharap pujian, tanpa mengharap bayaran. Dia bertindak tanpa kata, tanpa koar.

Dia memang buta huruf, tetapi tak buta kesadaran: terus berbuat sesuatu, menjaga keseimbangan alam, keberlangsungan kehidupan. Setiap pagi, setiap hari, bertahun-tahun. Entah sampai kapan.

Seraya tersenyum kecut, menekan malu, saya menarik simpulan: Mbah Lastipah, perempuan renta itu, sesungguh benar jauh lebih terhormat daripada siapa pun calon anggota parlemen. Dialah pengibar panji-panji prokehidupan. Bukan saya. Bukan sampean.

***

Mbah Lastipah sudah pergi, kembali ke haribaan Illahi. Dan, untuk meneladani kearifan perempuan sederhana itulah, saya bertekad terus-menerus mempromosikan air kendi: kepada siapa pun, di mana pun, kapan pun. Dalam sebuah tulisan, saya gemakan semangat untuk secara takzim bertasbih bersama alam itu – sebagai wujud terima kasih atas karunia Sang Mahacinta: tanah-air, yang menyatu secara kasatmata sekaligus secara simbolik dalam air kendi.

Simaklah….

Kelangan Wedang, Kelangan Klasa

AKU kelangan wedang. Saya suwe saya angel golek legen, banyu tebu, wedang cara, wedang blung, wedang rondhe, wedang alang-alang, wedang jahe, wedang kopi, wedang teh, lan sapanunggalane. Yen ta bisa mrangguli kanthi gampang, wujude wis dikemas dening pabrik kanthi cara instan, sakdek-saknyet. “Gampang, gak prelu kangelan,” ujare Kluprut.

Wedang ngilang mbaka sithik mbarengi saka manca gumrujuk inuman sing katelah soft-drink, minuman ringan. Banjur mlebu inuman kanggo nambah daya kekuwatane awak. Ana uga merek lokal, sing jare bisa nambah greng, nambah jos. Embuh apa sing greng, apa sing jos.

Rasa kelangan rada kalipur nalika ana sing gawe teh botol. Teh botol (banjur teh kothak) kuwi wujud nyata daya pangripta sing ora gampang kegiles kapitalisme global.

Kelangan wedang, aku banjur kelingan banyu kendhi. Nanging rasa kelangan malah ndandra, ngambra-ambra. Saiki, kendhi uga langka, kesingkir, kesingkur. Amarga saiki sapa wae lan ing ngendi wae padha gawe sumur bor, murih gampang gawe banyu mineral lan banyu isi ulang. Ora mligi tumrape wong kutha, ing padesan uga wis lulut manut ngombe banyu mineral utawa banyu isi ulang. Sendhang, belik, tuk, sumber banyu saya asat. Ora kopen.

Kita bakal kelangan kendhi, bakal kelangan banyu kendhi. Mula kanthi blakasuta, thokleh, aku gawe palagan: mungsuh swastanisasi banyu. Lan, kuwi dakwujudake kanthi laku nyata: ora tuku lan ngombe banyu mineral sing dikemas. Aku milih ngombe banyu kendhi.

Neng ngendi lan kapan wae, yen disuguh banyu mineral ora bakal dak-ombe, ora bakal dakgape. Malah kepara sing nyuguh dak-ece: apa ora kuwat tuku kendhi? Apa rumangsa kelangan drajat amarga ngombe banyu kendhi? Kerep wae nalika jejagongan dak-enggo srana promosi kendhi lan banyu kendhi.

“Halah! Ya, pilih tuku lan ngombe banyu mineral. Murah, gampang, praktis, lan sehat. Hari gini, jaman moderen, kok dhemen kangelan,” celathune Kluprut karo cengengesan.

Banyu mineral pancen murah. Ngombe banyu mineral pancen gampang, ora prelu kangelan. Nanging apa ya mengkono satemene sing kudu kedadeyan?

Biyen, dhek cilik, kuwajibanku ngisi kendhi sing cumawis sanjabane pager ngarep omah. Sapa wae wong liwat sing ngelak, bisa ngombe banyu kendhi kuwi. Lan, kluwarga sing nyawisake kendhi kaya ngono kuwi dudu amung kulawargaku. Meh saben omah pinggir dalan nyawisake banyu kendhi.

Saiki, sapa sing isih gelem kangelan nyawisake banyu kendhi? Sapa sing isih gelem kangelan ngombe banyu kendhi?

Kamangka sapa wae sing kanthi sadhar ngombe banyu kendhi ing saben dinane, pawongan kuwi wis milih: mehak wong cilik, asah-asih-asuh marang Ibu Pertiwi. Banyu kendhi wujud nyata manunggaling banyu lan lemah, tanah-air. Kendhi simbul usaha ekonomi rakyat.

Mula, sapa gelem ngombe banyu kendhi, samesthine uga gelem ngopeni sumbering banyu, sumbering panguripan: sendhang, kali, sumur, belik, tuk, lan sapanunggale. Sabanjure uga bakal duwe kawigaten marang wit-witan, tetanduran, tetanen, tundhane marang lestarining alam. Duwe kesadharan ekologis, duwe kesadharan marang pangrembakane ekonomi kerakyatan.

Apamaneh yen ngelingi: banyu minangka kaskayaning nagara sing kudu kaolah lan kagunakake murih kasampurnaning urip sapepadha. Ora kena dihaki dening pribadi-pribadi. Wondene, nyata-nyata, pamarentah wis ngedol banyu marang pribadi sing duwe modhal gedhe, kapitalis. Kuwi pehak sing iwut golek bathi sing akeh lan luwih akeh maneh, nyugihake diri pribadi, tinimbang ngopeni sumber banyu, ngopeni wit-witan, ngopeni alam.

“Halah, ora usah sok pahlawan!” grenengane Kluprut karo mbesengut. “Wong nyatane para priyagung, sarjana sujana, nayaka praja, padha ora nggagas bisa apa ora marisake alam sing endah marang anak-putu. Nyatane apa wae wis didol, sapa wae wis dodolan.”

Tanpa nggape Kluprut, aku maca alon-alon murih rumesep ing ati, tumancep ing pikir “Sajak Tikar Plastik Tikar Pandan”. Puisi kuwi kaanggit April 1988 dening Widji Thukul, kanca lawas sing durung kadenangan papan panggonan lan pawongane nganti dina iki – sawise diculik sadurunge taun 1998.

tikar plastik tikar pandan

kita duduk berhadapan

tikar plastik tikar pandan

lambang dua kekuatan

plastik bikinan pabrik

tikar pandan dianyam tangan

plastik makin mendesak

tikar pandan bertahan

kalian duduk di mana?

Para sedulur, ayo lungguh klasa pandhan, jejagongan kanthi suguhan banyu kendhi lan grontol, kaerut, utawa gedhang goreng minangka nyamikan. Sakwise kelangan wedang, aku ora kepengin kelangan, banyu kendhi, ora kepengin kelangan klasa pandhan.

***

NAMUN, maaf, tiba-tiba kuping saya berdenging. Mendengking suara lengking penuh duka. Habis, habis sudah segala kekayaan melimpah ruah. Tandas, tumpas, segala apa, tanpa pernah bisa memakmurkan anak negeri ini. Dan, lihatlah, Ibu Pertiwi: menangis tanpa henti.

Kulihat Ibu Pertiwi

Sedang bersusah hati

Air matanya berlinang

Bak intan yang terkenang

Hutan gunung sawah lautan

Simpanan kekayaan

Kini Ibu sedang lara

Merintih dan berdoa.

Tembang terakhir itu, mengingatkan kita: betapa kekayaan berlimpah bisa menjadi tidak berkah ketika tidak dikelola secara amanah. Ketika nafsu menguasai lebih besar ketimbang nafsu memelihara, nafsu merawat, maka pilihan untuk terus merawat kehidupan adalah dengan menanam: menanam pepohonan, menanam kebajikan, sembari terus mengharap rida Tuhan. Bukankah ada aforisma menawan: sebatang pohon yang kautanam di bumi, kelak berbuah dan bisa kauunduh di surga.

Salam, salam!

Semarang, 22 Mei 2013: 01.29

– Gunawan Budi Susanto, pengelola Kedai Kopi Kang Putu, menginisiasi dan mengampu kelas menulis dan kelas membaca. Bukunya yang telah terbit Kesaksian Kluprut (1996), Edan-edanan pada Zaman Edan (2008), Nyanyian Penggali Kubur (2011, 2016), Penjagal Itu Telah Mati (2015), Cik Hwa (2018), Dendam (2019). Buku yang bakal terbit Kisah Pemakan Anjing (kumpulan cerpen) dan Jual Saja Negeri Ini (kumpulan puisi).

·         Tulisan ini merupakan gabungan dari berbagai tulisan saya, yang sebelumnya dimuat di berbagai media, yang saya dedikasikan untuk sahabat saya, Kiai Budi Harjono.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.