Catatan Seorang Demonstran

Spread the love

Judul               : Catatan Seorang Demonstran

Penerbit        : Pustaka LP3ES

Pengulas       : Arifah Wahyuning Tyas

“Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan”. – Gie

Buku yang berisi catatan harian (alm.) Soe Hok Gie ini mulai ditulis oleh Gie tanggal 4 maret 1957. “Hari ini adalah hari ketika dendam mulai membatu…” begitu tulis Gie dalam catatan pertamanya. Saat itu usia Gie masih lima belas tahun. Soe Hok Gie adalah mahasiswa Jurusan Sejarah FSUI. Selama menjadi mahasiswa sifat kritis, pengalaman, dan wawasan gie semakin banyak. Kesehariannnya disibukkan dengan membaca buku, menonton film, berdiskusi dan mencatat kesehariannya. Gie terlihat sebagai seorang yang idealis, nasionalis dan realis. Menjunjung sekali nilai kebenaran, karena itulah Gie begitu dicintai banyak orang.

“Kita, generasi kita, ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia. Cuma pada kebenaran kita harapkan. Kebenaran cuma ada di langit dan dunia hanyalah palsu, palsu”.

Dalam buku ini kita dapat mengetahui bagaimana peliknya kondisi sosial, politik dan ekonomi Indonesia saat dipimpin oleh Presiden Soekarno. Kita dapat melihat bagaimana cerminan mahasiswa Indonesia yang sangat kritis. Berbeda dengan mahasiswa saat ini yang sudah jauh dari kata kritis. Hanya mau digiring oleh konsep penididikan yang tidak seluruhnya mendukung mahasiswa untuk berkembang. Keberanian Gie terlihat dari berbagai aktivitas yang dilakukannya, mulai dari aksi demonya dan kecintaannya terhadap gunung. Gie merupakan salah satu pendiri organisasi pecinta alam Mapala Universitas Indonesia. Gie produktif dalam menulis, tulisannya terbit dalam Harian Kompas dan Sinar Harapan. Catatan Gie selama 12 tahun di hariannya, terdapat bagian dimana Gie sebagai manusia normal mendamba kehidupan manusia normal lainnya yang merasakan cinta. Sebuah pertanyaan, kerinduan yang jarang Ia sentuh. Kisah percintaan Gie terbilang rumit, akibat dari kritik-kritik pedasnya membuat orang tua cewek yang Gie cintai berpikir dua kali untuk merestuinya. Semakin Ia mengejar cintanya semakin jauh pula cinta itu lari.

Catatan harian ini berakhir pada tanggal 8 Desember 1969. Enam hari setelah Gie menulis catatan tersebut, 14 Desember 1969, Gie bersama rekan-rekannya mendaki Gunung Semeru. 16 Desember 1969, tepat sehari sebelum Ia berulang tahun, Soe Hok Gie wafat di Semeru karena menghirup gas beracun. Mungkin Tuhan mengabulkan apa yang ada di catatan harian Gie pada tanggal 22 Januari 1961,  “Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidk dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Sebelum Gie meninggal pernah ada yang dibicarakan kepada kakak kandungnya Arief Budiman, Gie berkata :”Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanyamsemua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lahi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Toh, kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya inginj menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian.” Keadaan seperti inilah yang membuat Gie meninggalkan Jakarta dan bertolak ke Gunung Semeru.

Gie mati muda, tetapi Gie mewarisikan semangat kepada kaum muda. Konteks persoalan  yang dihadapi Gie berbeda dengan perkara yang dihadapi generasi muda setelah Gie. Semoga akan terus ada Gie, Gie lainnya setalahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.