Cerita Kepada Kawan

Spread the love

Oleh Nanang Rendi Ahmad

Cerita ini aku tulis untukmu kawan. Berdasarkan pengalamanku saat mendampingi adikku mengadukan besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dikenakan padanya di Posko Pengaduan UKT calon mahasiswa baru di salah satu universitas di Jawa Tengah. Sebelumnya akan aku ceritakan terlebih dahulu duduk perkaranya, agar kau mengerti mengapa aku juga berada di posko itu. Jadi begini, adikku mengikuti tes Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan sebagai pelamar beasiswa Bidik Misi, setelah diumumkan hasilnya dia adalah salah satu dari sekian peserta yang lolos tes SBMPTN itu. Dia diterima di Jurusan Pendidikan Seni Rupa. Setelah pengumuman hasil tes, tahap selanjutnya adalah pengisian data pokok calon mahasiswa yang telah lolos. Beberapa hari setelahnya diumumkan berapa besaran biaya kuliah yang akan dikenakan kepada calon mahasiswa—yaitu UKT. Hasilnya, adikku tidak lolos Bidik Misi dan dikenakan UKT sebesar 4,9 juta. Hasil pengumuman UKT itulah yang membuat aku dan adikku berada di Posko Pengaduan UKT itu.

Begitu aku tiba di posko itu, aku disuguhi pemandangan yang membuat aku mengerutkan dahi. Walaupun posko itu belum dibuka, didepan pintu gedung itu sudah dipenuhi orang-orang. Pemandangan itu selain membuat aku mengerutkan dahi, juga membuat aku menggerutu sendiri. Ternyata bukan hanya adikku yang berharap UKT sesuai dengan kondisi ekonomi dan pendapatan orang tua. Aku menatap orang-orang dalam kerumunan itu. Semua yang diperbincangkan hampir seragam; tentang keberatannya dengan UKT yang dibebankan. Tak hanya itu kawan, aku mendengar bapak-bapak disebelahku terus berdzikir. Jika tebakanku tak salah, dia melakukannya sebagai wujud doa agar harapannya datang ke Posko Pengaduan ini tercapai.

Setelah hampir 1 jam menunggu, dibukalah posko itu. Sontak orang-orang berjejal masuk dengan harapan mendapat nomor antrian awal. Petugas keamanan/ security mengambil tindakan untuk menertibkan mereka. Aku dan adikku sedikit demi sedikit bisa masuk, akan tetapi tidak mendapat tempat duduk. Alhasil kami hanya menunggu giliran dibagi nomor antrian oleh petugas, karena yang dibagi nomor antrian hanya mereka yang sudah menempati tempat duduk. Aku hanya duduk lesehan bersama mereka yang juga tidak mendapat tempat duduk.

Oke, kawan, kali ini aku sedikit akan melupakan adikku. Aku akan bercerita mengenai orang-orang yang berada di gedung itu. Karena begitu aku masuk dan berada di antara kerumunan itu, aku melihat pemandangan-pemandangan yang aku yakin jika kau melihatnya, kau pun tak akan kuasa menahan air matamu kawan.

Apa kau tak terenyuh ketika melihat wanita renta berdiri di dalam antrian? Dengan digandeng anaknya atau entah cucunya yang senasib dengan adikku; dikenakan UKT yang tidak sesuai dengan kondisi ekonomi dan pendapatan. Itulah pemandangan yang aku lihat kawan. Tak cukup itu, aku sapu pandangku ke setiap sudut gedung posko itu, aku melihat pria tua berpakaian batik dengan peci hitam di kepalanya. Aku benar-benar menatapnya, kau tahu? Giginya sudah tak lengkap, rambutnya sudah memutih, ada keriput di wajahnya, semua tak bisa mengelabui aku untuk menebak berapa kira-kira usianya. Dia berdiri disebelah tempat duduk—anaknya atau entah cucunya. Wajah penuh harap terlukis di mimik wajahnya. Jika aku boleh menebak, dia sangat berharap anaknya atau entah cucunya itu bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, tentu dengan biaya yang sesuai dengan kondisi ekonominya. Dia pasti berharap anak atau entah cucunya itu tidak mewarisi penderitaannya yang mungkin tidak berpendidikan.

Aku berdiri dari dudukku. Berpindah lah aku disebelah tangga gedung itu. Duduklah bapak-bapak disebelahku, dengan pakaian yang tak mewah dan tas jinjing yang dibawanya. Bercakap-cakap dia denganku, hingga percakapan itu membawa dia mencurahkan perasaan hatinya. Kawan, dia becerita padaku, bahwa di lingkungan masyarakat di tempat ia tinggal, kuliah menjadi hal yang sangat prestis. Hampir semua anak di lingkungan tempat tinggalnya mengenyam bangku kuliah. Maka dari itu ia berharap anaknya bisa kuliah. Akan tetapi, nasib anaknya menjadi mahasiswa—tergantung diatas posko pengaduan. Jika Posko Pengaduan menurunkan UKT hingga sesuai dengan kemampuannya, maka dia bisa bernafas lega karena harapannya tercapai. Apabila nasib berkata lain, terpaksa ia akan membujuk dan menenangkan anaknya agar mencoba lagi tahun depan. Ia berbicara dengan mata yang berkaca-kaca kawan. Mendengar apa yang dikatakan bapak itu (aku lupa menanyakan siapa namanya), aku terkejut hingga membuat aku berpikir bahwasannya kemampuan akademik seorang anak ternyata belum menentukan dia bisa kuliah atau tidak. Deal atau tidak dengan besaran UKT yang dikenakan justru menjadi penentu. Sejak detik itu aku bertekad untuk merubah cara pandangku melihat kawan-kawanku yang tidak kuliah; mereka bukan tidak mampu secara akademik, tetapi bisa jadi mereka tidak mampu secara ekonomi untuk biaya kuliah itu sendiri. Maka dari itu kawan, jika suatu hari kau menemui seorang ahli sosiologi tetapi tidak tahu mengenai diferensiasi sosial, maka jangan salahkan dia. Dia hanya contoh orang yang mampu dalam segi ekonomi untuk kuliah, tetapi kurang dalam segi kemampuan akademik—maka kampus menerimanya karena mampu membayar biayanya, bukan isi kepalanya. Atau jika kau melihat seorang Sarjana Pendidikan sedang mengajar tapi tidak berkompeten, juga jangan salahkan dia sepenuhnya. Mungkin dia adalah kaum yang mampu membayar uang kuliah tapi tak pernah serius kuliah, tapi kampus terlanjur menerima dia karena mampu membayar biaya kuliah. Nah, disini yang dikhawatirkan kawan; kampus hanya diisi orang-orang kaya saja. Tak menjadi masalah jika walaupun dia kaya tapi benar-benar menjalankan perannya sebagai mahasiswa, tapi realitas mengatakan sebaliknya—mereka menjadikan kuliah hanya sebagai gagah-gagahan. Miris sekali, ketika kampus lebih memilih mereka yang kuliah atas dasar gengsi ketimbang mereka yang benar-benar ingin serius kuliah.

Setelah bercakap-cakap denganku, bapak itu pamit untuk duduk disebelah anaknya. Sementara aku masih duduk di sebelah tangga gedung itu. Dari kejauhan aku melihat seorang ibu-ibu dan anaknya yang sudah keluar dari ruang pengaduan UKT. Tak pikir panjang langsung aku dekati ibu-ibu itu. Beberapa orang tua yang mendampingi anaknya pun mengikuti aku. Sepertinya mereka tahu apa yang akan aku lakukan pada ibu itu, aku sengaja diam saja agar mereka yang beraksi, ternyata benar kawan, mereka menanyakan bagaimana hasil pengaduannya kepada ibu itu. Sambil menunjukan selembar kertas, ibu itu mengatakan bahwa UKT yang dikenakan pada anaknya hanya bisa dicicil; tidak turun. Sambil berkemas, ibu itu berjalan keluar gedung. Ketika ada lagi yang keluar dari ruang pengaduan, aku melakukan hal yang sama;menanyakan hasilnya, dan aku pun mendapat jawaban yang sama pula, hingga beberapa kali aku lakukan.

Kawan, dari situ aku sudah berpikir, bahwa hasil terbaik yang didapatkan dari pengaduan ini pasti hanya tawaran untuk mencicil UKT. Tapi demi menjaga perasaan adikku, itu tidak aku utarakan padanya. Biarlah dia mengetahui sendiri nanti hasilnya dan merasakan semua prosesnya. Aku pun begitu, rasa lelah dan bosan menunggu giliran aku enyahkan, aku ingin ikut masuk ke dalam ruang pengaduan mendampingi adikku; agar aku mengetahui apa saja yang dilakukan di dalam ruang pengaduan itu.

Aku kembali duduk di sebelah tangga gedung itu. Tiba-tiba seorang bapak-bapak mendekati aku, dia lalu duduk bersebelahan denganku. Bapak itu berpakaian batik yang sudah sedikit kusam, celana panjang yang sedikit dilipat bagian bawahnya, serta sandal jepit yang tak istimewa. Dia taruh tas jinjingnya, di depan tempatnya duduk. Kami saling tatap dan saling senyum. Aku sapa dia dan aku tanya dari mana asalnya. Ternyata dia dari Tasikmalaya. Daerah yang cukup jauh dari tempat pengaduan ini. Aku kembali merasa terenyuh ketika memikirkan bagaimana perasaan bapak ini ketika nanti usahanya datang kesini menjadi hal yang sia-sia lantaran yang dia harapkan tidak tercapai; UKT turun sesuai kondisi ekonominya. Kedatangannya bersama anaknya ke Posko Pengaduan ini pasti mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya. Namun ketika pengorbanan itu tak membuahkan hasil, aku melihat air mata jatuh di atas pipi nya. Ah… menyedihkan sekali kenyataan ini.

Kemudian bapak itu menyatakan padaku, bahwa dia sebenarnya tidak tega jika sampai anaknya gagal kuliah hanya gara-gara masalah biaya. Dia merasa kasihan melihat perjuangan anaknya yang sudah kesana-kemari mengikuti tes dan mengurus segala persyaratannya, terlebih lagi dia melihat potensi anaknya yang cukup baik. Dia sebagai orang tua merasa sangat bersalah jika tidak memenuhi kewajibannya membiayai pendidikan anak. Namun himpitan ekonomi tak kuasa pula ia paksakan. Bukan kah kau kan pernah bilang padaku kawan, jika segala sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik? Dia hanya berharap nasib baik didapatkan anaknya hari itu; UKT nya turun hingga sesuai kondisi ekonomi keluarga. Aku benar-benar salah tingkah dihadapan bapak itu kawan, aku sudah terlanjur hampir meneteskan air mata di depannya. Ingin aku peluk dia sekalipun bukan bapakku. Tapi niat itu aku urungkan karena melihat di sekitarku banyak orang. Benar-benar miris. Ada apa sebenarnya dunia pendidikan ini kawan? Apa kau bisa menjawabnya? Siapa yang seharusnya hadir dalam masalah seperti ini? Ketika semua sepakat bahwa pendidikan itu sangat perlu dan penting—namun mengapa untuk mendapatkannya cenderung dipersulit? Ketika kita sepakat bahwa anak muda adalah generasi penerus bangsa, kenapa generasi penerus itu dijauhkan dari pendidikan? Miris.

Kawan, kan kemarin kau bacakan padaku pembukaan UUD 1945 yang luar biasa itu. Aku sangat ingat sepenggal kalimatnya dengan suara yang sedikit kau hentakkan itu. Ya, ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ itu. Bangsa siapa kawan yang dimaksud? Kenapa adikku dan anak dari bapak-bapak yang aku ceritakan padamu tadi tidak dicerdaskan? Bukankah kita masih sebangsa kawan? Kita masih menjadi tanggungan pemerintah untuk di beri hak mendapat pendidikan, bukan kah begitu kawan? Tapi adikku dan saudara-saudaraku itu tak jadi kuliah kawan, lantaran tak mampu bagi orang tua kami untuk membayar biaya yang makin melangit. Apa memang begitu cara mereka untuk ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ kawan? Dengan kita harus mampu membayar sesuai yang mereka kehendaki dan tak menghiraukan kemampuan orang tua kita? Kalo benar begitu, jangan pernah hina saudara-saudaraku di sana yang tak sekolah dan kuliah kawan! Lalu jangan pernah salahkan lagi saudara-saudaraku jika mereka pergi dari negeri ini! Dan lalu, jangan pernah salahkan saudara-saudaraku jika mereka membenci penguasa negeri ini!

Kawan aku sudahi dulu ceritaku ini. Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku ceritakan padamu. Hanya saja aku sedang ingin menghibur adikku yang gagal kuliah. Dia titip salam padamu, dan mengingatkan pada kita yang sudah jadi mahasiswa ini kawan; mahasiswa jangan pernah terlalu elitis, jangan lupa pada siapa mahasiswa harusnya mengabdi, jangan pernah palingkan muka dari masyarakat. itu kawan, sedikit titipan salam adiku—yang terpaksa mengubur mimpi karena biaya kuliah yang tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.