Cerita Singkat tentang Jejak Kolonial Pembangunan Jalan di Boyolali Utara

Spread the love

Pada 19 November 2021 kemarin, saya memutuskan pulang ke rumah setelah tiga pekan tinggal di Kota Semarang. Rumah saya terletak di ujung barat laut Kabupaten Boyolali, sekitar satu seperempat jam perjalanan dari pusat pemerintahan, tepatnya di Desa Bandung Kecamatan Wonosegoro. 

Sebelum masuk ke inti tulisan, izinkan saya bercerita sedikit tentang Wonosegoro. Wonosegoro bersama Juwangi, Kemusu, dan Selo merupakan kecamatan dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Boyolali.[i]

Masalah kemiskinan tersebut beriringan dengan kekeringan yang mendera tiap musim kemarau datang. Sebagaimana yang terjadi di Dusun Bogor Desa Bojong, sumur warga akan kering ketika hujan tidak mengguyur selama kurang lebih dua bulan. Warga yang mayoritas bekerja sebagai buruh tani, petani, dan penggarap lahan Perhutani bahkan harus bergandtung pada air sungai yang keruh.[ii]

Sebagai warga Wonosegoro, saya kerap kesal. Saya pernah diolok-olok ketika masih bersekolah di Boyolali Kota. Tempat saya tumbuh besar diasosiasikan dengan ungkapan peyoratif oleh teman-teman sekolah. 

Suatu kali, ada yang bilang, “sumber air sudah dekat!”, “di Wonosegoro, hewan-hewan macam jerapah, jaguar, dan gajah pasti bisa ditemukan!”, atau pula, “kamu sudah mandi sebelum berangkat sekolah?”

Hal itu berlanjut ketika saya duduk di bangku kuliah. Ada teman kuliah yang mengolok kota tempat saya berasal. Kali ini ledekan berawal dari kesaksian seorang tim sukses (timses) Prabowo-Sandiaga pada sidang sengketa Pemilihan Presiden, Juni 2019 silam. Si anggota timses mengatakan, jalan menuju Juwangi (yang notabene juga melewati Wonosegoro) tidak beraspal dan medannya sukar ditempuh. 

Tak hanya itu, Prabowo pun sebelumnya pernah berujar bahwa orang bertampang Boyolali akan kesulitan untuk menjangkau hotel mewah. Tampang Boyolali secara general saja “diolok-olok” seperti itu, apalagi tampang kami yang tinggal di Wonosegoro, kecamatan paling miskin di Boyolali?

Secara visual, keadaan kontras antara daerah Boyolali selatan dan utara bisa kita komparasikan dengan dua video klip lagu. Video klip pertama bertajuk “Indraloka Boyolali” karya Ersruboy. Dalam video tersebut, wajah Boyolali hanya direpresentasikan oleh daerah bagian selatan. Dengan kata lain, video tersebut kurang jujur.

Sang penggarap video menyuguhkan Boyolali sebagai kota kecil nan indah. Lengkap dengan kesenian reog dari Kecamatan Selo. Video tersebut juga menampilkan kemegahan Patung Arjuna Wijaya di jantung Boyolali Kota dan Gedung Lembu Suro di Alun-Alun Kidul. Pemain musiknya pun mengenakan fesyen yang cukup hype dan nyentrik. Mereka memakai topi hip-hop, jaket bomber, dan kaos distro.

Selanjutnya, video klip kedua berjudul “Lagu Juwangi” anggitan Tulus Maholtra. Dalam video tersebut, wajah Kecamatan Juwangi (daerah Boyolali utara) disuguhkan sedemikian jujur. 

Sang penggarap video juga menunjukkan bangunan tua yang menjadi ikon daerah Boyolali utara, seperti Stasiun Telawa dan Gedung Loji Papak. Tak luput, kejujuran maujud dalam adegan yang merekam kondisi jalan Wonosegoro-Juwangi yang rusak berat. 

Fesyen yang dikenakan pun ala kadarnya. Misalnya, pakaian para pengendara motor yang berlalu lalang di tepian rel kereta api. Mereka memakai kaos oblong, celana training, baju-kerudung polos (namun tak sinkron), dan kemeja dengan motif simpel. Sekalipun dapat mengundang cibiran, saya merasa video kedua ini lebih jujur dan mewakilkan realitas yang ada. Dengan kata lain, video ini sangat aspiratif cum representatif.

Kembali lagi, sekalipun menjengkelkan, ungkapan Prabowo mungkin dapat merepresentasikan kondisi kontras dan potret kemiskinan di Boyolali. Di tengah semarak pembangunan dan jargon “Boyolali Pro-Investasi”, masih banyak warga (utamanya di Boyolali utara) yang terjerembab dalam kubangan kemiskinan. Realitas ini bisa dibilang memerlukan intervensi pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan.

Menurut mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Hendrarto Setyo Wibowo, Pemerintah Kabupaten Boyolali telah mengusahakan sejumlah langkah strategis guna mengentaskan kemiskinan. Di antaranya, melakukan peningkatan dan pembangunan infrastruktur untuk memudahkan akses ekonomi di Boyolali utara.[iii]

Nah, mari kembali ke perjalanan pulang saya dari Kota Semarang beberapa hari lalu. Dalam perjalanan tersebut, saya mendapati jalan di Desa Karangjati-Ketoyan (bagian dari jalan raya Karanggede-Juwangi) telah dibongkar. Di sisi selatannya, sebuah papan berdiri. Papan tersebut bertuliskan: “Peningkatan Jalan Karanggede-Juwangi”.

Dalam hati, saya mengucap syukur. Pembangunan infrastruktur jalan sedang dilakukan. Jalan Karanggede-Juwangi akan mulus setelah dibangun. Mobilitas warga akan makin tinggi. 

Lebih jauh, jalan yang bagus akan mempermudah akses bagi warga untuk mendistribusikan hasil bumi, seperti padi (diproduksi sebesar 18.933 ton selama tahun 2020), jagung (diproduksi sebesar 8.986 ton sepanjang tahun 2020), dan ubi kayu (diproduksi sebesar 2.189 ton selama tahun 2020).[iv] Atau pula, warga yang dirujuk ke rumah sakit bisa segera diantarkan dan lekas disembuhkan.

Sejatinya, ada konteks historis mengenai pembangunan jalan tersebut. Pembangunan jalan Karanggede-Juwangi mempunyai jejak yang bisa dilacak hingga era Hindia Belanda atau kolonial. Sebagai mahasiswa Ilmu Sejarah, saya merasa perlu untuk menyumbangkan pengetahuan historis tentang daerah tempat saya tumbuh besar, sekalipun cuma secuil. Maka simaklah lanjutan tulisan ini sampai rampung.

Pada 22 Oktober 1935, surat kabar De Locomotief mengabarkan bahwa pembukaan Jembatan Kali Serang direncanakan akan berlangsung pada 4 November 1935. Susuhunan Pakubuwono X turut menghadiri pembukaan Jembatan Kali Serang tersebut.[v] Pakubuwono X direncanakan akan mengunjungi rumah pedesaannya lebih dulu di Pracimoharjo, Paras pada 3 November. Sebelum nantinya, berangkat ke Wonosegoro untuk menghadiri peresmian Jembatan Kali Serang.[vi]

Namun tampaknya, pembukaan Jembatan Kali Serang tak sesuai rencana. Pembukaan jembatan tersebut baru dilaksanakan secara khidmat pada 12 November 1935. Penguasa Surakarta, Pakubuwono X dan Mangkunegoro VII turut menghadirinya. Tak hanya itu, pegawai negeri dan perwakilan perusahaan hutan jati pun hadir. Pihak reporter mengatakan, Jembatan Kali Serang merupakan mata rantai yang hilang di sepanjang jalan Karanggede-Wonosegoro.[vii]

Sang reporter menambahkan, Jembatan Kali Serang memiliki peran penting, yakni membuka akses ekonomi dari sebuah wilayah yang sangat terisolasi. Jembatan tersebut juga melengkapi serangkaian jalan raya antardaerah yang menghubungkan Purwodadi dengan Salatiga. Sisi lain, perusahaan singkong milik Pakubuwono X di Desa Repaking memiliki kaitan erat dengan pembangunan jembatan. Tak pelak, pembukaan jembatan mengundang animo masyarakat yang cukup besar.[viii]

Pada 3 April 1936, koran Algemeen Handelsblad mewartakan, pembangunan jalan kembali direncanakan untuk menghubungkan Wonosegoro dengan Dadapayam. Sang reporter berujar, kemakmuran daerah Wonosegoro telah meningkat secara signifikan berkat Jembatan Kali Serang. Saat itu, Wonosegoro pun sudah terhubung dengan Purwodadi melalui jalan Telawa (Juwangi)-Godong. Maka, jalan penghubung Dadapayam-Wonosegoro akan sangat penting jika sudah selesai dibangun.[ix]

Dengan merefleksikan pembangunan jalan di kawasan Boyolali Utara pada era kolonial, saya harap para pembaca dapat mengambil, setidaknya, dua nilai: pertama, jalan Karanggede-Wonosegoro-Juwangi mempunyai peran strategis untuk menghubungkan daerah satu ke daerah lain (misalnya Salatiga dengan Purwodadi) pada masa silam. Kedua, akses jalan adalah ihwal penting bagi peningkatan mobilitas dan ekonomi masyarakat. 

Ketika tingkat mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat tinggi, kemakmuran dapat diraih. Pun hari ini, dengan keberadaan jalan Juwangi-Godong misalnya, saya bisa berkunjung ke rumah kekasih saya di Randublatung Kabupaten Blora. Sekian dan terima kasih. 

Catatan Akhir:

[i] Irawan Sapto Adhi, Kemiskinan di Boyolali: 4 Kecamatan Masuk Prioritas Penanggulangan Masalah Kemiskinan, Solopos.com: https://www.solopos.com/kemiskinan-di-boyolali-4-kecamatan-masuk-prioritas-penanggulangan-masalah-kemiskinan-547882 (diakses pada 22 November 2021)

[ii] Khoirul Huda, Air Bersih bagi Warga Terdampak Kekeringan di Wonosegoro, ACTnews: https://news.act.id/berita/air-bersih-bagi-warga-terdampak-kekeringan-di-wonosegoro (diakses pada 22 November 2021)

[iii] Haris Effendi, 50 Desa di Boyolali Dapat Tanda Merah, Ini Sebabnya, Metrojateng.com: https://metrojateng.com/50-desa-di-boyolali-dapat-tanda-merah-ini-sebabnya/ (diakses pada 22 November 2021)

[iv] BPS Kabupaten Boyolali, Statistik Kecamatan Wonosegoro, (Boyolali: BPS Kabupaten Boyolali, 2020), hlm. 10

[v] De Locomotief, Kali Serang-brug, 22 Oktober 1935

[vi] De Locomotief, Z.V.H. de Soesoehoenan naar Paras, 30 Oktober 1935

[vii] De Locomotief, Brug over de Kali Serang, 12 November 1935

[viii] Ibid.

[ix] Algemeen Handelsblad, Salatiga-Dadapajam, 3 April 1936


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.