Cerita tentang Globalisasi di Indonesia

Spread the love

Gerbang

Banyak narasi yang mengatakan globalisasi muncul sebagai wujud kompresi ruang dan waktu untuk menghubungkan manusia dari setiap penjuru dunia. Globalisasi acapkali ditandai dengan kemajuan teknologi, informasi, dan komunikasi. Dengan kemajuan teknologi, banyak warga dunia -tidak semua- bisa mengakses derasnya arus informasi dengan mudah. Seseorang bisa memangkas jarak ribuan kilometer dan bercakap-cakap melalui alat komunikasi mutakhir, seperti telepon genggam dan komputer jinjing. Dan berpikir betapa mudahnya hidup pada era globalisasi ini. Sekiranya, narasi dan anggapan itulah yang banyak dilontarkan oleh berbagai pihak. Hasil globalisasi yang bisa kita rasakan kini tidaklah jatuh dari langit begitu saja, tapi mempunyai landasan historis yang panjang.

Secara fundamental, globalisasi adalah konsep sosiologi yang melukiskan beraneka rupa perubahan pesat dalam hidup masyarakat bentala. Barangkali, kelahiran diskursus globalisasi dibidani oleh tulisan Immanuel Kant, perihal perdamaian yang kekal lewat penciptaan sebuah sistem integral bagi semua bangsa dunia. Gagasan ini disebabkan oleh pengalaman perang yang tak berusai sejak 1618 hingga 1648. Tawaran tentang etika komunitas tunggal tersebut, menjelma rujukan utama dalam perjalanan kepada liberalisme kosmopolitan dunia. Dalam analisis Kantian ini, gagasan globalisasi memiliki dimensi altruistis: bertujuan untuk merajut relasi harmonis antarbangsa dengan permulaan penjelajahan samudera.[1]

Konsep globalisasi itu memang tidak tunggal. Ada pula konsep lain mengenai globalisasi, yaitu pertumbuhan kegiatan ekonomis yang menembus batas-batas politik atau teritorial sebuah negara. Juga tentang kemajuan teknologi membikin informasi bisa diakses setiap orang secara singkat dan mudah.[2] Globalisasi boleh jadi memberi peluang Indonesia untuk bergerak “maju” dalam berbagai aspek. Apalagi, kita dibekali sumber daya demografis yang—diprediksi akan—mencapai  288 juta penduduk pada 2050. Potensi demografis tersebut disinyalir akan menjelma “demographic dividend” yang menguntungkan bagi Indonesia.[3]

Sedikit pengantar itu merupakan kata pengantar untuk menuliskan kisah meta-globalisasi di Indonesia, atau pengantar masuknya globalisasi ke Indonesia. Disisi lain saya juga akan membeberkan bagaimana budaya masuk melalui globalisasi, serta, bagaimana posisi Indonesia dalam grand-narration “globalisasi”. Begitu pula, narasi di bawah bisa saja mematahkan narasi besar globalisasi yang membawa perdamaian, kemakmuran, dan peluang yang menguntungkan lagi memajukan bagi Indonesia.

Rumah

Sebelum era kolonial, menurut Singgih Tri Sulistyono, bangsa yang mendiami wilayah kepulauan ini (sekarang Indonesia) telah mengalami, setidaknya, dua “gelombang globalisasi”. Gelombang pertama datang ketika rute perdagangan maritim antara Timur dan Barat berkembang pada abad-abad permulaan masehi. Gelombang kedua tiba setelah ekspansi imperialisme dan kapitalisme Eropa yang masuk sejak abad ke-16.[4] Pada gelombang pertama, jalur sutra merentang 8.000 kilometer di samudera, menghubungkan Tiongkok dengan Kekaisaran Romawi.

Rute perdagangan ini tak cuma memengaruhi perkembangan peradaban Tiongkok, Mesir Kuno, Mesopotamia, India, dan Romawi, tapi juga membangun fondasi dunia modern. Pada gelombang kedua, momentum gelombang pertama dimanfaatkan dengan sangat epic oleh bangsa Eropa. Memang di satu sisi, gelombang kedua ini tidak diantisipasi secara baik dan menyeluruh oleh masyarakat lokal di Indonesia. Penduduk kepulauan Indonesia pun menjadi “korban” globalisasi.[5] Dari narasi tersebut, globalisasi dapat diartikan sebagai proses bertemunya bangsa-bangsa dan memengaruhi kehidupan bangsa yang mengalaminya.

Sementara itu, Wasisto Raharjo Jati membagi perkembangan globalisasi menjadi tiga fase: globalisasi kuno, globalisasi pertengahan, dan globalisasi modern. Globalisasi kuno terjadi ketika Britania Raya (Inggris) menjelma negara hegemonis karena melakukan ekspansi ekonomi ke pelbagai belahan dunia pada sekitar abad ke-19. Ekspansi ekonomi tersebut merupakan rintisan daripada pasar global, ketika kapital atau modal beredar luas. Hal itu terjadi berbarengan dengan perluasan koloni Inggris. Di daerah koloni, Inggris mengakuisisi tempat yang kaya atas sumber daya, sekaligus, menebar dan menanamkan nilai kultural, politis, dan sosialnya.[6]

Globalisasi pertengahan bermula saat Amerika Serikat (AS) menjelma motor penggerak baru dalam gelombang globalisasi setelah perang dunia kedua (PD II). Di fase ini, AS membangun rezim global untuk merealisasikan Monroe Doctrine 1823. Doktrin itu memuat wacana tentang pembentukan institusi dunia untuk membebaskan dunia dari kolonialisme Eropa. Wacana ini sejatinya memiliki dimensi altruisme dan filantropis, namun bergeser sesudah PD II. AS mulai mengonstruksi pengetahuan lalu mewujudkan pengetahuan itu dalam kebijakan ekonomi dan politik. Hal ini dilakukan untuk menjadikan AS sebagai negara hegemonis yang baru.[7]

Wasisto menyebut globalisasi modern mewujud sebagai triadisasi. Sebab pada era ini, terdapat tiga kekuatan utama ekonomi global, yakni Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur.[8] Tiga kekuatan ekonomi itu sekaligus menjadi kawasan pusat globalisasi, sedangkan kawasan lain hanyalah subordinat (hinterlands). Relasi antar kawasan digambarkan Wasisto sebagai berikut:

Tabel 1: Hubungan Antar Kawasan dalam Triadisasi

NoKawasan TriadHinterlandsPerhatian Ekonomis
1.Amerika UtaraAmerika Latin, Karibia, dan Timur Tengah.Kendali harga minyak global, tenaga kerja murah, dan tambang mineral.
2.Asia TimurAsia Tenggara, Asia Tengah, Asia Selatan, dan Pasifik Selatan.Pangsa pasar, faktor produksi murah, dan kendali bahan baku industrial.
3.Eropa BaratAfrika dan Eropa Timur.Kendali harga berlian dan emas, pangsa pasar, serta ketersediaan alam.

Dari eksplanasi di atas, Indonesia sudah barang tentu terkungkung dalam globalisasi. Singgih Sulistyono pun mengatakan bahwa gelombang globalisasi telah tiba di Indonesia sebelum kolonialisme datang ke Indonesia. Merujuk tabel Wasisto, Indonesia juga terletak di Asia Tenggara, kawasan hinterlands atau subordinat dari negara-negara triad Asia Timur—salah satu kawasan pusat ekonomi global.

Pada era kini, globalisasi membegawani pula kehadiran budaya global. Arus budaya global ini setidaknya melewati lima jalur: pertama, jalur etnis (ethnoscape), relasi antara penduduk dan suatu fenomena, seperti wisatawan dengan pariwisata serta imigran dan buruh asing dengan pengungsian. Kedua, jalur media massa (mediascape), yang mengacu kepada hal-hal modern, misalnya surat kabar, majalah, benda-benda elektronik, dan komputer.

Ketiga, jalur teknologi (technoscape), yang menjamur ke seantero dunia dalam wujud mesin dan pabrik lewat kerja sama multinasional serta kerja sama regional. Keempat, jalur keuangan (finanscape), pemikiran tentang pasar uang, spekulasi keuangan, dan korelasi arus barang-barang yang koheren. Kelima, jalur ideologi (ideoscape), terdiri atas seperangkat ide yang memiliki dasar konsep Barat, seperti liberalisme, demokrasi, hak asasi manusia, dan perkembangan masyarakat sipil.[9]

Sebagaimana termaktub dalam judul artikel Pak Wasisto yang saya sitir di awal, globalisasi adalah evolusi kapitalisme. Globalisasi memang digadang-gadang membawa kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi pada masa mendatang, tapi dewasa ini, globalisasi sesungguhnya hanyalah sebuah fase kapitalisme, melanjutkan tongkat estafet kolonialisme dan developmentalisme melalui jalur-jalur kultural di atas.[10]

Globalisasi yang tengah berlangsung pada era sekarang diawali secara signifikan oleh penetapan kebijakan free trade pada April 1994 di Marrakesh, Maroko. Perjanjian tersebut dinamakan General Agreement and Trade (GATT). GATT adalah sehimpun aturan  yang mengatur tingkah laku perdagangan antarpemerintah di dunia internasional. GATT pun menjelma forum negosiasi dan pengadilan perdagangan antarnegara. Pada 1995, World Trade Organization (WTO) menggantikan GATT dan berdiri sebagai organisasi yang mengawasi dan mengontrol perdagangan dunia.[11]

WTO bersama aktor-aktor globalisasi lain pun berupaya untuk mengintegrasikan ekonomi nasional di banyak negara ke dalam ekonomi global. Dalam proses tersebut, agen-agen globalisasi lokal di Indonesia—para ekonom fundamentalis pasar—tampak tergesa-gesa melakukan penyesuaian struktural.[12] Bebarengan penyesuaian struktural tersebut, Indonesia gagal bersikap kritis terhadap globalisasi dan tercebur ke dalam pusaran ekonomi global.[13]

Pagar Belakang

Dari pembahasan tersebut, globalisasi rupanya telah merasuk dalam kehidupan penduduk negeri ini sejak era sebelum masehi, ketika jalur sutra masih eksis sebagai penghubung warga Tiongkok hingga Eropa. Pada masa setelahnya, jalur ini menjadi dasar bagi bangsa Eropa untuk mengarungi samudera, lalu menyerap sumber daya yang ada di belahan dunia lain. Penyerapan sumber daya tersebut dihegemoni oleh Inggris pada abad ke-19 demi melakukan permulaan ekspansi modal. Setelah PD II, Amerika Serikat mewarisi hegemoni tersebut lewat konstruksi pengetahuan dan bersifat sangat ekonomis. Kini, Indonesia gagap dan tak kritis dalam menyikapi ekonomi global, hingga terjerembab di dalamnya. (sae)


[1] Wasisto Raharjo Jati, “Memahami Globalisasi sebagai Evolusi Kapitalisme”, Global & Strategis, Th. 7, No. 2, (Juli-Desember 2013), hlm. 243

[2] Agus Suprijanto, “Dampak Globalisasi Ekonomi terhadap Perekonomian Indonesia”, Jurnal Ilmiah Civics, Vol. 1, No 2, (Juli 2011), hlm. 102-103

[3] Amat Mukhadis, “Sosok Manusia Indonesia Unggul dan Berkarakter dalam Bidang Teknologi sebagai Tuntutan Hidup di Era Globalisasi”, Jurnal Pendidikan Karakter, Th. 7, No. 2, (Juni 2013), hlm. 118-119

[4] Singgih Tri Sulistyono, “Indonesia in The Globalization Trap: A Historical Perspective”, Paramita: Historical Studies Journal, Vol. 27, No. 1, (2017), hlm. 12

[5]Ibid., hlm. 12

[6] Wasisto Raharjo Jati, op. cit., hlm. 249

[7]Ibid., hlm. 252-253

[8] Ibid., hlm. 254-255

[9] I Nengah Duija, “Tradisi Lisan, Naskah, dan Sejarah: Sebuah Catatan Politik Kebudayaan”, Wacana, Vol. 7, No. 2, (Oktober 2015), hlm. 112

[10] Swanvri, Darmawan, Wahyudin Noer et al., Pengantar Ekonomi Politik, (Yogyakarta: Resist Book, 2011), hlm. 123

[11] Ibid., hlm. 124

[12] Loc. cit.

[13] Ibid., hlm. 128

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.