Cerpenis Itu Tak Bisa Menulis

Spread the love

Cerpen Fahmi Abdillah

Danang dikenal sebagai cerpenis. Kawan-kawan menjuluki mahasiswa semester 13 itu sebagai pengarang muda berbakat. Cerita-ceritanya acap terpajang di majalah dinding dan termuat di Nuansa, buletin bulanan yang diterbitkan lembaga kemahasiswaan. Bahkan beberapa pernah dimuat koran nasional.

Sehari-hari, selain kuliah, Danang membaca dan menulis. Kau akan menjumpai pemuda berperawakan kecil, berkulit gelap, berambut cepak, berkacamata bundar itu membaca atau menulis. Jika tidak membaca atau menulis, pasti dia mengobrol tentang membaca dan menulis.

Malam ini, Danang duduk menghadap laptop. “Menulis, yang penting menulis saja dulu,” desis dia.

Dia terus-menerus mengucapkan kalimat itu sambil sesekali menghela napas. Matanya bergantian menatap layar dan kibor. Danang berpikir keras untuk menulis sesuatu di bawah judul yang tertera sejak awal dia membuka file.

“Menulis, yang penting menulis saja dulu,” desis dia makin keras.

Namun tak satu huruf pun tertoreh. Padahal, biasanya begitu muncul gagasan gampang saja dia menulis, mewujudkannya menjadi cerita. Namun kali ini seperti ada sesuatu yang menghalangi dia mengetukkan jemari ke tuts.

Danang mencopot kacamata minusnya, mengangkat kedua telapak tangan, menutupi wajah. Dia merenung-renung. “Kenapa jadi begini? Apa yang salah? Kenapa begitu sulit mengembangkan gagasan? Jangan-jangan gagasanku salah?”

Danang gelisah. Dia menurunkan telapak tangan dan kembali memakai kacamata. Pandangan matanya tertuju layar laptop. Saat itulah dia menyadari: itu bukan judul cerpen! Ya, itu judul skripsi, “Analisis Strukturalisme Genetik terhadap Novel Kadurakan ing Kidul Dringu Karya Suparta Brata”.

“Kok gini sih!” desis Danang.

Fahmi Abdillah, alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang, guru madrasah tsnawiyah negeri di Kota Semarang

Gambar Ilustrasi PxHere

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.