Cinta yang Tak Sama

Spread the love

Cerpen M Taufiqillah Al-Muvti

Seekor tikus mati di tengah jalan. Perutnya pecah dan isinya terburai. Aku melewati bangkai itu tanpa rasa iba. Aku cepat-cepat mengayuh sepeda menuju ke rumah. Ibu sedang berkunjung. Aku harus lebih dulu sampai sebelum Ibu datang. Aku sudah tidak sabar menceritakan kesedihanku dan mendengar kata-katanya yang menyihir. Bukan saja tentang aku, melainkan masa depan rumah tanggaku.

Belum sampai aku cerita, dadaku sudah tercekat oleh ucapan Ibu yang tak kuduga. Ibu membawa sebungkus teh dan kayu manis. Kata Ibu, itu ramuan untuk meningkatkan kesuburan agar aku cepat hamil. Ibu juga mengingatkan aku agar jangan sekali-kali menolak ajakan Darso ketika “ingin”.

Ndhuk, kamu harus sering-sering minum ini,” kata Ibu sambil mencontohkan bagaimana membuat ramuan teh kayu manis. “Ini sudah turun-temurun di keluarga kita. Dan, terbukti berhasil. Asal….“

“Iya, Bu, aku paham. Tidak menolak ajakan Mas Darso kan?”

“Betul,” kata Ibu girang sambil mengaduk teh. Kemudian ia meneruskan, “Kalau khasiat ramuan ini belum terbukti, Ibu akan membawakan akar gingseng dan daun jelatang.”

“Hah? Daun jelatang, Bu?”

“Kenapa, Ndhuk?”

“Itu kan daun yang membuat gatal-gatal ta, Bu?”

“Tapi berkhasiat mempercepat kehamilanmu, Ndhuk,” sahut Ibu seraya menyajikan secangkir teh di meja, tepat di hadapanku.

Aku melihat di atas permukaan teh itu wajahku berputar-putar.

Nggih pun.”

Ndhuk, usia pernikahanmu dengan Darso sudah tiga tahun, tetapi kalian berdua sampai sekarang belum dikaruniai anak. Aku selalu jadi sasaran pertanyaan saudara-saudaramu, dari Mbah, Bulik, Paklik, bahkan tetangga-tetangga. Apa kamu bahagia hidup seatap cuma berdua? Apa kamu tidak khawatir tiba-tiba kangmasmu menalak gara-gara ini?”

“Bu, aku sedih.”

Ndhuk,” kata Ibu beranjak dari kursi dan menghampiri aku, lalu memelukku. “Ini demi kebaikanmu. Juga keluarga kita semua.”

“Maaf, Bu,” kataku sambil terisak.

Sebenarnya saat itu juga aku ingin memuntahkan semua kesedihan dan kemarahan yang lama mengendap dalam hati. Namun aku tak sampai hati. Aku tak ingin mengumbar aib keluargaku. Jadi aku hanya terisak dan menyandarkan kepala yang pening nan berat ke pundak Ibu. Pundak yang selalu setia menjadi pendaratan jiwaku.

Ibu mengangkat kedua bahuku, ia menatapku lekat-lekat. Seperti biasa Ibu mencoba mengeja isi hatiku, yang tak mampu kuungkapkan, dari setiap garis dan kerut yang merekah di wajahku. Tiba-tiba, Ibu berucap, “Kamu makin kurus, Ndhuk.” Ibu memelukku lagi. Erat sekali. Hangat.

Sebelum pulang, Ibu memintaku sering-sering memasak sayuran dan gorengan yang bercampur tauge. Kata Ibu, konon tauge berkhasiat meningkatkan kesuburan sel sperma Darso. Aku tak menanggapi permintaan Ibu. Aku hanya tersenyum simpul sambil menahan getir yang menyayat karena justru Darsolah pangkal permasalahan ini.

Ingin aku ungkapkan saja saat itu juga. Namun aku urungkan. Bila kuceritakan, sama saja aku membuka aib keluargaku. Sebab, Ibu pernah mengajarkan: istri adalah benteng keluarga. Dan, itu aku terapkan pula pada ibuku.

***

Aku mengenal Darso pada masa Presiden Sukarno menetapkan Dekrit 5 Juli 1959. Saat itu Darso mengunjungi rumah senior di kalangan pers, bapakku. Mereka terlibat pembicaraan seru. Dari kejauhan di balik dinding dapur, sayup-sayup aku mendengar keduanya berdiskusi tentang dampak setelah Bapak Proklamator menerapkan Demokrasi Terpimpin.

Ketika menyajikan dua gelas kopi dan stoples jajan di meja tamu untuk mereka, aku ingin larut diskusi mereka. Aku pun duduk di samping Bapak. Aku jadi tahu banyak hal yang tak tersiarkan radio. Sesekali mereka menyinggung orang-orang yang  mudah menelan mentah-mentah kabar burung dari radio. Saat itu aku juga merasa tersindir, tetapi lebih kuartikan sebagai betapa lucu aku.

“Mbak kok ketawa?” tanya Darso yang tahu aku tertawa karena ia duduk tepat di depanku.

“Habis aku termasuk suka mendengarkan radio.”

“Maklum, gadisku ini kan masih SMA. Jadi belum seberapa tahu masalah politik.”

“Tapi putri Bapak ini kelihatan dewasa.”

Bapak tersenyum simpul sambil menyisir rambutku yang terjulur ke bawah dengan jemarinya. Saat itu aku tersanjung oleh pujian Darso. Entah, ada perasaan menyusup dalam hati. Bergetar dan semilir. Sehari saja belum genap mengenal, ia cepat menilai aku sudah dewasa. Sebuah penilaian yang membuatku berdesir. Dan penasaran, siapakah sebenarnya laki-laki bernama Darso yang duduk di hadapanku ini?

Berbeda dari teman-teman laki-lakiku di sekolah yang acap menilai aku dari rupa yang mereka sebut cantik, Darso malah melihatku dari sisi berbeda. Sisi yang tak kuduga-duga bagi pria seusia Darso yang kisaran 20 tahun. Usia saat acap kali orang dirundung asmara dan mulai lirak-lirik seseorang untuk jadi teman sehidup-semati.

Setelah obrolan itu, Darso sering main ke rumah, entah dengan tujuan bertemu Bapak atau aku. Bapak juga tidak keberatan Darso mengajakku mengobrol berdua. Bahkan Bapak membolehkan Darso mengajak aku jalan-jalan berdua, misalnya duduk-duduk di taman atau menikmati pasar malam. Lama-kelamaan benih cinta tumbuh dalam hatiku. Benar kata pepatah Jawa, witing tresna jalaran saka kulina.

Lambat-laun Ibu menaruh prasangka dan bertanya kepadaku, “Ndhuk, sepertinya si Darso suka sama kamu.”

“He-he. Sepertinya, Bu.”

“Apa bapakmu sudah memberikan restu, Ndhuk? Ibu kok tidak pernah Bapak ceritain ya?”

“Coba Ibu tanya langsung.”

Suatu saat, Darso menyatakan keseriusan meminang aku kepada Bapak. Mereka bercakap-cakap di halaman rumah, sementara aku mengamati dari balik pintu dengan perasaan cemas. Tak begitu jelas apa yang mereka percakapkan. Namun ketika kemudian melihat mereka tertawa, aku menduga: itu sinyal positif. Aku pun tenang dan segera balik kanan, berlari girang menuju ke kamar. Menutup pintu, melompat ke ranjang, dan memeluk guling erat-erat. Sebetulnya aku ingin memeluk Darso.

Tak lama kemudian terdengar pintu kamarku diketuk. Dari luar Ibu memanggil, memintaku keluar. Ketika kubuka pintu kamar, terhampar wajah Ibu yang tersenyum lebar, sejuk, seperti Telaga Kautsar. Sambil menunjuk ke arah halaman rumah, katanya, Bapak meminta aku keluar menemui tamunya. Namun aku minta waktu beberapa menit untuk dandan. Berganti baju, menabur pupur, bergincu, kemudian menyisir dan menyanggul rambut.

Tatkala aku keluar pintu rumah, baik pandangan Bapak, Ibu, maupun terutama Darso bertahan padaku beberapa saat. Aku hanya menunduk dan tersipu malu. Lalu Bapak menarik sebuah kursi yang dia arahkan kepadaku. Aku duduk di kursi itu. Bapak-Ibu berpandangan ketika Darso masih betah memandangku. Lekat-lekat.

Ndhuk,” ujar Bapak.

Inggih, Bapak?” jawabku pelan sambil menoleh ke arah Bapak.

“Mas Darso mau melamarmu. Aku tidak bisa memutuskan secara sepihak. Keputusan tergantung padamu. Hanya Bapak sekilas memberi pandangan, Mas Darso baik dan bisa bertanggung jawab padamu. Bapak tidak mencari orang yang rupawan dan hartawan. Asal dia bisa bertanggung jawab sudah cukup. Bapak tahu seluk-beluk Mas Darso, Ndhuk. Dia wartawan. Bapak dulu juga wartawan. Jadi paham perangai Mas Darso. Bagaimana, Ndhuk?”

Sebenarnya aku ingin menjawab, “Bapak tidak perlu memberi gambaran, tidak perlu, Bapak, karena aku sudah jatuh cinta pada Darso.” Namun aku simpan dalam hati. Jadi aku hanya diam dan tersenyum simpul.

“Bagaimana, Ndhuk? Bapak menunggu jawabanmu. Ndhuk?” ujar Bapak lagi.

Dari samping aku melihat Ibu menggeleng-geleng sambil berdeham. “Hmm. Bapak kok tidak paham. Padahal, sudah kumpul aku bertahun-tahun lo,” seloroh Ibu.

Aku senyum-senyum mendengarnya.

“Kenapa ta, Bu? Apa yang tidak aku pahami?”

“Kalau anak perempuan ditanya cuma diam, itu tanda mau,” kata Ibu penuh kesabaran.

“Oh, ha-ha.”

Sementara Bapak dan Ibu bergurau, aku dan Darso saling lempar senyum. Kami bercakap-cakap dengan bahasa yang tak dimengerti siapa pun. Bahkan oleh burung-burung emprit yang beterbangan di atas pohon mangga depan rumah.

***

Sayang, umur pernikahan kami tidak panjang. Bukan lantaran Darso atau aku yang menceraikan hubungan. Bukan kami berdua, melainkan keadaan.

Sehari setelah kami menikah, meledak Gestapu di Jakarta. Getaran peristiwa itu begitu terasa hingga ke kota tempat kami tinggal. Orang-orang yang diduga pengurus PKI, pendukung, simpatisan, dan bahkan orang-orang yang tak terlibat sama sekali tetapi dianggap mencurigakan pun ditangkapi. Ada pedagang bakso ditangkap, karena bakso dianggap pelintiran dari “baso”, singkatan dari barisan Soekarno.

Darso pun ditangkap. Padahal aku tahu betul, Darso bukan pengurus, pendukung, atau simpatisan PKI. Namun Darso memang acap kali melontarkan pandangan yang sepakat dengan gagasan Bung Karno dalam editorial surat kabar yang ia kelola. Selain itu, aku menduga Darso terimbas fitnah dari koleganya. Sebab, di banyak tempat, pembantaian massal dijadikan ajang balas dendam pada orang-orang yang dibenci.

Suatu malam, Darso raib ketika sedang lembur di kantor. Belum puas kami berbulan madu, Darso diculik entah ke mana, entah untuk sementara atau selama-lamanya.

Aku yang semula buta dunia perpolitikan mulai membuka mata. Karena konflik politik seperti itulah yang membuat aku dipisahkan dari Darso.

Hari demi hari yang kujalani tidak seindah sebelumnya. Aku sering dilanda kegundahan tak bertepi. Apalagi aku mendengar kabar, rata-rata orang yang ditangkap karena dituduh komunis pasti mati. Aku berusaha meyakinkan diri, Darso tidak termasuk tapol yang dibunuh. Ia masih selamat dan akan kembali.

Dari teman-teman kantor Darso, aku mendapat kabar suamiku sekarang dibuang ke Pulau B. Kabar itu setidaknya melegakan hatiku: Darso sekarang selamat. Aku menanyakan kepada Eko, salah satu teman kantor Darso. “Apakah aku bisa menyusul suamiku?” tanyaku pada Eko di ruang redaksi surat kabar tempat Darso bekerja.

Terdengar suara tuts mesin tik laiknya tawon; sepertinya ada banyak sekali berita harus dan mendesak ditulis, sebagaimana kabar kejelasan Darso yang harus segera aku pastikan. Tak bisa kutunda-tunda.

“Jangan,” jawab Eko singkat, setelah mendengar tangisku pecah.

“Mengapa?”

“Darso pasti sedih.”

“Aku kan nanti yang akan membantu.”

“Tidak ada yang bisa membantu siapa pun yang telah ditetapkan sebagai tapol, kecuali Tuhan.”

“Anda jurnalis, mengapa bisa berkata begitu?”

“Rezim ini sudah babak belur dan sebentar lagi terjadi tsunami kekuasaan. Kalau sudah seperti ini, tunggulah rezim berganti wajah dengan yang lebih kejam.”

Kepalaku seketika pening. Kedua tanganku menangkap kepalaku yang serasa hendak jatuh karena beban berat pikiran. Yang jelas aku marah pada rezim yang akan berkuasa nanti dan terutama semua akrobat politik yang membuat aku dan Darso berpisah.

***

Setelah bertahun-tahun dibuang, suatu sore Darso kembali. Badannya lebih kurus dan kulitnya makin hitam. Aku segera menghambur dan memeluk  Darso yang masih berdiri di ambang pintu rumah. Darso membalas pelukanku. Hangat sekali. Tak henti-henti aku mengucap dalam hati kalimat syukur kepada Tuhan.

Aku merangkul dan menuntun dia berbaring di sofa. Lalu aku meninggalkan dia untuk kembali membawakan segelas teh hangat. Kusangga pelan-pelan tubuh Darso. Ia minum seteguk, dua teguk, dan berbaring lagi.

Badannya begitu lemas. Seperti belum makan berhari-hari. Tangannya yang dulu dempal, sekarang menjadi kurus kering hingga terlihat urat-uratnya. Di beberapa titik tubuhnya, seperti dagu, pundak, dada, dan betis terlihat memar. Aku pun bertanya-tanya, apa saja yang Darso alami selama ditangkap hingga diasingkan?

Beberapa hari setelah pulang, Darso memilih bungkam ketika kutanya apa saja yang algojo-algojo lakukan kepadanya. Betapa sadis perlakuan algojo itu, hingga mental Darso untuk bercerita pun menciut walaupun kepadaku. Hanya aku pernah mendengar kabar para tapol acap dipukul, disiram air es, dipecuti, bahkan diperkosa. Sungguh terlalu!

Jikalau berucap, ia hanya bertanya bagaimana keadaanku selama ia berada di pengasingan. Aku menjawab baik-baik saja. Kami sempat bergurau; dia mengira aku sudah menikah dengan laki-laki lain. Dia mengira pula sekarang aku tak mau pada dia, yang berstatus baru sebagai mantan tapol. Aku tertawa mendengar kecemasannya. Artinya, perasaannya padaku belum berubah.

***

Darso sudah kembali bekerja. Kantor surat kabar tempat ia bekerja dulu masih menerimanya. Walau di sana ia diberi jabatan yang tidak sama dengan sebelumnya sebagai pemimpin redaksi, ia menerima. Aku bersyukur, lantaran Darso sudah pulih kembali.

Hanya aku melihat Darso sekarang bukan Darso yang dulu. Baik sebelum maupuan saat heendak menikah, kami sering mengobrol, membahas masa depan anak-anak kami kelak. Dari bagaimana kelak mendidik, menyekolahkan ke mana, hingga ke tema obrolan yang paling membuatku sakit perut; mau punya berapa anak. Namun sekarang jarang, bahkan bisa kukatakan tidak pernah sama sekali.

Jangankan membahas anak, menggauli aku saja tidak. Padahal, itu yang kunantikan selama ia dihilangkan. Oleh karena itu aku sedih, karena malu atas stempel yang orang-orang lekatkan padaku sebagai perawan tua, baik sebagai candaan maupun olok-olokan yang serius.

Aku sudah berusaha memancing gairahnya. Semisal, ketika menyambut dia sepulang kerja, aku mengenakan lingerie berbalur parfum memikat. Namun pandangan matanya datar dan tangannya bergeming tak menyentuhku sama sekali. Saat itu aku kecewa sekaligus malu sekali.

***

Tiga bulan kerja di kantor surat kabar, sering kali Darso mengajak temannya, Bambang, ke rumah. Katanya, dia teman sewaktu diasingkan di Pulau B. Mereka sering mengobrol di halaman rumah sampai larut malam. Banyak hal mereka obrolkan, seperti bagaimana cerita selama disekap sampai tidak sadar telah dibuang ke Pulau B.

Kenalin, ini istriku,” kata Darso kepada temannya saat aku menyuguhkan dua cangkir kopi.

Bambang menyodorkan tangan dan kami bersalaman. Aku melihat dia tersenyum menyeringai. Sementara Darso memandang temannya, kemudian menoleh ke arahku. Aku terenyak ketika melihat senyum Darso yang tawar.

“Bisakah kau berlagak romantis barang sejenak, sekadar untuk mempertontonkan kepada temanmu bahwa kita keluarga harmonis,” batinku.

“Aku Bambang,” katanya ramah.

“Iya, salam kenal,” ucapku. “Terima kasih sudah sedia menjadi teman suamiku selama di pembuangan.”

“Aku juga berterima kasih,” katanya sambil menoleh kepada Darso. “Tanpa Darso, aku tidak akan setegar sekarang. Dia selalu memberikan gairah hidup padaku.”

“Ada-ada saja kamu, Bambang,” sahut Darso seraya menyikut kemudian mencubit punggungnya, lalu mengusap-usap rambutnya.

Aku terheran-heran melihat adegan itu.

Sesekali aku melihat Darso dan Bambang tertawa tatkala mempercakapkan bagaimana para algojo menganiaya. Sementara aku yang sibuk menyeterika baju merasa tenang mendengar keceriaan mereka, terutama keceriaan Darso. Itu pertanda luka-luka pedih yang ditorehkan algojo yang tidak berperasaan telah teratasi.

Lambat-laun Bambang sering berkunjung ke rumah. Saking sering ia merasa tidak perlu sungkan mondar-mandir dari halaman ke dapur untuk membikin kopi. Sementara aku justru merasa makin jauh dan berjarak dari Darso.

Kalau ketika di rumah ada aku, Darso, dan Bambang, Darso lebih memilih Bambang sebagai teman bicara. Sesekali aku cemburu, tetapi perasaan itu teramat aneh. Mengapa aku bisa cemburu pada dua laki-laki yang punya jalinan keakraban yang wajar-wajar saja itu?

***

“Kamu mau ke mana?” tanya Darso suatu pagi tatkala melihat aku mengepaki pakaian ke dalam kopor.

“Pulang.”

“Di sini kan rumahmu.”

“Aku ingin kembali ke Bapak dan Ibu.”

“Kamu marah padaku? Katakan saja.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Aku kangen Ibu.”

“Ya, sudah. Hati-hati di jalan.”

Hah? Darso cuma begitu? Serius? Dari raut wajahnya, aku tahu ia tidak mengkhawatirkan aku. Dari gaya bicaranya, aku juga tahu ia tidak mencemaskan aku. Dari tarikan napasnya, aku mafhum ia sama sekali tidak sedih karena kutinggalkan, bahkan tidak merasa kehilangan. Sungguh, betapa aku kecewa pada Darso. Apa yang membuat ia berubah sedrastis itu?

Dari meja makan ia hanya melihatku mondar-mandir mengepaki pakaian, sementara aku makin tersayat oleh sikap dinginnya. Air mataku hendak tumpah, trtapi segera kuseka. Tidak ada gunanya memperlihatkan kesedihan pada orang yang sama sekali acuh tak acuh seperti dia.

Tak lama kemudian ia mendekatiku dan menawarkan bantuan. “Ada yang bisa kubantu?”

“Tidak perlu!”

Ketika menolak uluran tangannya, seketika aku merasa bersalah pada diri sendiri. Mengapa aku menolak? Mungkin ia ingin mengubah sikap padaku. Mungkin Darso sudah kembali seperti suami yang kukenal dulu. Aku merasa sangat bersalah atas ucapanku.

Pendirianku untuk pergi tidak berubah. Sambil melangkah ke arah pintu, aku menunggu tindakan dia selanjutnya. Apakah ia akan mengejarku dan memegang tanganku erat-erat, kemudian membalikan tubuhku dan memelukku hangat, hingga aku lunglai? Ah, aku tidak ingin terhanyut dalam khayalan kosong.

Begitu aku sampai di ambang pintu, tidak reaksi apa pun dari Darso. Hatiku makin remuk. Aku menoleh ke belakang. Ia masih dengan santai menyeruput kopi. Benar-benar angkuh! Rupanya tadi hanya basa-basi.

“Darso, aku kecewa padamu,” kataku keras.

Ia tertegun melihatku. Tidak mampu berkata apa-apa. Tidak berkutik. Aku tidak kuasa menahan derai air mata dan segera kututup pintu sekeras-kerasnya. Dar! Permukaan pintu dan dinding di sekitarnya bergetar beberapa saat. Puas? Iya, karena aku sudah keluar dan menangis tanpa Darso ketahui. Tangis yang membuat aku makin tegar.

***

Di rumah, aku merasakan kenyamanan. Ibu dan Bapak mengerti keadaan rumah tanggaku. Mereka, terutama Ibu, memintaku bersabar atas sikap Darso akhir-akhir ini. Katanya, aku harus menerima apa adanya keadaan suamiku sekarang karena janji suci yang sudah kami ucapkan untuk setia sehidup dan semati.

“Toh hanya masalah perhatian,” kata Ibu.

Kemudian Ibu menceritakan pengalaman berumah tangga bersama Bapak. Ibu menjelaskan betapa sabar menerima karakter Bapak yang kaku. Dengan telaten Ibu berusaha membuat Bapak luluh, hingga akhirnya berhasil. Cerita pengalaman Ibu yang pahit, tetapi kemudian menuai saat manis membuat keyakinanku terbit.

Ibu tidak memaksa aku segera pulang. Aku bersyukur mempunyai orang tua seperti mereka. Mereka membiarkan aku menenangkan diri di rumah mereka beberapa hari. Apalagi mereka sebetulnya juga kangen kepadaku.

Namun akhirnya aku harus pulang. Bapak dan Ibu mendoakan aku selamat sampai di rumah dan supaya keadaan rumah tangga kami menjadi harmonis. Selama perjalanan dadaku berdebar-debar, seperti deru kereta yang kutumpangi. Irama lenggak-lenggok rumput yang  kulewati makin membuat detak jantungku syahdu. Makin kereta mendekati kota tempat Darso dan aku tinggal, aku kian penasaran. Apa yang terjadi pada Darso selama aku pergi? Apakah ia mencemaskan aku?

Ketika sampai di depan pintu rumah, aku makin berdebar. Pikiranku bergelayut antara masuk atau kembali ke rumah Bapak-Ibu. Aku khawatir apabila sikap Darso malah makin dingin. Kurasai tubuhku gemetar. Namun bagaimanapun kalau aku tidak bertindak tidak akan ada perubahan sama sekali dan aku akan makin terperosok dalam arus kegalauan tak bertepi. Pelan-pelan aku memutar pegangan pintu yang berdebu.

Begitu pintu terbuka, aku melihat: Darso dan Bambang berciuman. Mesra sekali! Bibir mereka beradu, saling mencucup. Lidah mereka saling belit.

Ketika menyadari kehadiranku, Darso dan Bambang tergopoh-gopoh mencari pakaian masing-masing dan mengenakan. Aku terperenyak melihat adegan yang bahkan tak pernah Darso lakukan denganku. Sebentar aku merasa cemburu sekaligus marah. Namun aku menyadari, sebetulnya bukan salah Darso sepenuhnya, melainkan kesalahan rezim yang menculik dan membuang dia ke Pulau B. Rezim itulah yang merenggut Darso dariku. Dan, rezim itu tidak mengembalikan Darso secara utuh.

Aku menghambur ke arah Darso. Lalu memeluk dia yang masih bertelanjang dada. Air mataku tumpah seperti bah. Entah, kesedihan macam apa yang kurasakan ini?

M Taufiqillah Al-Muvti, alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, tinggal di Kota Semarang

 

Gambar: 66.media.tumblr.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.