Cirebon Melawan: Menentang Praktik Kolonialisme dan Pengisapan

Spread the love

Oleh Yuli Yanti

Cirebon adalah sebuah kota di Jawa Barat yang padat penduduk. Kota ini berada di pesisir pulau utara atau biasa dikenal dengan jalur pantura. Letaknya yang yang berada di perbatasan antara wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat membuat Cirebon miliki suatu kebudayaan yang khas, yakni perpaduan antara kebudayaan Jawa dan Sunda yang membaur tanpa saling menegasikan satu sama lain.

Cirebon sendiri berasal dari kata cai (air) dan rebon (udang kecil). Menurut Babad Sunda dan Carita Purwaka Caruban Nagari, mulanya Cirebon adalah dukuh kecil yang didirikan oleh Ki Gedeng Tapa. Dukuh tersebut kemudian berkembang menjadi perkampungan ramai dan diberi nama caruban (campuran), sebelum akhirnya menjadi Cirebon.

Berbicara mengenai Cirebon, tentu saja tidak akan kehabisan bahasan. Terlebih, di Cirebon pernah terjadi suatu peristiwa besar yang sangat jarang diketahui banyak orang. Peristiwa tersebut bermula dari ketidakpuasan terhadap keadaan yang dihasilkan dari kehidupan para petani.

Selama ini, bangsa Indonesia mengenal perjuangan Pangeran Diponegoro dan menganggapnya sebagai sosok ratu adil dalam melawan penjajah. Akan tetapi, tidak banyak yang tahu bahwa sebelum Perang Diponegoro berlangsung, telah terjadi perang hebat di Jawa bagian Barat yang kemudian disebut sebagai Perang Cirebon. Bahkan, perang tersebut telah di bubukan dalam arsip Belanda.

Perang Cirebon terjadi pada tahun 1800-an, dan merupakan cikal bakal dari serentetan peristiwa  perlawanan rakyat Cirebon dalam beberapa tahun kemudian. Salah satu tokoh yang menjadi pelopor dari perlawanan ini adalah Ki Bagus Rangin. Baliau adalah orang yang disegani sehingga mampu mengumpulkan banyak massa. Alhasil, wajar jika kemudian rakyat Cirebon menganggapnya sebagai ratu adil. Ki Bagus Rangin sendiri adalah seorang anak dari Santayem yang berasal dari Blandong, Rajagaluh, Majalengka. Ayahnya adalah seorang pemuka agama yang memiliki peran cukup penting ditengah masyarakat.

Pergerakan yang dilakukan oleh Ki Bagus Rangin bermula saat dirinya menyadari bahwa orang-orang disekelilingnya, yakni petani dan penggarap lahan-lahan—yang lahannya dimiliki oleh para tuan tanah, hidup dalam kondisi yang tidak sesuai harapan. Menurutnya, hal tersebut merupakan kebobrokan hidup yang terjadi akibat adanya pengisapan yang dilakukan oleh tuan tanah  dan pejabat-pejabat pemerintah kolonial. Oleh karena itu, Ki Bagus Rangin mencoba mencari solusi atas permasalahan yang terjadi dengan cara melakukan semedi(meditasi) di berbagai tempat.

Dalam rangka manages-nya, Ki Bagus Rangin mendatangi beberapa tempat untuk melakukan munajat dan memohon kepada Tuhan agar apa yang diperjuangkan terwujud. Di Majalengka, Ki Bagus Rangin mulai melancarkan gerakan yang dibantu oleh para pengikutnya. Rakyat mempercayai bahwa didalam kepemimpinan Ki Bagus Rangin—di sebuah negara yang dinamakan Panca Tengah, adalah kepemimpinana yang diramalkan dan merupakan janji Tuhan yang tengah direalisasikan.

Deklarasi pembentukan Negara Panca Tengah inipun akhirnya membuat pihak kolonial yang tengah berkuasa merasa khawatir. Kemudian, untuk memadamkan gerakan di wilayah Karesidenan Cirebon, Rafless membangun kekuatan yang terdiri dari berbagai macam satuan pasukan yang berasal dari pribumi dan Eropa. Dari kelompok pribumi, terdapat pasukan yang berasal dari Bupati Cianjur, Pangeran Surianagara, dan Suriadipura dari Mangkunegara, Surialaga dari Karawang, dan pasukan Kasultanan Cirebon. Sementara itu, dari kelompok Eropa, pasukannya dipimpin oleh Komisaris Couperus.

Setelah kekuatan tersebut berhasil dihimpun, Rafless memerintahkan bawahannya untuk melakukan penyerangan menuju Cirebon. Pasukan-pasukan berada dibawah koordinasi para pimpinan mereka.Setelah pasukan terbentuk dan siap, serangan terhadap Ki Bagus Rangin mulai dilancarkan pada bulan Februari tahun 1812. Pertempuran ini berlangsung cukup lama, yaitu hampir dua minggu, terhitung  dari tanggal 16 hingga 29 Februari 1812. Karena jumlah pasukan yang lebih banyak serta didukung dengan peralatan tempur yang lebih canggih, pertempuran ini dimenangkan oleh pasukan gabungan pemerintah kolonial,

Pasukan Ki Bagus Rangin yang telah kalah akibat serangan yang dilakukan oleh pihak lawan, akhirnya terdesak dan mundur. Ki Bagus Rangin beserta pasukannya pun melarikan diri ke Desa Sindang sebagai upaya penyelamatkan. Sementara itu, guna menghabisi seluruh kekuatan Ki Bagus Rangin dan membereskan gerakannya, pasukan gabungan melakukan operasi militer ke berbagai desa-desa tertentu yang dicurigai sebagai tempat persembunyian Ki Bagus Rangin dan pengikutnya. Ki Bagus Rangin akhirnya tertangkap di sebuah daerah bernama Panongan pada tanggal 27 Juni 1812 oleh pasukan gabungan yang terdiri dari Suriagala selaku Bupati Karawang, Temenggung Raksayuda, dan mantri Kanoman, Raden Jayanegara.

Yuli Yanti, Mahasiswi Pendidikan Sejarah Unnes 2017

 

Gambar: medcom.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.