Cogito Ergo Sum dan Caraku Hidup Abadi

Spread the love

Oleh Dicki Arief

Cogito Ergo Sum. Begitulah ungkapan yang diutarakan oleh Descartes, salah satu filsuf berkebangsaan Perancis yang sering disebut sebagai bapak filsafat modern. Cogito Ergo Sum sendiri berasal dari bahasa latin dan memiliki arti bahwa “Aku berpikir maka aku ada”. Pernyataan yang memang membuat kita untuk bertanya-tanya apa maksud dari pernyataan tersebut? Bagaimana penerapan dari Cogito Ergo Sum itu sendiri? Ungkapan “aku berpikir maka aku ada” maksudnya adalah bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan seseorang sendiri. Sedangkan keberadaan seseorang tersebut dapat dibuktikan dengan fakta bahwa ia dapat berpikir sendiri.

Dalam pencarian kebenaran, Descartes meragukan keberadaan benda-benda di sekitarnya. Bahkan ia ragu (dalam hal ini bukanlah sebuah pesimistis) pada keberadaan dirinya sendiri. Akhirnya Descartes sadar bahwa bagaimanapun pikirannya mengarahkan dirinya pada sebuah kesalahan, namun ia tetaplah berpikir. Inilah yang jelas bahwa Descartes benar-benar berpikir. Hingga sampailah ia pada kesimpulannya bahwa ketika ia berpikir, ia merasakan bahwa keberadaan tentang dirinya memang benar-benar ada. Jauh sebelum Descartes menyampaikan pendapat ini pun, sebenarnya juga ada filsuf yang telah mengutarakan pendapatnya. Socrates, siapa yang tidak mengenalnya? Seorang filsuf Yunani kuno ini juga menyampaikan: “Aku tidak bisa mengajar siapapun, apapun. Aku hanya bisa membuat mereka berpikir.” Dengan demikian, Socrates yang juga merupakan guru dari Plato, berpendapat bahwa sebenarnya ia mengajak kita untuk dapat berpikir berdasarkan ranah kognitifnya, yang semakin hari semakin berkembang dengan keingintahuan pada peristiwa, maupun gejala yang terjadi secara faktual disekitar, berdasarkan atas pengamatan dan tentunya pemahaman.

Selain itu, di dalam kitab suci juga dijelaskan bahwa hakikat manusia sebenarnya adalah untuk berpikir,  seperti yang telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an pada Surat Al-Jathiyah: 13 yang berbunyi: “Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”. Bukankah kehidupan manusia sebenarnya berpusat pada otaknya? Dan mengapa kita masih saja enggan untuk berpikir secara dialektik terhadap fenomena-fenomena yang terjadi di alam raya ini? maka di sinilah aku menuliskan keresahan-keresahan yang tengah terjadi pada diriku sendiri.

Aku sendiri, sebenarnya masih belajar dan terus belajar. Karena dengan belajar maka aku pasti berpikir, dengan berpikir maka aku hidup. Membaca adalah langkah awalku untuk belajar, dan berpikir adalah langkah awalku untuk hidup. Begitulah cara sederhanaku sebagai kaum awam mencerna ilmu filsafat, yang tidak kupelajari secara mendalam. Dalam tulisan ini juga aku belajar. Belajar menulis dari apa yang kudapati selama ini. Dapat dikatakan bahwa tulisan ini pun sebenarnya adalah caraku berpikir atas hasil belajarku untuk menulis dan caraku belajar berdasarkan hasil dari apa yang kupikirkan selama ini. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Begitulah kata Pramoedya Ananta Toer, dan inti dari pernyataannya bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Lebih luar biasa lagi, jika kita dapat melakukan keduanya; berpikir kemudian menuliskan hasil dari apa yang kita pikirkan. Bukankah sebenarnya berpikir untuk kehidupan? Sedangkan menulis tentunya keabadian? Maka dapat dikatakan bahwa “Aku berpikir, aku hidup. Aku menulis, aku abadi. Aku berpikir dan menulis, aku hidup abadi.”

Gambar: concettualismo-ridotto.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.