Cooperativa Integral Catalana: Sebuah Studi Organisasional tentang Kooperasi Poskapitalis (10)

Spread the love

Terjemahan Eko Santoso

Calafou

One of CIC’s most emblematic ‘autonomous projects of collective initiative’ is Calafou,37 the self-proclaimed ‘post-capitalist colony’ which settled in 2011 in the ruins of an abandoned industrial village in the Catalan county of l’Anoia, about 65km away from Barcelona.

Calafou

Satu dari yang paling melambangkan CIC “proyek inisiatiasi kolektif otonom” adalah Calafou,  yang diproklamasikan secara mandiri “Koloni post-kapitalis” yang berdiri pada 2011 di reruntuhan desa industri yang ditinggalkan di daerah Catalan I’Anoia, sekitar 65 KM jauhnnya dari Barcelona.

The colony was set up with the participation of several heavily-involved CIC members with the aim of becoming a collectivist model for living and organizing the productiveactivities of a small community based on the principles of self-management, ecology and sustainability. At the same time, it represents an example of the form that former industrial villages could assume in a post-capitalist era.

Koloni ini didirikan dengan partisipasi dari beberapa anggota CIC yang sangat terlibat dengan tujuan menjadi model kolektif untuk hidup dan mengorganisir kegiatan produktif dari sebuah komunitas kecil berdasarkan pada prinsip-prinsip manajemen diri, ekologi dan berkelanjutan. Pada saat yang sama, ini merupakan contoh dari bentuk yang diasumsikan oleh desa-desa industri di era pasca kapitalis.

The first thing one is struck by when visiting Calafou is the aesthetics of the space, which gives the impression of a Mad Max-like post-apocalyptic scene, as many of the buildings of the village remain abandoned and half-dilapidated. In reality, however, Calafou is anything but abandoned: at the moment, the colony accommodates a multitude of productive activities and community infrastructures, including a carpentry, a mechanical workshop, a botanical garden, a community kitchen, a biolab, a hacklab, a soap production lab, a professional music studio, a guest-house for visitors, a social centre with a free shop, as well as a plethora of other productive projects.

Hal pertama yang mengejutkan ketika mengunjungi Calafou adalah estetika ruang, yang memberikan kesan seperti seorang Mad Max pasca apokaliptik, karena banyak bangunan di desa tetap terbengkalai dan setengah bobrok. Namun pada kenyataannya, Calafou sama sekali tidak terurus: pada saat ini, koloni banyak menampung kegiatan produktif dan infrastruktur masyarakat, termasuk pertukangan, bengkel mekanik, kebun botani, dapur komunitas, biolab, hacklab,  laboratorium produksi sabun, studio musik profesional, wisma bagi pengunjung, pusat sosial dengan toko gratis, serta sejumlah proyek besar lainnya.

As far as its property regime is concerned, the village was handed over by its owner to Calafou members based on the following agreement: the ‘colonists’ gave him a security deposit of €70.000 and committed themselves to paying a monthly rent of €2.500 for the next ten years. Presently, the colony, which has twenty-seven houses (of 60m2 each), is inhabited by twenty-two people. For the collective management of housing, Calafou members have set up a housing cooperative, which grants them as tenants only the right to use the space they inhabit. In that way, as tenants do not have the right to re-sell or lease their rights of use to others, the land and the houses of the village remain the unalienable property of the housing cooperative. Thus, based on the above agreement, tenants pay €175 per month for each house.

Sejauh menyangkut rezim propertinya, desa tersebut diserahkan oleh pemiliknya kepada anggota Calafou berdasarkan perjanjian berikut: “colonists” memberinya uang jaminan sebesar €70.000 dan berkomitmen untuk membayar sewa bulanan €2.500 untuk sepuluh tahun kedepan. Saat ini koloni, yang memiliki 27 rumah (masing-masing 60m2), dihuni oleh 22 orang. Untuk pengelolaan perumahan kolektif, anggota Kalafou telah mendirikan kooperasi perumahan, `yang memberikan hak sebagai penyewa atas tempat tinggal mereka. Dengan cara itu, karena penyewa tak memiliki hak untuk menjual kembali atau menyewakan hak penggunaanya kepada orang lain, tanah dan rumah-rumah desa tetap mnejadi milik yang tidak dapat dicabut dari kooperasi perumahan. Jadi berdasarkan perjanjian di atas, penyewa membayar € 175 per bulan untuk setiap rumah.

According to some of its members, one of Calafou’s most significant accomplishments is its consensus-oriented assembly, which is held every Sunday for the purpose of making decisions as well as for the coordination of daily tasks like cleaning up common spaces, which are self-selected on a voluntary basis by ‘Calafou-ers’. However, the assembly character is not always the same, as its thematology alternates between ‘political’ (for discussion of political issues), ‘managerial’ (for management issues) and ‘monographic’ based on presentations made by Calafou’s working groups.     

Menurut beberapa anggotanya, salah satu prestasi Calafou yang paling signifikan adalah majelis yang berorientasi pada konsensus, yang diadakan setiap hari minggu untuk tujuan pengambilan keputusan serta untuk koordinasi tugas sehari-hari seperti membersihkan ruangan umum, yang mandiri dipilih secara sukarela oleh “Calafou-ers”. Namun, karakter majelis tidak selalu sama, karena temanya bertolak belakang antara “politik” (untuk diskusi masalah politik), “manajerial” (untuk masalah manajemen) dan “monografi” berdasarkan presentasi yang dibuat oleh kelompok kerja Calafou.

For its economic sustainability, Calafou depends on three main sources of income: first, the revenues of the housing cooperative (based on the rent paid by residents); second, the contribution made by Calafou’s productive projects;40 and third, the significant income generated by the various cultural events taking place at the village (like conferences, concerts and festivals).

Untuk keberlanjutan ekonominya, Calafou bergantung pada tiga sumber pendapatan utama: pertama, kooperasi perumahan (berdassarkan sewa yang dibayarkan oleh penduduk); kedua, kontribusi yang dibuat oleh proyek-proyek produktif Calafou; dan ketiga, pendapatan signifikan yang dihasilkan oleh berbagai acara budaya yang berlangsung di desa (seperti konferensi, konser, dan festival).

Catatan: Tulisan ini merupakan serial terjemahan laporan George Dafermos, “The Catalan Integral Cooperative: An Organizational of A Post-Capitalist Cooperative” (2017). Laporan tersebut dapat diunduh di tautan: http://commonstransition.org/the-catalan-integral-cooperative-an-organizational-study-of-a-post-capitalist-cooperative/

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.