Cua

Spread the love

“Itu dulu jalan,” katamu sambil menunjuk jurang yang berada tak jauh dari tempat kita berpijak. Kau menunjukkan jurang itu dan mengatakan bahwa itu adalah jalan raya yang hancur akibat letusan Merapi tahun 2006.

Aku akan selalu mengingat hari itu, hari ketika kamu mengajakku berkendara menembus udara pagi Kaliurang yang dingin. Hari ketika untuk pertama kali aku di dekat Merapi dan di dekatmu.

Langit cerah menampilkan matari, awan, dan puncak Merapi yang indah. Burung-burung bergembira dan hamparan padi meneteskan embun dengan sabar. Kurasa Tuhan sengaja menyiapkan semua itu untuk menyambut kedatangan kita.

“Lihatlah, bukankah itu indah?” tanganmu menunjuk puncak Merapi.

“Iya, sangat indah,” jawabku. Itu adalah jawaban bohong karena bagiku pada hari itu senyummu jauh lebih indah dari puncak Merapi. Sungguh aku bersumpah.

Gumpalan awan serupa kapas bergerak dari selatan ke utara. Pelan namun pasti. Bersamanya lamunanku ikut bergerak, juga pelan dan pasti. Pikiranku menerawang jauh ke masa-masa awal pertemuan kita. Kau ingat? Kala itu, pada acara seminar mahasiswa kimia se-Indonesia, kita bertemu untuk pertama kali. Kau menyapaku saat kita berpapasan di tangga. Bodohnya aku tak membalas sapaanmu itu. Entah kenapa lidahku kelu. Tiba-tiba aku gagu. Mungkin aku adalah manusia paling penakut di dunia ini. Peristiwa itu membuatku berpikir; pantaskah aku mengenalmu? Layakkah kau memiliki teman bagi orang sepertiku?

“Kau senang?” pertanyaanmu membangunkanku dari lamunan.

“Tentu saja,” jawabku.

Setelah menikmati keindahan Merapi, kau lalu mengajakku kembali ke rumahmu. Di sepanjang perjalanan pulang itu kau bercerita banyak hal dan aku menyimaknya dengan khidmat. Mendengarmu bercerita adalah hal yang paling kusuka, seakan aku ditakdirkan Tuhan untuk menjadi pendengar setia ceritamu. Jika aku berujar demikian kau pasti akan tertawa dan menganggapku gila.

“Kamu mau ke mana setelah lulus kuliah?” kau bertanya dengan nada rendah.

“Em, mungkin di Semarang. Kamu?”

“Aku? Entahlah, mungkin Amsterdam.”

Jalanan mulai ramai. Motor kugas pelan. Para pedagang menenteng dagangannya ke pasar. Di sawah para petani mulai bekerja mengusir hama dan tanaman liar pengganggu padi-padi mereka. Embun-embun telah tuntas jatuh dan burung-burung bergegas terbang mencari makan. Air sungai yang mengalir di samping jalan terdengar riuh, gemericiknya menjelma simfoni yang mengiringi perjalanan kita. Kau masih tetap bercerita. Kurasai tiap kalimat yang keluar dari mulutmu selaksa mantra yang menumbuhkan bunga-bunga harum di hatiku. Apakah bunga-bunga harum juga bertumbuhan di hatimu?

Waktu berlalu begitu cepat seperti lesatan anak panah. Peristiwa itu telah lewat bertahun-tahun lalu tapi bayangmu masih bersemayan di benakku, seakan-akan baru terjadi kemarin. Memori itu masih menetap, tak mau lenyap walau hanya sekejap. Tapi Sang Khalik telah memutuskan takdirnya. Ia menyeret kita ke dua sudut bumi yang berbeda. Kau di Amsterdam dan aku di Semarang. Jarak telah memisahkan kita namun aku masih merasa dekat denganmu. Suaramu masih bisa kudengar, aroma tubuhmu masih bisa kucium. Entah mengapa tiap kali aku menatap awan yang menggantung di langit aku selalu ingat padamu, dan desau angin yang berembus juga selalu membisikkan namamu. Mungkinkah aku sudah gila?

Kau pernah berkata bahwa hidup di Amsterdam tidak semenyenangkan di Jogja, terlebih setelah pandemi covid-19 melanda.

“Hidup di sini susah, apalagi pas pandemi gini. Ke mana pun tidak boleh.”

“Sabar,” kataku, “yakinlah semua akan segera berlalu. Bukankah negara-negara di dunia tengah berupaya keras membasmi virus ini?”

“Iya, aku paham. Tapi aku kesal, pekerjaanku juga menumpuk. Aku tidak bisa pulang ke Indonesia. Aku tak bisa menatap Merapi.”

Rupanya pandemi dan pekerjaan telah meringkusmu. Mungkin juga aku. Kita tak lagi memiliki waktu. Tak ada pesan atau panggilan, pertemuan apalagi. Waktu kita telah dilumat oleh pekerjaan dan gerak kita dibatasi oleh pandemi. Benar juga katamu, hidup makin sulit semenjak pandemi covid-19 melanda. Dunia seperti mati suri.

Pandemi melenyapkan keramaian pasar, keriuhan kota, dan kedamaian desa. Meninggalkan keheningan dan berita duka yang tak pernah berhenti menggema. Kalimat ‘Innalillahi wainnailaihi rojiun” menggema setiap hari. Kita juga makin jarang berkomunikasi. Tak ada lagi pesan darimu. Kucoba mengirimimu pesan, tak sampai. Kucoba menelpon, tak terhubung. Seketika semuanya hilang seperti ditelan bumi. Apakah kau sudah melupakanku, juwitaku? Di manakah dirimu? Apakah di Amsterdam tak ada jaringan internet?

Aku mulai frustasi. Hari-hari tanpa kabarmu adalah hari-hari paling menyedihkan dalam hidup. Kosong nirmakna. Kini pada diriku hanya tersisa kecemasan dan serpihan kenangan tentangmu yang kuharap hilang diterbangkan angin atau hanyut dibawa ombak. Kenangan yang ingin kulenyapkan karena aku tahu takkan terulang lagi. Kadang aku berpikir; mengapa virus tak bisa membunuh kenangan? Andai bisa akan kuserahkan segala memori tentangmu pada makhluk mikro itu. Katakanlah jika aku benar-benar sudah gila.

Jam dinding menunjukkan pukul 19:03. Malam telah turun sepenuhnya. Bintang-bintang bergemerlapan menghiasi angkasa, mengabarkan pada makhluk bumi bahwa malam ini tidak akan turun hujan. Binatang-binatang nokturnal mulai beraktivitas, para pekerja malam mulai bertugas. Di kamar ini aku merenung, meratapi bayangmu yang tak pernah mau hilang.

Tahun 2020 telah di penghujung. Tahun 2021 telah di depan mata. Tak terasa pandemi sudah menyandera hidup kita selama setahun. Kenangan tentangmu tak juga hilang. Telah kucoba berbagai cara untuk melupakanmu. Tak bisa. Gagal. Aku menyerah, benar-benar menyerah. Kini aku mengaku: aku sangat merindukanmu.

Suatu siang gawaiku tiba-tiba bergetar. Ada pesan darimu!

“Halo Andre. Apa kabar?”

Kujawab, “Alhamdulillah baik. Kamu apa kabar? Semoga juga dalam keadaan baik.”

“Alhamdulillah baik juga. Sudah setahun lebih ya kita tidak ketemu,”

“oh ya?” jawabku pura-pura tak paham. Ingin kutulis “aku rindu kamu, kapan kamu pulang?” Tapi tak bisa. Kurasai ada sesuatu menyandera jari-jariku. Tanganku kaku. Aku tak mampu. Tapi aku bersyukur kau telah kembali.

Pandemi hampir selesai. Dunia telah melakukan segala daya upaya untuk mencegah penyebaran virus. Umat manusia tengah bersiap-siap merayakan kemenangan.

Kemenanganku juga hampir tiba, kemenangan atas rindu yang membelenggu. Aku merindukanmu. Oh bukan, aku tidak sekadar merindukanmu, tapi sangat merindukanmu. Betapa bahagianya aku, sebentar lagi rindu ini akan terbayar lunas. Tuntas.  Kemenangan umat manusia sudah di depan mata. Kehidupan akan kembali berjalan normal dan kita akan segera bertemu! Ah, pikiranku sudah membayangkan hari-hari indah yang akan kita lalui. Langit yang cerah, gemericik air yang meneduhkan, dan suara burung-burung yang merdu. Kau bercerita dan aku mendengar sambil menatap wajahmu. Oh, betapa indah.

“Pekan depan aku ke Kaliadem,” kalimat itu akhirnya terucap darimu melalui pesan suara. Akankah kau mengajakku lagi?

“Aku akan ke Kaliadem,” katamu lagi.

“Kamu pulang?” tanyaku.

“Iya.”

“Pulang kapan? Kok tidak kabar-kabar?”

“Pulang dua bulan lalu. Maaf, banyak yang harus kuurus di sini. Hehe.”

“Oalah, oke. By The way mau apa kamu ke Kaliadem?” tanyaku. Tak dibalas.

“Hei, mau apa?” kulayangkan pesan lagi.

“Aku mau foto pre-wedding. Aku akan menikah tiga bulan lagi. Kamu harus datang lho ya. Awas kalau tidak datang.”

Semarang, 12 Oktober 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.