Dari An-Nawawiyyah ke Misykat Al-Anwar

Spread the love

Oleh Gunawan Budi Susanto

Kamis, 17 Oktober 2019, saya, istri saya, dan beberapa kawan muda dari Kooperasi Moeda Kerdja bersepeda motor menuju ke Rembang. Perjalanan bermula dari Semarang menuju ke Godong, Kabupaten Grobogan, berbelok ke utara, memasuki wilayah Kabupaten Kudus, lalu menyusur ke timur di sepanjang kaki Pegunungan Kendeng Utara di kawasan Kabupaten Pati: Sukolilo, Kayen, Tambakromo, Gabus, Winong, Jakenan, Juwana.

Kami menyaksikan betapa gundul Pegunungan Kendeng Utara. Dan, di beberapa titik: lereng pegunungan itu diledakkan, untuk diambil bebatuannya. Bikin miris!

Capek dan sedih, kami mampir di rumah Azis Wisanggeni, guru penggerak pelestarian alam di kawasan Kayen. Di rumah itu pula kami bertemu Kang Herno Joyo, eksponen perlawanan terhadap pendirian pabrik semen di Pati. Banyak perkara kami obrolkan, banyak hal kami tertawakan.

Lalu, perjalanan berlanjut. Sore hari kami memasuki dan melewati Rembang, menuju ke Desa Dasun, Lasem: bertamu ke rumah Exsan Ali Setyonugroho, sekretaris desa yang menjelang pemilihan kepala desa ini menjabat sebagai pelaksana tugas kepala desa. Dari Exsan, kami memperoleh perspektif menarik soal “pembangunan desa” yang bermula dari gerakan literasi.

Malam hari, bakda isya, kami meluncur ke Rembang: agar esok hari, Jumat, 18 Oktober 2019, bisa secara segar bertemu dan belajar bersama para siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) An-Nawawiyyah pada pelatihan menulis.

Alhamdulillah, belajar bersama para siswa SMP An-Nawawiyyah plus perwakilan beberapa sekolah dasar di Rembang berlangsung secara menyenangkan selama seharian. Itu, misalnya, tercermin dalam tulisan bersama peserta pelatihan. Mula-mula saya “memancing” dengan dua paragraf awal, lalu beberapa peserta – siswa SMP, SD, dan seorang guru SD – melanjutkan tulisan itu, sampai rampung. Tulisan itu kemudian saya sunting. Teks saat saya sunting terpampang di layar, sehingga semua peserta dan pendamping siswa bisa memperhatikan.

Inilah tulisan bersama itu.

***

Hari ini, aku bangun lebih pagi. Aku segera mandi dan bersiap berangkat ke joglo rumah dinas Wakil Bupati Rembang untuk mengikuti pelatihan menulis. Aku penasaran, apa yang nanti akan kupelajari? Apa yang nanti akan kulakukan? Apa yang nanti kuperoleh selama pelatihan?

Aku belum tahu. Namun aku juga merasa deg-degan. Jangan-jangan nanti aku kesulitan. Biasanya ketika harus menulis, aku kesulitan memulai. Setelah memulai, aku kesulitan melanjutkan. Lalu, akhirnya aku kesulitan mengakhiri tulisanku. Ah, bagaimana sih cara menulis yang baik?

Awalnya aku mengira menulis cerita itu sangat sulit. Namun saat pelatihan menulis, aku dan temanku bertanya pada Bapak Gunawan Budi Susanto bagaimana cara mengawali, melanjutkan, dan mengakhiri sebuah cerita. Setelah mendengarkan penjelasan dari jawaban beliau, saya menjadi paham bahwa membuat cerita tidak sulit.

Kita bisa menulis tentang sesuatu yang kita dengar, lihat, dan kita bisa menceritakan sesuatu yang ada di dunia ini. Kita juga harus lebih percaya diri, tanpa merasa ragu membuat sebuah cerita. Dan, jangan sesekali kita meremehkan hal sekecil apa pun, karena hal kecil itu mungkin bisa bermanfaat bagi kehidupan kita.

Nah, kita sekarang ada di rumah dinas Wakil Bupati bersama dengan kawan-kawan dari sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Pembukaan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia, yaitu “Indonesia Raya “. Pada pertengahan acara Pak Gunawan Budi Susanto membacakan kisah mengenai laron yang ditulis Kiai Budi Harjono.

Dari beliau, kita bisa banyak belajar dan menggali pengetahuan: apa itu membaca dan menulis karena sesungguhnya manusia diciptakan hanya untuk belajar membaca dan menulis. Adapun matematika, sains, dan lain sebagainya hanya sebagai penghibur kala kita lelah dan suntuk membaca dan menulis. Dasar kita belajar menurut apa yang sudah kita dapat adalah membaca dan menulis.

Banyak orang mengatakan, menulis itu susah, membaca itu membosankan, dan masih banyak lagi. Kebanyakan di antara mereka takut melakukan sesuatu, termasuk menulis. Mereka takut melakukan kesalahan dalam pembelajaran. Namun, sebenarnya, belajar boleh salah. Tidak semua harus benar. Oleh karena itulah, kita harus berproses sejak awal dari tidak bisa menjadi bisa.

Jadi, sebenarnya, menulis itu ternyata tidak sulit. Itulah yang sudah kupelajari hari ini.

***

Melihat semangat dan membaca tulisan mereka, saya optimistis: dari Rembang, kelak, bakal muncul banyak penulis yang tidak hanya menulis untuk kesenangan diri sendiri. Namun para penulis yang menulis sebagai wujud syukur sekaligus kontribusi bagi kehidupan bersama – kehidupan bersama yang nyaman dan menyamankan siapa saja. Kehidupan tanpa hasrat membungkam sesama, kehidupan tanpa kehendak bikin kerusakan di muka bumi.

***

Jumat sore, 18 Oktober 2019, kami meluncur ke Blora: njujug ke kedai kopi Eko Arifianto, aktivis yang kritis melawan penghancuran alam. Malam beristirahat, lalu Sabtu setelah subuh, 19 Oktober 2019, kembali ke Semarang.

Perjalanan berlanjut. Minggu siang, 20 Oktober 2019, bersama beberapa anggota Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam, saya dan istri meluncur ke Bogor; naik kereta api, bersambung dengan kereta rel listrik, menuju ke Pesantren Ekologis Misykat Al-Anwar asuhan Roy Murtadho.

Alhamdulillah, kami bisa bertemu dan mengobrol dengan pendiri sekaligus pengampu pesantren itu serta bertemu dan mengobrol pula dengan Eko Cahyono, dosen dan peneliti di Institut Pertanian Bogor (IPB). “Kuliah banyak SKS telah kita peroleh hari ini,” ujar saya pada kawan-kawan muda seperjalanan; Bagas, Dayu, dan Ervan.

Ya, dari mereka, kami memperoleh banyak sekali informasi keilmuan, data dan fakta mengenai kecenderungan penghancuran alam, rezim ekstraksi, oligarki, dan segala isu yang membuat kehidupan berbangsa dan bernegara kita memanas.

Namun, alhamdulillah pula, Selasa, 22 Oktober 2019, saya berkesempatan belajar bersama para santri, tepat pada Hari Santri, di tepian Situ Gede di bawah kerindangan pepohonan di hutan penelitian sebuah lembaga tak jauh dari pesantren. Saya berbicara tentang keharusan menulis bagai kaum terpelajar; lewat menulis, kita bisa berkontribusi bagi kehidupan bersama.

Saya berkesempatan belajar secara menyenangkan, duduk setara, bersama para santri muda yang membuhulkan harapan: mereka bakal tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang mandiri, kritis, dan bersedia melibatkan diri dalam pergerakan perubahan yang menciptakan kemakmuran dalam keadilan dan menegakkan keadilan dalam kemakmuran.

Dalam perjalanan pulang, kembali ke Semarang, kemarin, wajah dan kegembiraan mereka, para santri itu – Faiq, Falah, Reihan, Achmad, Fatar, Umar, Restu, Kinan – berkelebatan dalam ruang ingatan saya. Saya bertemu dengan anak-anak yang membuat optimisme saya terjaga: Indonesia masih tetap ada sampai kapan pun, lantaran ada mereka, yang kelak bakal bisa mengelola kehidupan bersama ini secara lebih baik, bersendi pada pemahaman: hidup mesti saling meringankan, tanpa kehendak saling menistakan, apalagi saling meniadakan.

Sungguh, wajah penuh senyum dan semangat anak-anak dari An-Nawawiyyah dan Misykat Al-Anwar membuat hati saya terlipur dari kenyataan bahwa kabinet Joko Widodo adalah kabinet yang tetap berumpu pada dan sekaligus merupakan wajah rezim ekstraksi di negeri ini. Rezim yang menutup peluang bagi kemakmuran bersama dalam keadilan. Rezim yang mengerkah kesempatan warga sipil untuk menegakkan keadilan dalam kemakmuran. Wajah, senyum, semangat, dan daya hidup anak-anak An-Nawawiyyah dan Misykat Al-Anwar adalah wajah masa depan negeri ini: yang berkemampuan memanusiakan manusia.

Patemon, 23 Oktober 2019: 17.07

Gambar Ilustrasi: MusliModerat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.