Dari Berjualan Sepatu Hingga Angkringan

Spread the love

Malam telah larut pada hari kedelapan puasa bulan Ramadan tahun ini, Senin (13/5). Saya merasa lapar. Jam tangan saya menunjukkan pukul 01.45 WIB. Dengan mengendarai motor saya menyibak keheningan malam untuk mencari penjual makanan yang sudah buka di sekitar kampus Unnes.

Setelah menyusuri jalanan yang lengang dari Patemon hingga Sekaran, saya menjumpai angkringan dengan gerobak berwarna hijau yang masih buka. Di atas gerobak tersebut terpampang tulisan “Angkringan Artis”. Segera saya membelokkan motor ke angkringan yang berlokasi di jalan taman siswa, Sekaran, Gunungpati, Semarang.

Setelah memarkirkan motor, tampak oleh saya seorang pria paruh baya membawa talam dari dapur ke arah gerobak. Berbagai macam kudapan berjajar di atas gerobak, antara lain: tempe goreng, bakwan sayur, sate bakso, sate keong, sate usus, sate kulit, sate telur puyuh, sate jamur, sosis, tempura, kerupuk, dan pisang. Berjajar pula berbagai macam minuman saset.

Saat saya menanyakan nasi kucing, Muflihin, penjual angkringan tersebut, menjawab bahwa selama bulan Ramadan dia hanya menyediakan nasi kucing saat berbuka puasa. “Kalau sahur, biasanya saya menyediakan nasi rames,” jawabnya. Akhirnya saya memesan jeruk hangat dan mengambil satu tusuk sate kulit sebagai camilan, sembari menunggu waktu sahur tiba.

Beralih Dagangan

Muflihin menceritakan bahwa pada mulanya dia berjualan sepatu keliling di Purwokerto. Seiring berjalannya waktu, pria kelahiran Brebes 46 tahun silam itu ingin mengganti usaha dan menetap. Lalu dengan modal yang tak terlalu banyak dia meminta tolong kepada keponakannya yang pada saat itu kuliah di Semarang untuk mencarikan tempat untuk berjualan di Semarang.

Sebelum membuka angkringan Muflihin melakukan survei terlebih dahulu di beberapa angkringan yang ada di Semarang. Dari survei tersebut, pemilihan sajian yang akan dia masukkan dalam menu, penentuan harga, hingga pemilihan nama angkringan menjadi pertimbangannya sebelum membuka angkringan. “Artis” dipilih sebagai nama angkringan karena merupakan akronim dari Anak Rantau ti Salem (Anak Rantau dari Salem), nama kampung halamannya.

“Setelah melalui banyak pertimbangan, sekitar bulan Juni 2011 saya mulai berjualan. Awalnya berlokasi di pertigaan antara jalan Kolonel HR Hadijanto dengan jalan Taman Siswa. Setelah lima tahun, baru pindah ke sini,” ujarnya.

Angkringan Artis memang terkenal dengan angkringan yang menyediakan berbagai jenis kudapan, juga akan harganya yang terjangkau di kalangan mahasiswa. Sekarang sudah hampir delapan tahun Muflihin berjualan angkringan. Dia juga menceritakan bahwa pada saat liburan semester, dia memanfaatkan waktu tersebut untuk berjualan sepatu keliling.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.