De Oost; Film Sejarah yang Berusaha Adil

Spread the love

Bagi saya film adalah salah satu media penyampai sejarah yang cukup efektif. Maka, tak ayal jika banyak film bertemakan sejarah yang lahir dari rahim industri perfilman. Tak ingat detailnya berapa, ada banyak film bertemakan sejarah yang sudah saya tonton. Namun, dari sekian banyak itu, De Oost adalah yang paling bagus.

De Oost disutradarai oleh Jim Taihuttu dan rilis pada tahun 2020. Ini adalah film yang berkisah perang Belanda-Indonesia pada tahun 1945 sampai 1949. Bagi Indonesia periode tersebut adalah masa mempertahankan kemerdekaan. Sedangkan Belanda menganggap masa itu sebagai masa memulihkan keamanan di Hindia.

Sebagai orang yang pernah kuliah di jurusan sejarah, saya paham betul bahwa historiografi Indonesia menggambarkan periode 1945-1949 secara heroik dan menggebu-gebu. Suatu periode yang penuh perjuangan, yang kadangkala dibumbui cerita mistis dan tidak logis. Saya ingat, guru PPKN tempat saya bersekolah dulu pernah mengatakan bahwa Indonesia bisa merdeka karena pejuang-pejuangnya menggunakan bambu runcing yang sudah diberi doa, yang konon membuatnya lebih hebat dari senapan-senapan tentara Belanda. Saya tidak anti pada doa, tapi ilmu sejarah mendasarkan diri pada hal-hal yang logis dan belum memberi tempat pada cerita-cerita mistis semacam itu. Bagi saya kemerdekaan Indonesia adalah kombinasi antara perang bersenjata dan diplomasi. Untuk yang ini anda bisa memperoleh banyak bukti.

Kembali ke De Oost. Film ini menceritakan seorang tentara Belanda bernama Johan De Vries (diperankan oleh Martjin Lakemeier) yang bergabung ke militer Belanda. Ia dikirim ke Hindia untuk menumpas gerombolan pemberontak dan mengembalikan keamanan. Ia ditugaskan di Semarang. Di kota itu, ia bertemu dengan Westerling, tokoh di balik Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Sosok pemimpin pasukan Korps Speciale Troepen yang membantai 5000 orang di Sulawesi Selatan pada 1946-1947. Yang menarik, film De Oost menyebut Westerling dengan nama “si Turki”. Westerling adalah anak dari pasangan dari Paul Westerling (Belanda) dan Sophia Moutzou (Yunani). Ia dijuluki “si Turki” karena lahir di Istanbul.

Bagi saya, film ini menggambarkan beberapa hal, salah satunya adalah watak kolonial. Dalam film De Oost, orang-orang Belanda menyebut “monyet” ketika menunjuk orang-orang Indonesia. “Monyet” dalam hal ini bukan sekadar kosakata flora atau umpatan, tetapi lebih dari itu adalah ungkapan yang mencerminkan watak kolonialisme Belanda. Kolonialisme memandang  manusia di luar Eropa sebagai makhluk yang belum beradab, maka dari itu perlu diajari untuk menjadi beradab. Bagi orang-orang Belanda, kedatangan mereka di Indonesia adalah sebuah misi suci, memperadabkan pribumi. Penduduk Indonesia dianggap bar-bar, primitif dan tidak bermoral. Oleh karena itu perlu diperadabkan melalui penjajahan. Dengan dasar itu maka kedudukan Belanda di Indonesia adalah suatu keniscayaan dan harus dipertahankan. Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah peristiwa yang mengejutkan para politisi dan pimpinan militer Belanda. Mereka tidak yakin orang-orang Indonesia bisa membangun negara sendiri. Mereka meragukan, bahkan merendahkan kemampuan berpikir orang-orang Indonesia. Dalam suatu adegan film, seorang tentara berkata “mereka, monyet-monyet itu bermimpi membuat negara.”

                Hal lain yang tidak kalah penting dari film ini adalah upayanya untuk bersikap adil. Sang pemeran utama, Johan De Vries, digambarkan bimbang ketika diberi tugas mengeksekusi seorang pejuang Indonesia, padahal pejuang itu adalah orang yang telah membunuh temannya. Ia ragu apakah membunuh adalah tindakan benar. Dari adegan itu saya bisa merasakan konflik batin si tokoh. Ia bimbang harus menjunjung kemanusiaan atau membalas dendam. Hasutan “si Turki” membuatnya memilih yang kedua; ia membalas dendam dengan cara membunuh.

            Tindakan De Vries menambah kepercayaan Westerling. Pada tahun 1946 “si Turki” memimpin operasi pembersihan di Sulawesi Selatan. Ia membawa serta Johan de Vries. Di pulau itu pasukan Westerling menangkap ribuan orang. Anak-anak, laki-laki, dan perempuan, semua dikumpulkan di suatu lapangan terbuka. Di sana ia menembaki para penduduk itu dengan dalih terlibat dalam aksi pemberontakan melawan pemerintah kolonial Hindia Belanda. De Vries yang melihat itu menjadi semakin bimbang. Ia mengatakan “aku datang ke sini bukan untuk hal semacam ini”. Sikap itu tentu membuat marah Westerling. Ia lalu mengeluarkan De Vires dari pasukan dan memberinya waktu 15 menit untuk kabur dari pulau tersebut.

Kebimbangan De Vries mengingatkan saya pada buku Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950 karya Gert Oostindie. Buku itu menjelaskan sisi lain perang Belanda-Indonesia tahun 1945 sampai 1949. Banyak tentara Belanda yang mengalami gejolak batin saat menjalankan misi di Indonesia. Kebanyakan dari mereka adalah pemuda yang belum genap 30 tahun. Mereka direkrut oleh pemerintah dan diiming-imingi fasilitas menjanjikan ketika sudah selesai melaksanakan misi. Tetapi kenyataan berkata lain, tidak semua tentara-tentara yang dikirim ke Hindia itu mendapat kehidupan baik setibanya di Belanda. Justru mereka dicemooh karena dianggap gagal dan kalah. Hal itu membuktikan bahwa sejatinya perang adalah ambisi para elite semata. Rakyat, baik yang menjadi tentara maupun yang tidak, adalah korban dari ambisi tersebut. Kalah jadi abu, menang jadi arang, itulah perang.

Saya mulai membiasakan diri memandang sejarah secara kritis. Sejarah bukan ilmu yang absolut, yang kebenarannya tak terbantah. Sejarah adalah tafsir terhadap suatu peristiwa. Peristiwa yang telah terjadi tidak akan berubah tapi tafsirnya bisa bermacam-macam dan sangat mungkin untuk berubah. Dalam konteks perang Belanda-Indonesia, kita harus mulai mengakui bahwa tidak semua tindakan orang-orang Indonesia adalah benar dan tidak semua tindakan tentara Belanda adalah salah. Kita harus membuka mata bahwa ada juga orang-orang yang memanfaatkan kekacauan untuk merampok dan merampas. Kita harus mulai belajar untuk bersikap adil sejak dalam dalam pikiran.

Berkaitan dengan sikap adil, agaknya narasi sejarah yang dibuat Belanda sudah selangkah lebih maju (setidaknya untuk periode 194501949). Melalui film De Oost mereka seakan ingin berkata “ada sesuatu yang keliru, sesuatu yang harus kita diluruskan”. Melalui film De Oost, mereka berusaha memandang perang Belanda-Indonesia dari sisi berbeda, perspektif yang mungkin tidak populer di sana.

Film adalah media penyampai sejarah yang efektif. Ya, saya mengakui itu. Melalui film saya kita bisa melihat visualisasi atau rekaan peristiwa masa lalu. Film sejarah yang bagus, menurut saya, adalah film yang berusaha menggambarkan suatu peristiwa secara seimbang. De Oost adalah film sejarah yang berusaha adil dan saya terkesan. (sae)

                                                                                                        Semarang, 17 Agustus 2021 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.