Dihubungi Putri Bung Hatta

Spread the love

Oleh Saiful Anwar

Aku sedang rebahan di kamar kos. Bukan sedang bermalas-malas ria, aku sedang mengistirahatkan punggung setelah beberapa jam sebelumnya fokus menyelesaikan tugas mengisi nilai raport siswa-siswaku. Ya, sebagai guru aku wajib melaksanakan tugas itu, itu tugas dari sekolah.

Tiba-tiba gawaiku bergetar, aku kaget. Ada sebuah pesan di aplikasi whatsapp  dari nomor yang tidak kukenal. Siapa yang menghubungiku pagi-pagi begini? Aku heran. Nomor yang tidak kukenal itu mengirim gambar buku-buku Mohammad Hatta terbitan LP3ES. Oh ini pasti peserta diskusi online kemarin, pikirku. Ya, kemarin sore aku didapuk menjadi pemateri diskusi online bertajuk anak muda dan kooperasi. Karena aku sedang sibuk, kujawab pesan itu dengan jawaban seperlunya.

Kemudian nomor itu mengirim pesan lagi “saya Gemala Hatta. Senang mendengar anda berbicara tentang ayah saya kemarin di diskusi dengan Sena”. Benar kah orang yang menghubungiku ini adalah anak Mohammad Hatta? Karena diselimuti rasa penasaran aku pun membuka mbah Google dan mengetik “Gemala Hatta”. Seketika aku terperanjak. Alamak ternyata benar dia putri Mohammad Hatta, putri kedua sang proklamator kemerdekaan Indonesia. Aku dihubungi putri Bung Hatta! Mataku langsung terbuka lebar. Apa yang hendak ia tanyakan padaku? 

Ternyata Bu Gemala mengomentariku dan materi yang kusampaikan kemarin!

Ya Rosul! Ya Malaikat! Kukira diskusi online yang digagas oleh Gapatma dan dipandu oleh Sena-kawanku- kemarin hanya diikuti oleh beberapa orang saja. Dugaanku salah. Diskusi online kemarin, rupanya, diikuti oleh banyak orang dan tidak sedikit diantarnya adalah orang-orang hebat. Ada dosen dari Padang, aktivis kooperasi dari Malang, ada penulis dari Jakarta, dan ada Ibu putri Bapak Kooperasi Indonesia. Adakah aku salah ucap kemarin? Semoga tidak. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa tak ada yang keliru dalam diskusi kemarin.

Pesan dari Bu Gemala segera kujawab. Terjadilah diskusi di antara kami. Secara garis besar Bu Gemala mengapresiasi diskusi online kemarin. Ia senang ada anak muda yang mendiskusikan pemikiran ayahnya. Mohammad Hatta adalah tokoh penting dalam sejarah Indonesia, ia adalah wakil presiden pertama Republik Indonesia sekaligus Bapak Kooperasi Indonesia. Namun pelajaran sejarah kita hanya mengenal Bung Hatta sebagai pahlawan proklamasi dan wakil presiden Republik Indonesia pertama. Kajian tentang pemikiran-pemikiran kooperasi Bung Hatta masih jarang dilakukan. Padahal itu penting.

Bu Gemala memberiku informasi buku-buku ayahnya yang harus kubaca. Aku tertarik dan kuucapkan terima kasih. Kami berdiskusi cukup panjang. Diantara diskusi-diskusi itu yang paling menarik minatku adalah diskusi tentang nasib Mohammat Hatta semasa Demokrasi Terpimpin dan perdebatan konsep kooperasi yang terjadi antara Mohammad Hatta dan DN. Aidit. Seperti yang kau tahu, aku menyukai sejarah. Ya, aku sangat menyukai sejarah.

Kalau saya menilai, Saiful punya bacaan cukup luas. Bung Karno sayangnya amat terpikat dengan Aidit. Tentu saja gaya PKI bicara tentang kooperasi beda dengan konsep asli dari Scandinavia. Bung Hatta khusus mempelajari kooperasi Swedia! Saya tahun 1963 saat masih di kelas 6 SD juga diajak ayah ke Swedia dan kita ke kota-kota kecil naik kereta api untuk melihat bagaimana kooperasi. Saya ingat tokonya bagus-bagus”

“Bung  Hatta mengajar kooperasi di UGM, Unpad, dan Unhas. Tiba-tiba para rektor diminta mendikbud Priyo yang antek PKI (Partai Komunis Indonesia) itu untuk memanggil (memulangkan) Bung Hatta sebagai dosen ekonomi dan kooperasi. Walhasil ayah mengalah. Bung Karno kalah pamor dengan PKI. Tidak peduli dengan sikap PKI yang menggencet Hatta.”

Begitu isi pesan Bu Gemala yang dikirmkan ke Sena dan kemudian di forward-kan ke aku.

Memang dalam diskusi kemarin aku sempat menyingggung perbedaan konsep kooperasi Mohammad Hatta dan DN Aidit. Aku menyampaikan bahwa pernah ada masa ketika konsep kooperasi menjadi perdebatan sengit di Indonesia, itu terjadi pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965). Mohammad Hatta memaknai kooperasi sebagai wadah untuk semua orang, kaya atau miskin semua boleh jadi anggota. Sementara DN. Aidit mempunyai pandangan lain, bagi pemimpin Partai Komunis Indonesia kooperasi adalah alat perlawanan kaum proletar, tidak boleh ada kaum borjuis didalamnya. Berbeda kan?

 Nah pesan Bu Gemala di atas kujawab begini.

Saya suka mempelajari sejarah, dan memang saya lihat antara ayah Ibu dan Aidit sangat bersebrangan perihal kooperasi. Bung Karno di masa Demokrasi Terpimpin tentu ngikut aja sama Aidit. Nah di masa itu saya berpendapat bahwa pemikiran-pemikiran ayah Ibu mulai ‘disingkirkan’ perlahan-lahan. Naiknya Orde Baru (menurut saya) semakin meminggirkan pemikiran ayah ibu. Saya tertarik membahas ini, sebab saya melihat realitanya memang begitu di kehidupan kita sekarang”

Aku pun kemudian ditawari diskusi lanjutan bersama dengan Pak Suroto dan Prof. Sri Edi Swasono (siapa mereka, aku belum tahu, nanti akan kucari tahu). Dengan penuh antusias aku sanggupi tawaran Bu Gemala tersebut.

Menarik berdiskusi dengan putri Bapak Kooperasi Indonesia itu. Aku jadi ingat, sekitar satu tahun lalu aku dan teman-teman Kooperasi Moeda Kerdja mengadakan “Kelas Kooperasi”. Kelas itu kami adakan setiap hari Rabu. Di kelas itu kami mengkaji pemikiran Mohammad Hatta yang tertuang dalam buku Meninjau Masalah Kooperasi. Sebelum diskusi dimulai kami (secara bergantian) mengetik ulang buku itu kemudian hasilnya kami unggah ke website Kalamkopi agar bisa dibaca banyak orang. Dari kelas itu pemahaman tentang kooperasi versi Mohammad Hatta aku peroleh. Sangat menarik. Dalam mengikuti kelas itu aku tidak punya niat lain selain belajar, sungguh aku hanya ingin belajar. Aku tidak mengira pengetahuan yang kudapatkan dari kelas itu membawaku pada Bu Gemala.

Diskusi dengan Bu Gemala berakhir dengan sebuah kesepakatan: akan diadakan diskusi lagi tentang kooperasi. Bu Gemala akan menghubungkanku dengan pentolan-pentolan kajian kooperasi yang ia kenal. Aku sangat tertarik dan tidak sabar menunggu waktu itu tiba.

Aku berharap diskusiku dengan Bu Gemala pagi tadi bisa menjadi pintu gerbang untuk diskusi-diskusi yang lebih luas dan intens. Lebih dari itu aku berharap kita, bangsa Indonesia, mulai intens mempelajari pemikiran tokoh-tokoh pendiri bangsa, tak terkecuali Mohammad Hatta. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya? Dan bukankah salah satu cara menghargai jasa pahlawan adalah memplejari pemikiran-pemikirannya?

                                                                                      Gunungpati, 8 Juni 2020

SA


-Ilustrasi: sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.