Dongeng Kursi Keramat

Spread the love

Kalam kopi
“Selamat menunaikan ibadah ngopi”

Dongeng Kursi Keramat!

Kampus pada saat ini sedikit terasa aneh, banyak tercium aroma-aroma mistik. Bahkan kampus sekarang sepi bak kuburan yang terdapat banyak benda-benda menyeramkan dan sangat keramat, seperti bangku-bangku keramat yang berada dikelas-kelas kampus, bahkan saking keramatnya banyak mahasiswa yang enggan mendudukinya, entah itu takut ataupun malas. Penghuninya pun tak kalah menyeramkan, apalagi para penggedenya yang mempunyai ancaman-ancaman yang lebih mempan membuat kita tidak bisa tidur dari pada kita melihat hantu yang sesungguhnya. Tapi terkadang kampus juga ramai seperti ketika dikuburan ada yang meninggal atau para peziarah dari luar yang datang, tapi hanya sesaat ketika ada agenda-agenda tersebut yang melibatkan orang banyak. Akan tetapi jangan dianggap ini benar-benar terjadi dikampus,

karena ini hanya analogi kami untuk menggambarkan bagaimana keadaan kampus pada saat ini, atau lebih cenderung seperti pendapat pribadi kami.

Analogi ini dimulai dari situasi kampus yang sepi seperti kuburan. Hal ini menggambarkan kelas-kelas kampus tak lagi ramai dengan diskusi-diskusi yang kaya akan ilmu. Dikelas hanya ada suara dosen dan terkadang ada suara satu, atau dua mahasiswa yang bertanya, atau hanya sekedar basa-basi, agar suasana tak benar-benar sunyi. Disini seakan-akan keberanian mahasiswa lenyap disembunyikan dalam-dalam pada diri kita sendiri. Kita cenderung duduk manis mendengarkan dosen ceramah, terkadang kita malah cenderung aman dalam zona nyaman, entah rasa itu muncul dari rasa malas atau kah memang kekalahan kita dalam memerangi ketakutan diri kita sendiri, ketakutan dalam berbicara di hadapan umum, ketakutan akan pendapat kita didengarkan orang lain atau ketakutan-ketakutan yang lain.

Kemudian analogi yang kedua yaitu terdapat banyak benda-benda keramat dalam kelas dikampus, bangku-bangku yang berbaris paling depan, paling dekat dengan meja dosen. Kenapa bangku ini dibilang keramat, karena banyak mahasiswa yang jarang mendudukinya, entah karena takut bangku, posisi ataupun posisinya. Hal ini dikarenakan kita bermain aman dan enggan keluar dari zona aman, padahal menurut teori evolusi bahwa manusia akan cepat-cepat berevolusi karena mereka dalam keadaan berbahaya. Dan sekali lagi keberanian kita telah terpenjara dalam hati kita sendiri, tenggelam dalam ketakutan-ketakutan yang didekte orang lain dan dipaksa memeliharanya sehingga diri kita sendiri tidak bisa memelihara ketakutan diri sendiri menjadi sebuah keberanian.

Pada analogi terakhir yaitu penghuni yang jadi penggedenya mempunyai banyak ancaman yang membuat kita susah untuk tidur, sebut saja penggede itu sebuah sistem. Sistem saat ini seperti agama saja, ada ancaman dan penghargaan. Jika di agama sering dikenal dengan pahala dan dosa yang diganjar dengan neraka dan surga. Tapi dalam agama pun sistem ini baru permulaan, jika nanti pada maqom yang lebih tinggi seperti salah satu tokoh sufi perempuan Rabi’ah Al-A’dawiyah yang mencapai maqom Mahabbah pada Tuhan. Sehingga ia ingin menyiram neraka dan membakar surga supaya manusia beribadah bukan karena surga dan neraka melainkan karena Tuhan. Dan konsep ini berlaku pada kuliah, hingga nanti pada maqom selanjutnya yaitu mahabbah kepada ilmu, maka kita ingin menyiram ancaman dan membakar penghargaan, supaya kita kuliah tidak hanya mendapat itu, tapi karena murni ilmu, ilmu yang bermanfaat bagi diri kita tapi juga agama dan bangsa. Ilmu yang membuat kita sadar bahwa kita tidak tahu apa-apa bukan sebaliknya.

Pada akhirnya ketiga analogi tersebut hanya perlu sebuah awalan untuk bertindak yaitu memunculkan kembali keberanian kita yang telah kita pendam dalam-dalam. Karena sebuah kata-kata berkata “Pada awalnya kita memerlukan keberanian, pada langkah berikutnya kita memerlukan ilmu, pada langkah berikutnya kita butuh kedua-duanya, pada langkah selanjutnya kita butuh memerlukan banyak hal”.

Hari ini adalah hari dimana pemuda pendahulu kita yang berasal dari seluruh penjuru bangsa ini dengan beraninya mereka mendeklerasikan sumpah pemuda. Berani bersumpah bertumpah darah satu, tanah air Indonesia. Berani bersumpah berbangsa satu, Bangsa Indonesia. Berani menyatakan menjujung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Sudah sepantasnya kita mengkiblat pada beliau-beliau, bahkan musuh mereka lebih nyata yaitu para penjajah yang lebih kejam dari pada setan, tempat mereka lebih seram dari kuburan yaitu penjara penderitaan. Tulisan ini bukan bermaksud menggurui tapi mengajak bangkit bersama-sama, bangkitkan keberanian dalam jiwa dan raga, bahkan jika boleh malah kami mohon di doakan agar segera memenangkan pergulatan dalam melawan diri kita sendiri. Dan sekali lagi jangan ditafsirkan ini sebagai ajakan berontak, justru tulisan ini mengajak untuk menguras habis ilmu-ilmu yang ada pada kuliah lewat buku-bukunya dan dosen-dosennya.

Akhirnya pemuda pemberani bukan hanya dongeng tapi bangku keramat yang jadi dongeng, selanjutnya kami mohon maaf jika ada kesalahan dalam tulisan ini, jika ada kesalahan, alangkah bijaknya jika kami dibenarkan, dan ini salah satu keuntungan menulis dapat membenarkan sesuatu yang salah yang terlanjur kita pegang sebagai pedoman. Wallohu a’lam bisshoab.

Semarang, 28 oktober 2015
Asep syaeful Bachri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.