Empu Posisikan Penenun sebagai Maestro

Spread the love

Pameran Empu: Penenun tengah menunjukkan tenunan kepada pengunjung Pameran Empu, Sabtu (04/01/2019). (Nadia)

SEMARANG – Kumpulan pegiat dan pecinta tenun dari berbagai wilayah pamerkan ratusan kain dan serat dari pewarna alam. Pameran bertajuk Empu itu mereka gelar di Collabox Creative Hub, Jalan Indraprasta 74, Semarang. Selain merayakan karya perempuan, pameran itu bertujuan memosisikan penenun sebagai ahli atau maestro.

Salah satu eksponen Empu, Kiki Chandrakirana mengatakan negeri ini krisis apresiasi dan kesadaran menghargai sebuah karya. Menurutnya, hal tersebut membuat para penenun selalu diposisikan rendah bahkan sebagai pekerja kasar. Sebagus dan seindah apapun karya mereka, nyaris selalu dipandang biasa.

“Padahal mereka ahli. Tidak semua orang bisa menenun. Apalagi menggunakan pewarna alam. Mestinya mereka mendapat posisi yang lebih dari sekadar sebutan tukang tenun,” katanya dalam diskusi bertajuk Pewarna Alam: Dari Akar sampai Pasar sebagai salah satu rangkaian acara Empu pada Sabtu (04/01/2019).

Kiki menuturkan, ada keselarasan antara akar pohon dengan akar kebudayaan. Penggunaan pewarna alam pada tenun dan serat, membuat pohon-pohon yang digunakan sebagai pewarna memiliki nilai jual.

“Petani-petani sekitar akhirnya banyak yang menanam pohon-pohon itu. Hal ini tentu turut mempengaruhi dinamika kebudayaan masyarakat sekitarnya. Dengan demikian penenun kembali berperan di sana,” tuturnya.

Sementara itu, penggagas pameran, Leya Catlleya mengatakan Empu diambil dari kata ‘per-empu-an’. Menurutnya, yang dimaksud adalah perempuan sebagai empu kain dan serat dan peramu pewarna alam.

Empu ingin mengapresiasi karya-karya ahli tenun dari berbagai wilayah Nusantara. Di antaranya yang hadir adalah dari Sumba Timur, Kalimantan Barat, Tuban, Pringgasela Selatan, Lombok Timur, Jawa Tengah, Aceh, Badui, Semarang, Klaten, Yogyakarta, dan Prambanan,” ucapnya.

Ia menambahkan, Empu juga bertujuan membagi informasi dan pengetahuan serta memfasilitasi dialog-dialog sosial, ekonomi, dan budaya terkait kain tenun dan serat dari pewarna alam.

“Selain pameran, acara juga diisi talk show untuk membicarakan hal-hal itu,” ujarnya.

Leya melanjutkan, akan ada lelang kain yang sebagian besar hasilnya untuk mendukung penyintas banjir Jakarta dan mendukung penenun lansia yang makin miskin.

“Itu tujuan sosial dari acara ini. Jadi ada tujuan edukasi dan sosialnya juga,” pungkasnya.

Empu dibuka pada Sabtu (04/01/2020) dan akan ditutup pada Kamis (09/01/2020). (RMK-Nadia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.