Fenomena Islam Politik: Masalah Aktualisasi Nilai Keislaman dan Kaitannya dengan Zaman Kenabian

Spread the love

Oleh Eko Santoso

*Menjawab Tulisan Bagas Yusuf (Mendiskusikan Islam: Dari Tanggapan Menuju Tantangan)  dan Asep Syaeful (Soal Islam, Soal Tulisan: Beberapa Poin Tanggapan)  

 1/

Sebelum menulis huruf demi huruf, kata demi kata, dan kalimat yang bersambungan satu sama lain agar menjadi sebuah narasi utuh bak sungai yang tak terputus dari hilir hingga hulu, sebagai konsekuensi saya pribadi atas rangkaian kata yang menjadi judul—sebagaimana tercetak tebal di atas—maka saya patut kiranya untuk memberikan apresiasi lebih atas terlahirnya sebuah demokratisasi wacana atau dalam sebutan lain dengan meminjam istilah Hegel, “dialektika”, diantara kami kontributor website kalamkopi.wordpress.com. Respon dan tanggapan yang diberikan oleh saudara seperjuangan saya di Kalamkopi, Bagas dan Asep, atas sebuah esai yang saya buat dengan judul “Islam dan Relevansinya dalam Melawan Kapitalisme”, bagi saya pribadi adalah sebuah bukti bahwa beragam tulisan yang termuat dalam—dengan meminjam istilah yang sering digunakan oleh Bagas  “website gratisan Kalamkopi”—bukanlah semata-mata termuat demi sebuah eksistensi belaka, yang mengindahkan substansi dan esensi yang kami harapkan sebagaimana tujuan yang telah kami sepakati secara bersama diawal pembentukan komunitas ini, yakni; menjadi sebuah wadah bagi kami untuk mengkampanyekan budaya literasi di lingkungan kampus pada khususnya dan bersifat umum pada hakekatnya.

Kami (kalamkopi), bukan bermaksud menjadi sebuah menara gading ditengah-tengah arus mainstream media kampus yang mengalami keajegan, namun hanya memberikan sebatas ruang alternatif yang semoga dapat bermanfaat. Tentunya diawali dari diri sendiri dengan membaca, sebagai gerbang keilmuan yang tidak hanya terbatas pada buku, keadaan, tetapi juga kondisi kontekstual saat ini yang dapat kami lihat dan rasakan. Kemudian kami coba untuk memunculkan sebuah ide, gagasan, hingga tulisan yang termuat dalam lembar-lembar kerja dalam komputer kami, sebelum akhirnya dimuat dalam—sekali lagi meminjam istilah Bagas, “website gratisan”. Dialog dan diskusi juga menjadi bagian dalam budaya yang kami bentuk guna menjadi orang-orang yang tak angkuh terhadap sebuah ilmu dan pemikiran. Karena tentu menafikkan sebuah ilmu dan pemikiran lain adalah sifat bodoh manusia yang selalu merasa ingin benar, hingga menjadi Tuhan yang sempurna. Mengingat tulisan saya adalah sebuah gagasan biasa yang tak mampu untuk menjamah pada tataran teori, maka tentu saja secara terbuka dan senang hati saya memperbolehkan untuk diperdebatkan secara panjang lebar oleh siapapun yang bersedia.

2/

Baiklah, kiranya sudah tiba waktunya bagi saya untuk melontarkan argumen guna menangapi rekan-rekan (Bagas dan Asep) setelah beberapa hari aktivitas saya di rumah maupun di PMII, yang secara tidak langsung menunda jari-jari ini untuk kembali menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan. Keterbatasan akses saya terhadap media juga sedikit menjadi kendala sehingga saya baru bisa membaca tanggapan asep dan Bagas, setelah saya berada di Semarang.

Sejauh penangkapan saya, apa yang dilontarkan oleh Asep terhadap tulisan saya, sebenarnya lebih mengarah pada perbedaan persepsi dalam memahami suatu makna kata yang sebelumnya telah tercantum dalam tulisan saya sebelumnya. Setidaknya ada dua hal penting yang sedikit digugat atau juga dipertanyakan kembali oleh saudara asep terhadap saya. Pertama, dia mempertanyakan atau juga meminta klarifikasi saya terhadap suatu pernyataan saya dalam tulisan itu, yang kurang lebih redaksinya berbunyi semacam ini: Lantas mengapa sekarang pemaknaan Islam terhegemoni di dalam satu ajaran fundamentalis yang berkutak dan berdebat pada masalah tata aturan beribadah dan masalah fiqih yang justru kurang disentuh oleh nabi Muhammad kala itu dan disisi lain mengesampingkan masalah-masalah kehidupan sosio-ekonomi-politis dan krisis? yang pada intinya, dia tidak setuju bila aturan beribadah dan masalah fiqih kurang disentuh oleh Nabi Muhammad kala itu. Kedua, dia tidak sepakat dengan pernyataan saya dalam tulisan itu, sebagaimana yang akan saya tulis ulang disini. Kurang lebih, tulisan tersebut tertulis seperti ini: Diturunkannya ayat-ayat suci Al-Qur’an yang akhirnya menuntut beliau belajar membaca dan menulis sehingga turut menjadi pioner pencerdasan dan pembebasan masyarakat  Arab jahiliyah yang semula buta huruf. Oleh Asep, hal tersebut dirasa keliru. Dengan dasar ayat-ayat Al Qur’an, dia menguatkan bahwa Nabi Muhammad itu ummu, yakni tidak bisa membaca dan menulis, lantas bagaimana bisa kemudian saya kok menyatakan bahwa Nabi Muhammad belajar membaca dan menulis dan sekaligus menjadi pioner pencerdasan.

Perlu juga sebelum memberikan respon lebih lanjut, saya mengingatkan kepada teman-teman bahwa untuk memahami suatu kalimat, hendaknya perlu pula memahami konteks kalimat berikutnya atau sebelumnya. Bahkan sering kali kalimat di awal paragraf pertama, akan masih memiliki konteks dengan kalimat terakhir dalam paragraf terakhir. Mengapa demikian? Kita bisa memakai sebuah analogi sederhana untuk melihat hal ini. Semisal polisi mencari seorang pelaku pencurian dengan nama si A yang berambut keriting, hidung mancung, tinggi 170 cm, kulitnya putih, berat 50 kg, golongan darah B, dan memiliki mata sipit, maka polisi tersebut baru dikatakan berhasil bila telah menangkap orang dengan ciri-ciri yang lengkap sebagaimana diatas.  Katakanlah polisi tadi melihat orang bermata sipit, tidak akan langsung mungkin ditangkap, karena ada ciri lain yang harus dicek pula. Begitu pula ketika polisi tadi bertemu dengan orang bertinggi badan 170 cm, dia tidak bisa asal ditangkap sebelum ciri-ciri lain terpenuhi sebagaimana pelaku yang telah teridentifikasi. Disisi lain, setiap penulis akan selalu menempatkan dirinya pada satu posisi untuk mencoba menafsirkan gagasannya. Seperti yang kita ketahui bahwa; satu benda bisa kita interpretasikan ke dalam berbagai macam bentuk dan wujud, tergantung dari sudut mana kita melihatnya, memposisikannya, dan bagaimana kita memaknainya. Maka dari itu, untuk bisa memahami maksud dan tujuan penulis, kita sering kali juga harus melihat latar belakang si penulis pula.

Ketika saya menulis kalimat “Lantas mengapa sekarang pemaknaan Islam terhegemoni di dalam satu ajaran fundamentalis yang berkutak dan berdebat pada masalah tata aturan beribadah dan masalah fiqih yang justru kurang disentuh oleh nabi Muhammad kala itu dan disisi lain mengesampingkan masalah-masalah kehidupan sosio-ekonomi-politis dan krisis”, yang kemudian tidak disepakati oleh saudara Asep, perlu kemudian saya meluruskan bahwa konteks kalimat ini akan berkaitan dengan penjabaran pada paragraf di bawahnya. Jadi, ketika kemudian kalimat ini dianggap berdiri sendiri, apalagi dicongkel dengan mengambil potongan kalimat “masalah fiqih yang justru kurang disentuh oleh nabi Muhammad kala itu”, maka saya yakin akan banyak persepsi yang muncul dan dirasa salah kaprah. Namun bila kalimat ini dipahami secara utuh sebagai suatu kalimat dengan turut pula melihat pejabarannya dalam pargraf-paragraf berikutnya, saya pikir maksud dari kalimat ini jelas.

Sebenarnya kalimat ini bisa dimaknai sebagai sebuah rangkuman dari apa yang dijabarkan oleh Asghar Ali Enginer dalam melihat Islam dari zaman kenabian hingga sekarang. Dia merasa ada perbedaan cara pandang, berkehidupan, pola pikir, dan aktualisasi nilai-nilai keislaman, semenjak berakhirnya era kenabian dan Kulafaur Rasidin. Dan ini memang sejalan dengan perkataan bahwa: Generasi Islam terbaik adalah era nabi dan sahabat yang sudah dijamin surga oleh allah. Maka orang-orang Islam pada zaman sesudahnya, tidak lebih baik dari masa kenabian dan para sahabat. Sehingga tidak dipungkiri bahwa islam kemudian mengalami dinamika luar biasa dan kemunduran dalam beragama hingga meruncing pada sebuah perpecahan, perebutan kekuasaan, saling fitnah dan lain-lain. Tentunya dimulai dengan mangkatnya dua dinasti: Abbasiyah dan Ummayah. Disinilah kemudian ada perbedaan dan penyingkiran, yang terkait dalam aktualisasi nilai-nilai keislaman dalam berkehidupan, sebagaimana yang kita dapati sekarang ini bahwa; Islam kehilangan nilai-nilai dan gerakan-gerakan revolusionernya dalam menciptakan masyarakat yang berkeadilan dan sejahtera.

Sebelum lebih lanjut, perlu juga kiranya kita melihat kembali apa yang sebenarnya didakwahkan dan diajarkan Nabi Muhammad untuk umat Islam sebagai pedoman hidup. Pertama, fokus Nabi Muhammad ketika berdakwah selama 13 tahun di Mekah, beliau fokus pada masalah Tauhid. Hal ini dirasa menjadi dasar dalam beragama dan menjadi pondasi utama. Dimana dengan menempatkan Allah sebagai satu-satunya yang patut disembah, dan dia lah raja di alam semesta yang menguasai dan mengatur semua kehidupan. Kedua, ketika nabi di Madinah barulah kemudian nabi berdakwah selama 10 tahun dengan menyetuh hal-hal yang bersifat syariat dan muamalah. Nah bila kita rangkum, maka ada tiga hal utama yang begitu penting bagi umat Islam ketika menjalani kehidupan beragama, sebagaimana yang telah di dakwahkan oleh Rasul, yakni; Tauhid, Syariat, dan Muamalah. Lantas dimana posisi dari Fikih? Sebenarnya syariat dan fikih sama-sama berbicara tentang hukum agama yang menetapkan peraturan hidup manusia, hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia dan alam sekitar. Lantas adakah perbedaannya? Bila berbicara syariat, maka dia membahas tentang hukum agama yang menetapkan peraturan hidup manusia, hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia dan alam sekitar, yang mengacu dan bersumber dari apa yang hanya tertera dalam Al-Qur’an dan hadis. Sedangkan fikih, meskipun berbicara terkait hal yang katakanlah hampir sama dan tetap mengacu pada Al-Qur’an dan hadis sebagaimana syariat, tapi posisi fikih adalah sebagai sebuah ilmu untuk mempelajari syariat tadi. Artinya, dia telah melewati proses seperti tafsir atau pendapat dari para ulama terdahulu, khususnya adalah empat ulama fikih yang kita jadikan sebagai aliran (Imam Malik, Hanafi, Hambali, dan Syafi’i). Di lain pihak, fiqih seringkali juga dimaknai sebagai sebuah upaya untuk menggali hal-hal yang berhubungan dengan tata aturan kehidupan bermasyarakat, yang kurang atau belum dijabarkan secara mendetail oleh nabi. Maka perlu dibedakan antara syariat dan fiqih, itulah sebabnya kita mengenal ulama fikih dan bukan ulama syariat. Jadi secara sederhana syariat adalah hukum Islam sedangkan Fikih adalah ilmu tentang hukum Islam (Syariat). Kita tidak akan pernah mendengar pula bahwa Nabi Muhammad berdakwah tentang fikih, tapi beliau mengajarkan tentang syariat Islam. Jadi syariat bisa dibilang memiliki cakupan yang lebih luas, dan fikih secara sederhana bisa dimaknai menjadi bagian di dalamnya. Atas dasar inilah saya pikir Asep perlu membedakan makna keduanya.

Fenomena keislaman saat ini, yang dirasa kurang greget dalam menyikapi problematika umat; mengesampingkan masalah-masalah kehidupan sosio-ekonomi-politis; dan terkesan apatis terhadap tindakan eksploitasi, penindasan, ketidakadilan, pengisapan, dan pelanggaran HAM, memang bukan serta-merta muncul begitu saja. Kalau Bagas melihat hal semacam ini karena ada hubungannya dengan dampak atas maraknya dan menghegemoninya kapitalisme, dimana negara sering kali mengalienasi posisi Islam, dan disisi lain mengkonsolidasikan diri dengan tendensi kelas tertentu, yaitu; negara kapitalis, namun sebelum itu semua berlangsung, maka sejatinya fenomena keislaman semacam ini sudah muncul jauh berabad-abad sebelum munculnya kolonialisme dan imperialisme hingga kapitalisme sekalipun. Bila Bagas maupun Asep cermat dalam mengkaitkan masalah keberagamaan saat ini—seperti yang telah dijabarkan dalam tulisan “Relevansi Isam dalam melawan Kapitalisme”—ada suatu jawaban, sebagaimana kata Ali Asghar Enginer bahwa; meredupnya sinar cahaya keadilan yang seharusnya diperjuangkan umat Islam sebagai solusi atas maraknya tindakan eksploitasi, penindasan, ketidakadilan, pengisapan, dan pelanggaran HAM, mulai direduksi pada zaman Dinasti Umayyah.

Dari sinilah sebenarnya kita dapat menarik garis lurus hingga menemukan konsep jabariyah dan qodariyah yang lahir pada zaman Dinasti Umayyah. Kekuasaan Umayyah yang dimulai dari Amir Mu’awiyah selaku musuh khalifah Ali, sebagai pendirinya, mulai menyebarkan dogma pre-determinasi sebagai lawan kehendak bebas, dalam rangka mempertahankan status quo yang mereka ciptakan. Paham pre-determinasi atau dalam teolog Islam disebut jabr, memiliki konotasi bahwa individu dan masyarakat itu tidak mempunyai kebebasan untuk berkehendak, sehingga masyarakat dan umat tidak boleh menentang apapun yang dilakukan oleh para penguasa dinasti Umayyah. Maka ibarat anak yang ditirikan, mereka para golongan yang tidak diakomodir oleh pemerintahan serta memiliki paham yang berbeda dengan Dinasti Umayyah, melancarkan protes secara seporadis dan kemudian secara tidak langsung dapat kita maknai sebagai sebuah prakondisi menuju rusaknya tata cara berkehidupan umat Islam hingga munculnya perpecahan seperti; golongan Khawarij dan Syiah yang menentang dan melakukan pemberontakan terhadap Dinasti Ummayah karena merasa manusia memiliki kebebasan berkehendak dan wajib menentang penguasa yang tiran atau kemapanan yang menindas dengan memakai konsep dasar qodariyah.

Lantas bagaimana dengan posisi ulama? Beberapa ulama terkemuka dan terpandang pada masa Dinasti Ummayah dan Abbasiyah, hampir selalu ditarik ke dalam struktur kerajaan sebagai penasehat ataupun sebagai hakim. Disinilah mereka diadopsi, namun disisi lain ruang-ruang politiknya dijinakkan oleh dinasti kala itu, sehingga yang terjadi adalah Islam kehilangan asas demokratiknya. Sementara di sisi lain, sebagaian ulama diperintahkan untuk memfokuskan diri mengkaji hadits dan fiqih, dan secara tidak langsung melarang mereka untuk mengusik pemerintahan  dinasti yang ada. Di lain pihak, para ulama terutama empat ulama fikih (Imam Malik, Hanafi, Hambali, dan Syafi’i), yang dalam beberapa hal memiliki pandangan berbeda dan tidak sepaham dengan pemerintahan dinasti yang dijalankan oleh Umayyah maupun Abbasiyah; semisal tentang bai’at yang harus dilakukan penduduk Madinah hingga pada akhirnya ditentang Imam Malik; anggapan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, yang kemudian ditentang oleh Imam Hambali; dan fitnah yang dituduhkan terhadap Imam syafi’i karena dianggap akan memberontak bersama orang-orang Syiah; akibat dari penentangan dan perbedaan pandangan serta ketidaksepakatan para ulama terhadap corak pemerintahan kerajaan Dinasti Ummayah dan Abbasiyah, maka  para ulama fikih ini sempat mengalami penyiksaan secara fisik, dirantai dan bahkan dipenjara hingga menderita dan mati sebagaimana Imam Hanafi. Pada masa dua dinasti ini mereka cendrung mengarahkan umat untuk memfokuskan dirinya pada konsep Islam yang ritualistik, sehingga secara tidak langsung mereka para penguasa dinasti mengharamkan ulama dan umat untuk memberontak dengan alasan apapun, sekalipun para penguasa dinasti ini berbuat dzalim dan menindas serta justru menjadi penguasa yang tiran.

Kemudian apa hubungannya penjabaran panjang dalam tiga paragraf di atas dengan kalimat ini; Lantas mengapa sekarang pemaknaan Islam terhegemoni di dalam satu ajaran fundamentalis yang berkutak dan berdebat pada masalah tata aturan beribadah dan masalah fiqih yang justru kurang disentuh oleh nabi Muhammad kala itu dan disisi lain mengesampingkan masalah-masalah kehidupan sosio-ekonomi-politis dan krisis? Pertama, ini adalah suatu kalimat pertanyaan yang sekaligus memiliki makna komparatif, yang membandingkan fenomena kehidupan berislam masa sekarang—sebagai bentuk tangan panjang atas kegaduhan umat Islam dijaman-jaman setelah berakhirnya era kenabian dan kulafaur rasidin—dengan tata cara kehidupan berislam zaman rasul dan para sahabat. Berbagai perdebatan antar golongan Islam, yang kerap bersamaan dengan saling klaim kebenaran, seakan menjadi hal biasa dan lumrah. Dengan tidak disadari, hal ini kemudian menghabiskan waktu dan tenaga para umat Islam sehingga mereka yang sejatinya merupakan satu identitas, keyakinan, maupun ideologi, yakni; Islam, kurang mampu, tidak optimal dan bahkan salah kaprah dalam mengaktualisasikan nilai-nilai keislamannya dalam tataran kehidupan bermasyarakat. Maka tak ayal bila umat Islam hingga kini belum mampu menjamah dan memberikan kontribusinya secara konkret terhadap berbagai permasalahan sosio-ekonomi-politis. Yah, mereka bahkan seringkali justru terjebak dan termakan provokasi satu sama lain hingga memperdebatkan panjang-lebar untuk masalah yang tidak terlalu penting sekalipun. Apalagi adanya indikasi campur tangan para politisi, parpol dan bahkan kepentingan global, maka seakan perpecahan antara golongan sengaja dilestarikan agar menjadi subyek dan tangan-tangan panjang dari negara-negara kapitalis untuk melemahkan Islam dan membutnya semakin jauh dari Islam semula, yang kalau boleh meminjam istilah Asep akhir-akhir ini, “Islam Progresif Demokratik-Revolusioner”, seperti Islam semua berdiri. Nah, pada aras ini lah saya baru sependapat dengan Bagas bahwa; fenomena keislaman saat ini juga turut dipengaruhi oleh hegemoni kapitalisme. Lantas bagaimana dengan beberapa aksi dan solidaritas yang dinampakkan oleh beberapa kalangan umat Islam akhir-akhir ini? apakah ini wujud dari kebangkitan umat Islam?

Menyikapi fenomena semacam ini, mereka yang terlibat didalamnya sering kali menyatakan bahwa itu adalah suatu interpretasi dari pemaknaan Islam politik. Ini adalah upaya untuk kembali menegakkan supremasi Islam, yang selama ini hanya menjadi subordinat dari berbagai kebijakan yang diambil negara. Namun melihat berbagai kontradiksi yang mereka lakukan—ketidakkonsistenannya terutama dalam membela agama—yang tentu saja justru menafikan masalah umat yang lebih kompleks dan hanya berkutat pada persoalan penistaan agama. Setidaknya untuk menguji mereka, sebuah sindiran menarik perlu kita lontarkan. Karena memang kita tidak pernah melihat mereka secara progresif menyikapi problematika umat saat ini, yang lebih dekat dengan persoalan sehari-hari: Dimana jutaan umat Islam yang berkumpul di Jakarta dalam aksi damai berjilid-jilid, ketika para petani dirampas tanahnya dengan paksa? Dimana jutaan umat Islam yang berkumpul di Jakarta dalam aksi damai berjilid-jilid, dikala orang-orang Papua yang kita akui sebagai saudara sebangsa dan setanah air tak mendapat keadilan dan kesejahteraan? Dimana jutaan umat Islam yang berkumpul di Jakarta dalam aksi damai berjilid-jilid, kala buruh selalu diperas tenaganya dan dibayar seenaknya, dan bahkan dengan sistem kontrak yang ada, kesejahteraan, pekerjaan, dan kehidupan mereka tak menentu? Sekali lagi, dimana mereka kala perusahaan tambang ingin mengeruk pegunungan-pegungan yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai tiang bumi? Padahal Islam dengan jelas menjunjung keadilan, dan menolak berbagai macam tidakan penindasan dan eksploitasi. Kalau memang harus menggunakan dasar ayat dan dalil, bukankah permasalahan-permsalahan semacam ini juga meninstakan Al-Qur’an.  Memang tidak salah membela agama. Bahkan memang diharuskan. Namun kontradiktif sekali ketika aksi menggebu-gebu semacam itu, hanya berlaku untuk masalah penistaan agama, dan kemudian diam seribu bahasa, seakan tuli, dan apatis manakala menyentuh problematika terkait sosial-ekonomi-politis yang sedang kita alami saat ini. Apalagi momen semacam itu hanya berlaku untuk kepentingan pemilu, tentu betapa ironisnya mereka dalam mengaktualisasikan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Hal semacam inilah sebenarnya yang mendasari saya untuk menyatakan bahwa fenomena Islam saat ini bisa dibilang, “mengesampingkan masalah-masalah kehidupan sosio-ekonomi-politis dan krisis, dan disisi lain kita terlalu provokatif bila menyangkut masalah sentimen keagamaan”. Islam yang seharusnya mampu berperan sebagai peace-building and nation-building, justru mengobar bara dan gagal menegakan kebenaran dalam negara. Coba kita bandingkan dengan jaman kenabian, dimana Islam memberikan perhatian lebih menyangkut kahidupan sosio-ekonomi-politis sehingga bisa membangun masyarakat Madinah, yang mungkin saja bisa disebut sebagai satu-satunya masyarakat madani. Tentunya hal ini dibangun atas dasar tauhid yang kuat, sehingga tak ada raja, penguasa, dan dinasti dalam membangun masyarakat, karena memang semua manusia sama, tak boleh ada yang menindas satu sama lainnya dan hanya Tuhan yang satu yang boleh mengaku dirinya sebagai penguasa dan hanya kepadanya semua manusia akan tunduk. Dan barulah setelah kesadaran tauhid terbentuk, masalah sosio-ekonomi-politis teratasi, tata aturan bermasyarakat ditetapkan melalui syariat atas tuntunan nabi melalui Al-Qur’an dan Hadits. Tapi semenjak berakhirnya jaman kenabian dan sahabat hingga sekarang, dengan melihat penjabaran diatas terkait magkatnya dua dinasti yang seakan mereduksi makna keislaman yang sesungguhnya, hingga berkutak pada tataran ritualistik yang pada akhirnya terjadi perpecahan umat, yang kemudian dimanfaatkan oleh para pihak kapitalis global dalam mewujudkan kepentingannya, Islam dijadikan alat dan kemudian terus mengalami persetubuhan dengan ’negara kelas’,  hingga pada akhirnya berupaya mewujudkan suatu lapisan umat Islam yang beraspirasi pada pelayan ’negara  kelas’, baik sebagai aparatur, ataupun sebagai masa mengambang yang siap digerakkan kapan saja sesuai kebutuhan.  Maka sebagai dasar dan kambing hitamnya, guna dapat memprovokasi mereka, pemaknaan Islam seakan dipaksa untuk masuk dan terhegemoni di dalam satu ajaran fundamentalis dengan didukung oleh berbagai kelompok keislaman untuk  berkutat dan berdebat pada masalah tata aturan beribadah dan masalah fiqih, agar terjadi perpecahan umat. Jadi secara garis besar maka mundurnya Islam dengan segala daya dobraknya—yang kalau boleh meminjam istilah asep sekali lagi—yakni “Progresif-Demokratik-Revolusioner”, disebabkan karena faktor perpecahan dari segi internal yakni sejak zaman dinasti dan dari segi eksternal, dimana kekuatan kapitalisme global mengendalikan Islam (perpecahan di Timur Tengah, jaringan teroris dan radikal yang sengaja diciptakan, dan bahkan sampai memberikan intervensi dalam tataran kebijakan negara-negara Islam sehingga Amerika Serikat dengan mudahnya tetap bisa memenuhi kebutuhan energinya yang begitu besar, yakni hampir seperlima kebutuhan energi dunia dengan mengandalkan pasokan minyak dari negara Islam Timur Tengah, terutama Arab Saudi. Maka tidak heran bila hubungan diplomasi mereka begitu romantis. Maka tidak heran pula, bila kemudian umat Islam di tataran nasional dan global terkesan apatis dan mengesampingkan masalah-masalah kehidupan sosio-ekonomi-politis, dan disisi lain terlalu provokatif bila menyangkut masalah sentimen keagamaan.

Menanggapi tanggapan Asep yang kedua, terkait masalah Nabi Muhammad yang ummu, sebelumnya saya berterimakasih karena telah diberikan koreksi dan diberikan pencerahan. Selama ini dalam benak saya, Nabi Muhammad ummu sebelum mendapatkan statusnya sebagai Rasul. Namun melihat penjabaran Asep dengan kemampuannya dalam memahami kosakata Arab yang mendalam, maka saya kemudian baru menyadari pula bahwa memang Nabi Muhammad ummu sebelum maupun sesudah mendapatkan risalah kenabian dan mukjizat, berupa Al-Qur’an.  Kalimat yang saya buat dalam tulisan kemarin, yang kemudian mendapat koreksi dari Asep, memiliki redaksi semacam ini; Diturunkannya ayat-ayat suci Al-Qur’an yang akhirnya menuntut beliau belajar membaca dan menulis sehingga turut menjadi pioner pencerdasan dan pembebasan masyarakat  Arab jahiliyah yang semula buta huruf, memang secara implisit menimbulkan interpretasi bahwa Nabi lah yang belajar membaca dan menulis. Namun sebenarnya dalam benak saya tidak bermaksud untuk memberikan penjelasan bahwa nabi yang belajar membaca dan menulis. Memang perlu pula saya akui bahwa redaksi penulisan saya salah, karena tidak memberikan maksud dan penjelasan sebagaimana yang saya harapkan. Penempatan subyek dan obyek yang memang sedikit terbalik pada akhirnya merubah makna kalimat yang ingin  saya sampaikan. Jika seandainya redaksinya sedikit saya ubah menjadi seperti ini; Diturunkannya ayat-ayat suci Al-Qur’an kepada beliau, akhirnya menuntut masyarakat agar belajar membaca dan menulis sehingga turut menjadi pioner pencerdasan dan pembebasan masyarakat Arab jahiliyah yang semula buta huruf”, saya pikir tidak akan menimbulkan interpretasi yang keliru lagi.

Kalimat itu menjabarkan bahwa; diturunkannya ayat-ayat Al-Qur’an, secara tidak langsung mengharuskan para pengikut rasul, yakni para sahabat beserta golongan pertama pemeluk Islam untuk ikut mempelajari apa-apa yang disampaikan rasul. Berbagai ayat Al-Qur’an yang tidak secara bersamaan diturunkan, terpaksa untuk ditulis dalam berbagai lembaran agar bisa dipelajari dan dipahami oleh para pengikut rasul. Disisi lain, dengan didokumentasikannya tulisan yang memuat ayat-ayat Al-Qur’an tadi, maka bagi mereka umat rasul yang ingin memperdalam mempelajari Al-Qur’an hendaknya perlu untuk bisa membaca. Hal inilah yang kemudian membawa perubahan besar, dimana semula hanya beberapa orang Arab yang bisa membaca dan menulis, maka semenjak Al-Qur’an ditulis dan bisa dipelajari maupun dibaca oleh umat waktu itu, bisa kita maknai sebagai sebuah pioner pencerdasan dan pembebasan umat dari masyarakat jahiliyah. Sekalipun pada masa itu Al-Qur’an masih belum dibukukan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.