Filosofi Jawa yang Dilupakan

Spread the love

Kata- kata jawa yang khas dan diketahui banyak orang yakni, “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” bagi kita sudah tidak relevan lagi (khususnya bagi orang jawa). Dengan melihat realita yang ada pada saat ini, para pemimpin kita bukannya ing ngarso sung tulodo (pemimpin memberi suri tauladan) kepada rakyatnya melainkan ing ngarso ngumbar angkoro (pemimpin menebar keangkuhan), tidak peduli terhadap aspirasi rakyat. Seakan buta dan tuli untuk melihat dan mendengarkan keluh kesah rakyat. Ing ngarso (pemimpin) yang menganggap dirinya sebagai raja, yang kita tahu perspektif rakyat kepada raja masa indonesia klasik dianggap sebagai keturunan Dewa atau keturunan Tuhan, dengan memanfaatkan legitimasi tersebut Ojo Dumeh (jangan mentang-mentang) ing ngarso (menjadi pemimpin) lantas ngumbar angkoro (menebar keangkuhan), sehingga bersikap sewenang-wenang dan anti kritik.

Melihat dari kata Ing Madyo Mangun Karso yang mempunyai makna seorang pemimpin yang berada di tengah masyarakat mampu memberikan semangat, inovasi, untuk menciptakan masyarakat yang lebih kondusif untuk keamanan dan kenyamanan. Mengetahui makna dari kata jawa tersebut, seorang pemimpin harus mampu mendengarkan aspirasi rakyat dan melihat kondisi rakyat dengan tujuan terwujudnya masyarakat yang kondusif untuk keamanan dan kenyamanan. Bukan malah sebaliknya, Ojo Dumeh (jangan mentang-mentang) menjadi pemimpin yang Ing Madyo (berada di tengah masyarakat) memanfaatkan aji mumpung: nglumpuke arto, mengumbar hawa nafsu untuk memperkaya diri, keluarga, dan para kroninya.

Pemimpin yang diharapkan Tut Wuri (di belakang) Handayani (memberi dukungan), yang mempunyai makna, seorang pemimpin tidak hanya berada di depan untuk mendengar aspirasi rakyat, namun dibelakang pun pemimpin juga mampu memberi dukungan untuk kesejahteraan rakyat. Bukan malah memanfaatkannya, ojo dumeh (jangan mentang-mentang) tut wuri (dibelakang) justru bersikap melu nadahi (minta bagian dan jatah alias upeti).

Jadi dengan melihat sikap para pemimpin dan melihat realita peristiwa yang ada para pemimpin kita terlalu terlena dengan posisi dan jabatan sebagai pemimpin. Dengan terlenanya para pemimpin kita, maka penderitaan rakyat semakin panjang dan semakin parah. Para pemimpin kita kiranya tidak menerapkan filosofi Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.

Taufik Silvan W.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.