Fitnah, Kuasa, dan Perempuan

Spread the love

Oleh Taufik Silvan W.

Saya hanya mempunyai satu keinginan sebelum saya mati. Yaitu … bertemu keluarga almarhum jenderal-jenderal itu. Saya mau menceritakan kepada mereka, saya bukan pembunuh jenderal apalagi penyayat-nyayat penis mereka …”

-Yanti[i]

I

Kalimat diatas adalah suatu harapan dari seorang korban peristiwa berdarah 1965 yang dituduh terlibat dalam pembunuhan para Jenderal Angkatan Darat di Lubang Buaya. Ia dituduh dengan apa yang disebut perilaku cabul terhadap perwira tinggi Angkatan Darat. Dalam kisahnya, Ia sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada tanggal 30 September 1965. Timbul pertanyaan dalam pikiran Yanti, apa yang salah dari dirinya dan mengapa ia ditangkap? Peristiwa tersebut masih menjadi misteri baginya.

Tragedi berdarah 30 September 1965 adalah tragedi kelam bagi bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut menjadi peristiwa yang sulit untuk dilupakan dalam sejarah Indonesia. Pasalnya, enam perwira tinggi Angkatan Darat dan satu letnan terbunuh di dalam sebuah sumur tua, yang lebih dikenal dengan Lubang Buaya. Suasana mencekam melingkupi masyarakat Indonesia pada waktu itu. Mereka tidak mengetahui, mengapa para Jenderal tersebut dibunuh dan siapa yang telah membunuhnya? Pertanyaan itu masih menjadi teka-teki sampai saat ini.

Terdapat beberapa interpretasi, yang mencoba mencari tahu siapa dalang dibalik peristiwa berdarah pada bulan Oktober 1965. Interpretasi versi Angkatan Darat mengatakan; bahwa PKI melalui Biro Khususnya merupakan dalang di belakang kup. Penjelasan tentang pandangan Angkatan Darat tersebut, dapat kita temukan dalam penjelasan yang dikemukakan oleh Nugroho Notosusanto. Sementara dari pihak PKI berpendapat bahwa kudeta itu merupakan semata-mata urusan intern Angkatan Darat. Interpretasi ini diuraikan panjang-lebar oleh dua ilmuwan dari Cornell University, Anderson dan McVey (1966). Dan interpretasi berikutnya mengatakan bahwa Soeharto dan keterlibatan CIA ada di balik peristiwa tersebut untuk menghancurkan gerakan PKI. Interpretasi ini dijelaskan oleh Holtzappel (1979), Scott (1985) dan Wertheim (1979, 1991).[ii] Dengan berbagai interpretasi tersebut, sedikit-banyak telah membuka lembaran sejarah yang pada Orde Baru tertutup atau dengan sengaja ditutup rapat-rapat.

Dalam buku-buku yang telah beredar, Soeharto memegang peranan penting dalam usaha mengambil-alih kekuasaan dari tangan pucuk pimpinan nasional yang sah, Presiden Soekarno. Terbunuhnya Ahmad Yani, yang pada waktu itu menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, membuat Soekarno harus menunjuk salah seorang sebagai pengganti Ahmad Yani. Ditunjuklah seorang jenderal junior bernama Pranoto Reksosamudro sebagai Kepala Staf AD. Penunjukkan Pranoto Reksosamudro membuat Soeharto merasa terhina dan marah, karena seharusnya yang berada di posisi tersebut adalah dirinya. Karenanya, Ia menjadi sadar bahwa baginya jalan kekuasaan hanya akan terbuka dengan jalan menghilangkan Presiden Soekarno. Dan agar bisa mendongkel presiden, maka pendukungnya yang paling kuat ketika itu, yaitu kaum komunis, harus dihancurkan (Wieringa 1999). Soeharto mengabaikan perintah Presiden Soekarno yang pada waktu itu sebagai Panglima Tertinggi. Ia menyiarkan pidato radionya sendiri, yang menyatakan mengambil-alih pimpinan Angkatan Darat untuk memulihkan keamanan dan ketertiban (Crouch 1978: 132). Berselang dua minggu Soekarno terpaksa mengganti Pranoto dengan Soeharto. Kemudian kampanye propaganda, gelombang pembantaian dan penangkapan besar-besaran mulai digencarkan.

Pembantaian dan pemenjaraan massal di akhir tahun 1965 menjadi peristiwa yang tak terlupakan bagi bangsa Indonesia. Mereka yang dianggap terlibat dalam peristiwa berdarah tersebut dipenjara dan bahkan, yang lebih kejam, dibantai tanpa melalui proses pengadilan. Tidak hanya puluhan orang yang menjadi korban pembantaian dan pemenjaraan massal tersebut, ditaksir lebih dari satu juta orang. Jumlah tersebut, tentunya bukan merupakan jumlah yang sedikit. Menurut versi militer, pihak yang dianggap ada dibelakang terbunuhnya jenderal tersebut adalah PKI. Berbagai propaganda dilakukan untuk menghancurkan PKI. Dalam hal ini, bukan hanya orang-orang PKI saja yang menjadi sasaran atau sebagai buron, organisasi yang dianggap berafiliasi dengan PKI juga menjadi sasarannya, terutama yang pada saat itu mendukung penuh Soekarno seperti Pemuda Rakyat, Gerwani dan lain-lain. Dari sini dapat kita ketahui betapa Soeharto bernafsu untuk ingin menjatuhkan Soekarno yang pada saat itu menjadi pemimpin nasional yang sah, sebari mempersiapkan penghancuran elemen-elemen pendukung Soekarno—baik yang berada dibawah naungan PNI, PKI, dan elemen sejenis lainya.

Salah satu bentuk propaganda yang dilakukan pada masa Orde Baru adalah dengan memutar film yang disutradarai Arifin C. Noer. Film tersebut menjadi tontonan wajib rakyat Indonesia pada tanggal 30 September. Dalam film tersebut, terdapat adegan para wanita yang menari-nari dengan hati yang gembira menyambut para perwira tinggi AD. Dan sebelum jasad enam Jenderal AD dan seorang letnan dilemparkan ke dalam Lubang Buaya, terlihat bahwa dalam film itu para wanita tersebut berbuat keji dengan menyayat penis dan mencongkel bola mata para perwira tinggi AD. Para perempuan tersebutlah yang dianggap sebagai anggota Gerwani.

Gerwani, seperti yang telah kita ketahui bersama, merupakan salah satu organisasi terbesar di Indonesia di zamannya. Kiprah dan sumbangsih Gerwani bagi Indonesia, tentunya, tak dapat kita ragukan. Untuk itu, dalam tulisan ini, saya memfokuskan pada organisasi perempuan terbesar di Indonesia tersebut (Gerwani). Hal ini dikarenakan rasa penasaran saya yang ingin mencari tahu sejarah Gerwani dan apakah benar Gerwani terlibat dalam peristiwa 1965. Untuk mengetahui itu semua, kiranya, tulisan ini  akan mencoba untuk membahas tema tersebut, dibawah ini.

II

Pada masa setelah perjuangan bersenjata tahun 1945-1950, perempuan-perempuan revolusioner merasa kurang puas dengan organisasi perempuan seperti Perwari (Persatuan Wanita Republik Indonesia), Wanita Sosialis, dan sebagainya. Perempuan revolusioner tersebut menginginkan suatu wadah yang bergerak untuk melaksanakan cita-cita revolusi. Namun, bukan berarti mereka akan berjuang sendiri tanpa organisasi perempuan lainnya. Semua organisasi perempuan termasuk organisasi istri-istri AD, AURI, AL, AK masuk dalam wadah Kowani.

Rasa kurang puas itu disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, Kebanyakan organisasi perempuan gerakannya terbatas pada soal-soal kewanitaan, ringan, monoton, tanpa resiko. Kedua, hampir semua mempunyai program pendidikan, mendirikan sekolah-sekolah umum. Hal ini baik, namun bila terjadi hal-hal yang perlu diperjuangkan (secara politik), mereka tidak mau. Ketiga, mengenai hak-hak perempuan, tidak tergerak untuk membela perempuan dalam kejadian sehari-hari, umpamanya kasus-kasus perkosaan, poligami, dan perkawinan anak-anak. Keempat, tidak pernah ada aksi atau gerakan yang bersifat nasional secara bersama-sama. 5) Tidak mau membicarakan, apalagi mengadakan aksi menentang ijon di desa-desa, lintah darat, upah menuai padi yang sangat rendah, dan banyak problem kehidupan di desa dalam kehidupan wanita buruh tani yang sangat miskin.[iii]

Dengan melihat pengalaman pada organisasi perempuan yang masih bergerak hanya pada kepentingan kaum perempuan semata, oleh sebab itu, di luar organisasi perempuan yang telah ada, timbul keinginan dari beberapa organisasi perempuan untuk mendirikan suatu organisasi perempuan revolusioner. Hal itulah yang menjadi latar belakang didirikannya Gerwis yang kelak akan berubah nama menjadi Gerwani.

Kendati demikian, tak ada satu cerita tentang perubahan Gerwis menjadi Gerwani. Satu versi menyebutkan Gerwis dianggap terlalu elitis dan hanya berurusan dengan perempuan-perempuan yang sudah ‘sedar’, sudah memahami politik, sementara sebagian besar perempuan miskin di Indonesia yang baru merdeka masih buta politik dan pendidikannya rendah. Gerwani berusaha untuk menjangkau lebih banyak perempuan yang belum ‘sedar’ ini.

Gerwani adalah organisasi perempuan terbesar di Indonesia. Gerwani singkatan dari Gerakan Wanita Indonesia. Pada tanggal 4 Juni 1950, enam wakil organisasi perempuan berkumpul di Semarang, bersepakat melebur dan mendirikan satu organisasi yang dinamakan Gerwis (Gerakan Wanita Indonesia Sedar). Keenam organisasi tersebut ialah: Rukun Putri Indonesia (Rupindo) dari Semarang, Persatuan Wanita Sedar dari Surabaya, Isteri Sedar dari Bandung, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwindo) dari Kediri, Wanita Madura dari Madura, dan Perjuangan Putri Republik Indonesia dari Pasuruhan.[iv]

Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Banyak dari anggota Gerwis berasal dari keturunan priyayi rendah, namun demikian mereka semua ikut terjun dalam gerakan nasional. Banyak dari mereka terlibat dalam perang gerilya melawan Jepang dan Belanda. Organisasi ini didirikan oleh sekelompok perempuan muda yang ingin melaksanakan cita-cita mereka tentang revolusi Indonesia.

Tokoh-tokoh yang mendirikan Gerwis antara lain adalah S.K Trimurti, mantan Menteri Perburuhan dan pimpinan Barisan Buruh Wanita yang tergabung dalam Partai Buruh Indonesia; Salawati Daud, Wali Kota Makassar yang berhadapan dengan Kapten Westerling; Umi Sardjono; Tris Metty; Sri Panggihan, anggota PKI ternama sebelum Peristiwa Madiun 1948.[v]

Kongres pertama organisasi perempuan ini diselenggarakan pada bulan Desember 1951. Pada kongres ini Gerwani berada dalam kondisi yang sulit. Banyak anggota yang seharusnya hadir namun masih berada di penjara. Kongres pertama telah membuat sejumlah perubahan di tingkat atas, tetapi tidak banyak dirasakan oleh para anggota dalam praktik sehari-hari.

Pendapat Trimurti bahwa kongres pertama tidak membawa banyak perubahan, disangkal oleh sumber lain. Gerwani bukan organisasi perempuan yang dibangun dengan basis kader, tetapi sebagai organisasi massa besar. Banyak kader lama yang menyayangkan perkembangan ini. Trimurti sendiri, yang masih menjadi salah seorang pemimpinnya, kian lama menjadi makin pasif. Pada tahun 1975, Ia menarik diri dari pimpinan dan pada 1965 keluar dari keanggotaan.[vi]

Para pendiri Gerwis mempunyai hasrat bersama bagi kemerdekaan nasional maupun diakhirinya praktik feodal. Pada awalnya Gerwani memfokuskan diri pada undang-undang perkawinan yang berdasarkan monogami. Organisasi perempuan ini menentang keras praktik poligami, pemerkosaan, dan perkawinan anak-anak. Namun, perhatian utama Gerwani mulai menyusut setelah Soekarno yang dianggap sebagai sosok Bapak revolusi ini, kawin madu dengan Hartini pada tahun 1954. Perhatian utama kemudian beralih pada perjuangan untuk hak kerja dan tanggungjawab yang sama antara kaum laki-laki dan kaum perempuan untuk mencapai kemerdekaan nasional yang penuh dan sosialisme.

Kongres kedua dilaksanakan pada tahun 1954. Pada kongres kedua, organisasi ini mengikuti garis massa PKI seperti yang telah ditetapkan. Dalam hal ini, Gerwani bukan menjadi underbouw PKI, karena Gerwani tetap mengacu pada anggaran dasarnya yang selalu menegaskan sebagai non-politik, serta tidak berafiliasi dengan partai politik mana pun. Namun disini, PKI punya pengaruh sangat dalam. Beribu-ribu kader diberi pelatihan. Para anggota pergi ke desa-desa dan kampung-kampung, untuk mendiskusikan masalah sehari-hari dengan perempuan tani, terutama dengan kaum buruh perempuan. Selain itu Gerwani juga melakukan kegiatan besar-besaran untuk melawan butahuruf di kalangan kaum perempuan.

Suhu politik semakin kian memanas terjadi pada awal tahun 1960. Pada tahun tersebut, anggota-anggota Gerwani aktif berperan serta dalam melakukan aksi sepihak bersama Barisan Tani Indonesia (BTI). Aksi sepihak tersebut, dilancarkan untuk melaksanakan UU landreform. Bersamaan dengan itu, Gerwani berusaha merebut hak-hak politik kaum perempuan, yang menimbulkan amarah kaum konservatif. Dalam hal ini, yang dimaksud bukanlah perselisihan antara kaum laki-laki dan kaum perempuan. Jika dilihat lebih dalam, Gerwani ingin melawan sistem feodal yang dianggap akan menghambat jalannya revolusi. Selain itu, Gerwani juga mengorganisasi demonstrasi anti-kenaikan harga.

Hubungan antara Gerwani dengan PKI, juga hubungan antara kedua organisasi dengan Presiden Soekarno pada tahun-tahun terakhir, semakin erat dan terlihat mesra. Organisasi perempuan ini lalu menerapkan sebuah model keibuan yang militan, dimana ibu-ibu ini ingin melaksanakan cita-cita revolusi yang telah dirumuskan secara samar-samar oleh Soekarno. Selain itu, ibu-ibu ini harus bertanggung jawab terhadap pendidikan moral anak-anaknya.

Kodrat perempuan Indonesia menetapkan bahwa; menjadi perempuan harus penurut, pasif, patuh pada anggota keluarga laki-laki, pemalu, dan santun perihal seksual, mengasuh dan berkorban diri, dan bahwa pengabdian utama perempuan ialah menjadi istri dan ibu. Pada pihak lain, Gerwani menegakkan sebuah model perempuan yang lebih mirip dengan tokoh Srikandi istri Arjuna yang perempuan pejuang.[vii] Dalam hal ini, Gerwani menolak sosok Sumbadra yang penurut, pasif, dan patuh.

Walaupun Gerwani tidak pernah meragukan terhadap peranan pertama dan utama perempuan sebagai ibu, namun Gerwani menyebarkan sebuah model keibuan yang militan, yaitu dengan manggabungkan fungsi keibuan perempuan dengan aktivisme politik. Ini bertentangan dengan apa yang dibenarkan oleh kekuatan-kekuatan konservatif dalam masyarakat (Wieringa, 1999).[viii]

III

Peristiwa berdarah 1965 menjadi titik acuan penghancuran gerakan perempuan Indonesia. Dalam hal ini, yang dimaksud adalah Gerwani. Sebenarnya tidak hanya Gerwani yang menjadi korban, namun beberapa organisasi yang dianggap kiri dan dekat dengan Soekarno juga menjadi sasaran pemenjaraan dan pembantaian massal pada akhir tahun 1965. Peristiwa tersebut menjadi akhir dari Orde Lama dan menuju ke gerbang Orde Baru.

Peristiwa tersebut diikuti dengan kampanye fitnah yang mengusung pelecehan seksual terhadap Gerwani. Rekonstruksi tentang apa yang telah terjadi di Lubang Buaya telah dituturkan Prof. Zaskia E. Wieringa berdasarkan penelitiannya pada awal tahun 1980-an sebagai berikut:

“sekitar tujuhpuluh orang perempuan, sebagian besar gadis-gadis remaja anggota organisasi pemuda, yang lain dari serikat buruh dan barisan tani, dan sedikit saja dari anggota Gerwani, termasuk beberapa orang istri tentara, dikumpulkan di Lubang Buaya untuk mengikuti Kampanye anti-Malaysia. Para perencana komplotan memanfaatkan keadaan ini. Gerwani sebagai organisasi tidak diikutsertakan dalam rencana. Lalu apa yang terjadi? Bagaimana dengan tuduhan sembarangan yang belakangan dilemparkan pada mereka itu? Bahwa mereka ‘menari-nari seksual dengan telanjang’, ‘memotong-motong penis jenderal-jenderal’, dan telah ‘mencungkil mata’ mereka! Bagaimana para jenderal itu mati? (Anderson 1987). Pada pagi hari 1 Oktober 1965 gadis-gadis dan perempuan itu masih sedang tidur nyenyak, ketika tiba-tiba mereka dibangunkan oleh suara teriakan-teriakan. Di luar masih gelap saat itu, dan mereka semua ketakutan. Mereka berlari ke lapangan terbuka, dan mereka melihat di sana sekelompok tentara menyeret jenderal-jenderal tangkapan mereka. Jenderal-jenderal itu mereka pukuli, dan kemudian mereka tembak, dan mereka lemparkan jasad mereka ke dalam sumur. Tentara-tentara itu sangat marah, sehingga menghujani jenderal-jenderal itu dengan peluru, walaupun sebenarnya mereka sudah mati”.[ix]

Setelah terbunuhnya enam jenderal dan seorang perwira Angkatan Darat, kampanye propaganda mulai digalakkan. Sederet suratkabar militer, mulai mengedarkan cerita-cerita tentang tari-tarian dan tingkah-laku pelecehan seksual, dan cerita penyayatan penis para jenderal. Saksi-saksi dikutip di koran-koran, foto-foto dibikin dan dipertontonkan. Disiarkan tanyangan gambar dan berita mengerikan melalui televisi dan radio, yang disebut-sebut telah terjadi di Lubang Buaya. Seperti dikatakan oleh Yanti, pertama-tama gadis-gadis itu disiksa habis-habisan, dianiaya seksual, diperkosa beramai-ramai, dan kemudian dipaksa untuk mengucapkan sepatah kata ‘ya’, terhadap kesaksian tentang apa saja yang dikehendaki para penyiksa dari mereka.

Setelah diadakan autopsi, hasilnya langsung diambil oleh pihak penguasa. Sementara untuk hasil autopsinya tersebut, dinyatakan bahwa tidak ada luka sayatan di bagian kemaluan para perwira tinggi nergeri dan mata mereka masih tetap utuh sebagaimana mestinya. Luka-luka yang terdapat pada mayat jenderal-jenderal dan letnan yang terbunuh adalah karena luka tembak, dan terdapat luka akibat benturan benda tumpul yang barangkali akibat terjatuh ke dalam sumur. Mengingat Jenderal Soeharto sendiri yang mengusulkan hasil autopsi tersebut, bahwa terdapat kemungkinan hasil autopsi yang sebenarnya disembunyikan atau tidak diberitahukan kepada publik. Karena jika hasil yang sebenarnya diketahui publik pada saat itu, maka masyarakat Indonesia akan mengetahui kampanye propaganda yang dilakukan—yang dengan itu, telah melangsungkan pmebohongan sejarah.

Harian Berita Yudha, 11 Oktober 1965, memberitakan kondisi mayat yang ditemukan di Lubang Buaya. Namun dalam harian tersebut, berbeda dengan hasil autopsi, suratkabar tersebut menulis, yang pada intinya, menyatakan bahwa para jenderal yang terbunuh di Lubang Buaya telah kehilangan bola matanya, dan alat kelamin para jenderal telah dipotong. Berita lain menceritakan bahwa perempuan-perempuan telah menari-nari dengan telanjang, dan melakukan apa yang disebut sebagai tindakan cabul terhadap jenderal-jenderal. Kampanye terus-menerus dilancarkan oleh pihak militer. Hal itu yang membuat tokoh-tokoh pimpinan Islam mengutuk perbuatan yang telah terjadi pada peristiwa 30 September tersebut.

Dari sini kita dapat mengetahui, bahwa Orde Baru berada atau berdiri atas seksualitas perempuan dan kekuasaan Orde Baru berdiri atas dasar fitnahan yang ditujukan pada perempuan-perempuan yang dituduh dengan apa yang disebut sebagai perilaku cabul. Soeharto mempunyai pandangan bahwa; perempuan yang baik adalah perempuan yang penurut, pasif, pemalu, santun dalam perihal seksual. Sosok ini digambarkan seperti Sumbadra yang pasif, dan penurut. Hal ini dapat kita lihat dalam relief Monumen Pancasila Sakti. Di bawah patung jenderal-jenderal yang terbunuh dalam peristiwa tersebut, terdapat relief yang menceritakan perjalanan bangsa Indonesia. Di bagian tengah relief tersebut menceritakan tentang peristiwa 30 September 1965. Pada bagian tersebut terdapat adegan perempuan yang menari-nari dengan pakaian yang seksi terlihat berdiri tegak dan memperlihatkan sikap menantang. Dalam hal ini, Soeharto ingin menancapkan sebuah doktrin di memori masyarakat Indonesia. Selain itu, untuk selalu mengingatkan pada masyarakat Indonesia akan bahaya dari gerakan yang dianggap kiri, karena pada waktu itu, Gerwani dianggap sebagai salah satu elemen kiri. Dan bahkan, memunculkan sebuah konsep kiri, yang pada Orde Baru diidentikkan dengan komunis, sampai sekarang masih ditakuti oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Sementara di ujung kanan relief tersebut, terdapat lukisan yang menggambarkan Soeharto dengan gagahnya menatap perempuan-perempuan tersebut dan sikap perempuan tersebut tunduk dan terlihat sopan dihadapan Soeharto. Dalam relief tersebutlah, ideologi yang diusung Soeharto dengan Orde Barunya, dituangkan.***

[i] Yanti, salah seorang anggota Pemuda Rakyat yang dianggap terlibat dalam peristiwa G 30 S/PKI. Kisahnya tertulis dalam buku Suara Perempuan Korban Tragedi ‘65, karya Ita F. Nadia,  hal:73.
[ii] Ibid, hal:13.
[iii] Hikmah Diniah, Gerwani bukan PKI: Sebuah Gerakan Feminisme Terbesar di Indonesia”,  hal: 87.
[iv] http://news.detik.com/read/2013/09/30/154108/2373384/10/sejarah-gerwis-dan-munculnya-gerwani?nd772204btr, diakses pada tanggal: 14, November 2016, pada pukul: 19.00 wib
[v] Ibid.
[vi] Zaskia E. Wieringa, Penghancuran Gerakan Perempuan: Politik Seksual di Indonesia Pascakejatuhan PKI, hal: 224.
[vii] Ita F. Nadia, “Suara Perempuan Korban Tragedi ‘65”, hal: 10.
[viii] Ibid, hal:11.
[ix] Ibid, hal:15.

Gambar: Berdikarionline

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.