FNKSDA Semarang Menggelar Pesantren Agraria

Spread the love

KENDAL—Sekitar dua puluhan mahasiswa berkumpul di Desa Surokonto Wetan, Kecamatan Pageruyung, Kabupaten Kendal. Mereka adalah peserta Pesantren Agraria yang diselenggarakan oleh Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA), Komite Daerah (Komda) Semarang. Acara Pesantren Agraria dengan tajuk “Menegakan Kedaulatan Petani atas Ruang Hidup” itu berlangsung pada hari Jumat-Minggu, (4-6/10/2019).

“Ketika Kiai Aziz keluar dari penjara, dan perjuangan warga masih berlanjut, kami memutuskan mengadakan Pesantren Agraria di Surokonto Wetan. Semoga saja itu bisa menjadi wasilah untuk memperkuat gerakan,” ujar koordinator FNKSDA Semarang, Fathan Zainur R.

Sejak awal FNKSDA Semarang memang memiliki ikatan emosional yang kuat dengan warga Surokonto Wetan. Bersama organisasi lain, FNKSDA berperan serta pada awal perjuangan warga melawan Perhutani, tambah Fathan.

Sekiar tahun 2014, PT. Semen Indonesia melakukan tukar guling lahan dengan Perhutani untuk pembangunan pabrik semen di Rembang. Lahan seluas 127 ha itulah yang yang menjadi obyek sengketa antara Perhutani dan warga Desa Surokonto Wetan. Padahal seperti kata perwakilan warga dan sekaligus pengisi materi Pesantren Agraria, Nur Aziz, warga sudah mengelola lahan sejak 1970an.

“Dalam dokumen PT. Sumur Pitu (pemilik Hak Guna Lahan sebelumnya), tertulis jika ada lahan Hak Guna Usaha (HGU) yang tidak dikelola dengan baik, maka harus dikembalikan kepada negara. Dan menurut amanat Undang-undang Pokok Agraria (UUPA), lahan tersebut harus diberikan kepada masyarakat yang telah mengelola lahan lebih dari 20 tahun.” Kata Nur Aziz di salah satu sesi materi Pesantren Agraria.

Ada 10 materi utama yang dipersiapkan panitia dalam acara Pesantren Agraria. Materi tersebut adalah Islam dan Ke-FNKSDA-an, Kedaulatan Ekonomi, Riset dan Perubahan Sosial, Menyusun Data Lapangan, Fiqh Agraria, Analisis Ekonomi-Politik dan Kapitalisme, Konflik Agraria di Surokonto Wetan, Observasi Lapangan, Gender dan Agraria, dan Pengorganisasian. Para peserta Pesantren Agraria pun tidak terbatas dari mahasiswa di sekitaran Semarang. Bahkan dalam beberapa sesi materi, warga Desa Surokonto Wetan pun turut hadir dan memberikan pendapat.

“Sebagai orang yang pernah menjalani kultur pesantren, saya rasa kini santri perlu untuk tidak melulu berkutat pada ilmu agama. Namun harus menjalar hingga implementasinya di kehidupan sehari-hari. Dan materi dalam Pesantren Agraria ini bisa menjadi bekal.” Ujar salah satu peserta Pesantren Agraria, M. Adam Khatamy. (RMK – Bagas Yusuf)

Foto: Bagas Yusuf Kausan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.