Gagalnya Pembangunan DAS-DAS di Kota Semarang

Spread the love

Gagalnya pembangunan Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kota Semarang. Judul ulasan buku ini terinspirasi dari buku karya sejarawan Restu Gunawan, Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa. Kegagalan pembangunan DAS di Kota Semarang menjadi pusat narasi buku Koalisi Malih Dadi Segoro (MDS) bertajuk Banjir Sudah Naik Seleher: Ekologi Politis Urbanisasi DAS-DAS di Semarang (2021), selanjutnya disingkat BSNS.

Dalam buku ini, kajian sosiohistoris, ditambah sosiospasial dan sosioalamiah, menjadi kekuatan narasi BSNS. Para penulis mampu menampilkan persoalan yang kompleks mengenai pembangunan DAS di Kota Semarang, meliputi DAS Babon, Karanganyar, Garang, Beringin, dan Silandak.

Eco-history atau environmental history, yang sering disebut para sejarawan Indonesia sebagai sejarah lingkungan hidup, kini sedang menjadi kajian populer. Bila mengikuti tren dunia soal bahaya perubahan iklim dan kerusakan ekologis, maka buku BSNS ini menemukan ruang dan momentum yang tepat.

Meskipun dalam pemaparannya, unsur sosiologinya lebih kental daripada sejarahnya. Sajian buku ini lebih menampilkan cerita pergulatan warga, kebijakan pemerintah, maupun pengusaha dalam pembangunan DAS, kawasan industri, dan penanganan banjir yang parsial di Kota Semarang.

Keberanian Koalisi MDS dalam memaparkan kajian ini patut mendapatkan apresiasi lebih. Mereka dengan lugas memberikan informasi secara lengkap dan akurat. Selain itu, dalam penyusunan buku ini, para penulis juga menggunakan banyak sumber dari beragam media massa dan wawancara dengan berbagai kalangan yang kompeten mengupas permasalahan ini. Sampai pada titik ini, para penulis sukses memaparkan kekuatan intelektualitasnya.

Namun kajian sebagus ini, tidak akan menemukan tujuannya, apabila tidak mendapat tanggapan serius dari kalangan pemerintah kota dan pengusaha. Dari titik ini, melalui kajian ilmiah ini, pijakan awal untuk kembali mengangkat harkat dan martabat warga sebagai “korban pembangunan” dapat dimulai.

Dalam batas-batas tertentu, warga sebagai manusia yang menghuni tepian DAS atau area yang masuk zona pembangunan dan bencana banjir di Kota Semarang, memang dapat hidup rukun dengan menyesuaikan diri dengan alam serta lingkungannya. Mereka nrima dan mencoba mengekang ambisi-ambisi yang pada akhirnya akan menimbulkan konflik serta kerugian pada hidup mereka. 

Karena itu, hidup rukun dengan bencana banjir memang pilihan sulit. Pemahaman kita dalam melihat para korban yang tidak berdaya, tentu menjadi panggilan hati nurani dan kepedulian sosial kita semua untuk ikut memperjuangkannya.

“Banjir sudah naik seleher” menjadi sinyal bahaya bagi warga dan pemerintah kota. Ini adalah pertanda adanya ancaman nyata bagi kelangsungan hidup manusia. Buku ini juga pengingat kita semua, bahwa sikap serakah atas keberhasilan menundukan dan mengendalikan, bahkan mengeksploitasi alam, akan menemukan “karmanya” sendiri.

Dengan kata lain, semakin kita berambisi merusaknya, maka kita akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan pengrusakan tersebut. Itulah hukum timbal balik manusia dan alam yang tertuliskan dalam buku ini. (BYK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.