Gagasan Nusantara dan Ekspedisi Pamalayu

Spread the love

Saya yakin hampir semua orang di Indonesia pernah mendengar, membaca atau menulis kata “Nusantara”. Kata Nusantara itu tentunya tidak tiba-tiba jatuh dari langit. Apalagi tertulis sendiri secara ajaib di permukaan daun lontar. Kata itu memiliki rentang sejarah yang panjang. Bahkan, sejak 745 tahun yang lalu.

Kali ini, saya tidak hendak mendongeng atau bertele-tele fafifu soal pengedaran diskursif soal kata Nusantara. Namun, saya hendak menguraikan kelahiran kata Nusantara yang merupakan simbol, atau boleh disebut, representasi dari gagasan seorang raja pra-Majapahit. Siapa raja itu? Di kerajaan mana ia memerintah? Apa itu gagasan Nusantara? Nah, alinea-alinea berikut akan menjawab tiga pertanyaan ini. Selain itu, saya akan meninjau gagasan Nusantara dari aspek geografis-historis. Sebab gagasan tersebut sangat berkait, baik dengan lintasan ruang (spasial atau geografis) dan lintasan waktu (temporal atau historis).

Raja Kertanegara dari Singasari

Berdasarkan catatan sejarah yang saya pahami, Singasari merupakan sebuah negara monarki yang dibentuk oleh Ken Arok. Berdiri sejak tahun 1222 hingga 1292 masehi. Selama negara ini berdiri, ada lima raja yang memerintah secara bergantian. Mulai dari Ken Arok, Anusapati, Tohjaya, Ranggawuni, hingga Kertanegara. Nama yang terakhir memiliki masa berkuasa terlama, yakni 38 tahun. Ya, Kertanegara memerintah kerajaan Singasari sejak tahun 1254. Ia lahir dari pasangan Ranggawuni (Wisnuwardhana)-Waning Hyun (Jayawardhani). Dan mempunyai permaisuri bernama Sri Bajradewi.

Kertanegara cukup terkenal dengan terobosannya di bidang religi. Ia mencoba untuk menyatukan agama Hindu Syiwa dan Buddha Tantrayana dalam satu tarikan nafas. Karenanya, ia memperoleh julukan Bhatara Syiwa Buda (dari Pararaton) dan Sri Jnanabajreswara (dari Negarakertagama). Menurut cerita, Kertanegara memproklamasikan diri sebagai manusia tak kasat dosa. Sebab, ia kerap melakukan ritus religiusnya lewat pesta minuman keras. Ada satu bukti historis yang mewakili konteks penyatuan dua agama tersebut: patung Jina Mahakshobhya di Taman Apsari, Surabaya.

Kertanegara mempunyai gaya kepemimpinan yang otoriter. Semua instruksinya harus dipatuhi oleh para punggawanya. Kalau tidak, orang itu akan dipindah tugas, direndahkan jabatan, hingga dilengserkan. Misalnya yang dialami Mpu Raganata. Ia diturunkan dari posisi patih menjadi ramadhayaksa karena menentang cita-cita sang raja. Arya Wijaya pun mengalami hal serupa. Ia menentang kebijakan Kertanegara, kemudian jabatannya diturunkan dari demung menjadi bupati (Adji dan Achmad, 2013: 89-96). 

Dari uraian tadi, Kertanegara tampak seenak jidat dalam berpikir dan bertindak. Interpretasinya terhadap agama itu barangkali akan menjadi peristiwa geger gedhen, jika diaplikasikan pada era sekarang. Menyatukan dua unsur berbeda bukanlah hal mudah, seperti Hindu dan Buddha. Tampak memaksakan, bukan? Kertanegara memaksakan pula kehendaknya kepada orang lain. Kalau tidak, ada konsekuensinya. Nah, berikutnya, ia hendak menyatukan pulau-pulau di sekitar Jawa, dan mungkin, secara paksa juga. 

Gagasan Nusantara versi Klasik (Kertanegara)

Pada aspek geopolitik, Kertanegara memang berbeda dari sang ayah, Wisnuwardhana. Wisnuwardhana memetakan kekuasaan yang tersentralisasi di seputar Janggala dan Panjalu. Kertanegara cenderung ekspansif kala menggagas suatu wilayah kekuasaan. Ia berambisi untuk menyatukan pulau-pulau di sekitar Jawa di dalam naungan Kerajaan Singasari. Gagasan ini belum pernah terpikirkan oleh raja-raja sebelumnya. Mengingat, adanya konflik internal istana antara keturunan Ken Arok dan Tunggul Ametung. 

Karena persoalan internal tersebut dirasa telah usai, Kertanegara lalu memiliki gagasan untuk mengibaskan sayap Singasari hingga pulau di seberang laut. Gagasan inilah yang dinamai Nusantara. Secara hakiki, Nusantara bermakna sebagai pulau atau negara di luar Jawa. Maka, gagasan Nusantara adalah upaya politis Kertanegara untuk mengintegrasikan wilayah seberang laut Jawa, guna mencegah pengaruh Kaisar Tiongkok di negara-negara sekitar Kerajaan Singasari. 

Sebagaimana yang Kertanegara tahu, Kaisar Kubilai Khan dari Tiongkok sudah menguasai jalur pelayaran di daerah Laut Tiongkok Selatan, di samping Melayu atau Suwarnabhumi. Dengan begitu, Kertanegara mulai merealisasikan gagasan Nusantara lewat Ekspedisi Pamalayu pada 1275 (Sobri dkk, 2014: 6-7).

Ekspedisi Pamalayu: Realisasi Gagasan Nusantara

Pada tahun 1275, sebagian besar pasukan Singasari—di bawah komando Kebo Anabrang—dikirim Kertanegara ke Pulau Sumatera. Dengan ini, Ekspedisi Pamalayu resmi dimulai. Kata Pamalayu secara etimologis berasal dari bahasa Jawa Kuno, artinya perang melawan Melayu. Menurut Proborini, itu hanya istilah. Ia mengatakan, tak ada cerita mengenai pertumpahan darah dalam serangkaian Ekspedisi Pamalayu (2017: 72-77). Dalam catatan itu, Kertanegara disebut tengah melakukan ekspansi dengan cara  diplomasi-kultural, lewat soft power-nya. Yakni dengan hadiah berupa kerajinan tangan dan utusan empat pembesar Singasari.

Hal berbeda disampaikan Sobri dan kawan-kawan. Dengan menyadur Negarakertagama, mereka menyebut pengiriman pasukan perang adalah upaya Singasari dalam mengintimidasi Kerajaan Melayu, agar tunduk sebelum berperang (2014: 8). Mereka juga menjelaskan, Kerajaan Melayu senang berhubungan dengan Tiongkok daripada Singasari, karena memang lebih menguntungkan. Peperangan antara Singasari dan Melayu pun tak terelakkan. Dan baru berakhir pada tahun 1286.

Apa pun itu, Ekspedisi Pamalayu tetap berlangsung. Secara geografis, Pulau Sumatera terletak di area yang strategis bagi Kubilai Khan dan Kertanegara. Baik dari segi perniagaan maupun segi militer. Pasalnya letak Kerajaan Melayu sangat strategis, di Asia Tenggara bagian Barat. Kerajaan Melayu menguasai perlintasan Selat Malaka, yang merupakan titik pertemuan kapal dari barat, timur, dan utara Selat Malaka. Dengan kata lain, wilayah Kerajaan Melayu—Riau dan Jambi—adalah kota perdagangan internasional. Maka tak salah lagi apabila Kertanegara dan Kubilai Khan berebut hegemoni atas Kerajaan Melayu. (asep) 

REFERENSI

Adji, Krisna Bayu dan Achmad, Sri Wintala. (2013). Sejarah Kejayaan Singasari dan Kitab Para Datu: Menyingkap Singasari Berdasarkan Fakta Sejarah. Bantul: Araska.

Sobri, Sobri dkk. (2014). “Sri Kertanegara dalam Usaha Mewujudkan Wawasan Dwipantara Tahun 1275-1292”. Pesagi: Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah. Volume 2. Nomor 1. 

Proborini, Diansasi. (2017). “Analisa Aspek Diplomasi Kultural dalam Ekspedisi Pamalayu, 1275-1294 M”. Jurnal Analisis Hubungan Internasional. Volume 6. Nomor 2.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.