Gelap Terang Sungai Pekalongan

Spread the love

Ramainya industri batik di Pekalongan mungkin jadi salah satu penyebab naiknya nilai komoditas batik sebagai salah satu wajah budaya Nusantara. Penyebutan “Pekalongan kota batik” semakin meneguhkan semangat dan kerja-kerja keberlanjutan untuk menjaga batik sebagai warisan estetik, yang tak elok jika ditinggalkan.

Namun ada yang luput tentang cerita ramainya industri batik di Pekalongan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan atas langgengnya industri batik Pekalongan. Salah satunya adalah tentang bagaimana kondisi sungai-sungai di Pekalongan yang selama ini menjadi limbah industri batik bermuara?

Pembuangan limbah industri ke sungai menyisakan kesan horor. Dari aliran sungai yang dulu jernih, kini berubah menjadi hitam, berbau, dan tentunya berbahaya. Fakta industri batik menguntungkan bisa jadi benar, pun industri batik seperti yang disebutkan diatas, menjadi salah satu upaya untuk melestarikan budaya. Tapi disisi lain, fakta mengenai daerah aliran sungai (DAS) di Pekalongan yang tercemar oleh limbah industri tak bisa disangkal. Tentunya, akibat sungai yang tercemar, ada banyak pihak yang dirugikan.

Mereka yang dirugikan adalah para penduduk sepanjang DAS yang selama ini bergantung pada sungai untuk memenuhi kebutuhan air harian—seperti mandi dan mencuci. Mereka harus bertaruh nasib, nyawa dan kesehatan seolah menjadi telur di ujung tanduk, bisa jatuh kapan saja. Karena air yang tidak sehat.

Apakah konsekuensi ancaman kesehatan dan nyawa bisa sebanding dengan kemasyhuran komoditas ini? Pertanyaan yang seharusnya menjadi renungan bersama.

Bayangkan saja, misalnya pada musim kemarau datang. Sungai akan mengalami pendangkalan, aliran air mandek, bau yang menyeruak keluar berbau busuk. Bagaikan bayang-bayang setan yang tak pernah usai menghantui pikiran para penduduk sekitar sungai. .

Agaknya mereka baru bisa sedikit bernafas lega ketika di musim penghujan datang. Kala hujan turun, seketika perlahan air mulai lancar kembali. Mungkin air berubah menjadi tidak terlalu gelap dan sedikit tidak berbau. Tapi, itu hanya bertahan seumur jagung, tak kuat lama.

Walaupun tidak lama, dari fenomena itu kita sadar bahwa alam mampu menyembuhkan dirinya atas kerusakan yang dibuat oleh manusia. Hujan jadi penawar bagi rusaknya sungai, mengubah dari yang gelap menjadi terang, dari yang berbau menjadi tak berbau.

Gelap terang sungai menjadi penanda bahwa manusia belum bisa sepenuhnya menebus tuntas dosa mereka terhadap alam. Namun, alam sendirilah yang menjawab, menyembuhkan diri dari luka-luka yang dilakukan manusia kepada mereka. Sepenuhnya, manusia masih berhutang besar atas dosa-dosa mereka kepada alam.

Saya yakin, jika alam sudah marah, sejauh mungkin manusia lari, alam akan mengejar. Namun tetap saja, pengkhianatan pada alam tetap berlanjut dan yang tak ada ujungnya. 

Pekalongan, indah batik kotamu tak peduli  nasib sungaimu. (asep)


Tulisan ini merupakan kegelisahan yang muncul saat menjumpai sungai di Pekalongan saat berkunjung ke kediaman salah satu kolega di Kota Pekalongan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.