George Floyd, Rasisme, dan Standar Ganda Orang Indonesia

Spread the love

Oleh Saiful Anwar

Kurang lebih dua tahun lalu saya menonton film Black Phanter. Film yang dibintangi oleh Chadwick Boseman itu mengisahkan perjalanan Black Phanter–pahlawan harimau hitam dari negeri Wakanda. Ketika baru saja dirilis film tersebut langsung merangsek ke tangga atas perfilman dunia. Ia menjadi buah bibir. Apa yang membuat film itu manarik? Salah satunya adalah karena film itu mengangkat isu paling sensitif di Amerika Serikat yakni diskriminasi orang-orang kulit hitam. Film itu seakan ingin menyampaikan pesan bahwa orang-orang kulit hitam pun bisa maju dan sejajar dengan ras-ras lain. Di dalam film itu negeri Wakanda digambarkan sangat maju, berteknologi tinggi, namun tertutup.

Sejak beberapa hari lalu Amerika Serikat menjadi sorotan dunia. Bukan karena ulah Donald Trump (seperti biasanya) tapi karena sebuah tindakan brutal yang menimpa salah seorang berkulit hitam.

Adalah George Floyd seorang pria kulit hitam berusia 46 tahun korban kebrutalan tersebut. George ditangkap karena diduga melakukan transaksi dengan uang palsu senilai 20 Dollar. Polisi meringkus George. Namun mereka berbuat di luar batas kewajaran. Salah satu polisi memborgol kedua tangan George, menjatuhkan tubuh George ke tanah, dan kemudian menekan leher George dengan lutut. George kesakitan, ia merintih. Ia memohon kepada polisi tersebut untuk mengangkat lututnya. Orang-orang yang berada di sekitar lokasi juga berteriak, meminta polisi agar berhenti menyakiti George.

Polisi tak menggubris rintihan Geroge itu. Mereka juga tidak mengindahkan protes orang-orang di sekitar lokasi. Beberapa saat setelahnya George berhenti merintih. Ia diam tak sadarkan diri. Ia dibawa ke rumah sakit Hennepin County Medical Center untuk diberi pertolongan pertama. Naas, nyawanya tak tertolong.

Tindakan polisi tersebut menyulut api kemarahan orang-orang di Amerika Serikat. Di beberapa negara bagian kemarahan menjalar menjadi protes berskala besar. Di tengah pandemi Covid-19 ribuan orang berdemonstrasi di jalanan, toko-toko dijarah, mobil-mobil polisi dibakar, persis seperti adegan pamungkas film Joker.

Setali tiga uang, nasib Geroge Floyd mirip dengan nasib saudara-saudara kita dari Papua. Kita tentu masih ingat tindakan pengepungan yang dilakukan oleh oknum reaksioner terhadap asrama mahasiswa Papua di Surabaya. Kasus tersebut dipicu oleh rumor pelecehan bendera merah-putih yang dilakukan oleh salah satu mahasiswa asal Papua. Sampai hari ini rumor tersebut masih simpang siur, fakta atau hoax, semuanya belum terjawab dengan pasti. Kabar burung itu membuat beberapa orang marah. Orang-orang yang marah itu mengepung asarama mahasiswa Papua yang ada di Jalan Kalasan No.10 Pacar Keling, Kecamatan Tambaksari, Kota Surbaya.

Pengepungan asarama mahasiswa Papua di Surabaya dilakukan dengan dalih nasionalisme. Nasionalisme adalah perasaan cinta dan bangga kepada tanah air dan bangsa. Sebuah perasaan yang mulia. Namun di Indonesia nasionalisme tidak sebatas itu. Di Indonesia nasionalisme juga berarti “menyikat” siapapun yang diduga ingin melepaskan diri dari wilayah teritorial bangsa. Hal tersebut dalam istilah hukum disebut makar. Seringkali tindakan melawan sesuatu yang dianggap makar tersebut dibarengi dengan rasisme.

Aksi pengepungan asrama mahasiswa pun demikian. Dalam sebuah video yang tersebar di media sosial seseorang yang ikut mengepung asrama mahasiswa Papua di Surabaya mengucapkan kata “monyet”. Kata itu tentu ditujukan kepada mahasiswa Papua yang di dalam asarama. Perbuatan tersebut adalah rasis. Sudah jelas dan tak perlu saya jlentrehkan lebih lanjut.

Kasus rasisme yang terjadi di Amerika Serikat beberapa waktu lalu membuat negara itu colaps sampai-sampai beberapa negara bagian menerapkan status darurat. Sementara di Indonesia kasus rasisme yang menimpa orang-orang Papua sudah seperti makanan sehari-hari. Orang-orang yang mengecam tindakan rasisme terhadap orang Papua akan dicap pemberontak, anti-Pancasila, atau tidak setia terhadap NKRI. Tanpa disadari sesungguhnya orang Indonesia memiliki standar ganda dalam urusan rasisme.

Bagi saya sikap mendua itu adalah penyakit. Kronis stadium 4. Di satu sisi mengecam tindakan rasisme yang ada di negeri seberang, di sisi lain abai dan pura-pura tidak melihat rasisme yang ada di negeri senidri. Mari buka mata. Bukan kah sudah sering orang-orang Papua diperlakukan diskriminatif dan rasis? Dan bukankah sudah sering pula orang-orang Indonesia menganggap hal itu sebagai sebuah kewajaran?

Sikap mendua atau standar ganda itu terlihat misalnya, ketika aparat Indonesia di Papua melakukan tindakan yang menewaskan orang-orang Papua kebanyakan orang akan berkata “Itu sudah wajar, siapa pun yang ingin melepaskan diri dari NKRI memang harus ditindak”. Sedangkan ketika terjadi kasus rasisme di negara lain orang-orang Indonesia akan berkata “Say no to racism, equality for all human” dan lain sebagainya.

Kasus di Amerika Serikat menyadarkan saya bahwa semaju dan sehebat apapun sebuah negeri akan sia-sia apabila rasisme masih diberi panggung. Apalagi jika negeri tersebut tidak maju dan hebat.

Orang-orang berhak marah dan memang harus marah terhadap segala bentuk sikap diskriminatif. Sampai hari ini saya belum pernah menemukan satu pun agama yang memerintahkan penganutnya untuk bertindak rasis dan diskriminatif.

Lantas, jika Tuhan tidak pernah memerintahkan manusia untuk merendahkan manusia lain, dari mana sifat rasisme berasal? Jika saya boleh menjawab: dari iblis!

                                                                                  Patemon, Gunungpati, 2 Juni 2020


-Ilustrasi: akcdn.detik.net.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.