Gerakan Usroh di Indonesia

Spread the love

Judul        : Gerakan Usroh Di Indonesia (Peristiwa Lampung 1989)
Penulis    : Abdul Syukur
Penerbit  : Ombak September 2003
Pengulas : Sulistya Putri

Buku ini merupakan buku yang membahas gerakan usroh di lampung pada tahun 1989. Usroh sendiri merupakan metode perlawanan kelompok-kelompok pemuda islam terhadap pemerintahan orde baru. Buku yang terdiri atas 5 BAB ini di awali dari bab yang pertama yaitu peristiwa lampung 1989 yang memiliki sub-bab  tentang berita surat kabar yang membahas sumber data yang di dapat dari beberapa suratkabar. Sub bab selanjutnya adalah tinjauan historiografis dan metode wawancara naratif.

Buku ini merupakan jenis buku sejarah kontemporer. Dalam penulisan buku ini penulis melakukan beberapa pendekatan sumber data di antaranya adalah teknik wawancara individual dan teknik wawancara stimulan. Pokok bahasan buku ini sebenaranya membahas tentang gerakan penolakan pemerintahan orde baru yang di kaitkan dengan islam termasuk pada golongan yang radikal pada tahun 1990an. Dalam kasus ini di jelaskan tentang pembantaian jamaah Warsidi di dusun Telangsari III Lampung. Peahulumbantaian ini di dengan jihad, pembantaian masal di tanjung priok, protes Teungku Batangiah di Aceh beberapa aksi NII/TII di Jakarta. Dalam buku ini dapat di lihat peran politik islam pada pemerintahan orde baru.

Latar belakang kejadian tersebut adalah seperiti ini, Pada tahun 1986 beberapa mantan aktifis gerakan usroh Abdullah Sungkar dari kota Solo, Jawa Tengah, melarikan diri ke Lampung untuk menghindari operasi penangkapan oleh Pangdam Diponegoro Mayjen Harsudiono Hartas. Mereka bergabung dengan kelompok pengajian Warsidi yang berada di Desa Labuhan Ratu, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Tengah. Pada tahun 1987 kelompok pengajian Warsidi pindah ke Umbul Cihideung, Dusun Talangsari III, Desa Rajabasa Lama, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Tengah, setelah memperoleh tanah seluas 1 ½ hektar dari Jayus, seorang penduduk Umbul Cihideung. Warsidi mempunyai cita-cita mendirikan pondok pesantren. la meminta bantuan mantan aktifis gerakan Usroh Abdullah Sungkar untuk mencari murid dan sekaligus menyediakan tenaga pengajar dengan memanfaatkan jaringan gerakan usroh Abdullah Sungkar di Solo dan Jakarta. Aktifis gerakan usroh Abdullah Sungkar Jakarta disatukan kembali pada tahun 1987 oleh Nur Hidayat, mantan Komandan Tim Pencari Harta Fa’i gerakan usroh Abdullah Sungkar Jakarta Selatan yang dicari aparat keamanan sejak tahun 1986. Kelompok pengajian Nur Hidayat mempunyai program kerja membangun islamic village (kampung Islam) agar dapat menerapkan syari’ah Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mereka bekerja sama dengan kelompok pengajian Warsidi untuk menggabungkan program kerja membangun islamic village dan rencana mendirikan pondok pesantren di Umbul Cihideung. Kesepakatan kerjasama tercapai pada 12 Desember 1988 di Cibinong, Jawa Barat. Sejak Januari 1989 anggota kelompok pengajian Nur Hidayat 1hijrah ke Umbul Cihideung. Ternyata aktifitas mereka dipermasalahkan pejabat lokal di Lampung, baik sipil maupun militer, sehingga terjadi ketegangan yang mencapai klimak pada 7 Februari 1989 dengan penghancuran lokasi pemukiman kelompok pengajian Warsidi dan Nur Hidayat di Umbul Cihideung oleh Danrem 041 Gatam Kolonel Hendropriyono. Serangan 7 Februari 1989 dikenang dengan empat nama, yaitu; Peristiwa Talangsari, Peristiwa Way Jepara, Peristiwa Lampung dan Gerakan Pengacau Keamanan Warsidi. Penelitian membuktikan bahwa kelompok pengajian Warsidi dan Nur Hidayat bukan sebuah gerakan Ratu Adil sebagaimana diyakini sejarawan Prof Dr Sartono Kartodirdjo dalam dua tulisan singkatnya di Majalah Editor dan Harian Kompas. Pada dasarnya kelompok pengajian Warsidi dan Nur Hidayat merupakan kelanjutan dari gerakan usroh Abdullah Sungkar yang mempunyai pemahaman agama dan sikap politik berbeda dengan mayoritas kalangan Islam. Sejak tahun 1985 mayoritas kalangan Islam telah mengubah sikap politik konfrontatif menjadi akomodatif terhadap kepentingan Pemerintah Orde Baru, sedangkan
kelompok pengajian Warsidi dan Nur Hidayat tetap bersikap konfrontatif yang mempertentangkan antara keharusan menghayati dan mengamalkan Pancasila dengan kewajiban menerapkan syari’ah Islam dalam kehidupan sehari-hari yang pernah menjadi sumber ketegangan antara kalangan Islam dengan Pemerintah Orde Baru dalam kurun waktu 1976-1985.

Buku yang di tulis oleh Abdul Syukur ini memang sangat menarik karena di kemas secara berbeda. Buku ini juga memiliki keunikan tersendiri yaitu melampirkan informan-informan yang di wawancarai.

Pada BAB III di jelaskan tentang bangkitnya aktivis garakan usroh abdullah sungkar. Pada tanggal 19 Februari 1985 DPR menyetujui usulan Pemerintah Orde Baru untuk memberlakukan UU No. 3 thun 1985 tentang keharusan bagi seluruh partai politik dan golkarhanya mengenakan asas tunggal Pancasila. Dua ormas paling berpengaruh yakni NU dan Muhamadiah memnerima gagasan asas tunggal tersebut. Setelah itu pemerintah mencurigai gerakan Usroh Abdullah Sungkar dan menangkap anggotanya satu persatu. Operasi penangkapantahun 1985-1986 yang melancarkan Hartas tlah memaksa aktivitas gerakan Usroh Abdullah Sungkar keluar dari Jawa Tengah. Oleh karena itu kebanyakan dari mereka melarikan diri ke lampung dan seorang yang bernama Fadilah menemukan seorang yang secara spiritual sama yaitu Warsidi. Dan fadilah akhirnya mengikuti Warsidi, selain fadilah manatan aktifis gerakan Abdullah Sungkar juga semakin banyak yang bergabung. Abdullah punjuga ikut bergabung dan di tampung oleh Zamzuri.

Kemudian juga ada kelompok Nur Hidayat adalah tokoh terkenal dalam peristiwa lampung pada peristiwa 1989. Dia menjabat sebagai amir musyafir sejak 12 desember 1988. Dia juga termasuk orang yang terlibat aktif pada gerakan Usroh Abdullah Sungkar.

Selain itu di Umbul Cihideung pemerintah juga menetapkan Warsidi sebagai pemimpin tinggi gerakan pengacau keamanan dengan gelar imam. Latar belakang yang menyulitkan dirinya serta keluarga menyebabkan dia menjadi anti pemerintah, terutama pada aarat keamanan yang sering mengusir penduduk. Warsidi mempelajari ilmu agama dari gurunya anwarudin yang dimana ajaran tersebut sering di sebut sebagai ajaran Lelempahan.
Banyak pihak yang mengemukakan hipotesisnya terhadap gerakan lampung. Namun pada intinya gerakan warsidi dan gerakan Nurhidayat adalah gerakana yang bertujuan membela islam daningin menjadikan indonesia sebagai negara Islam. Namunpemerintah mengagap itu sebagai hal yang membahayakan sehingga harus di hancurkan.

Penulis sangat tertarik dengan hipotesa Sartono kartodirjo yang memasukan gerakan kelompok Nurhidayat dan Warsidi Sebagai gerakan Ratu Adil. Penulis tidak menemukan kharisma sosok Warsidi daari para informan. Hal ini di buktikan dengan saat wawancara banyak yang menyebutkan namanya warsidi saja.

Data-data yang di peroleh penulis cukup lengkap mulai dari hasil wawancara, kasus orang hilang, surat perintah penahanan, dan peta-peta pemukiman gerakan-gerakan usroh di Lampung. Buku ini juga di lengkapi tentang indeks serta biodata penulis. Berkat kejujuran dari penulis buku ini dapat di jadikan sumbangan sejarah lokal mengenai peristiwa 1989 di Lampung.

Kelebihan dan kelemahan
Buku ini adalah buku yang memiliki kronologi yang jelas. Selain itu buku ini di lengkapi data-data yang langsung berasal dari informan-informan yang di cantumkan pada bagian belakang buku. Penulis juga dapat mengungkapakan realita secara jelas sehingga semua peristiwa dapat tergambar dengan jelas. Dengan terbitnya tesis ini sebagai buku, sebagian sejarah indonesia yang lama di lenyapkan dari wacana umum di kembalikan pada masyarakat Indonesia. Dari buku ini juga dapat terungkap sisi gelap dari pemerintahyan orde baru yang selama ini di tutup.Kelemahan buku ini dari stukturbahasa kurang dapat dipahami.

Perbandingan dari buku lain yang juga membahas peristiwa & Februari 1989 di Umbul Cihideung, yaitu karya P. Bambang Siswoyo , Peristiwa Lampung Gerakan Sampalan., dan Al-Chaidar , lampung Bersimbah Darah : Menelusuri Kejahatan Negara Intelijen Orde Baru Dalam Peristiwa Jama’ah Warsidi.

Karya siswoyo pada dasarnya merupakan kumpulan surat kabar yang di susun tanpa mempertibangakan aspek kronlogi. Keterbatasan data dalam karya Siswoyo dapat dipahami karena buku di terbitkan 3 bulan setelah adanya peristiwa. Karya Al-Chaidar dari segi sumber informasi lebih baik daripada karya siswoya yang hanya mengandalkan berita surat kabar, Al- Chaidar selain memanafaatkan surat kabar juga mewawancarai pelaku dalam peristiwa tersebut. Namun Al-Chaidar kurang berhati-hati sehingga menimbulkan kritik sumber. Karena informasi yang di terima menjadi bias oleh kepentingan-kepentingan politik ataupun ekonomi. Sehingga buku yang di tulis oleh Abdul Syukur sejauh ini mendapatkan kategori yang baik.

0 thoughts on “Gerakan Usroh di Indonesia

  1. You are so cool! I don’t think I’ve truly read anything like that before. So nice to discover another person with some original thoughts on this subject. Really.. thanks for starting this up. This site is one thing that is required on the web, someone with a little originality!

Tinggalkan Balasan ke Michaela Reuther Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.