Gigit!

Spread the love

Oleh Gunawan Budi Susanto

Saudara-saudara, jika Anda ingin menyakiti dan menganiaya sesama, lakukan sepenuh hati segenap jiwa sepenuh kegembiraan. Pergunakan semua dan segala cara. Jangan cuma gebuk dan telanjangi. Itu tidak kreatif. Oleh karena itulah, kenali setiap kata yang memerihkan dan maknai dalam tindakan nyata.

Garuk, injak, tendang, pukul, jewer, tempeleng, tampar, lindas, karungi, dor, kebumikan, pendam, rendam, setrum, tebas, tusuk, seret, hantam, gampar, tindih, tinju, jepit, jegal, tenggelamkan, uruk, kemplang, sikut, jepit, bakar, jarah, tabrak, tubruk, tumpas, rajang, rangket, ikat, pecut, sabet, santet, racun, timpa, dorong, lebur, gempur, gebyur, sudet, cuil, jerat, jebak, jegal, sobek, culik, perkosa, sundut, selomot, patahkan….

Jika sang presiden pun sudah memilih kata penuh kekerasan, kenapa polisi, militer, dan kita tidak menggunakan? Bukankah peradaban kita memang berlandaskan kekerasan? Bukankah homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi sesama?

Lihatlah, Saudara-saudara, betapa bahasa Jawa juga memiliki sekian banyak kata yang mencerminkan laku kekerasan. Ejalah: arak, banda, bandhem, balang, blèjèti, bèthèti, belèh, bethot, bubuti, cethot, cokot, coklèk, congkèl, ciwel, cepit, cubles, culek, cuwil, dheplok, dhesek, dhongkèl, dhodhos, dugang, dhupak, dublak, èrèt-èrèt, gajul, gares, garuk, gejoh, gejik, gepuk, gebug, gecek, gaprak, gapruk, ganco, gantung, genjlèng, gebyur, gibeng, giles, giling, githes, gitik, giring, glandhang, idak, iris, jabut, jambak, jedhug, jengglèng, jejek, jégal, jegur, jenggung, jenu, jèwèr, jiret, jiwit, jotos, jojoh, jorok, jur, kaplok, keleb, kethok, karungi, kurung, kecrèk, keplak, keplèk, kepruk, keprak, kenthès, kethak, kampleng, kaweng, klanthang, labrak, obat-abit, obong, orak-arik, ontang-anting, pacul, patèni, pépé, pecut, pèpèt, penthung, pendhem, pithes, pidèh, palu, pithing, plindhes, plintheng, plintir, puntir, pothès, poklèk, rajang, remes, remuk, rojah-rajèh, rudha peksa, rut, sabet, sumpel, sudhèt, sikut, sotho, silèt, sabet, surung, santhèt, slomot, sogok, tumpes, tujes, tabrak, tubruk, tapuk, tekek, thuthug, tugel, tarik, tempiling, tungkak, tonyo, tendhang, tojoh, tujes, uncalna, urek, urug, udhèl-udhèl, udhèt-udhèt, uber….

Nah, nah, Saudara-saudara, mendengarkah kalian ketika Presiden menyatakan, “Siapa pun yang menghalang-halangi investasi akan saya gigit.” Aduh, Saudara, masa kalian tak melihat betapa kreatif presiden negara sebesar dan seperkasa negara kita bakal menggigit siapa pun! Tentu kita tak bisa menafsirkan atau memaknai kata “gigit” secara harfiah bahwa Presiden bakal menggigit sesungguh benar menggigit siapa pun bukan?

Ada yang bilang itu ancaman yang terdengar lembut, terdengar soft, dan berkesan feminin. Bukankah tindakan itu, jika berlangsung, selembut dan sefeminin ketika Mike Tyson menggigit Evander Holyfield di atas ring tinju?

Namun ada pula yang ngotot meski menggigit lebih lembut, lebih soft, lebih feminin ketimbang gebuk, misalnya, toh tetap menyakitkan bagi siapa pun yang bakal tergigit? Jadi, bagi mereka, menggigit sebagaimana Presiden lontarkan adalah ancaman serius. Lantaran, bukankah Presiden mempunyai segala perangkat kekerasan yang “berpayung hukum” dan dengan demikian “berkekuatan hukum” ketika “menggigit” siapa pun? Betapa mengerikan dan menyerikan bila itu benar-benar terjadi bukan? Bukankah tafsir terhadap frasa “menghalang-halangi investasi” bisa sangat plastis, mulur-mungkret, sesuai dengan kepentingan Presiden atau pemerintah? Atau, adakah pasal-pasal pidana yang memperbolehkan secara sah dan meyakinkan bagi seorang presiden boleh menggigit siapa pun yang menghalang-halangi investasi?

Bagi saya, tak perlu perdebatan itu. Titik tekannya, bagi saya, investasi! Titik! Jadi, ayolah, kita bertekad bulat agar ancaman itu tak pernah bakal terwujud. Ayolah, jangan halang-halangi upaya sang presiden memperlancar, memperderas, dan mempermudah arus investasi di negeri ini. Bukankah upaya menggalang investasi itu sepenuhnya baik, sepenuhnya benar, dan sebaik-baik dan sebenar-benar untuk kepentingan rakyat?

Percayalah!

***

Kluprut menyodorkan draf tulisan ngawur itu dan meminta saya menyunting, sore tadi, begitu saya pulang dari memenuhi sebuah undangan.

Pusing, itulah yang saya rasakan. Hari-hari ini, sungguh, saya tak ingin berpikir dan bicara atau menulis perkara tata kelola pemerintahan. Namun, sialan, Kluprut malah bermain-main dengan perkara yang ndrawasi, mengkhawatirkan, lantaran menyindir-nyindir pilihan kata sang pemimpin puncak pemerintahan negeri ini.

Maka, bahkan tanpa mengubah satu huruf pun, saya kembalikan tulisan dia sambil berpesan: jangan kaupublikasikan di media apa pun. “Saya khawatir, kau bakal kena pasal telah menghina atau mencemarkan nama baik. Atau, setidak-tidaknya bisa dianggap melakukan tindakan tak menyenangkan. Itu itu terjadi, celakalah kau,” ujar saya serius.

Namun dasar Kluprut, dia berlalu begitu saja, tanpa sepatah kata pun yang menunjukkan kesediaan tidak memublikasi tulisan itu. Jadi, Kawan-kawan, jika suatu kali sampean membaca tulisan Kluprut itu di media apa pun, percayalah: saya tak bersangkut-paut dengan perkara tersebut. Sampean tahu, saya penakut, saya pengecut. Saya tak bakal berani menyinggung apa pun yang menyalahi prinsip dan nilai-nilai keadilan, jika sudah berhubungan dengan kuasa, kekuasaan, dan penguasa.

Sungguh, saya tak siap menerima risiko tak mengenakkan. Hari-hari ini, Kawan, saya lebih memilih menulis sajak-sajak indah tentang rembulan dan bintang-gemintang. Atau, menulis cerita pendek tentang cinta dan kasih sayang.

Percayalah!

Patemon, 20 November 2019: 18.48

Gambar Ilustrasi: Pixabay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.