Gotong Royong

Spread the love

Oleh Gunawan Budi Susanto

Kluprut datang, duduk, melolos sebatang rokok, menyulut dan mengisap-semburkan asapnya. Sialan! Siang-siang begini terik dan menggerahkan, tanpa sungkan dia bertamu.

“Kopilah, kopi. Siang-siang begini, enak minum kopi!” ujar dia sambil cengengesan.

Rada ogah-ogahan saya bangkit, ke dapur, menjerang air dan meracik wedang kopi. Sejenak kemudian, saya kembali ke ruang tamu: menyuguhkan secangkir kopi samin pahit ke hadapan Paduka Yang Mulia Sialan Kluprut bin Naif.

“Nah, gini kan enak!” sambut Kluprut, lagi-lagi sambil cengengesan. “Apalagi jika kausuguhkan kopi ini secara ikhlas, lila-legawa, sukarela.”

Saya diam saja. Percuma menyanggah atau membantah ucapan dia. Bakal makin nyolot dia.

Kluprut mengangkat cangkir, lalu menyeruput. “Luar biasa!” ujar dia seraya berkecap-kecap. “Kopi enak.”

Saya masih terdiam. Sungguh, saya tak tahu itu pujian sebenar-benar pujian atau ucapan terima kasih tanpa bilang terima kasih.

“Apa pendapatmu soal kabinet Jokowi?” tanya dia setelah kembali meletakkan cangkir ke meja.

“Bagus,” sahut saya tak antusias. Siang terik yang bikin megap-megap macam ini, buat apa pula bicara soal politik dan kekuasaan. Kontraproduktif! Mending tidur atau baca Prisma terbaru yang mengangkat isu negara dan kapital dalam konflik agraria.”

“Bagus? Mana ada di dunia ini, kecuali di negara kita, pesaing dalam pemilihan umum, pemilihan presiden, masuk kabinet?” sergah Kluprut.

“Ya, itulah demokrasi gotong royong. Itu bahkan sudah lama berlangsung di unit terkecil dalam kehidupan bernegara kita, di tingkat pemilihan ketua rukun tetangga (RT) misalnya. Itulah dulu yang kami lakukan ketika saya terpilih jadi ketua RT. Saya memperoleh suara terbanyak, jadi ketua. Calon yang memperoleh suara terbanyak urutan kedua dan ketiga menjadi sekretaris dan bendahara. Kami, pengurus inti, bekerja secara kolektif-kolegial dan jalan!”

“Ini negara, bukan rukun tetangga. Jika akhirnya pesaing dalam pemilihan presiden ditunjuk sebagai menteri, buat apa pula menghabiskan banyak biaya untuk menyelenggarakan pemilihan umum? Buat apa! Itu bukti, semua dan setiap partai tak mempunyai perbedaan bagaimana seyogianya mengelola negara dan ke mana pula arah pengelolaan itu.”

Aku menyergah, “Kau tahu makna gotong royong? Gotong royong atau bergotong royong itu berarti gugur gunung, kerja bakti, bahu-membahu, bantu-membantu, berangkulan, berdampingan, berkolaborasi, berpegangan tangan, bersama-sama, bersandingan atau bersendel bahu, sandar-menyandar, tolong-menolong.”

Halah! Itu mesti kauhafalkan dari Tesaurus Bahasa Indonesia susunan Eko Endarmoko. Tapi tak apa-apa. Aku paham jika kau cuma bisa menghafal-hafal, tanpa kehendak menjadi penyumbang bahasa,” timpal Kluprut, lagi-lagi sambil nyengenges. “Persoalannya, jika mereka bergotong royong, benarkah sepenuh-penuh untuk memakmurkan rakyat secara adil? Benarkah kegotongroyongan mereka untuk menegakkan keadilan dalam kemakmuran? Jangan-jangan justru sebaliknya, mereka bergotong royong mengangkangi seluruh kekayaan di negeri ini untuk kepentingan pribadi dan kelompok oligarki mereka? Bukankah selama ini kecenderungan itulah yang mengemuka?”

“Prut! Jangan asal njeplak!”

Halah! Katanya hidup di negeri merdeka, merdeka pula bersuara, merdeka pula menyatakan pendapat?”

“Memang merdeka bersuara, merdeka menyatakan pendapat. Namun….”

“Namun apa! Kalau sedikit-sedikit takut, sedikit-sedikit merasa terancam, apa pula yang bisa kausumbangkan bagi kehidupan bersama? Terpelajar kok dikerangkeng rasa takut diberangus ancaman pemenjaraan? Lupa kau: kemerdekaan, bahkan kemerdekaan bicara di negeri yang merdeka, mesti kita rebut, mesti kita wujudkan dalam tindakan nyata. Tidak cuma sebagai pernyataan, tetapi mesti kita wujudkan sebagai kenyataan. Kemerdekaan, juga kemerdekaan bersuara, bicara, menyatakan pendapat, bukan paket yang jatuh begitu saja dari istana. Mesti kaucamkan itu!”

Aduh, capek deh bicara dengan Kluprut. Saya kembali memilih diam. Saya lolos sebatang rokok, menyulut, dan mengisap-embuskan asapnya.

“Nah, sekarang kau diam. Ya, begitu itulah pilihan yang kalian, orang-orang yang mengaku terpelajar, mengaku akademisi, mengaku intelektual. Kalian memilih diam ketika terjadi pengisapan dan penindasan terhadap sesama, ketika terjadi penghancuran terhadap segala ciptaan Tuhan. Diam itu emas? Pret! Itu dalih bagi para penakut!”

Saya masih terdiam. Masih pula mengisap-embuskan asap rokok.

“Sekarang makin sedikit lagi di antara kaum terpelajar yang berani menyatakan pendapat dan secara kritis menyikapi kebijakan pemerintah yang tak mengunjukkan keberpihakan kepada rakyat. Nyaris tak kita dengar profesor atau guru besar hukum yang bicara, misalnya, tentang kasus Pegunungan Kendeng Utara. Kau masih ingat bukan, warga pegunungan karst itu memenangi gugatan di Mahkamah Agung yang menolak pendirian pabrik semen di kawasan tandon air itu. Eh, eh…, Gubernur tak mengeksekusi keputusan mahkamah terhormat itu, malah memberikan izin baru dengan analisis mengenai dampak lingkungan yang setali tiga uang dengan dokumen sebelumnya. Jika para guru besar yang memiliki kebebasan mimbar akademik saja bungkam soal macam itu, apalagi yang bisa kauharapkan dari para akademisi nonguru besar, apalagi dari mahasiswa?”

Makin lama omongan Kluprut kian tak keruan juntrungannya. Saya malas menanggapi dan memilih terus berdiam diri.

“Kalau kalian, kaum terpelajar bungkam, takut menghadapi ancaman hukuman warisan kolonial, apa pula yang bisa rakyat harapkan? Pada siapa lagi rakyat menumpukan harapan perubahan? Apa pula yang bakal terjadi jika kegotongroyongan lebih maujud sebagai upaya memperkaya diri dan kelompok secara berjamaah, sembari memboyakkan kepentingan rakyat? Gotong royong kok menjarah kekayaan negara. Sementara kaum cerdik pandai bergotong royong bungkam. Hati-hati saja kalian jika kelak rakyat marah!”

Kluprut bangkit, berdiri, dan melangkah pergi. Tanpa pamit.

Saya terlongong, sendirian.

 

Patemon, 13 November 2019: 13.25

 

Gambar: lendoot.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.