Harapan, Kekhawatiran dan Tawaran

Spread the love

Oleh Fahmi Abdillah

(Hasil pembacaan atas kumpulan novel Soeparta Brata, dalam Soeparto Brata’s Omnibus)

Soeparto Brata lebih dari sekadar sastrawan Jawa senior bagi saya. Beliau adalah pengarang favorit sekaligus inspirator hidup saya, bahkan banyak apa yang beliau sampaikan dalam karya merasuk dan membentuk cara pandang saya akan kehidupan. Berawal dari kekaguman saya akan produktivitas dan kreativitas beliau, saya terus mencari dan menikmati karya-karya beliau, sampai pada titik ini, saya menemukan apa yang sebenarnya ingin beliau tulis. Yaitu kekhawatiran dan harapan beliau kepada negeri ini. Beliau mampu membungkus dua hal itu pada berbagai cerita, meminjam berbagai tempat dan kejadian untuk menyampaikan aspirasi, menyandangi berbagai tokoh dengan sikap dan pemikiran beliau. Dan dua hal itu yang coba saya bagi kepada kalian dalam tulisan ini.

Soeparto Brata, saya yakini merupakan karakter yang paling kuat bila kita sedang membahas karya sastra Jawa. Akan rampung  pada kata luar biasa, bila kita membahas soal cara penyajian, kekuatan unsur, detail cerita, logika cerita dan bahasa yang beliau gunakan dalam menyajikan karya beliau. Pun tak ada lagi pertanyaan tentang berapa banyak gaya cerita yang beliau tawarkan untuk mewarnai khasanah karya sastra Jawa. Dimulai dari gaya bahasa Surabayan, novel–novel detektif, dan yang paling sering saya temui adalah bagaimana sikap beliau memaknai wanita. Menjadi wanita super yang siap menghadapi masa depan dengan tekad dan keyakinan yang kuat menjadi pokok bahasan  dalam banyak cerita besutan sang maestro sastra Jawa modern ini.

Banyak novel Soeparta Brata bergaya feminis yang dikumpulkan dan diterbitkan menjadi satu buku, salah satunya dalam buku terbitan Penerbit Narasi bertajuk Soeparto Brata’s Omnibus yang berisi tiga novel yaitu, Astirin Mbalela, Clemang-Clemong, Bekasi Remeng-Remeng. Wanita dalam ketiga cerita ini tidak hanya menjadi tokoh utama, tapi juga tokoh central yang menjadi titik perubahan cerita tersebut. Bagaimana pola pikir, sudut pandang, dan pengambilan keputusan mereka menjadi penentu ke mana cerita ini berakhir. Ketiga cerita dalam buku Soeparto Brata’s Omnibus ini memiliki napas yang sama, memiliki titik tumpu yang sama, serta menyuarakan semangat, dan harapan yang sama.

Tekad

Hal pertama yang saya tangkap dalam ketiga cerita dalam buku ini adalah tentang tekad. Tentang semangat menggapai cita-cita, gagasan yang diyakini, dan menjadi tujuan masing-masing wanita dalam cerita pada buku bertebal 584 halaman ini. Tekad yang berapi-api, namun tetap dibalut dengan keteduhan, kahalusan, dan kelemahlembutan budi pekerti wanita.

Tekad meraih impian dalam Astirin Mbalela. Astirin yang begitu percaya akan cita-citanya menjadi penyanyi, entertainer layaknya bintang pujaan membuatnya begitu kuat mengerahkan seluruh usaha menghadapi masalah yang bertubi-tubi menghantam jiwa dan raganya. Mulai dari aksi nekad kabur dari Ngunut menuju Surabaya, melepaskan diri dari kekejaman mafia perdagangan wanita, bergerak menentukan sendiri nasibnya di Kota Tarakan dan Bontang, dan akhirnya membayar semua utangnya saat kembali ke Surabaya.

Tekad untuk melindungi keluarga juga tergambar pada tiga tokoh wanita dalam clemang-clemong. Abyor, balita yang belum begitu jelas mengerti akan persoalan yang sebenarnya dia hadapi berhasil menuntun ayahnya untuk memilih jodoh terbaik pengganti ibunya. Jujur, dengan keiklasannya menjalani hidup menemukan ketekunan untuk mengolah dan mendidik apa yang dia anggap peninggalan keluarga Abyor padanya, baik itu uang sebesar dua puluh lima juta, atau anak yang ia kandung saat meninggalkan keluarga tersebut. Yang Utri yang tergambar sepanjang cerita sebagai tokoh yang luar biasa keras, dan kasar pada tiap orang pun membuktikan bahwa apa yang ia jalani tulus untuk melindungi keluarganya. Terbukti, Yang Utri sendiri yang menggugurkan posisi Bulik Ratu sebagai calon mantu saat ia mulai menemukan ketidakberterimaannya pada sikap, dan sifat Bulik Ratu. Bahkan Worontinah, seorang yang sedari awal cerita sakit dan akhirnya meninggal, masih meninggalkan tekad untuk melindungi keluarganya melalui penampakan sukmanya pada Abyor. Memang terkesan ora ngemu nalar, atau berbau takhayul, namun justru menambah kekuatan cerita bahwa tekad merupakan energi luar biasa yang  berasal dari jiwa.

Tak akan teragukan bagaimana tekad Jumaniar untuk meraih hidup yang lebih baik, serta layak dalam cerita Bekasi Remeng-Remeng. Tak segan untuk menjadi buruh cuci saat Pandhu, sang suami ter-PHK, berkali ulang mengingatkan Pandhu untuk mencari rejeki secara halal, dan bagaimana dia membongkar kebiadaban penculik, pembunuh, dan pengedar narkoba, Engkar Sukarsa. Senada dengan Jumaniar, Kristanti pun memiliki tekad dan semangat yang sama untuk meraih hidup yang lebih baik. Wanita yang sudah lima tahun menikah dengan dr. Boing ini mencari solusi terbaik untuk mendapatkan keturunan, bahkan menghalalkan cara yang masih dianggap tabu di Negara ini. Perselingkuhan suami dan pembantunya, tidak hanya ia pikirkan, namun juga ia rencanakan dan utarakan dengan lugas dan tegas.

Berbagai karakter dan sikap wanita yang bertekad baja menjalani kehidupan dalam ketiga cerita tersebt merupakan harapan sekaligus kekhawatiran yang secara tegas disuratkan Mbah Parto. Bagaimana beliau memandang bahwa karakter semacam ini harus dimiliki oleh setiap warga Negara kita. Beliau terus mengingatkan hal itu pada tiap karya-karya yang beliau sajikan pada masyarakat. Saya menangkap tekad beliau untuk melawan berbagai hal yang membuat mental dan cara pandang warga Negara ini semakin mengkhawatirkan. Dan sebagai orang yang mengaku mengidolakan beliau, akan saya ceritakan pemahaman saya pada anda.

Sekolah Itu Penting, Tapi Tidak Cukup

Astirin, pemudi yang tak lulus SMA mampu menaklukkan berbagai tantangan dan membuktikan diri bahwa dia sanggup meraih apa yang ia inginkan,disandingkan dengan kebingungan Samsihi, sarjana dan juga PNS yang hanya mampu kebingungan menyaksikan berbagai strategi Astirin membalas dendam. Jujur, pembantu rumah tangga yang mampu mengelola sebuah butik, disejajarkan dengan Bulik Ratu, Sarjana yang akhirnya hanya mampu menangisi nasib karena gagal menjadi istri Sunar. Kecerdasan Jumaniar menggabungkan berbagai petunjuk untuk menuntun kapolsek Yanti menangkap Engkar Sukarsa. Peristiwa-peristiwa tersebut membuat saya mengamini istilah, “Sekolah itu penting, tapi tidak cukup.” Soeparto terus menegaskan bahwa apa yang bisa menyelamatkan bangsa ini dari kebodohan adalah membaca. Masing-masing karakter dalam cerita tersebut adalah orang-orang yang tak pernah berhenti belajar, tak pernah berhenti membaca, sehingga kemampuan membaca sampai pada mampu membaca keadaan dan membuat keputusan tepat atas permasalahan yang dialami.

Kurangnya Sumber Informasi yang Membangun Karakter

Mbah Parto sangat mengkhawatirkan asupan informasi yang tidak sesuai dengan karakter bangsa ini. Beliau fasih menyampaikan kritik pada tayangan televise saat itu yang diisi oleh sinetron yang isinya sama. Semua tentang kelicikan dan kekejaman tokoh antagonis, didukung ketidakberdayaan tokoh protagonis. Dan yang sangat beliau sayangkan adalah, dalam sinetron-sinetron waktu itu, cerita selalu diakhiri dengan keajaiban. Pertolongan dari takdir tersalur bukan karena kegigihan para tokoh protagonis, namun melalui makhluk-makhluk gaib, seperti peri dan kembalinya manusia dari kematian, atau azab yang mengakhiri kekejaman tokoh antagonis. Soeparto Brata melawan kekhawatiran itu dengan cerita-cerita beliau. Bahwa kekejaman harus dilawan dengan cara nyata yang sama cerdas, sama licik, bahkan sama kejamnya.

Tawaran Dekontruksi Moral

Mewajarkan yang tak wajar, dan menidakwajarkan yang wajar. Saya meminjam kalimat Darni Ragil Suparlan dalam tulisannya yang melengkapi Soeparto Brata’s Omnibus. Mbah Parto berhasil membuat wajar perkara seks bebas, perselingkuhan, bahkan hamil di luar nikah dalam ketiga ceritanya. Mbah Parto berhasil menidakwajarkan anggapan bahwa wanita yang menjadi pelaku seks bebas adalah wanita amoral, wanita murahan, wadon pelanyahan. Mbah Parto mengecam anggapan itu. Namun yang harus kita garis bawahi adalah keikhlasan dan tanggung jawab selalu menjadi landasan setiap perbuatan tersebut, menjejalkan gagasan bahwa seks adalah kebutuhan rohani dan jasmani yang dimiliki setiap manusia. Merupakan bentuk komunikasi yang wajar dilakukan bila dilandasi dengan keikhlasan dan tujuan yang mulia. Hina bukan lagi hanya milik wanita penjaja cinta, namun juga harus disematkan pada pria yang membelinya.

 

Gambar: https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.