Hari Terakhir Mbah Salimi

Spread the love

Cerpen Much. Taufiqillah Al Mufti

/1/

“Mak, apakah Mbah Salimi nenekku?”

Itulah pertanyaan yang kulontarkan kepada Emak ketika aku kelas V SD. Hingga aku duduk di bangku kelas III SMA, pertanyaanku itu tidak pernah Emak jawab dengan jelas. Emak selalu menjawab dengan ragu, alih-alih bungkam dan berkelit.

Dari jalur Ibu, aku punya nenek. Dari jalur Bapak, aku juga punya nenek. Lalu, Mbah Salimi nenek dari jalur siapa? Apakah Mbah Salimi istri kedua kakek, entah dari jalur siapa? Pertanyaan itu selalu menguntitku tatkala melihat Mbah Salimi duduk termangu setiap sore di teras rumah.

Entah apa yang ia lihat. Matanya mengarah ke depan dengan pandangan kosong. Sambil ditemani segelas teh yang terletak di sampingnya, ia bisa bertahan berlama-lama hingga lebih dari pukul 18.00. Kala orang-orang melangkah ke masjid, baik yang bersarung maupun bermukena, Mbah Salimi tetap termangu.

Saat petang, Emak selalu mengingatkan Mbah Salimi agar bergegas masuk ke dalam rumah untuk salat dan makan malam. Kalau saat itu sedang repot memasak, Emak menyuruhku mengingatkan Mbah Salimi. Namun jika aku yang mengingatkan, sangat besar kemungkinan Mbah Salimi tak menggubris.

Kalau sudah begitu, Emak akan turun tangan. Emak berkata, “Bu, ayo masuk ke rumah. Masakan sudah matang. Ayo makan. Jangan berlama-lama ngalamun. Nanti bisa kesirep!”

Mbah Salimi enteng saja menanggapi ajakan setengah berseloroh itu dengan tersenyum lebar, sehingga giginya yang tinggal beberapa kelihatan.

Suatu malam, ketika sudah kuliah, aku memberanikan diri bertanya lagi pada Emak. “Benarkah Mbah Salimi nenek kandungku?”

Emak menggeleng sembari berucap lirih, “Bukan.” Mungkin supaya Mbah Salimi yang tidur di dipan ruang depan tak mendengar.

“Apakah Mbah Salimi punya hubungan darah dengan kita, Mak?” tanyaku sambil menyeterika baju Bapak yang biasa digunakan untuk mengajar.

“Jelas punya,” kata Emak sambil melipat ulang baju yang baru saja kuseterika.

“Apa hubungan Mbah Salimi dan Emak?”

“Bulik.”

Ternyata benar, Mbah Salimi bukan nenekku. Namun aku tetap melempar pertanyaan pada Emak. “Apakah Mbah Salimi nenek kandungku?” Kalau toh Mbah Salimi bukan nenek kandungku, pertanyaan itu tentu tidak menyakiti hati Emak. Namun seandainya Mbah Salimi nenek kandungku, aku pun puas.

Emak akhirnya menceritakan riwayat hidup Mbah Salimi. Sejak usia 25 tahun, Mbah Salimi ditinggal mati sang suami. Suami Mbah Salimi meninggal saat berjualan koran kawasan lampu merah Jalan Yos Sudarso. Padahal, hari itu, sebelum pergi berjualan, sang suami berjanji akan pulang sebelum matahari terbenam.

“Mbah Salimi tidak punya anak, Mak?” tanyaku sambil melangkah menuju ke lemari baju.

“Punya,” jawab Emak sembari membukakan lemari. “Tapi meninggal tiga hari setelah dilahirkan.”

Sesaat aku terperenyak mendengar jawaban Emak. Aku tersadar ketika Emak menegurku. Aku meletakkan dan menata satu per satu baju dengan rapi. Namun dalam pikiranku terbayang Mbah Salimi yang menjanda 50 tahun lebih dan tetap setia menanti sang suami.

/2/

Sejak kecil aku tahu Mbah Salimi sudah berdagang pakaian bekas. Dia sudah menjalani usaha itu 52 tahun dan belum berhenti sampai sekarang. Pernah, aku bertanya mengapa Mbah Salimi tidak istirahat saja, seperti orang-orang sepuh umumnya. Ia menjawab dengan nada lembut, tetapi menyimpan ketegasan tak tergoyahkan.

“Lebih baik berdagang. Dapat uang hasil kerja keras daripada mengemis di jalan, mengharap belas kasihan orang lain,” ujar Mbah Salimi.

Dia berdagang dengan gembira sebenar-benar gembira. Padahal, tidak sekali-dua Mbah Salimi didepak aparat Satpol PP saat menggelar dagangan. Pernah dia berdagang di Pasar Klewer, diusir pasukan hijau. Dia pindah ke Pasar Gedhe, juga diusir, bahkan dagangannya diangkut ke atas truk dan tidak dikembalikan. Pernah juga ia direlokasi ke Pasar Gadhing, tetapi tidak lama bertahan. Dia lelah jika harus naik-turun ke lantai tiga tempatnya berjualan di pasar itu.

Sekarang, Mbah Salimi peta operasi Satpol PP yang lebih sering meneror pedagang daripada menertibkan pedagang. Mbah Salimi memilih berdagang di Jalan Veteran. Namun dia selalu berangkat siang untuk menghindari Satpol PP. Setiap hari Mbah Salimi harus menempuh jarak 3 kilometer dari rumah menuju ke lokasi berdagang. Namun dia tidak risau.

Sungguh, itu bukan pekerjaan yang mudah bagi seorang perempuan setua Mbah Salimi. Apalagi dia berstatus janda dan tidak memiliki keturunan!

Meskipun lanjut usia dan hasil dagangannya tak seberapa, Mbah Salimi salalu membelikan penganan untuk para cucu keponakan, termasuk aku. Dia memberilkan kami gorengan, tempe, tahu isi, atau martabak. Saat dagangannya laris, hampir setiap hari ia membawa buah tangan. Ya, Mbah Salimi selalu ingin memberikan sesuatu kepada orang di sekitarnya dan menyedikitkan diri menerima belas kasihan, apalagi bila pemberian itu berbalut kepentingan.

/3/

Suatu hari, aku mendengar kabar Mbah Salimi diusir lagi oleh Satpol PP saat berdagang. Sejurus aku menuju Jalan Veteran tempat ia berjualan baju bekas setelah Emak menelepon. Aku tak menghiraukan dosen yang sedang menerangkan. Aku minta izin dan pamit dari kelas. Sang dosen mengizinkan, meski seraya tersenyum ketus.

Lokasi berjualan Mbah Salimi sudah bersih, tak berbekas. Bahkan aku nyaris tak yakin di tempat itulah sebelumnya Mbah Salimi berjualan. Aku bertanya pada seorang satpam yang berjaga-jaga di depan sebuah kantor. “Bapak tahu nenek saya yang biasa berjualan di situ?”

“Nenek-nenek?” tanya dia penuh selidik sambil berkacak pinggang. “Oh ya, yang biasa jualan di sana ya?” ucap dia sambil menuding ke arah bawah pepohonan rindang.

“Betul,” sahutku. “Bapak tahu dia ke mana?” tanyaku penuh harap.

“Sepertinya digelandang ke mobil oleh Satpol PP. Coba ke Polres sekarang, Mbak.”

Sejurus kemudian aku menarik gas sekencang-kencangnya menuju ke kantor Polres. Tiba di sana, aku melihat Mbah Salimi sedang diinterogasi oleh seorang polisi. Segera aku mendekat dan tak ragu-ragu mengaku sebagai cucu Mbah Salimi.

Polisi itu terkejut saat aku mendadak datang dan memperkenalkan diri. Dia meminta aku duduk di samping Mbah Salimi. Dari samping, aku melihat raut wajah Mbah Salimi tetap tenang dan teduh, walau barusan dicecar pertanyaan oleh polisi.

Polisi itu meberi tahu aku, Mbah Salimi dituduh mencuri sehelai kemeja. Namun Mbah Salimi dengan suara lirih membantah tuduhan itu. Ia menuturkan membeli kemeja yang kemudian ia jual itu dari seorang tukang becak.

“Apakah orangnya seperti ini?” tanya polisi itu, lalu  menggambarkan perawakan si tukang becak.

Mbah Salimi mengangguk.

Tanpa ragu, polisi itu berkata, “Nah, berarti sampean komplotan dia!”

Aku terenyak mendengar perkataan polisi itu. Aku berpaling, menatap wajah Mbah Salimi. Wajahnya tetap tenang dan teduh. Tak memperlihatkan ketegangan sama sekali. Mbah Salimi menoleh kepadaku. Kedua mata kami bertemu. Ia bertanya, “Ndhuk, sekarang jam berapa?”

“Jam empat sore, Mbah.”

Mbah Salimi memintaku pulang untuk menunggu suaminya di teras rumah. Katanya, siapa tahu sang suami datang.

Aku menolak permintaan Mbah Salimi. Bukankah sang suami sudah lama meninggal? Dia kembali mengajukan permintaan sambil hendak mencium tanganku. Aku segera menarik tanganku. Sekilas aku memandang wajah Mbah Salimi yang tampak memelas; berbeda jauh dari sebelumnya.

Sebelum pulang, aku meminta polisi itu memperlakukan nenekku baik-baik. Jangan sampai memperlakukan secara kasar, apalagi sampai menganiaya. Polisi itu mengangguk, meski tampak terpaksa.

Dengan berat hati, aku meninggalkan Mbah Salimi. Dalam perjalanan aku menitikkan air mata.

/4/

Mbah Salimi dituduh jadi penadah; membeli dan menjual pakaian curian. Sudah beberapa kali dia disidang. Hari ini, sidang terakhir untuk menjatuhkan keputusan setelah majelis hakim mendengarkan keterangan saksi, antara lain aparat Satpol PP, satpam kantor, tukang becak, dan aku.

Selama Mbah Salimi ditahan pada masa persidangan, aku menggantikan dia duduk di teras rumah: menunggu sang suami. Meski aku sadar, itu usaha sia-sia. Namun setidaknya tindakan itulah yang membuat Mbah Salimi tegar menghadapi proses hukum.

Banyak pakar hukum dan aktivis menuntut Mbah Salimi dibebaskan tanpa syarat. Mereka menilai tuduhan jaksa sangat tidak beralasan dan berlandaskan hukum yang jelas. Pasalnya, Mbah Salimi membeli kemeja itu dari seorang tukang becak dengan akad yang sah. Itu berarti Mbah Salimi bukan pencuri. Si tukang becak itulah yang mencuri. Namun para hakim bergeming. Proses pengadilan terus berlangsung, tidak terpengaruh oleh tekanan dari luar.

Siang ini, di pengadilan, aku melihat dari pintu dekat kursi panitera menyembul Mbah Salimi yang berjalan dituntun dua polisi. Kedua polisi itu lalu mendudukkan Mbah Salimi ke kursi di tengah-tengah ruangan, menghadap majelis hakim. Seperti biasa, wajah Mbah Salimi tampak tenang dan teduh. Tak tergurat sama sekali raut kecemasan di garis mukanya yang berkerut termakan usia.

Persidangan dimulai. Ketika ketua majelis hakim hendak membacakan vonis, hujan turun. Rintik hujan terdengar keras menghantam genting dan mengguyur permukaan pekarangan kantor pengadilan. Angin bertiup kencang. Sesekali kilat bekerjapan. Ketua majelis hakim menskors sidang.

Ketika hujan mereda dan angin tak lagi bertiup kencang, ketua majelis hakim bersiap-siap kembali membacakan vonis. Saat hakim usai membacakan vonis, Mbah Salimi sama sekali tak bergerak. Sejenak aku curiga. Jangan-jangan….

Sejurus kemudian aku berlari dan melompati pembatas khalayak dan forum sidang, bergegas menghampiri Mbah Salimi. Kulihat wajahnya tetap tenang dan teduh. Matanya terpejam. Aku mengecek pembuluh darahnya. Tidak berdetak. Lalu beralih mendengar degup jantungnya. Sama, tidak berdegup juga. Aku berteriak, meminta pertolongan medis.

Petugas pengadilan memanggil ambulans. Mbah Salimi digotong ke ambulans, dibawa ke rumah sakit terdekat. Aku dan Emak menemani di dalam ambulans. Kulihat Mbah Salimi seperti sedang tidur dengan tenang.

Sampai di rumah sakit, Mbah Salimi segera dilarikan ke UGD. Aku dan Emak cemas. Aku berusaha mengusir bayangan buruk yang bergelayut tentang kemungkinan yang akan dialami Mbah Salimi. Tiga jam kami menunggu. Akhirnya dokter yang merawat Mbah Salimi keluar dari ruang ICU. Ia berjalan ke arah kami dengan muka murung. Sesaat ia memandangi aku dan Emak bergantian. Pelan-pelan ia mengatakan kabar yang tak ingin kudengar. Kabar yang memekakkan telinga dan merongrong perasaanku.

“Apakah tidak bisa ditolong, Dok?” tanyaku setengah menuntut.

Laki-laki berkalung stetoskop dan berjas putih itu menggelengkan kepala. Aku seperti terlempar ke pusaran air tak bertepi; berputar-putar dalam gelombang tak sudah-sudah.

Takdir…. Itulah yang terbetik dalam benakku setelah Mbah Salimi meninggal. Tetangga, para pedagang kaki lima, dan para tukang becak yang berlangganan membeli baju bekas dagangan Mbah Salimi berbondong-bondong datang. Mereka membacakan doa seusai salat isya di rumah kami; mengharapkan yang terbaik bagi Mbah Salimi di sisi Tuhan. Tak kudengar seorang pun di antara mereka menjelek-jelekkan Mbah Salimi. Aku pun yakin, Mbah Salimi akan bersanding dengan para syuhada.

Usai pengajian tujuh hari kematian Mbah Salimi, aku bertanya pada Emak. “Emak, apakah aku bisa menjadi cucu kandung Mbah Salimi?”

Emak bertanya balik, “Mengapa kau bertanya begitu, Ndhuk?”

“Kalau jadi cucu kandung Mbah Salimi, aku wajib mendoakan dia setiap selesai sembahyang bukan? Jadi amal baik Mbah Salimi terus mengalir, karena anak keturunannya selalu mendoakan,” kataku.

Aku merasakan desir angin malam yang masuk dari teras, tempat Mbah Salimi biasa menunggu sang suami. Menunggu, sampai ia pun menyusul ke keabadian.

 

Semarang, 2 Februari 2020

 

 

– Much. Taufiqillah Al Mufti, alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, kini menjadi guru, tinggal di Semarang

Ilustrasi: 1.bp.blogspot.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.