Honey Politics: Monumen Kebodohan yang Didiskon 20 Persen

Spread the love

Setelah buku yang berisi 19 cerpen itu terbit, saya berpikir: kebodohan saya sudah diterbitkan. Saat kumpulan cerita itu saya tawarkan, saya kadang  berpikir: saya sedang menjual kebodohan sendiri. Ketika saya menerima uang dari pembeli, saya berpikir agak geli: Alhamdulillah, kebodohan saya ternyata laku,”

Begitulah yang dikatakan Danang Cahya Firmansah, penulis Honey Politics kepada Kalamkopi, Minggu (12/01/2020). Kira-kira, mengapa Danang menyebut buku karyanya itu sebagai monumen kebodohan? Sudah begitu, ia rela monumen kebodohannya dijual dengan diskon 20%. Sungguh menarik bukan?

Kepada Kalamkopi, Danang mengungkapkan penyebutan itu berkait dengan proses kreatifnya menulis Honey Politics. Ya, Honey Politics menjadi monumen kebodohannya karena buku itu adalah bukti proses belajarnya sejak kali pertama bersentuhan dengan buku-buku fiksi hingga ia bisa menulis karya fiksi sendiri.

Ia mengungkapkan, awalnya tak memiliki ketertarikan sama sekali pada dunia fiksi. Menurutnya, karya fiksi adalah hasil reka-daya dan lamunan orang.

“Saya heran, sudah tau dunia rekaan, mengapa banyak orang menikmati? Buat apa menikmati lamunan orang lain? Emang kita tidak bias melamun sendiri?” katanya.

Ia melanjutkan, keheranannya justru membuatnya ingin membaca karya fiksi. Akhirnya ia membaca Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma atas saran seorang teman. Dari sana, Danang mulai terpikat dengan dunia dan karya fiksi.

“saya tak menyangka bila rangkaian kata, kalimat, dan isi dari cerita-cerita dalam buku itu memikat pikiran saya. Bagaimana cara mereka-reka kejadian demikian? Saya memikirkan hal itu, memikirkan bagaimana pengarang yang beraandai-andai lalu menuangkan kata demi kata dan akhirnya menjadi buku yang menarik,” tuturnya.

Danang kemudian tertantang untuk berandai-andai, memeras imajinasi, dan berusaha untuk menuangkannya ke dalam bentuk tulisan. Ia awali semangat untuk menulis.

“Belum genap satu halaman, saya sudah kehabisan kata-kata. Saya memikirkan tokoh yang saya buat itu sebaiknya bagaimana? Saya lama termenung. Dan sialan, tokoh itu macet, karena saya tak tahu sebaiknya akan kuarahkan ke mana. Daripada bingung, akhirnya tokoh itu saya bunuh, biar cerita selesai,” ungkapnya.

Danang mengaku, saking penasarannya akhirnya ia membaca lagi karya-karya fiksi. Ia membaca kembali karya-karya Seno Gumira Ajidarma juga Ahmad Tohari. Ia kemudian kembali belajar menulis dan berusaha meniru gaya dua penulis itu.

“Ternyata tiruan saya gagal total. Pun saya membaca karangan Ahmat Tohari. Bahasanya sederhana, tak bercanggih-canggih dalam berbahasa. Tapi dari kesederhanaan itu saya terperangah, mengapa cerita yang biasa saja, yang saya acap mengalami atau melihatnya dalam kehidupan sehari-hari, biasa dia sajikan sedemikian rupa?” ungkap Danang.

Danang tak mau menyerah. Ia kemudian membaca lagi, menambah referensi. Pramoedya Ananta Toer, O Henry, Hemingway, Charles Dicken, Mo Yan jadi pilihannya.

“Saya malah makin heran, mengapa mereka bisa menyajikan cerita, menyusun kata demi kata dan menghasilkan karya yang menarik?” ujarnya.

Danang tetap belajar menulis. Ia mulai mengamati cara penulis menyusun dan merangkai kata dan kalimat. Namun yang ia dapatkan justu kebingunan soal bagaimana cara penulis menembakkan gagasan lalu meledak di kepala pembaca. Cukup frustasi, Danang akhirnya memutuskan mengikuti kelas menulis di kedai kopi ABG pada 2016.

“Di sana, tulisan-tulisan saya diberi masukan dan kritikan oleh kawan-kawan peserta kelas. Saya menyadari betapa banyak celah untuk mereka komentari, betapa banyak masukan yang selalu saya dapatkan dari kawan-kawan. Saat itu pula saya merasa bahwa tulisan-tulisan saya adalah monument kebodohan,” ucap Danang.

Rajin mengikuti kelas menulis, membuat Danang cukup produktif. Ia mulai mengumpulkan tulisan-tulisannya. Ketika tulisannya terkumpul lumayan banyak, ia tak mau menerbitkan meski banyak teman yang mendorongnya.

“Awalnya saya menolak, karena itu aib. Aib lebih baik disimpan rapat, jangan diumbar. Tapi saya berpikir-pikir, buat apa menulis jika hanya dibaca untuk diri sendiri? Diresapi diri sendiri? Apa bedanya dengan masturbasi? Bedanya paling Cuma mengejang dan lemas doang,” bebernya.

Atas dasar itu, akhirnya Danang memutuskan untuk menerbitkan bukunya. Buku yang ia beri judul Honey Politics itu berisi 19. Kumpulan cerpen yang ia sebut sebagai monumen kebodohan itu kini bisa kita dapatkan dengan harga 50 ribu dengan diskon 20%.

Buku dengan tebal 131 halaman itu diterbitkan oleh Cipta Prima Nusantara. Disunting oleh Gunawan Budi Susanto. Gambar sampul karya Amrih Basuki, dan desain oleh Orde Buku-Kooperasi Moeda Kerdja. Tata letak atau layout dikerjakan oleh M. Nur Halim. Masih hangat karena baru diterbitkan pada awal 2020 lalu.

Danang menambahkan, proses belajarnya kini telah diabadikan dengan bentuk buku. Kebodohan telah dimonumenkan lewat buku karyanya.

“Dan ternyata tidak hanya kepandaian, saya rasa kebodohan juga layak disyukuri. Selain itu, yang terpenting adalah jangan meremehkan sesuatu, yang bahkan terlihat remeh sekalipun. Dan sesuatu yang berat, yang bukan remeh, memang layak untuk ditaklukkan. Itulah alasan kenapa saya menulis!” pungkas Danang. (advertorial)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.