Hujan Air Mata di Kamar Kecil

Spread the love

Cerpen Dicki Arief

Dua bulan semenjak Kakek meninggal, Tante Emy tinggal di rumah kami. Ia adik kesayangan ibuku. Kami menerima dia karena Tante Emy berkebutuhan khusus. Ia mengidap epilepsi. Penyakit itu sangat ditakuti kebanyakan orang.

Kali pertama aku menyaksikan Tante Emy kambuh di rumah, perasaanku tak keruan. Takut dan sedih bercampur aduk jadi satu. Di satu sisi, aku ingin menolong. Di sisi lain, aku ketakutan saat melihat dia kejang-kejang.

Peristiwa itu terjadi pada hari Minggu, saat kami berempat menikmati libur di rumah. Tiba-tiba Tante Emy kambuh di ruang keluarga. Ia memekikkan suara tak keruan. Ibu yang sedang memasak kue di dapur bersamaku terkesiap dan langsung menghampiri. Hanya aku yang masih terdiam dan sesekali mengintip dari pintu dapur, menyaksikan Ibu memangku kepala Tante Emy yang meronta-ronta dengan sapu yang masih tergenggam.

“Danar, tolong ambilkan bantal dan kain di lemari,” perintah Ibu kepadaku.

Aku masih terdiam di pintu dapur.

“Cepat! Jangan diam saja!” bentak Ibu.

Aku terkejut mendengar perintah Ibu dan bergegas menuju kamar Tante Emy. Kuraih dua bantal serta sepotong pakaian, lalu kubawa ke ruang keluarga. Ayah telah membopong Tante Emy ke sofa bersamaan dengan kedatanganku. Aku ditugasi memegang kepalanya yang telah ditaruh di bantal. Ayah ditugasi memegang kedua kaki agar tidak menendang-nendang. Ibu melonggarkan pakaian Tante Emy agar dapat relaks.

Kami baru melepaskan pegangan setelah rontaan Tante Emy mereda dan tubuhnya terbujur lemas. Ibu menugasi aku membuat teh hangat sebagai penawar bagi Tante Emy yang gemetar setelah kambuh.

“Sudah, jangan memaksakan diri bekerja,” ujar Ibu sembari memberikan segelas teh hangat pada Tante Emy.

Sesaat setelah itu, tubuh Tante Emy membaik.

“Tak apa, cuma menyapu kok dilarang,” katanya.

“Bukan begitu, My. Kondisi tubuhmu belum stabil.”

“Tak apa. Toh menyapu bukan pekerjaan berat, Mbak.”

“Sssttt, jangan membantah. Dengarkan saja nasihatku.”

Mau tak mau Tante Emy harus menuruti nasihat Ibu. Dengan wajah cemberut, ia beranjak ke kamar. Meninggalkan kami bertiga di ruang keluarga.

“Emosinya belum juga stabil,” keluh Ibu.

“Iya, Bu,” jawab Ayah. “Bagaimana bisa kaubiarkan Emy kerja hingga kecapekan?”

“Eh, bukan salah Ibu, Yah,” Ibu membela diri. “Tadi Ibu suruh Danar bantu-bantu membersihkan rumah. Eh, Danar malah ikutan bikin kue.”

“Iya, Bu, maaf. Danar salah,” aku mengakui kesalahan karena telah membiarkan Tante Emy membersihkan rumah.

Ibu menugasiku mengawasi Tante Emy. “Jangan sampai tantemu kambuh lagi,” ujarnya. “Kauawasi tantemu. Jangan sampai ia menguras energi hanya untuk bersih-bersih rumah. Jangan bilang sebentar, sebentar, kalau Ayah dan Ibu menyuruhmu.”

“Baik, Bu. Danar mengerti.”

***

Aku benar-benar memahami tugas dari Ibu. Setiap pagi aku menyapu rumah. Selepas pulang sekolah dan berganti pakaian, aku selalu menemani Tante Emy yang bersantai di ruang keluarga. Wanita berusia tiga puluh dua tahun itu lebih suka membaca buku ketimbang menonton televisi. Berbagai jenis buku dia baca, termasuk buku kesehatan.

Mengatasi kebosanan Tante Emy bukan perkara mudah. Aku menemukan cara dengan aktivitas yang tak terlalu berat bagi dia. Misalnya, mendongeng, membacakan buku yang dia baca atau yang kupinjam dari perpustakaan sekolah. Dengan cara itu, rasa bosan dia perlahan-lahan sirna. Menjelang senja aku kembali menyapu rumah agar tetap bersih. Semua pekerjaan kujalankan secara teratur.

“Bagiku, kamar kecil tempat paling nyaman untuk berpikir secara jernih,” ucap Tante Emy.

“Bagaimana bisa, Tante?” tanyaku penasaran.

“Saat kita membuang kotoran dari tubuh kita, otak akan bekerja dengan baik. Kita akan berucap plong!”

“Mana mungkin alasannya begitu?” aku memprotes.

“Ha-ha-ha-ha,” Tante Emy tertawa lepas.
Baru kali ini aku melihat tawa lepas Tante Emy. Wajahnya berbinar-binar seperti matahari yang baru muncul dari peraduan. Ia seperti tak memiliki beban sama sekali. Aku sangat bersyukur. Tuhan begitu baik pada Tante Emy. Setidaknya ia dapat melupakan aktivitas yang membosankan dan penyakitnya barang sejenak. Tanpa sadar aku meneteskan air mata haru sekaligus bahagia.

Memoriku melayang ke peristiwa dua belas tahun lalu. Saat aku berusia lima tahun, Tante Emy selalu mengajakku jalan-jalan setiap kali ada pasar malam di dekat rumah. Ia selalu mengajakku bermain dan mencoba berbagai macam permainan. Dari komedi putar, bianglala, hingga mandi bola. Ia juga selalu membelikan berbagai macam mainan, seperti robot-robotan dan pistol mainan.

“Lo, Danar, kenapa menangis?” suara itu mengejutkanku.

“Eh, bukan menangis, Tante. Danar hanya tertawa geli sampai keluar air mata,” jawabku menenangkan dan berpura-pura tertawa.

“Ya, sudah. Sekarang, Danar belajar saja. Kalau bingung tanya pada Tante.”

“Memang Tante tahu jawabannya?”

“Ya tahulah. Tante kan punya kunci jawaban.”

“Ha-ha-ha-ha!”

Kami tertawa.

Aku mengerjakan pekerjaan rumah. Ya, Tante Emy selalu mengingatkan agar aku selalu menyelesaikan pekerjaan rumah. Ia akan membantu saat aku kesulitan.

Sebaliknya, ia memarahiku saat pekerjaan rumah tidak terselesaikan. Jika aku mendapat nilai baik pada ujian akhir, Tante Emy berjanji memberiku hadiah sebagai pemacu semangat belajar.

***

Sayup-sayup suara Ayah terdengar dari teras rumah. Dia sedang berbicara dengan Ibu. Suara itu terdengar hingga ruang keluarga, tempat aku dan Tante Emy sedang menyelesaikan pekerjaan rumahku. Aku berupaya mendengar dengan cermat sambil berpura-pura serius mengerjakan tugas.

“Bu, apa ada lelaki yang mau dengan Emy?”

“Ada, Yah. Tinggal kita berdoa agar Emy segera menemukan jodoh. Jangan lupa, kita juga harus berusaha membantu Emy menemukan jodoh,” jawab Ibu.

“Benar, Bu, biar ada yang menafkahi dan mengurus dia.”

Saat menguping pembicaraan orang tuaku, aku membujuk Tante Emy sesegera mungkin menyelesaikan tugasku dan beristirahat. Namun Tante Emy menolak tawaranku dan menceramahiku agar mengerjakan tugas secara serius supaya mendapatkan nilai memuaskan.

Percakapan Ayah dan Ibu membuatku merasa tak enak hati pada Tante Emy jika dia sampai mendengar. Akhirnya, setelah tiga puluh menit mengerjakan tugas sekolah, aku bersegera tidur. Tak lupa aku mengucap terima kasih pada Tante Emy dan mengingatkan dia untuk segera beristirahat.

***

Seperti biasa, sepulang sekolah dan setelah memasuki rumah, aku selalu menghampiri Tante Emy di ruang keluarga. Namun tak kutemukan Tante Emy yang biasanya bersantai di sofa dan membaca buku. Kubuka pintu kamarnya. Tak ada. Kujelajahi seisi rumah untuk mencari. Kutemukan pintu kamar kecil tertutup.

“Ibu? Tante Emy?” aku berteriak ke arah kamar kecil.

Namun tak ada jawaban dari balik pintu.
Aku memutuskan ganti pakaian dan sejenak melepas lelah dengan berbaring di atas kasur. “Mungkin Tante Emy sedang berupaya berpikir secara jernih dan tak ingin ada yang mengganggu,” gumamku.

Setelah lima belas menit menunggu, tak ada apa pun, kecuali sunyi. Perasaanku makin tak keruan. Ada firasat buruk sesuatu sedang terjadi. Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Ternyata Ibu memasuki kamarku dan bertanya, “Di mana Tante Emy, Nak?”

“Di kamar kecil, Bu. Tadi Danar panggil, tetapi tak menyahut.”

Tanpa bicara Ibu berlalu dan pergi ke belakang, menuju kamar kecil. Mungkin hendak memastikan tak terjadi apa-apa di kamar kecil. Aku mengikuti dari belakang. Ibu mengetuk pintu sembari memanggil-manggil Tante Emy.

“Emy! Emy!”

Tetap tak ada jawaban dari balik pintu.

“Nak, coba kaupanggil sekali lagi tantemu,” perintah Ibu.

“Tante Emy!” aku memanggil dengan suara lemah.

“Dobrak saja, Nak. Ibu takut terjadi apa-apa pada tantemu,” ujar Ibu.

Aku mendobrak pintu. Dengan sekuat tenaga, setelah dobrakan ketiga, akhirnya pintu terbuka. Kami berdua terkejut melihat tubuh Tante Emy terbujur kaku dengan air liur di sana-sini dan luka di lidah yang tergigit serta bagian belakang kepala terbentur bak kamar mandi. Ia mengalami serangan mendadak tanpa ada yang tahu. Tak ada detak nadi di tangannya. Napasnya tak terembus sama sekali. Seketika aku menangis sejadi-jadinya.

“Tante kan belum memenuhi janji akan memberiku hadiah jika nilaiku bagus,” ujarku sambil terisak.

“Tante Emy sudah terlepas dari penderitaan di dunia, Nak. Semoga ia bahagia di sana,” ujar Ibu menenangkan aku. “Sekarang hubungi ayahmu agar segera mengurus jenazah Tante Emy.”

Tante, maafkan Danar, yang berpamrih, meminta hadiah jika mendapat nilai baik pada ujian akhir.

Graha Sunyi, 17 Februari 2017

Dicki Arief, alumnus Program Studi Pendidikan Sejarah, Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang

Gambar Ilustrasi: WallHere

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.