“Ip Man 4” dan Diskriminasi

Spread the love

Oleh Saiful Anwar

Saya suka menonton film. Kamis, 9 Januari 2020, saya menonton film Ip Man 4. Film laga itu menceritakan kisah guru Ip, master kungfu aliran wing chun dari Tiongkok. Film yang disutradarai Wilson Yip itu diproduksi Raymond Wong. Sebelumnya saya sudah menonton Ip Man 1, Ip Man 2, Ip Man 3.

Pada film kali ini, Ip Man (yang diperankan Donnie Yen) pergi ke Amerika Serikat untuk mencari sekolah baru bagi anaknya. Di negara itu, Ip Man mengunjungi orang-orang Tionghoa yang tinggal di kawasan Chinatown. Rumah, toko, dan segala pernak-pernik di kawasan itu bergaya Tionghoa, sehingga berkesan seperti di Negeri Tirai Bambu. Ip Man datang ke Chinatown untuk meminta surat rekomendasi dari ketua Asosisasi Etnis Tionghoa Amerika Serikat, Wan, agar sang anak bisa diterima di sekolah Amerika Serikat. Rekomendasi dari Asosiasi Etnis Tionghoa sangat penting, sebab surat itu bukti kepatuhan dan ketaatan orang-orang Tionghoa terhadap hukum dan segala peraturan di negeri Paman Sam. Namun permohonan Ip Man ditolak.

Di Amerika Serikat, Ip Man bertemu sang murid, Bruce Lee. Bruce Lee, yang berlatih wing chun sejak kecil pada Ip Man, kini sudah menjadi bintang terkenal dan memiliki perguruan. Ia menulis buku bahan ajar seni bela diri wing chun dalam bahasa Inggris agar orang di luar Tiongkok bisa mempelajari, sehingga wing chun makin dikenal dunia. Ip Man bangga atas capaian sang murid itu. Cita-cita Ip Man agar wing chun dikenal luas kini menjadi kenyataan.

Namun tindakan Bruce Lee justru membuat Asosiasi Etnis Tionghoa di Amerika Serikat kesal. Bagi Asosiasi Etnis Tionghoa di Amerika Serikat, seni bela diri Tiongkok adalah peninggalan leluhur yang hanya boleh dipelajari oleh orang-orang Tionghoa. Selain orang Tionghoa tidak pantas mempelajari sebab bela diri Tiongkok bukan hanya tentang gerakan menyerang lawan, melainkan lebih dari itu. Bela diri Tiongkok mengandung filosofi, seni, dan budaya yang tidak akan bisa dipahami sembarang orang. Bela diri Tiongkok hanya untuk orang Tionghoa.

Selain konflik sesama orang Tionghoa, dalam film itu juga digambarkan bagaimana orang-orang Tionghoa menjalani kehidupan di Amerika Serikat. Di negara itu, orang-orang Tionghoa diperlakukan secara tidak adil. Mereka didiskriminasi. Mereka dianggap berbeda dan distigma sebagai pengacau.

Ip Man mengetahui hal itu. Dan, dari sinilah petualangan dia bermula. Ip Man terlibat konflik dengan orang-orang dari Angkatan Bersenjata Amerika Serikat. Salah seorang murid Bruce Lee mencoba mengenalkan wing chun ke markas militer Amerika Serikat. Seorang kopral menolak permintaan itu. Sang kopral meyakini bela diri yang ada di militer Amerika Serikat sudah bagus dan mereka tidak perlu mempelajari wing chun. Ia mengirim anak buahnya ke Chinatown untuk mengalahkan para pendekar wing chun. Namun ketika semua pendekar wing chun terkalahkan, tiba-tiba Ip Man muncul dan menghajar anak buah sang kopral sampai babak belur. Dalam adegan terakhir sang kopral menantang Ip Man bertarung hidup-mati. Dalam keadaan sakit kanker, Ip Man mampu mengalahkan kopral itu. Ia mendapat apresiasi dari militer Amerika Serikat.

Selalu Didiskriminasi

Jika Anda sudah menonton Ip Man 4, saya pastikan Anda setuju: film ini menyuguhkan aksi jotos-jotosan yang memukau. Namun dalam tulisan ini saya tidak hendak membahas hal itu. Bagi saya, selain aksi baku hantam yang memukau, ada hal lebih menarik untuk kita bahas. Itulah isu diskriminasi.

Ya, dalam Ip Man 4 orang-orang Tionghoa digambarkan sebagai kelompok masyarakat yang selalu didiskriminasi. Ada satu adegan menarik dalam film itu yang berkait dengan soal diskriminasi. Yonah (yang diperankan Vanda Margraf) adalah gadis Tionghoa yang bersekolah di Amerika Serikat. Ayahnya ketua Asosiasi Etnis Tionghoa Amerika. Suatu hari Yonah terpilih menjadi kapten cheerleader. Teman sekolah Yonah tidak mau menerima Yonah, orang Asia, memimpin mereka, orang-orang Amerika berkulit putih. Saat Yonah pulang, sekelompok siswa mengadang dan menghina dengan kata-kata kasar. Mereka menghajar Yonah. Salah seorang di antara mereka berkata, “Dasar kuning jalang. Pulanglah ke negerimu di Asia! Amerika tanah kami.”

Menanggapi hinaan itu Yonah menjawab, “Semua orang di negara ini adalah imigran. Pemilik tanah ini adalah orang-orang Indian. Kalian merebutnya dari mereka.”

Lima lelaki dan seorang gadis mengeroyok Yonah. Ia melawan, meski akhirnya babak belur.

Diskriminasi bukanlah hal baru di Amerika Serikat. Sudah sejak lama negara itu dikenal sebagai negara yang diskriminatif dan rasis. Memang dalam undang-undang kemerdekaan, Declaration of Independence 1776, mereka mengakui persaudaraan dan persamaan. Namun dalam praktik jauh dari kenyataan. Untuk membebaskan diri dari sistem perbudakan pun negara itu harus melewati perang saudara selama empat tahun (1861-1865).

Amerika Serikat memiliki sejarah kelam berkait dengan rasisme dan diskriminasi. Diskriminasi terhadap etnis Tionghoa hanyalah riak kecil di tengah samudra.

Menyaksikan gambaran diskriminatif terhadap orang-orang Tionghoa di Amerika Serikat, saya teringat nasib orang-orang Tionghoa di Indonesia. Di Indonesia, perlakuan diskriminatif terhadap etnis Tionghoa juga bukanlah hal baru. Ia mewarnai perjalanan sejarah Indonesia sejak zaman kolonial hingga republik. Pada 9 Oktober 1740, misalnya, terjadi Geger Pecinan. Belanda menangkapi dan membunuh lebih dari 10.000 orang Tionghoa. Pada 23 September 1825, putri Sultan Hamengku Buwono I, Raden Ayu Yudakusuma, menyerbu Ngawi dan membantai orang-orang Tionghoa.

Derita Tionghoa

Pada 1965 terjadi Peristiwa G30S. Selain menyeret ratusan ribu simpatisan PKI ke jurang pembantaian, peristiwa itu juga menyeret orang-orang Tionghoa ke dalam kondisi hampir sama. Pada tahun itu pula di Makassar terjadi gerakan anti-Tionghoa. Di Medan juga muncul gerakan serupa pada 1966. Orang-orang Tionghoa diburu karena dianggap bagian dari kelompok komunis.

Derita orang-orang Tionghoa Indonesia tidak hanya sampai di situ. Pada 1998 terjadi gerakan reformasi, menuntut Suharto lengser. Salah satu penyebab kemunculan gerakan reformasi adalah krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak 1997. Sejak kriris itu menghantam Indonesia, harga bahan kebutuhan pokok naik dan inflasi tak terkendali. Semua susah, semua marah.

Di Jakarta, kekecewaan ditujukan kepada orang-orang Tionghoa. Banyak toko dan rumah orang Tionghoa dijarah dan dibakar. Tidak sedikit pula wanita Tionghoa diperkosa. Pelaku menuding, sumber kesengsaraan hidup mereka adalah orang-orang Tionghoa yang menguasai sumber daya ekonomi. Tentu saja alasan itu bisa kita perdebatkan.

Tindakan diskriminatif terhadap kelompok apa pun tidak dibenarkan. Di suatu negara yang terdiri atas banyak kelompok, kebudayaan pastilah dibangun oleh semua kelompok. Berkait dengan soal itu, lagi-lagi ada adegan dalam film Ip Man 4 yang menarik. Saat Chinatown diserang dan semua pendekar kungfu dikalahkan, mereka diselamatkan oleh Ip Man dan Bruce Lee. Para pendekar kungfu yang terluka parah ditempatkan di suatu tempat tersembunyi dan diobati. Di tempat pengungsian itu salah seorang di antara mereka bicara, “Kakekku dahulu datang ke sini (Amerika Serikat) untuk bekerja sebagai buruh kasar. Ia membangun jalan, jembatan, dan gedung-gedung bertingkat. Orang-orang Tionghoa sudah banyak berperan dalam membangun Amerika, tapi mengapa Pemerintah Amerika terus memperlakukan kita secara diskriminatif?”

Penggalan adegan itu mengingatkan saya pada kondisi etnis Tionghoa di Indonesia. Orang-orang Tionghoa datang dan sudah menetap di Indonesia sejak ratusan tahun lalu. Mereka telah berperan penting dalam membentuk kebudayaan Indonesia. Sumbangsih mereka dapat kita lihat, misalnya, dalam bangunan, kuliner, busana, bahasa. Bahasa Indonesia yang kita gunakan saat ini adalah bahasa Melayu yang dipopulerkan oleh orang-orang Tionghoa pada masa penjajahan Belanda. Tindakan diskriminatif terhadap etnis Tionghoa adalah tindakan yang salah dan mengingkari sejarah.

Menonton film Ip Man 4 bukan sekadar kegiatan duduk sambil menikmati adegan baku hantam. Lebih dari itu, kita bisa mengambil pelajaran penting soal isu sensitif dan dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Saiful Anwar, alumnus Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang, guru sebuah sekolah menengah pertama di Kota Semarang

Gambar: popbela.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.