Islam dan Paradigma Mansour Fakih

Spread the love

Oleh: Bagas Yusuf Kausan

Dalam sebuah pengantar buku Islam Kiri: Melawan Kapitalisme Modal Dari Wacana Menuju Gerakan yang ditulis oleh Eko Prasetyo, Mansour Fakih dengan meyakinkan telah memberikan pengantar tepat dengan bahasa yang lugas, mengenai isi buku tersebut. Dengan mengambil judul; Islam Sebagai Alternatif, Mansour Fakih telah memberikan pandangan penting bahwa; Islam dalam konteks zaman nya, merupakan gerakan spiritual, moral, budaya, politik serta sistem ekonomi alternatif. Penting untuk diingat, ketika Islam diturunkan di kawasan Arab, kondisi masyarakat dan budaya Arab ketika itu sungguh jauh dari nilai-nilai kemanusiaan maupun keadilan. Untuk itu, sebagai sebuah enerji baru, Islam telah membawa semangat dan nilai-nilai alternatif untuk mendongkel kebiasaan-kebiasaan lama yang buruk. Dengan begitu, Islam terlahir sebagai elemen pembebasan dan pembawa api kemanusiaan.

Seiring berjalan nya waktu, semangat dan nilai-nilai alternatif yang melekat dalam Islam, mengalami pasang surut yang hebat dalam perjalanan sejarah. Hingga akhirnya, watak, semangat, dan nilai-nilai alternatif dalam Islam, mulai terkikis dan memudar. Alih-alih tetap mempertahankan citra nya sebagai masyarakat yang humanis, Islam dan penganut agama nya justru semakin tertekan dengan stigma dan tuduhan sebagai masyarakat yang tidak adil secara gender, intoleran, dehumanis, hingga stigma dan sorotan lain yang kian mengaburkan makna Islam itu sendiri. Hal itu seakan menegaskan bahwa Islam; telah kehilangan nilai, spirit, citra, dan visi sebagai  pembebas kaum tertindas, penegak keadilan, penjunjung kemanusiaan, hingga gerakan alternatif terhadap sistem yang keliru.

Dalam kondisi semisal hari-hari ini, ketika kuasa modal dan ekspansi kapital menjerat setiap sudut kehidupan manusia. Serta kemiskinan, kemelaratan, ketidakadilan, penghisapan, dan keserakahan tampak di hadapan mata dengan telanjang, mendorong sebuah pertanyaan penting; Apakah Islam sebagai enerji alternatif yang membebaskan, mampu menjadi garda depan pelepasan diri dari jeratan kapitalisme global? Apakah Islam mampu menendang marginalisasi politik ekonomi dan peminggiran budaya rakyat kecil yang tertindas? Hingga apakah Islam mampu menjadi penangkal utama gurita neoliberalisme?

Pertanyaan dan refleksi semacam itu, perlu untuk dimunculkan di tengah situasi dan iklim Agama Islam yang cenderung kehilangan enerji alternatif nya, dan tentu semangat pembebasan nya. Hal itu penting pula untuk mendorong perenungan, hingga pemahaman kembali atas ajaran moral, spiritual, teologi, doktrin sosial, dan politik ekonomi yang dahulu pernah menjadi jalan alternatif, atas kondisi sosial-budaya-ekonomi-politik Arab yang berwajah busuk dan kerap disebut dengan zaman jahiliyah.

Zaman Jahiliyah yang telah dihentikan oleh Islam pada waktu itu, telah kembali hadir dengan pola dan wujud yang berbeda. Saat ini, dengan menguatnya paham ekonomi-politik berwajah Kapitalisme Global dan berwatak persaingan bebas, dengan nafas kolonialisme-imprealisme terbarukan, menuntut kembali peran serta Islam, untuk kembali menjadi pendobrak dan penghenti sistem yang nyaris sama dengan zaman jahiliyah tersebut. Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan ialah apa respon Islam terhadap kondisi menguatnya Kapitalisme Global tersebut?

Secara gamblang, tentu kita tak akan bisa mereduksi Islam hanya menjadi satu golongan, aliran, pemikiran, hingga teologi yang tunggal. Karena pada dasarnya, Islam merupakan sebuah ajaran yang plural, dan tumbuh di berbagai macam kawasan, sehingga mustahil untuk disatukan secara paksa dengan bentuk dan wajah tertentu. Maka untuk melihat apa respon Islam terhadap kondisi dunia yang telah sedemikian kuat tercengkram Kapitalisme Global, kita perlu melihat dari masing-masing aliran dan paradigma, yang sangat tergantung oleh kepercayaan dan keyakinan masing-masing golongan dalam merespon terjerat nya umat dalam lingkaran kapitalisme. Untuk itu, akan coba diuraikan sebuah klasifikasi Islam dalam merespon hal-hal tersebut, menurut kaca mata Mansour Fakih.

Dalam tulisan kata pengantar buku Eko Prasetyo tersebut, Mansour Fakih cenderung kecewa dan kurang merasa puas dengan klasifikasi Islam di Indonesia yang telah banyak dilakukan para ahli. Atas dasar itu pula, Mansour Fakih mendorong pembagian paradigmatik golongan Islam, yang sesuai dengan formasi sosial kapitalisme yang berkembang. Dalam hal ini, Mansour Fakih melakukan pembagian tersebut dengan adaptasi berdasarkan ideologi golongan Islam dalam merespon kemiskinan. Lebih lanjut, Mansour Fakih membagi golongan-golongan tersebut ke dalam empat paradigma yaitu; paradigma tradisional, moderenis, revivalis, dan transformatif. Perlu diingat, pembagian tersebut tidak bersifat organisatoris, namun lebih bersifat ideologis. Dengan begitu, Mansour Fakih telah mendobrak kategorisasi lama yang hanya berkutat pada dua arus utama golongan Islam di Indonesia, yaitu NU dan Muhamadiyah. Melalui pendekatan paradigma yang dibuat oleh Mansour Fakih, menjadi mungkin ketika NU tidak serta merta dipandang tradisional semata, namun memungkinkan pula untuk menjadi NU moderenis, NU revivalis, bahkan NU transformatif. Hal tersebut berlaku pula untuk Muhamadiyah, dan golongan Islam lain. Karena pendekatan Mansour Fakih, dapat bersemayam diseluruh organisasi Islam di Indonesia.

Paradigma Tradisionalis tentang Kapitalisme Global
Pemikiran Tradisionalis percaya dan meyakini jika segala permasalahan kemiskinan umat, pada hakekatnya adalah ketentuan ilahi dan merupakan bagian dari rencana Tuhan. Sebagai seorang ciptaan Tuhan, manusia tidak dapat mereka-reka ataupun mengerti gambaran dari skenario besar Tuhan, dalam perjalanan panjang umat manusia. Masalah kemiskinan, ketidakadilan, hingga marginalisasi dapat dianggap sebagai sebuah “ujian” Tuhan, guna mengangkat derajat keimanan dan ketaqwaan. Sehingga bagi para pemikir tradisionalis, tak ada korelasi langsung dari permasalahan kemiskinan dan sederet permasalahan umat lainya, dengan globalisasi, kapitalisme, maupun neoliberalisme yang kian berkembang.

Akar teologis paradigma ini bersandar pada konsep yang sangat dipercaya oleh kalangan umat muslim, yaitu predeterminisme atau Takdir. Meskipun terdapat anjuran agar manusia terus berusaha dan melakukan ikhtiar, namun pada akhirnya Tuhan pula lah yang menentukan hasilnya. Dan manusia tidak dan tak akan mampu tahu, tentang akhir dari proses sejarah tersebut, maupun malapetaka macam apa yang akan terjadi dibalik kemajuan, pertumbuhan, serta globalisasi bagi umat manusia dan lingkungannya kelak.

Mayoritas kita akan menganggap jika pemikiran tadisionalis tersebar di kalangan pesantren dan kalangan umat Islam pedesaan, ataupun langsung diasosiasikan dengan pengikut NU. Akan tetapi, sebenarnya pemikiran tradisonalis tersebar di seluruh kalangan umat Islam. Baik yang bermukim di pedesaan, maupun perkotaan modern, baik di kalangan masyarakat awam, maupun para cendekia dan akademisi, bahkan terdapat di setiap organisasi Islam. Bahkan untuk kalangan Muhamadiyah yang kerap di cap sebagai “Modernis” pun, pemikiran Tradisionalis dapat hidup di dalam nya. Meskipun dalam kehidupan sehar-hari menjalani kehidupan sangat modern, dan mentasbihkan diri sebagai kalangan “Modernis”, namun ketika kembali pada persoalan teologi dan kaitanya dengan usaha manusia, maka mereka sesungguhnya lebih layak dikategorikan sebagai golongan Tradisionalis.

Proses dan mekanisme globalisasi yang mendasarkan keyakinan mereka pada paham neoliberalisme dan modernisasi, menempatkan pemikiran Tradisonalis menjadi target dan buruan utama untuk dimoderenisasikan, baik melalui aturan negara maupun melalui hegemoni kultural. Kapitalisme global yang mengharuskan pembangunan dan modernisasi di segala bidang, secara tidak sadar telah memarjinalkan secara sistematis para Tradisionalis. Di desa-desa, kondisi kaum Tradisionalis lebih mengkhawatirkan. Kekuatan Tradisionalis yang berupa pesantren-pesantren telah mengalami sebuah fase transisi menuju modernisasi, yang berbarengan dengan ketiadaan resistensi terhadap modernisasi dan neoliberalisme. Hancurnya paradigma tradisionalis, sesungguhnya memberikan jalan yang lapang bagi globalisasi kapitalisme menerobos ke pedesaan. Akan tetepi, dewasa ini mulai bertumbuh perlawanan-perlawanan dan gerakan resistensi terhadap globalisasi di kalangan petani. Hal ini cukup menggambarkan tentang terjadinya sebuah pergeseran kaum tradisionalis petani yang tertindas, dan mulai bangkit nya nalar kesadaran kritis mereka, terutama yang menyangkut perlawanan terhadap ekspansi kapital dalam ranah sumber daya alam, lahan garapan, tanah, dan air bagi keberlangsungan hidup petani.

Perspektif Paradigma Modernis atau Islam Liberal terhadap Kapitalisme
Pemikiran kaum modernis dan muslim liberal tentang kemiskinan dan keterbelakangan, pada dasarnya sepaham dengan pikiran modernisasi sekuler. Mereka meyakini dan percaya bahwa masalah yang dihadapi kaum miskin pada dasarnya berakar pada, persoalan ‘karena ada yang salah dari sikap mental, budaya, ataupun teologi mereka.’ Kemiskinan umat muslim bagi mereka tidak ada sangkut pautnya dengan menguatnya neoliberalisme, globalisasi, hingga kapitalisme global. Bahkan, jika perlu umat muslim justru perlu mempersiapkan diri untuk bersaing dan masuk ke dalam pusaran globalisasi tersebut. Ketika rezim Soeharto berkuasa di Indonesia, sumbangsih para pemikir modern tersebut justru semakin tampak dengan dukungan nyata nya terhadap pembangunan dan modernisasi, dengan turut pula menyerang dan melawan siapa saja yang merintangi modernisasi dan pembangunan tersebut. Asumsi yang menjadi latarbelakang paradigma modernis dan Islam liberal ialah bahwa keterbelakangan umat Islam lebih diakibatkan karena terjadinya sakralisasi terhadap semua aspek kehidupan. Penganut paradigma modernisasi, saat ini ada di mana-mana, tidak hanya di kalangan muhamadiyah semata, melainkan di kalangan NU dan organisasi Islam lainya.

Bagi kalangan modernis, kemiskinan yang menjerat bangsa Indonesia terjadi akibat dari ketidakmampuan berpartisipasi secara aktif dalam proses pembangunan dan globalisasi. Oleh karena itu, mereka cenderung melihat sikap mental, kreativitas, budaya, dan paham teologi sebagai pokok permasalahan, dan tidak melihat struktur kelas, gender, dan sosial sebagai pembentuk nasib masyarakat. Menurut mereka, umat muslim perlu berpartisipasi dan bersaing dalam proses industrialisasi dan globalisasi serta proses pembangunan. Untuk itu diperlukan pembongkaran dan perombakan beberapa hal, diantaranya adalah kaum miskin harus berani merubah teologi yang cocok dengan developmentalisme, yakni teologi rasional dan kreatif. Selanjutnya diperlukan persiapan sumber daya manusia yang sesuai dengan globalisasi, yakni melalui usaha pendidikan dan peciptaan sekolah-sekolah unggulan. Maka secara konseptual, tak ada masalah antara globalisasi kapital dengan paradigma modernis. Permasalahan globalisasi bagi mereka lebih merujuk pada sejauh mana umat muslim di Indonesia, mampu mempersiapkan sumber daya manusia yang cocok dan mampu bersaing di dalam sistem pasar bebas.

Paradigma modernis merupakan mayoritas terbanyak diantara paradigma-paradigma yang lain. Mereka tersebar dengan dominan di berbagai ranah, termasuk di media massa, pemerintahan, pendidikan, dan bahkan di perguruan tinggi Islam. Menghadapi tantangan globalisasi, kapitalisme dan menguatnya neoliberalisme, para intelektual Islam modernis cenderung menyibukan diri untuk menggali ajaran Islam yang sesuai dengan modernisasi dan liberalisme, melakukan pembongkaran dan penafsiran ulang atas ajaran agama, serta mendekatkan diri dengan penguasa, tanpa memperhitungkan masalah dan hal apa yang akan diakibatkan oleh pembiaran terhadap globalisasi, kapitalisme, dan neoliberalisme tingkat lanjut tersebut.

Tantangan Kaum Revivalis atau Fundamentalis terhadap Globalisasi
Paradigma ketiga adalah penganut paham atau paradigma revivalis, yang kerap pula disebut sebagai fundamentalisme Islam. Dalam mencari akar penyebab persoalan kemiskinan dan kemunduran umat Islam, mereka melihat kedalam dan keluar sebagai faktor-faktor nya. Mengapa umat Islam miskin, bagi mereka adalah lebih disebabkan karena semakin banyak umat Islam yang justru memakai ideologi lain atau ‘isme’ lain sebagai dasar pijakan ketimbang Al-Qur’an sebagai acuan dasar. Pandangan ini berasal dari sebuah keyakinan bahwa Al-Qur’an sejatinya telah menyediakan secara kumplit, jelas, dan sempurna sebagai fondasi bermasyarakat dan bernegara. Selain itu, mereka juga melihat agama serta ‘isme’ lain yang bersebrangan dengan dirinya sebagai ancaman dan patut untuk diperangi. Yang dimaksudkan sebagai ancaman umat Islam berupa isme, ialah marxisme, kapitalisme, zionisme, nasionalisme, serta paham dan ideologi non islam lainya.

Bagi mereka, globalisasi dan kapitalisme merupakan salah satu agenda barat dan konsep non Islami yang dipaksakan kepada masyarakat Muslim. Meskipun tidak menggunakan analisa politik-ekonomi dan pertentangan kelas, mereka menolak kapitalisme dan globalisasi yang keduanya merupakan paham liberal dan identik dengan Barat. Itulah mengapa kaum revivalis atau fundamentalis Islam kerap dipinggirkan oleh aparatus pembangunan dan globalisasi, dan dianggap sebagai salah satu ancaman terpenting bagi kapitalisme di masa yang akan datang. Penghancuran bagi golongan fundamentalis Islam, dapat berupa tindakan-tindakan kekerasan, maupun upaya-upaya halus dengan penjinakan. Setelah dilabeli ‘fundamentalis’ yang melawan pembangunan dan demokrasi, aparat pembangunan memiliki legitimasi untuk melangsungkan kekerasan terhadap mereka. Pada masa-masa tertentu, kecenderungan lain akan muncul ke permukaan bahwa para ‘fundamentalis’ justru banyak melakukan kekerasan, sebagai bentuk terjalinnya hubungan baik akibat penjinakan yang dulu pernah berlangsung, dan tak menutup kemungkinan pula bahwa ‘fundamentalis’ Islam; justru berperan sebagai komprador kapitalisme Global.

Kaum revivalis selama ini telah menemukan cara tepat untuk melakukan resistensi terhadap apa yang mereka pandang tidak Islami. Mereka menerbitkan buku, mengorganisir diskusi dan kajian di kalangan mahasiswa, menciptakan simbol perlawanan dengan cara berpakaian, dan bahkan mencoba menciptakan proyek percontohan kehidupan masyarakat yang sesuai dengan ajaran Islam. Ada indikasi bahwa pengaruh gerakan ini berkembang secara pesat tidak saja dalam bentuk pengajian rutin di masjid-masjid kampus, melainkan berkembang pula di dalam pesantren tradisional.

Strategi Teologi Transformatif Islam Kiri
Paradigma transformatif adalah pikiran alternatif terhadap ke tiga paradigma sebelumnya. Mereka percaya bahwa kemiskinan rakyat, termasuk yang Muslim disebabkan oleh ketidakadilan sistem dan struktur ekonomi, politik dan kultur yang tidak adil. Oleh karena itu agenda mereka adalah melakukan transformasi terhadap struktur melalui penciptaan relasi yang secara fundamental baru dan lebih adil dalam bidang ekonomi, politik, dan kultur. Ini adalah proses panjang penciptaan ekonomi yang tidak eksploitatif, politik tanpa represi, kultur tanpa dominasi dan hegemoni, serta penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia. Keadilan menjadi prinsip fundamental dari paradigma ini, dengan fokus kerja mencari akar teologi, metodologi, dan aksi yang memungkinkan terjadinya transformasi sosial. Pemihakan terhadap kaum miskin dan tertindas (kaum dhuafa) tidak hanya terilhami oleh Al-Qur’an, tetapi juga hasil analitis kritis terhadap struktur yang ada. Islam bagi mereka dipahami sebagai Agama pembebasan bagi kaum yang tertindas, serta mentransformasikan sistem eksploitasi menjadi sistem yang adil.

Globalisasi, beserta bermacam proyek Kapitalisme lainya, bagi mereka merupakan penyebab utama yang memiskinkan, memarginalisasi, dan mengalienasi masyarakat. Selain melalui usaha-usaha praksis dalam kaitan membantu dan memecahkan permasalahan ekonomi, politik, dan budaya keseharian melalui proyek-proyek pengembangan ekonomi yang berbasis masyarakat, juga praksis lain dalam melakukan advokasi untuk mempengaruhi segenap kebijakan negara dan konsekuensi kapitalisme yang memarjinalkan kaum miskin dan pinggiran. Bagi golongan Islam transformatif, globalisasi secara fundamental merupakan ancaman bagi orang-orang Muslim yang miskin. Sementara itu, globalisasi cenderung lebih memihak korporasi dan kepentingan akumulasi kapital berskala global, dan yang pada akhirnya akan menghancurkan lingkungan hidup beserta isinya, dan menghancurkan segenap budaya sosial yang menjadi tempat masyarakat bergantung.

Terdapat indikasi bahwa konsentrasi golongan dan paradigma transformatif berada pada kalangan anak muda ‘progresif’ yang berlatar belakang Islam, baik itu berkultur NU, Muhamadiyah, dan golongan Islam lainya. Mereka dapat tumbuh dan berkembang dari lingkungan akademik perguruan tinggi, dan tumbuh dari pesantren-pesantren tradisional. Namun golongan Islam transformatif atau yang kerap di cap Islam kiri tersebut, sering disingkirkan oleh golongan Islam lain, bahkan dianggap ‘diluar’ Islam. Oleh karena itu, kelompok transformatif perlu merekonstruksi teologi mereka dan mensosialisasikannya pada umat Islam secara luas. Agar, semangat kelompok transformatif sebagai kelompok yang memihak secara nyata kaum tertindas, dapat menghasilkan sebuah teologi, paradigma, dan analisis sosial yang dapat melawan usaha pemiskinan struktural yang diakibatkan dari berkembangnya Kapitalisme Global, dan mampu menyerukan kembali enerji Islam sebagai gerakan alternatif dan menggemakan Islam sebagai teologi pembebasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.